3 Jenis Blogger


kurniasepta.files.wordpress.com/

Secara random tadi pagi aku stalking2 blog-blog orang yang biasa aku buka. Saat itu aku buka blognya masova si masternya parampaa. Dan ketemulah aku dengan blog http://blogs.indonesiamatters.com/

Ok, bilanglah aku ketinggalan banget karena udah lama ngeblog (blog pertamaku buat pada tahun 2008) aku baru tahu ada website yang dibuat untuk melihat parameter pertumbuhan blog2 di Indonesia. πŸ˜€

Nah, dari sana, aku mulai menjelajahi blog-blog orang yang katanya keren-keren itu. Peringkat nomor 1 ditempati oleh blogger cewek bernama Diana Rikasari. Blog ini berisi tentang fashion2 yang digunakan oleh Diana sendiri dan beberapa pemikiran dan kejadian2 seputar dirinya.

Blog yang menduduki peringkat kedua itu adalah blog milik seorang cowok yang bernama entah siapa berjudul The Ordinary Trainer. Kebanyakan tulisan2nya berupa pemikiran2nya terhadap kehidupan sehari2. Karena dia seorang pegawai, diapun banyak memberikan tips-tips tentang kepegawaian.

Dari dua peringkat teratas, kita sudah bisa lihat seberapa randomnya tema blog hingga membuat mereka menjadi blog dengan grafik tertinggi se Indonesia Raya ini.

Sebenarnya apa sih blogger itu?

Menurut pendapat aku, blogger adalah seorang yang mempunyai kegiatan(menulis, membaca, berkomentar) di blog. Yak! jadi blogger itu gak hanya sebatas kita harus menuliskan sesuatu setiap harinya di blog. Kadang, aku sempat berfikir blogger itu hanya orang2 yang ngeblog di blogger. Tapi gak juga ah, mungkin juga setelah istilah blogger itu mendunia, barulah blogspot membuat website dengan nama blogger. Iya kan? πŸ˜›

Secara garis besar, sebenarnya ada tiga tipe jenis blogger, itu seperti dibawah ini:

1. Blogger Curhat

Ini blog akan berisi curhatan mulu. Walaupun kadang dia akan menulis sesuatu yang bukan curhatan, tapi gak akan jauh-jauh dari kehidupan pribadi dia. Kadang blog seperti ini sepi dari pengunjung. Sang blogger emang cuma ingin menumpahkan unek2nya karena mungkin gak ada tempat curhatnya selain blog. Kalaupun ada pengunjung, biasanya hanya seputar kenalan2annya saja atau orang yang gak tahu tiba-tiba nyangkut di websitenya πŸ˜›

2. Blogger Pemikir

Postingannya akan berupa pemikiran2nya tentang kejadian2 yang terjadi belakang di sekitar atau di dunia. Bagaimana pandangan dia terhadap suatu berita di teve, trend yang terjadi di dunia maya, atau hanya kejadian yang dia lihat dijalan dan keluarganya atau bahkan pemikirannya tentang sebuah film yang baru saja ia tonton. Kalau penyajiannya pas, blog seperti ini akan lumayan mendapat respon yang baik.

3. Blogger Pemberi Informasi

Tipe yang terakhir adalah tipe blogger pemberi informasi. Misalnya informasi mengenai lowongan pekerjaan, informasi mengenai pelajaran (teknologi, fotografer, dll) dan berbagai informasi yang bisa ia berikan. Kalau informasi ini dikemas dengan baik, maka blog tipe seperti ini juga akan ramai peminat. Tapi, kadang kala, blog yang memang hanya berisi informasi di buka juga setiap kita ‘memerlukan’ informasi tersebut. Kalau gak perlu ya gak dicari, gak dibuka. Toh, gak ada bahan juga untuk ngubek2 isinya πŸ˜€

So, kamu blogger tipe apa?

Kan bukan hari jum’at?


id.indonesian-craft.com

5 Oktober 2010, rasanya sudah sangat telat untuk mengomentari hari batik Nasional yang kemaren pada tanggal 2 Oktober diperingati di negara kita yang tercinta ini.

Tapi dengan tekat dan pemikiran bahwa nasionalis itu bukan hanya untuk satu hari saja πŸ˜› Maka akupun tetap ingin menuliskan sesuatu tentang batik.

Jiwa nasionalis aku memang tidak tinggi, apalagi kalau dibandingkan dengan para olahragawan bahkan pahlawan. Bisa kebanting sampe Inggris trus mentok di Old Trafford aku (maunya (lol) ). Namun tetap saja aku tergelitik untuk sedikit menuliskan pandangan aku tentang hal ini.

Jadi, aku lagi-lagi tahu bahwa hari itu adalah hari batik dari twitter. Beneran deh aku kalau hari-hari yang kurang penting seperti ini gak akan masuk ke dalam otakku yang berukuran kecil. Niat mau merayakannya juga dengan menggunakan batik saat pergi keluar rumah, tapi apa daya aku cuma punya 1 helai baju batik. Dan itupun modelnya sangat ‘kantoran’ banget, berkerah gitu. Manalah bisa baju seperti itu dibuat untuk jalan pada malam minggu!

Nah, balik lagi ke masalah hari batik. Menurut tweet yang aku baca di TL, hari batik tahun ini tidaklah se’heboh’ hari batik tahun lalu. Ini mungkin karena bangsa Indonesia memang senang dengan segala hal yang musiman. Kenapa gak sekalian aja gak ngerayainnya kayak aku.

Memang batik sekarang telah menjadi satu keharusan dalam hal berbusana. Tidak lagi terpaut untuk acara-acara tertentu saja. Bahkan banyak kantor yang mewajibkan setiap pegawainya mengenakan batik setiap hari jum’at.

Kemudian, pernyataan yang jadi sering muncul karena itu adalah, ketika seorang menggenakan batik pada hari lainnya: ‘Lho kok pake’ batik? kan ini bukan hari jum’at?‘ Nah lho! Siapa yang bingung sekarang.

Presepsi orang Indonesia mengenakan batik adalah hanya karena kewajiban atau ikuta2an orang yang memang sudah ramai menggunakannya. Tidak banyak masyarakat Indonesia yang meneliti lebih jauh tentang batik2 tersebut. Tidak banyak orang2 yang mempelajari batik, cara membuatnya, apa-apa saja jenis2 batik itu, sejarah terbentuknya batik, dan hal-hal dasar yang membuat kita cinta terhadap warisan budaya Indonesia.

Tentu ini harus dikemas dengan tampilan yang menyenangkan. Karena bagi aku (yang notabene adalah orang eksak) mendengarkan cerita monoton yang panjang pasti akan sangat membosankan.

Menurut mbak okke ‘sepatu merah’, hal yang paling pas untuk menumbuhkan kecintaan terhadap batik itu adalah dengan memberikan pelajaran muatan mulok dibangku SD. Tapi menurut aku sih gak perlu juga dikhususkan seperti itu. Karena budaya Indonesia sangat luas. kalau kita terus2an fokus dengan baik, lalu apa kabar budaya kita yang lain?

Bagusnya sih kalau setiap hari jumat itu bukan batik. Tapi disesuaikan dengan daerahnya masing2. Seperti kalau di daerahku Kalimantan Barat ini, seragam hari jum’at yang pas itu corak ingsang. Begitukan lebih bermanfaat. lagian kenapa sih sesuatu yang didaerah pulu kecil padat penduduk itu yang selalu menjadi fokos perhatian pemerintah. Masih banyak kok budaya di luar pulau itu yang bisa kita gali dan diperdalam lagi. Begitu pula dengan kainnya.

Maka, marilah kita bersama-sama menjaga budaya kita masing2. Pertama-tama budaya asal daerah kita sendiri dulu lah, jangan yang laen πŸ˜€

nb: gambar diatas adalah batik khas kalimantan barat

Cinderella


Judul : Cinderella’s Sister / Cinderella’s Step Sister

Jumlah episode : 20

Rilis : Maret 2010

================================

Barusan selesai nonton film ini. Rasanya sih rada telat, tapi gak papa lah. Seperti kata pepatah, lebih baik telat dari pada gak sama sekali πŸ˜€ (pepatah yang buruk menurutku).

Awalnya kurang tertarik untuk menonton nih film, soalnya drama mellow banget kayaknya. Dan ternyata emang iya, dari episode 1 hingga episode terakhir, nih film akan banyak banget menguras air mata kita, tapi bagi yang udah menyukai k-drama semenjak 5 tahun kebelakang, pasti akan kangen dengan suasana film seperti ini. Suasana film yang ngena banget di hati πŸ™‚

Lokasi filmnya juga bukan berada di ibu kota Seol, tapi sebuah kota kecil yang indah dan sepanjang film kita akan disuguhkan pemandangan yang indah dari kota kecil ini. Rumah yang di ambil sebagai lokasi syutingpun sangat khas berbentuk rumah tradisional Korea. So, selain mendapatkan cerita yang manis, kita juga akan ‘puas’ dengan pemandangannya.

Waduh, dan sekarang adalah waktunya menulis sinopsis *mulai bingung*

Sinopsis:

Sesuai dengan judulnya, cerita ini bergaris besar tentang seorang anak yang memiliki orang tua tunggal. Tapi jika versi cinderella biasa adalah sang anak dari pihak bapak yang akan di tonjolkan, beda dengan film ini. Anak yang ditonjokan justru adalah anak dari pihak ibu.

Song Eun Jo (Moon Geun Young) bersama dengan ibunya tinggal di rumah pacar ibunya. Setiap hari sang ibu dan pacarnya selalu saja bertengkar, hingga kadang ibunya babak belur. Suatu hari, ibu dan pacarnya sedang bertengkar, Eun Jo yang sudah mulai merasa bosan mulai bersiap untuk kabur. Saat pacar ibunya sedikit lengah, Eun Jo dengan sigap menarik keluar ibunya dan pergi dari rumah itu. Dengan dibantu oleh keponankan pacar ibunya Han Jung Wo remaja (Yoon Suk Hyun) akhirnya ibu dan Eun Jopun berhasil kabur. Awalnya ibu Eun Jo tidak rela meninggalkan rumah itu, tapi setelah mengetahui bahwa Eun Jo telah mengambil perhiasan pacar ibunya, ibunyapun kemudian bersedia melarikan diri (dasar mata duitan!)

Pacar ibunya yang sadar perhiasannya diambil kemudian menyuruh orang untuk mengejar mereka berdua. Saat mereka berada di dalam kereta api, merekapun berhasil terkejar. Di dalam kereta api Eun Jo yang sedang bersembunyi di toilet bertemu dengan Goo Hyo Sun (Seo Woo) dan menitipkan perhiasan yang telah dicurinya. Eun Jo akhirnya berhasil di tangkap kembali oleh pacar ibunya, tetapi ibunya berhasil lolos dan mendapatkan pesan untuk mengambil perhiasan itu kepada seorang anak.

Ibu Eun Jopun mulai mencari Hyo Sun sesuai dengan informasi yang diberikan oleh Eun Jo. Kemudian iapun bertemu dengan Hyo Sun yang mengajak ke rumahnya. Ternyata Hyo Sun adalah seorang anak dari pengusaha bir yang sangat kaya dan memiliki rumah yang amat besar. Ibu Eun Jo yang secara tidak sengaja bajunya kotor kemudian diberikan Hyo Sun pakaian ibunya yang telah meninggal. Saat ibu Eun Jo mengenakan pakaian itu, sadarlah Hyo Sun bahwa ia sangat mirip dengan ibunya dan ingin sekali ibu Eun Jo menjadi ibu barunya. Karena ibu Eun Jo yang cantik dan bersikap baik, ayah Hyo unpun mau menjadikan ibu Eun Jo menjadi istri barunya :-/

Ibu Eun Jo kemudian meminta calon suaminya yang baru menjemput Eun Jo, dan ayah Hyo Sun pun memerintahkan Hong Ki Hoon (Chung Jung Myung) untuk menjemputnya.

Menjemput Eun Jo bukanlah hal yang mudah, syukurnya Ki Hoon telah diperingatkan oleh Ibu Eun Jo akan hal ini. Maka, setelah berlarian disepanjang jalan, serta jatuh bangun Ki Hoonpun berhasil membawa Eun Jo ke rumah besar keluarga Goo.

Eun Jo yang sedari kecil memang telah hidup susah menjadi seorang gadis yang keras dan egois namun pintar dan rajin belajar. Dia memandang sinis kepada semua orang, ayah barunya, adik tirinya dan bahkan Ki Hoon. Namun Ki Hoon yang merasakan kesedihan yang tersimpan di dalam hati Eun Jo merasa simpati padanya dan mulai menyukainya. Eun Jo pun, lama kelamaan mulai menyukai Ki Hoon yang baik dan dewasa, terutama setelah dia menjadi guru private untuknya.

================================================================

Setahu aku film ini tayang bersamaan dengan Prosecutor Princess dan Personal Taste, dan Cinderella’s Sister mendapat ranting paling tinggi di Korea sana.

Ini gak bisa diragukan karena dibanding dengan dua pesaingnya, film ini memang lebih kuat dari soal jalan cerita dan penokohan. Mungkin kebanyakan orang masih senang dengan cerita yang mellow dellow πŸ˜›

Dan yah, sebagai penulis, aku merekomendasikan drama ini untuk ditonton πŸ˜€

Selamat menonton πŸ™‚

Sang Pencerah


Hendralesmana.com

Barusan tadi sore nonton nih film. Emang rada udah lama sih, tapi kan gak lama-lama amat yang lumayan untuk dibahas dan menuh-menuhin blog πŸ˜€

Awalnya gak begitu tertarik dengan judulnya dan posternya. Sang pencerah, apa itu maksudnya. Terus posternya juga orang-orang yang berbapakaian jawa. Maaf bagi para penduduk jawa yang melimpah itu. Aku tidak terlalu suka dengan kebudayaannya, apalagi kalau disuruh menonton filmnya. Mau nonton apa aku?

Tapi seiring dengan sering dibahasnya film ini, dan banyaknya tailer2 yang menyebar di teve atau dunia maya, aku jadi tahu bahwa film ini adalah film tentang Kiai Haji Ahmad Dahlan yang merupakan pendiri Muhammadiyah di Indonesia. Barulah aku tertarik untuk menontonya.

Sedikit ceritanya (versi niee):

Darwis (Kiai Haji Ahmad Dahlan Muda) adalah remaja yang melihat ajaran Islam berbeda dengan kebanyakan orang di daerahnya. Sebuah daerah yang masih melakukan kebudayaan nenek moyang yang banyak salah. Misalnya saja memberikan sesajien pada pohon untuk meminta pertolongan. Padahal mereka itu Islam. Terbawa ingin mempelajari Islam lebih, diapun memutuskan untuk naik haji dan belajar Islam di Mekah. Setelah pulang, diapun mendapat nama baru yaitu Haji Ahmad Dahlan.

Berbekal ilmu yang dimilikinya, H. Ahmad Dahlan membuat sebuah perombakan besar di kampungnya. Dimulai dengan mengganti arah kiblatnya, karena kebanyakan mesjid di daerahnya menyesuaikan dengan arah jalan, bukan arah Ka’bah. Diapun menjadi Kiai dengan pemikiran Islam modern yang membuat resah para pemuka agama yang lebih tua sehingga sebagian besar masyarakat menyebutnya sebagai Kiai kafir.

Beberapa perdebatan2 penting yang bisa aku tangkap (baca: yang aku ingat :D):

Q: Kenapa kiblat harus sesuai dengan arahnya? Bukannya iman itu di dalam hati?

A: Kalau begitu apa fungsinya Ka’bah dibagun. Ka’bah dibagun untuk menyatukan umat Islam menghadap ke bagian yang sama.

Q: Bolehkah tidak membuat ‘perayaan’ saat peringatan 40 hari kematian?

A: Tidak pernah nabi menyuruh kita untuk melakukan peringatan kematian. Apalagi sampai membuat umatnya sulit karena tidak memiliki biaya.

Q: Kenapa melarang yasinan?

A: Tidak pernah bermaksud melarang yasinan. Membaca surah yasin bersama-sama dan terus menerus membuat surah itu bagaikan surah yang khusus dan membuat lupa surah-surah lainnya. Padahal Al-Qur’an banyak memiliki surah yang juga bagus isinya.

Q: Kenapa menggunakan peralatan kafir untuk berkegiatan? Itukan haram?

A: Kita menggunakan peralatan mereka bukan untuk bertindah kejahatan. Malah membuat kita lebih mudah. Itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan haram.

Lakumdinukum Waliyadin ~ Untukmu agamamu dan untukku agamaku.

———————————————————————————————————————————————-

Banyak sekali yang bisa didiskusikan pada film ini, tentu bukan dalam tahap mengkritik si sineas. Melainkan pandangan kita terhadap ajaran agama Islam modern.

Aku dibesarkan dalam keluarga yang rada kuno memandang agama. Tapi orang tuaku sangat membuka diri untuk masukan2 baru yang jika baik akan diterima dengan baik pula.

Tapi jika aku dibilang Islam modern tentu aku tidak mau seperti itu, apalagi kalau dibilang sebagai Islam liberal. Aku sebagai manusia bebas yang mencampur adukkan semuanya, mengambil yang baik dan mengubur yang buruk.

Kebanyakan warga Muhammadiyah yang aku kenal tidak mau melakukan beberapa hal. Contoh paling seringnya adalah mereka tidak mau mengikuti acara tahlilan. Alasannya mungkin seperti yang diungkapkan pada film ini. Bahwa do’a itu dari dalam hati dan tidak perlu beramai-ramai. Apalagi membunyikan suara keras yang membuat tidak nyaman para tentangga. Tanggapan aku tentang ini adalah Tahlilan itu tidak wajib, tapi kalau ada yang mau dan mampu untuk melakukan, kenapa musti kalut. Toh gak ada salahnya berdo’a beramai-ramai (istilahnya ibu aku itu makin banyak yang berdo’a makin baik πŸ˜€ ).

Ada lagi kebiasaan mereka yang hanya mau sholat taraweh sebanyak 8 rakaat, gak lebih. Katanya nabi itu sholatnya juga cuma 8 rakaat. Ini juga belum ada bukti yang kongkret (sepengetahuan penulis). Kalau ada mesjid yang menyenglenggarakan lebih dari 8 rakaat, mereka akan pulang. Tanggapan aku, lah wong ibadah kok mikir2 toh! Bukannya lebih banyak rakaat kita akan lebih banyak dapat pahalanya?

Sekali lagi aku tekankan, aku gak benci dengan aliran Muhammadiyah. Malah kadang kala pemikiran mereka banyak bagusnya. Aku hanya tidak ingin mengikuti aliran ajaran agama Islam apapun. Kalau ditanya jawaban aku cuma Islam (titik).

——————————————————————————————————————————————–

Sekarang, marilah kita lihat mengenai filmnya (mulai sok pinter komentari film :P). Yang pertama aku garis bawahi kekurangan film ini adalah banyaknya penggunaan bahasa jawa dan ANEHNYA sangat jarang ada teksnya. emangnya Hanung cuma mau menjual filmnya untuk orang Jawa kah? Aku ora ngerti. Kasih kek teks terjemahan yang lengkap. Gak rugi juga kan.

Terus aku juga kurang suka penggambaran ketika beberapa adegan hitam putih. Mungkin maksudnya inikan film settingan tahun 1900an. Tapi gak perlu juga kali ada gambar kresek-kresek itu.

Awal pertama kali menonton, aku bilang pada temanku: Hati-hati habis menonton ini kita jadi pengikut Muhammadiyah. Tapi tenang saja kok, bagi yang telah memiliki keteguhan hati (caelah bahasanye :D) film ini gak begitu kuat untuk menggiring kita masuk jadi pengikutnya.

Yang pasti, aku jadi tahu setelah film ini bahwa Muhammadiyah sangat berperan besar dalam pendidikan modern untuk bangsa Indonesia. Jadi aku akan sangat menghormati Muhammadiyah sepenuh hati πŸ˜€ (mungkin jika punya anak akan memasukkan ke SD Muhammadiyah 2 Pontianak. – woy! gak ada hubungannya coba :P).

Dan akhirnya seneng deh bisa nonton film Indonesia yang baik lagi, setelah kemaren aku baru nonton Darah Garuda. Mudah2an perfilman Indonesia semakin maju yah.

note: film Sang Pencerah, darah garuda berdampingan dengan film dawai 2 asmara dan dilihat boleh dipegang jangan. Do’a penulis agar kedua film terakhir dapat menghilang dari dunia perbioskopan Indonesia. Amin πŸ˜€

Negeri VanΒ Oranje


Kutubuku.com

Bener-bener gak direncanain terlebih dahulu buat nulis ni postingan. Baru beberapa menit yang lalu aku menyelesaikan membaca novel ini. Niatnya sih pingin nulis besok aja. Tapi gak tahu kenapa aku yang biasanya malas untuk bergerak menghidupkan laptop jadi malah langsung beranjak dari pembaringan yang empuk beralih kedepan laptop yang panas. Mungkin semangat para Aagaban masih terserap di dalam tubuhku hingga bisa seperti malam ini (beneran deh aku merasa aneh dengan kalimat terakhir :p ).

Seperti biasanya, aku menulis sesuatu tentang buku atau film bukan untuk memberi sinopsis apalagi memberi review. Ini karena aku berfikir bahwa aku gak bakat dalam hal ini. Pengetahuanku tentang dunia film dan tulis menulis masih terlalu dangkal yang menyebabkan aku kurang pede. Tapi beberapa kali aku tetap nyoba kok. Mudah2an karena seringnya mencoba kemampuanku jadi lebih terasah (apalagi kalau dapat komentar dari kalian semua, makin senang deh aku menulisnya πŸ˜€ ).

Kalau kalian masih ingin tahu sinopsis lengkap dengan para penulisnya dan kisah2 lainnya. Kalian bisa langsung datang berkunjung ke websitenya di http://www.negerivanoranje.nl/

Aneh juga kalau gak bercerita sedikit tapinya.

Jadi novel ini bercerita tentang 5 orang mahasiswa Indonesia yang secara terpisah datang ke Belanda untuk sekolah. Lima orang itu adalah Lintang, seorang cewek yang kuliah dengan uang sendiri dan mengambil jurusan sastra di Universitas Leinden. Geri yang merupakan anak pengusaha sukses asal bandung dan mahasiswa senior di Belanda, maksudnya dia udah lama di Belanda, udah dari jaman mengambil gelar Barchelor. Wicak, seorang aktifis LSM yang terdampar di Belanda karena dicari oleh sekelompok mafia ilegal loging untuk dibunuh (suer deh ini novel bukan bergenre horror, murni hanya latar belakang cerita). Bajar seorang pebisnis muda yang sukses di Indonesia dan tertantang untuk hidup susah di negeri orang. Dan terakhir Daus, seorang PNS Depag yang mendapat beasiswa untuk melanjutkan sekolah dibidang hukum. Mereka semua bertemu secara tidak sengaja di stasiun kereta karena badai (sungguh nasib yang indah).

Pemaparan di dalam novel ini sangat detail tentang kehidupan mahasiswa di Negeri Belanda. Bagaimana mereka beraktifitas, susah senang mereka saat mengerjakan papper dan penyelesaian tesis. Cara jitu menghemat, mendapatkan apartement tempat tinggal, event2 yang ada di Belanda, kebiasaan mahasiswa Indonesia di sana dan masih seabrek2 pengetahuan lainnya yang membuat sekilas novel ini seperti ‘Buku Petunjuk’.

Tapi novel tetaplah novel. Tentu di sini juga ada permasalahan dan inti ceritanya dong. Gimana konflik antara para personil Aagaban ini dan cara penyelesaiannya khas orang dewasa yang bukan lagi anak remaja ingusan.

Novel ini akan membuat semangat kita untuk bersekolah lagi naik beberapa tingkat (apalagi ditengah dilema aku yang ingin melanjutkan kuliah atau serius cari kerja sana di sini). Gak ada istilahnya status kalau sudah jauh dari rumah. Apalagi sampai di negeri orang. Yang ada hanya 1: kalau dapat teman satu perantauan yang berasal dari daerah yang sama, akan berasa kayak keluarga pastinya (syukur2 kalau bisa jadi jodoh πŸ˜€ ).

Karena kekurang telitian aku yang jarang mendapat novel bagus dengan membeli, tapi dengan meminjam (catatat bahwa novel ini hasil pinjaman dari teman aku di Bandung bernama Wulan), aku jadi pingin punya ini novel. Berasa punya buku ajaib yang siapa tahu kalau aku ke luar negeri nanti bisa banyak membantu (Amiiiiiiiiinnnnn).

oiya! dibuku ini juga ada tips2 jika kita ingin berbackpacker ria keliling Eropa (Ya Allah, mudah2an aku pernah merasakannya seumur hidup ini..) dengan cara yang murah.

Soooo,,, tunggu apa lagi..

Mari mulai membaca novel ini..

Lah kok masih baca nih tulisan, ayo sono ke toko buku belinya. Atau gaya seperti aku yang modal pinjam..

Selamat menikmati keindahan cerita..

bye!

Bulu Tangkis


Siang-siang secara random liatin ibu sama bapak nyetel teve di RCTI. Pas stasiun itu nyiarin film King. Pada tahu kan film King? Yupz, film yang bercerita tentang bulutangkis.

Sebenarnya aku tidak terlalu menggemari bulutangkis. Tapi sebagai warna negara Indonesia, siapa seh yang tidak mengetahui olahraga satu ini? Bahkan mungkin olahraga ini satu-satunya olahraga yang aku bisa memainkannya tanpa mempermalukan diri sendiri.

Pengetahuan tentang olahraga ini aku juga kurang paham. Tidak seperti bola yang aku tahu hampir banyak tentang kejuaraannya. Sebut saja World Cup, ada lagi Euro, terus Piala Afrika, Amerika, dan Asia.

Itu baru kejuaraan antar negaranya. Kejuaraan antar klubnyapun aku sedikit banyak tahu. Apa itu EPL, La Liga, Bundes Liga, Seri A, Champions, Europa League, Piala Dunia antar klub, bahkan kejuaraan kecil seperti Piala Raja di Spanyol dan Carling di Inggris.

Indonesia juga aku sedikit banyak tahu bahwa devisi utama liga Indonesia itu ISL, ada lagi devisi I. Yang memang ISL itu kemaren adalah Arema Indonesia dan masih banyak lagi.

Walaupun aku tidak ahli dalam hal perbolaan, tapi kalau diajak bicara tentang bola aku gak akan malu-maluin deh (asal jangan ngajak main aja :D)

Nah, kembali lagi ke Bulutangkis. Bisa dibilang olahraga bangsa Indonesia adalah bulutangkis. Berkumandangnya lagu Indonesia Raya apalagi kalau bukan bulutangkis yang menangkatnya. Indonesia pernah juara dunia untuk bulutangkis, bahkan setiap tahun Indonesia masuk ke dalamnya. Jauh jika dibandingkan dengan sepak bola di Indonesia yang hanya bisa terseok-seok di Piala Asia. Piala Dunia? jangan terlalu banyak berharap dulu!

Yang patut dipertanyakan adalah, jika Bulutangkis merupakan olahraga bangsa, tapi kenapa gaungnya sangat kecil sekali terdengar? Bandingkan dengan sepakbola yang orang pada kalut ketika teve mana yang akan menyiarkan EPL tahun ini.

Aku tahu sekarang tengah ada China Master Super Series. Di mana tak ada satupun wakil Indonesia yang masuk ke final. Alasan yang mendasar adalah karena memang tak ada pemain senior (kecuali Liliana/Natsir) yang dibawa mengikuti kejuaraan itu. Karena masih libur lebaran cuy! Cina enak aja buat pas musim libur se Indonesia Raya ini.

Beberapa bulan yang lalu juga ada Piala Dunia Bulutangkis yang lagi-lagi Indonesia tidak mempunyai juaranya. Satu-satunya wakil yang bisa dibanggakan adalah Taufik Hidayat yang mendapat juara kedua.

Tahu dari mana aku itu semua? Yah, aku lumayan aktif di internet dan dunia maya. Kebetulan orang-orang dunia maya yang aku ikuti itu banyak membawa berita tentang segala macam hal.

Itu aku yang aku beruntung dan aktif. Bagaimana yang tidak? karena masyarakat Indonesia yang aktif di dunia maya sangatlah sedikit (tentu dibandingkan dengan jumlah rakyat Indonesia sendiri). Belum lagi dikurangi mereka yang hanya berkutat ke dunia maya tanpa respek ke hal-hal seperti ini. Otomatis yang ‘tahu’ tak sampai 1% dari penduduk Indonesia.

Ini merupakan hal yang miris menurut pendapat aku. Kecintaan akan bulu tangkis harus dipupuk. Dan cara memupuknya adalah memperbanyak pengeksposan media terhadap olahraga ini.

Bagaimana bisa cinta kalau kita tidak sering ‘bertemu’.

Ini berhubungan erat dengan prestasi perbulutangkisan Indonesia pada umumnya tentunya. Tidak bisa kita menutup mata bahwa prestasi Indonesia sudah sangat menurun dibanding dengan 2 dekade silam (tahun 90an). Dulu Indonesia adalah ‘juara’ bulutangkis dunia. Semua negara takut jika berhadapan dengan Indonesia. Sekarang? Indonesia yang malah takut dengan China, Korea, BAHKAN Malaysia.

Indonesia memang negara ke 2 paling berjaya di kejuaraan dunia BWF dengan raihan 18 gelar, berada di belakang china yang di urutan pertama dengan raihan 40 gelar. Itupun Indonesia terakhir kali meraihnya pada tahun 2007 silam.

Piala Thomas Indonesia boleh bangga bilang merupakan negara dengan jumlah raihan terbanyak sebanyak 13 gelar TAPI terakhir kali Indonesia mendapatkannya itu pada tahun 2002. Β Sudah 8 tahun berselang! apalagi untuk piala Uber yang terakhir kali Indonesia mendapatkannya adalah pada tahun 1994 (mungkin Susi Susanti masih ada di dalam skuad itu).

Lupakan piala itu, kita melihat Piala Sudirman. Kejuaraan bertaraf Super Series yang pasti milik Indonesia. Bahkan China mendominasi pada kejuaraan ini, dan Indonesia sendiri terakhir memenanginya pada tahun 1989! tahun yang sudah sangat lampau.

Apa kabar perbulutangkisan Indonesia sekarang?

Menurut aku, memang sekarang masih banyak pebulu tangkis yang bagus seperti Taufik Hidayat, Sony Dwikuncoro, Simon Santoso, Liliana/Natsir, dan masih banyak lagi. Tapi kebanyakan mereka berada pada usia yang relatif sudah tua. Mana generasi penurusnya?

Kita memang kalah jauh dengan China yang rotasi pemainnya sangat cepat. Bahkan pemain utama mereka sekarang berusia kisaran 20-24 tahun.

Maka, marilah kita memperhatikan perbulutangkisan kita. Dimulai dari hal yang kecil seperti mengikuti berita-berita kejuaraannya (suer, ini juga aku masih belajar, lebih sering buka sport bagian bola 😦 ).

Kita ini Indonesia. Kita harum dengan olahraga Bulutangkisnya πŸ˜€

Hidup itu berjalan, gak pake’ mundur


Sebenarnya gak tahu juga mau nulis apa malam ini (masih bingung sebenarnya kalau jam 1 itu pagi atau malam). Awalnya mau nulis tentang seorang Andi Yusuf Bachtiar yang ingin mencalonkan diri sebagai ketua PSSI, tapi gak jadi. Terus pingin nulis sesuatu tentang bola, tapi kayaknya kurang materi juga buat nulis. Jadila tulisan ini yang terpostingkan.

Karena udah kepalang tanggung kepingin nulis tentang bola, jadinya aku selipin dikit deh yah cerita aku malam ini. Jadi, sebagai anggota MUI yang taat (tunggu! kalian tahu kan maksud aku MUI ini apaan? tahu dong yah! Yupz, Manchester United Indonesia) aku dari kemaren udah nungguin partai tadi sore antara MU melawan Liverpool. Laga yang amat panas pastinya dan saat pertandingan berjalanpun ternyata laga memang panas πŸ˜€

Akhirnya MU menang 3-2 di partai ini yang membuat level semangat aku naik tinggkat ke tinggat ‘hampir’ rajin, yah tentu belum rajin-rajin amat yah. Tapi kalian gak nungguin aku nulis detail tentang pertandingannya kan? Inika postingan tentang hal lain. Bola hanya diselipkan. Aku mana sempat bilang bahwa MU yang unggul duluan lewat sundulan Berbatov di laga awal. Lalu aku gak mungkin lagi cerita panjang lebar bahwa Berbatov kembali ngegolin di babak kedua dengan tendangan salto yang indah. Apalagi aku mana sempat bilang bahwa Liverpool kemudian nyamain kedudukan lewat adu pinalti dan freekick karena Torres yang terlalu lemah sering jatuh di daerah terlarang. Terus yang paling gak sempat tentu aku menuliskan endingnya saat Berbatov Hat Trick yang membuat MU unggul lagi dan akhirnya menang. Aku sungguh-sungguh tidak sempat menceritakan itu semua πŸ˜›

Nah, karena kemenangan itu semangat aku ada sedikit. Yang aku manfaatkan untuk menyelesaikan PR perbaikan skripsi aku. Ya ya, pengakuan terdalam aku adalah, aku sudah sidang sarjana tapi belum perbaikan πŸ˜€ (kan kemaren baru libur lebaran kakak *ngeles*).

Lalu apa? Apa yang aku lakukan setelah lulus ini?

Serius, dari lubuk hati yang terdalam aku bingung sekali. Pingin rasanya aku bekerja dan mendapatkan pekerjaan yang layak dan baik (maksudnya taukan kalian semua? a.k.a yang bergaji besar). Tapi aku bukan anak pemalas loh yang mencari pekerjaan bergaji besar tetapi santai. Ini dunia bung! kalau mau bergaji besar pasti harus kerjaan yang ‘keras’.

Tapi, bagaimana aku bisa mendapatkannya? Kirim lamaran kesana-dan-kemari tentu bukan tipe aku. Sangat berharap aku bisa suatu hari nanti menjadi penulis aja.

Lalu akupun berfikir untuk lanjut sekolah lagi. Toh, orang tua malah menyemangati untuk hal ini. Kalau aku mengambil jalan ini tentu aku harus tahu konsekuensinya kalau mempunyai gelar s2 dikotaku belum terlalu berfungsi. Kalau udah kepalang tanggung ya jadinya bekerja sebagai dosen saja.

Soal pengalaman ngajar mengajar aku memang ada bakatnya. Toh aku pernah bekerja sebagai pengajar bimbel di suatu bimbingan selama 6 bulan. Waktu yang tidak sebentar tentunya.

Aku sudah menentukan pilihan. Kalau aku gak dapat pekerjaan selama 2 bulan kedepan, aku pasti akan melanjutkan sekolah lagi. Berfikir untuk sekolah di ITB mengambil program studi Sistem Informasi, atau kalau gak di IT Telkom mengambil Teknik Informatika.

Mudah-mudahan pilihanku gak salah. πŸ˜€

SEMANGAT!! /