[Review Hotel] Melia Kuala Lumpur


Sebelumnya, baca juga ya tulisan aku tentang liburan dalam rangka nonton Disney On Ice ini:

  1. Itinerary Melaka dan Kuala Lumpur
  2. Jalan di Melaka (Bagian Pertama)
  3. Jalan di Melaka (Bagian Kedua)
  4. [Review Hotel] The RuckSack Caratel, Melaka
  5. Main Salju di Genting, Malaysia
  6. Nonton Disney on Ice di Kuala Lumpur
  7. Review Melia Hotel, Kuala Lumpur

Beneran ya, jarang nulis di blog itu jadi susah banget nyari feelnya untuk mulai nulis. Tapi karena udah janji sama diri sendiri kalau lagi jalan-jalan haruslah ditulis maka mari kita manulis cerita terakhir dari rangkaian jalan-jalan si Irni ke Melaka dan Kuala Lumpur dalam rangka menonton Disney On Ice ini. Tulisan penutup dari rangkaian cerita ini, apalagi kalau bukan review hotelnya :mrgreen:

Rasanya, selama beberapa kali ke Kuala Lumpur (yang udah gak akan aku hitung lagi kali yess ke sini saking seringnya buat transit πŸ˜› ) ini adalah hotel terbaik yang pernah aku inapi. Emang ya, kalau udah naik jenis hotel jadi pengen dinaikin terus, hahahaha. Padahal dulu hotel model Tune aja udah senang, sekarang maunya kalau nginep dibintang lima sekalian πŸ˜› So, mari kita mulai review hotel kali ini.

Alasan memilih hotel

Tentu aja karena lokasinya. Seperti biasa si abang selalu memilih Bukit Bintang sebagai lokasi kami kalau di Kuala Lumpur. Aku sendiri gak pernah mengeluh seh dengan lokasi ini, karena emang nyaman banget. Karena pusat kota, jadi kalau kami pulang malam gak pernah merasa sepi sampai menakutkan gitu. Dan lagi, kalau mau sarapan banyak banget makanan yang bisa aku makan disekitar sini dan tentu saja banyaknya Mall disekitaran bukit bintang sangat menjadi nilai tambah sendiri πŸ˜›

Oiya, semenjak jalur MRT Bukit Bintang udah jadi, wilayah ini makin nyaman banget dah untuk transportasinya. Walaupun ya, kok si aku makin manja aja kalau jalan di KL maunya pake grab aja daripada pake transportasi umum πŸ˜›

Harga Kamar

Hotel Melia ini hotel bintang 4 btw, tentu aja harganya beda dengan hotel izumi yang aku inapi di perjalanan ke Kuala Lumpur sebelumnya. Ya walaupun sebenarnya aku sangat suka seh dengan hotel Izumi itu karena lokasinya begitu strategis dan hotelnya ok ok aja. Pas mau pesan hotel ini lagi kok ya ada dapat email bahwa hotel ini udah tutup! Pas aku cek di website seh masih buka sebenarnya, tapi ya daripada jadi gak jelas ntar pas sampai ya Kami batalin aja pesanannya.

Untungnya pas si abang suami nyari-nyari hotel pengganti, eh ada promo dari tiket.com, jadilah kami beli hotel Melia ini dengan promo tersebut. Lumayan loh, dapat potongan harga sampai 300k :mrgreen:

Harga yang aku bayar sendiri adalah 1,2 juta untuk 2 malam. Jadi semalamnya harganya 600k. Ini lumayan banget seh untuk hotel bintang 4 di daerah Bukit Bintang Kuala Lumpur kan yak. Semoga tiket.com sering-sering ngasih diskon ke kami deh πŸ˜›

Terus Gimana Hotelnya Niee?

Sebenarnya aku tipe orang yang mudah puas kok dengan hotel. Kalau hotelnya udah gede, kamarnya lumayan bagus, udah aku puji-puji deh hotelnya. Samaan juga dengan hotel Melia Bukit Bintang, Kuala Lumpur ini. Kalau aku kasih nilai 8/9 deh. Pokoknya nyaman banget nginap di hotel ini.

Kamarnya luas banget untuk kami bertiga. Selain kamarnya yang luas, yang aku perhatikan juga sekarang adalah tempat tidurnya yang juga luas. Soalnya si K udah makin gede ya. Jadi susah kalau kami tidur dempet dempetan di kasur yang kecil, hahahaha. Untuk pemandangan dari kamar sendiri gak ada yang bisa dilihat seh, ya biasa aja gitu membelakangi gedung-gedung disekitarnya. Ya walaupun sudah sangat ok buat aku karena biasa tidur di hotel tanpa jendela juga seh πŸ˜›

Walaupun pas pesan di tiket.com kami gak pilih yang ada breakfastnya, tapi karena kami mau ringkes aja, jadi hari pertama kami bayar sarapan aja di hotel. Untuk makanannya sendiri seh ok ya, lengkap gitu ada menu Malaysianya dan ada menu westernnya juga. Walaupun gitu aku sebenarnya gak terlalu tertarik seh ya sama sarapan di hotel Jatohnya gitu gitu doang pastinya. Kecuali sarapan di Mercure Hotel itu aku suka seh πŸ˜›

Di bawah ada video aku tentang review lengkap hotelnya. Ditonton yak! Kalau bisa di subcribe juga biar si irni bisa segera dapat adsense, hahahaha.

Ok, segini aja cerita aku kali ini yak. Alhamdulillah seri Melaka –Β  Kuala Lumpur ini bisa selesai sebelum jalan jalan berikutnya πŸ˜› Eh tapi masih ada yang mau diceritain seh soal sekolah si K, terus jalan-jalan keluarga kami ke Singkawang (yang udah dua kali aja gitu terlewati!). Aaah, mudah-mudahan tahun depan lebih banyak waktu untuk update blog deh yak! Karena bulan depan insya Allah rumah baru!! (baru direnovasi total maksudnya πŸ˜› ).

Selamat Tahun Baru semuanya! Semoga tahun depan lebih baik daripada tahun ini yak!

bye.

Nonton Disney on Ice di Kuala Lumpur


Aku gak tahu kenapa pas acara intinya aku sama sekali gak ada berfoto di hari ini. Karena ingatan jangka pendek dan panjang aku ini agak runyam πŸ˜› tanpa foto ini agak mengganggu aku untuk menulis seh yak. Soalnya biasanya aku nulis sambil lihat-lihat foto ke mana dan ngapain aja pada hari itu. Maka, marilah mulai menulis dengan ingatan aku yang terbata-bata pada hari ini πŸ˜› Ini akan menjadi tulisan yang sangat pendek tentunya, hahaha.

Sebelumnya, baca juga ya tulisan aku tentang liburan dalam rangka nonton Disney On Ice ini:

  1. Itinerary Melaka dan Kuala Lumpur
  2. Jalan di Melaka (Bagian Pertama)
  3. Jalan di Melaka (Bagian Kedua)
  4. [Review Hotel] The RuckSack Caratel, Melaka
  5. Main Salju di Genting, Malaysia
  6. Nonton Disney on Ice di Kuala Lumpur
  7. Review Melia Hotel, Kuala Lumpur

Hari Sabtu ini aku sama sekali gak ada rencana apa apa di Kuala Lumpur selain untuk nonton Disney on Ice, tapi acaranya sendiri akan baru dimulai pukul 15.30 yang mana baru akan boleh mulai masuk jam 14.30, jadilah kami punya banyak waktu dipagi hari dan memutuskan untuk ke Mall :mrgreen:

Di Mall sendiri aku gak ada kegiatan khusus seh, cuma muter-muter belanja sampai jam makan siang dan kita makan siang di salah satu restoran di Mall. Setelah puas jalan-jalan di Mall, kamipun balik ke hotel untuk ganti baju dan langsung menuju ke tempat acara Disney on Ice yang lumayan jauh dari hotel.

Kami agak memberi waktu yang lumayan banyak seh untuk perjalanan ini karena aku tuh sebenarnya rada trauma dengan grab di KL ini. Malam sebelum hari ini kami ingin ke sebuah mall yang lumayan dekat dari hotel, jaraknya cuma 15 menit gitulah dari peta tanpa harus masuk tol. Terus pesan grab dong yak, dan tahu apa yang terjadi? Grabnya masuk di tol dan muter jauh dong! Supirnya 2 kali salah baca peta yang akhirnya membuat 15 menit perjalanan menjadi 1,5 jam perjalanan aja dong! Aku gak habis fikir kenapa ada orang yang tinggal ikutin peta aja bisa salah >.< Untungnya grab yang ke venue Disney on Ice ini gak salah baca petanya jadi kami bisa datang tepat waktu.

Aku tuh ya membayangkan acara ini akan disuatu tempat gitu di mana di depannya akan ada booth dari Disney Asia yang akan banyak menjual barang-barang Disney kayak yang ada di Disneyland gitu. Jadi sebelum ke sini aku udah bilangin ke K kalau dia bakalan aku belikan botol air minum dan tas kalau ada yang bagus. Etapi ternyata itu hanya khayalan aku dong! Tempatnya menurut aku B aja, hampir gak ada bagus bagusnya (bahkan wc nya gak bersih sama sekali) Gak ada booth yang menjual barang Disney sama sekali juga! Adanya cuma jualan makanan ringan yang ada nuansa Disneynya gitu, dan tempat shownya biasa bangeeeeettt. Aku rada kecewa seh sama tempat penyelenggaraannya. Kayaknya bagusan di Singapore deh yak, aku lihat tempatnya luas dan bagus gitu. Kalau yang di Jakarta gimana yak? Ada yang nonton juga gak?

Untungnya dari segi tempat yang mengecewakan buat aku, pertunjukan mereka bagus banget seh, aku senaaaang nontonnya, hahaha.

Pertunjukan pertama dimulai dari Mickey Mouse yang memperkenalkan teman-temannya dan dilanjutkan dengan tarian dan nyanyian yang bangus banget! Dulu waktu kecil aku tuh selalu pengen nonton acara beginian, tapi gak punya kesempatan sama sekali. Makanya pas nonton ini kok aku jadi berasa bahagia gitu! Gak papa deh yak masa kecil gak nonton, yang penting udah nonton pas tua, huahahahahaha.

Si K sendiri lumayan bisa mengikuti acaranya seh, karena pertama dia emang berbahasa inggris dan dia juga kenal hampir semua karakter dan lagu-lagu di Disney (gak percuma ya nonton Disney Jr di rumah πŸ˜› ) sehingga selesai nonton acara ini Kami puas banget dan kalau ada lagi acara seperti ini aku pengen nonton lagi! (ini emaknya yang kepengen sebenarnya, hahahahaha).

Selesai acara, Kami langsung disambut dengan hujan yang sangat amat deras gitu. Sampai pesan grab aja susah banget dapatnya. Untungnya beberapa menit kemudian hujannya agak reda dan kami berhasil mendapatkan supir grab yang berpengalaman jadi gak ada cerita kesasar lagi >.<

Sampai di sinilah cerita perjalanan aku ke Melaka dan Kuala Lumpur dalam rangka menonton Disney on Ice. Setelah ini aku masih pengen nulis tentang review hotel yang aku inapi di Kuala Lumpur kemaren.

bye.

Main Salju di Genting, Malaysia


Niatnya buat nonton Disney on Ice, jalannya malah ke Melaka. Terus karena belum pernah ngerasain salju beneran disambi ke Genting buat main salju pura-pura πŸ˜›

Sebelumnya, baca juga ya tulisan aku tentang liburan dalam rangka nonton Disney On Ice ini:

  1. Itinerary Melaka dan Kuala Lumpur
  2. Jalan di Melaka (Bagian Pertama)
  3. Jalan di Melaka (Bagian Kedua)
  4. [Review Hotel] The RuckSack Caratel, Melaka
  5. Main Salju di Genting, Malaysia
  6. Nonton Disney on Ice di Kuala Lumpur
  7. Review Melia Hotel, Kuala Lumpur

Hari jumat tanggal 5 April 2019 dimulai dengan malas-malasan di hotel. Karena sesungguhnya kenikmatan liburan yang hakiki adalah bisa bangun gak mikirin cucian dan gelonjoran sampai siang kan yess? πŸ˜› Tapi karena hari ini sesuai itin kami harus pergi ke Genting, dan kalau cuma di hotel seharian (yang mana aku seh suka-suka aja untuk ukuran Kuala Lumpur) si K bakalan protes, maka bergeraklah kami dari hotel menuju ke stasiun Pudu Central jam 10 pagi.

Pas sampe di stasiun pas banget ada bus yang mau berangkat ke Genting. Tapi sayangnya pas kami mau beli tiket ternyata busnya udah penuh aja dong! Hasilnya kami membeli tiket bus selanjutnya yang mana maish harus menunggu kurang lebih 1 jam lagi πŸ˜₯

Stasiun Pudu Central ini uneventfull banget yak. Jadilah kami rada mati gaya menunggu 1 jam sebelum busnya berangkat. Untungnya stasiunya gak panas (walaupun gak begitu dingin semerbak) dan gak begitu padat sehingga si K tetap masih main lari-larian bolak balik seorang diri di stasiun itu, hahaha. Setelah bolak balik lihat HP – termenung – lihat HP – termenung – ke toilet – ngomong bentar – termenung lagi akhirnya pukul 11 kamipun dipersilahkan untuk naik ke dalam bus dan perjalanan 1 jam menuju Genting dimulai.

Perjalanan dari Stasiun Pudu Central di Kuala Lumpur menuju ke Genting kurang lebih 1 jam. Seperti biasa, walaupun cuma 1 jam, aku tetap dong minum antimo biar gak mabuk πŸ˜› Dan walaupun aku udah pernah ke Genting 1 kali waktu bulan madu tahun 2013 kemaren, aku tetap lupa dong gimana suasana jalan rayanya yang ternyata sangat berliku-liku yang membuat aku merasa keputusan tepat minum antimo itu. Kalau gak aku bisa muntah deh kayaknya πŸ˜›

Setelah sampai, perjalanan dilanjutkan dengan membeli tiket kereta gantung untuk menuju ke Genting. Kali ini Kami membeli tiketnya untuk return karena pastilah ya kami balik lagi, hahaha. Perjalanan dari terminal ke Resort World Genting cuma memakan waktu kurang lebih 15 menit. Gak terlalu lama seh menurut aku. Beda waktu kami naik kereta gantung di Langkawi tahun lalu yang terasa banget emang perjalanannya lama dan panas. Mana gak boleh bawa minum pula, jadinya berasa haus banget.

Setelah sampai di atas, Kamipun langsung menuju tempat utama, apalagi kalau bukan Snow World. Sebagai manusia yang gak pernah lihat salju tapi pernah merasakan musim dingin jadi berasa santai aja mau masuk Snow World ini. Ah, palingan karena saljunya pura-pura ya gak dingin dingin banget lah yess? Tapi ternyata nggak dong! Di dalam aku kedinginan banget! Bahkan kaki aku terasa beku saking kedinginannya loh!

Sebelum masuk aku beli tiketnya dulu, terus setelah beli tiket kita akan dapat jadwal masuk ke dalam Snow Worldnya gitu. Kami membeli tiket terusan yang terdiri dari Snow World, Theme Park sama satu lagi apa gitu kayak museum. Harganya aku lupa, wkwkwkwk. Kami membeli tiket ini emang karena berencana main di Theme Parknya seh karena jatuhnya lebih murah daripada beli satuan.

Lima belas menit sebelum jadwal masuk kita udah dibolehkan masuk untuk persiapan. Pertama kita bakalan masuk ke dalam tempat peminjaman peralatan untuk masuk gitu. Barang-barang yang dipinjamin adalah jacket, sarung tangan dan sepatu boot. Karena si K udah aku bawakan jacket musim dinginnya, jadi dia gak pake jacket dari Snow Worldnya, cuma pake boot dan sarung tangan.

Pas nyobain pake Bootnya ya ampuuuuun, kok gak nyaman sekali ya? Pas di bawa jalan apalagi. Sudah menggunakan peralatan lengkap akhirnya kamipun masuk ke dalam tempat utamanya. Pas pertama kali masuk ke dalam ya ampuuuun, kok ya dingin banget! Dinginnya itu kayak ngiris-ngiris kulit gitu deh, gak nyaman banget lah pokoknya. Ditambah lagi sepatu boot yang kasar banget lagi. Waktu yang dikasih 45 menit akhirnya gak kami pakai habis karena kok ya 30 menit rasanya udah lamaaaaa banget.

Pas ke Snow World ini aku udah rencana mau ke Jepang dan mau ketempat salju gitu. Aku udah lihat-lihat seh bagaimana orang ke sana dan foto-fotonya. Dan yang menyedihkan aku lihat kok ya sepatu yang dipinjamkan samaan dengan yang aku pake di Snow World itu yak? Ada yang pernah pengalaman ke tempat main ski di Jepang? Sepatunya enak atau gak seh? Kok ya aku jadi baper sendiri mau ke sananya. Mau dipindahkan aja destinasinya ke Shirakawa Go, tapi gak yakin akhir maret masih bersalju, hmmmm.

Setelah drama kesakitan kaki dan kedinginan kamipun ke luar dari tempat itu. Yang rencananya pas liburan ke Jakarta pengen ke Snow Worldnya Transmart juga, langsung aku batalin deh. Beneran rasanya Snow World gak ada seru serunya >.< sebelum melanjutkan main-mainnya Kamipun mengisi perut dulu dengan makan di McD! Hahahaha.

Perut udah kenyang, kami lanjutkan buat main-main di Theme Parknya. Pas dilihat dari luar kelihatannya kecil ya, ternyata lumayan luas juga loh Indoor Theme Park di Genting itu. Katniss puas banget main di sini sampai pas kita aja pulang jadi susah πŸ˜›

Pulangnya, kami mengambil rute yang sama, menggunakan kereta gantung, bus dan sampai di hotel udah tepar banget! Tapikan belum makan malam? Jadilah melimpir sebentar ke Pavilion untuk nyari makan dulu baru balik lagi ke hotel.

Besok adalah rencana utama dalam perjalanan ini. Apalagi kalau bukan nonton Disney On Ice Kuala Lumpur!

bye.

[Review Hotel] The Rucksack Caratel, Melaka


Setelah menulis perjalanan aku di Melaka kemaren, maka marilah kita mereview sedikit hotelnya. Pas aku bilang hotel aku berada di area Req Square-nya Melaka, ternyata banyak yang penasaran dong! Aku sendiri sebenarnya waktu pertama kali si abang suami bilang bahwa hotel kami di daerah ini gak ngeh-ngeh amat seh. Karena dari dulu jalan emang aku dan suami udah punya tugas masing-masing. Aku yang tugasnya membuat itinerary dan mengatur mau ke mana aja Kami di suatu kota nanti, suami yang ngurusin pembelian pesawat dan hotelnya. Karena biarlah urusan keuangan balikkan ke para suami kan yak :mrgreen:

Sebelumnya, baca juga ya tulisan aku tentang liburan dalam rangka nonton Disney On Ice ini:

  1. Itinerary Melaka dan Kuala Lumpur
  2. Jalan di Melaka (Bagian Pertama)
  3. Jalan di Melaka (Bagian Kedua)
  4. [Review Hotel] The RuckSack Caratel, Melaka
  5. Main Salju di Genting, Malaysia
  6. Nonton Disney on Ice di Kuala Lumpur
  7. Review Melia Hotel, Kuala Lumpur

Seperti yang aku sebutkan di atas, bahwa aku sama sekali gak mencampuri pengurusan pencarian tentang hotel ini. Biasanya, si abang suami yang ngubek ngubekin aplikasi semacam Traveloka, Agoda, dll. Saat dia udah dapat beberapa pilihan hotel, nanti dia share link hotelnya ke Aku, nah tugas aku adalah memilih hotel yang paling aku suka, hahahaha. Kriteria aku masih tetap sama dengan review hotel yang udah sering banget aku bahas, yaitu kamarnya bersih, rapi dan tidak terkesan gelap dan tua. Karena kamar gelap dan tua itu sangatlah mengganggu buat aku. Aku zonk banget itu adalah kamar hotel pas kita ke Shenzhen tahun 2016 lalu. Pokoknya setelah itu aku gak mau nginep di kamar tua. Setelah itu, aku pastiin lokasinya, karena sebagai emak-emak jarang berolah raga, kaki aku harus disayang semaksimal mungkin πŸ˜›

Alasan Memilih Hotel Ini

Udah template ya, kenapa seh si Irni memilih hotel ini? Karena ya seperti aku sebutkan di atas, pas aku cek foto-foto kamarnya ok, dan pas di cek review dari traveller di Tripadvisornya juga ok. Selain itu dipilihnya hotel ini ya karena lokasinya seh. Aku gak ngeh seh dengan lokasinya tepatnya di mana, tapi kata si abang dekat banget sama lokasi wisata yang aku mau. Ya, kalau gitu seh aku yess aja.

Setelah model kamar dan lokasi udah ok, lalu apa yang si Irni perhatikan lagi untuk memutuskan apakah hotel ini tepat atau tidak? Ya apalagi kalau bukan harganya seh :mrgreen: Karena kami liburannya masih di Malaysia, langsung auto mikir harganya harus murah seh. Kecuali emang mau nginep di Resort kayak di Penang kemaren ya emang rada mahalan. Tapi kalau cuma untuk tempat tidur ya harus paling murah lah, hahahaha.

Harganya, untuk ukuran lokasinya yang ok banget itu termasuk ok lah ya. Dua malamnya IDR 868.537 atau satu malamnya IDR 434.268 aja. Walaupun sebenarnya harusnya masih ada yang lebih murah daripada ini. Tapi dilihat Kami yang bookingnya gak jauh-jauh hari dan lokasinya yang 100% strategis banget ini jadi jatohnya pas seh menurut aku.

Terus Gimana Kamarnya Niee?

Kamarnya sendiri seperti yang aku sukai seh, model modern minimalis gitu. Untuk ukuran ternyata gak begitu sempit loh. Aku udah pesimis karena kan kelihatan bangunannya cuma nempel gitu diselipan Red Square, tapi ternyata mereka mendesignnya sangat bagus seh. Di dalam kamarnya kita dapat handuk dua buah, peralatan mandi dan sikat gigi, setrikaan, teh dan kopi dan yang paling menyenangkan untuk aku selain dapat bantal seperti biasa, hotel ini juga menyediakan guling loh. Aku bahagia :mrgreen:

Alasan lain yang buat aku memutuskan untuk ambil hotel ini adalah karena mereka menyediakan sarapan pagi. Dulu sering mikir kalau sarapan pas liburan enaknya nyobain tempat sarapan lokal kan yess. Tapi setelah beberapa kali liburan, ternyata adanya fasilitas sarapan di hotel ini sangat membantu aku seh untuk mengatur waktu jalan-jalannya. Jadi habis mandi bisa cuss makan jadi setelahnya bisa langsung jalan-jalan terus.

Kirain aku dapat makan itu sejenis Hotel Izumi di Bukit Bintang itu yak, yang sarapannya dapat nasi goreng, kadang mie goreng, dan beberapa menu makanan berat lainnya yang nampol banget deh. Ternyata di sini gak dong πŸ˜₯ Di sini cuma disediakan semacam sereal gitu, terus roti tawar, beberapa jenis jus, susu, dan buah-buahan. Untungnya si K udah bisa sarapan pake sereal model cococrunch gitu jadi bisa aman deh untuk sementara. Tapi kalau gak bawa anak udah cukup banget seh untuk aku, karena makan roti bakar juga udah kenyang kan yak.

Terus apa lagi ya? Rasanya udah deh, karena ini hotel non bintang jadi gak ada fasilitas apa-apa lagi seh. Tapi pas aku search di google hotel ini kok ada fasilitas kolam renangnya juga loh! Tapi aku gak lihat disebelah mananya seh yak. Dan aku juga gak tertarik buat berenang saat di Melaka seh, hahahaha.

Sedihnya adalah, pas aku nulis review hotel ini kok aku pas banget lihat di google maps bahwa hotelnya udah tutup. Tapi jangan sedih dulu, masih ada kok hotelnya dilokasi yang sama. Cuma ganti manajemen aja dan ganti nama. So, yang mau nginep di daerah RedSquare maish bisa nginep di hotel ini.

Jalan di Melaka (Bagian Kedua)


Ok, mari kita lanjutkan cerita tentang perjalanan aku ke Melaka dan KL bulan April lalu.

Sebelumnya, baca juga ya tulisan aku tentang liburan dalam rangka nonton Disney On Ice ini:

  1. Itinerary Melaka dan Kuala Lumpur
  2. Jalan di Melaka (Bagian Pertama)
  3. Jalan di Melaka (Bagian Kedua)
  4. [Review Hotel] The RuckSack Caratel, Melaka
  5. Main Salju di Genting, Malaysia
  6. Nonton Disney on Ice di Kuala Lumpur
  7. Review Melia Hotel, Kuala Lumpur

Restoran Hajjah Ruhana

Setelah puas mendinginkan badan di Museum Samudra, kamipun mencari tempat makan. Aku sebenarnya gak tahu juga makanan khas di Melaka ini, tapi sepenglihatanku di sekitaran Dataran Pahlawan banyak banget rumah makan yang jual asam pedas. Terus aku makan asam pedas juga? Ya tentu tidak dong! Hahahaha. Aku sendiri gak begitu asing dengan asam pedas seh, soalnya di Pontianak itu juga jadi makanan khas orang Pontianak. Tapi walaupun itu makanan khas orang Pontianak tapi aku sendiri gak pernah makan loh! Aneh aja gitu ikan disayur, hahaha. Tapi kami tetap makan di tempat makan seperti itu kok. Pilihan kami jatuh ke Restoran Hajjah Ruhana ini. Walaupun gak makan asam pedas, tapi masih banyak pilihan makanan yang dapat dipilih di sini seh, seperti berbagai macam sayuran sop, capcai, dan berbagai lauk seperti ikan goreng, ayam goreng, dll.

Mesjid Selat Melaka (Mesjid Terapung)

Setiap searching tentang tempat yang harus didatangi pas jalan di Melaka. Mesjid terapung ini pasti dimasukkan ke dalam salah satu list. Sebenarnya aku gak terlalu kepengen banget mau ke sini seh, karena kelihatan dari fotonya ya biasa aja gitu sepertinya, hahahaha. Tapi setelah kami makan dan bingung mau ke mana lagi (yang ternyata 2 hari di Melaka itu sangat lebih dari cukup seh) akhirnya kami memutuskan untuk sholat Dzuhur aja di Mesjid ini, sekalian pepotoan juga kan yak.

Mesjidnya seperti yang aku singgung tadi ya biasa aja. Cuma karena berada ditepian selat Melaka aja yang mana sebagian besar (atau seluruh?) bangunan Mesjidnya berada diperairannya sehingga kalau airnya lagi tinggi, maka seolah-olah mesjid ini terapung. Kalau dilihat dari modelnya seh ya gak tua juga, malah terkesan baru seh. Interior di dalamnya ya seperti mesjid mesjid pada umumnya aja. Pokoknya ya gak ada yang spesial juga seh, huahahaha *dipentong*

Kalau kalian ke Melaka ya menurut aku gak wajib juga mengunjungi mesjid ini. Kalau kalian emang berburu mau sholat di setiap mesjid yang kota kalian kunjungi ya boleh aja. Tapi kalau gak ada kesempatan yang leluasa kayak aku ya jangan dipaksain juga. Apalagi wilayah mesjid ini lumayan jauh dari tempat-tempat wisata di Melaka lainnya seh. Walaupun pas aku datang kok ya banyak juga turis bule yang masuk ke mesjid ini. Berarti promosi Malaysia ngena ya.

Dataran Pahlawan

Udah makan, udah sholat, terus aku bingung mau ke mana lagi, huahahaha. Jalan di Melaka ini emang kurang persiapan itinerary seh jadi rada kacau jadwalnya πŸ˜› Terus teringat aku pengen beli Iphone Xs di Malaysia ini karena kan harganya lebih murah ya daripada beli di Pontianak (ini sebelum imei-imeian itu diberlakukan seh) jadilah kami langsung pesan Grab dari Mesjid Melaka ke Dataran Pahlawan.

Sebelum masuk ke dalam mallnya, karena ada tanah lapang gitu, tetep dong ya kita foto-foto dulu. Sayangnya tanah lapang di Melaka ini kurang bersih. Banyak sampah-sampah kecil di sana sini. Jadi yang awalnya si K mau main guling-gulingan di sono jadi aku gak kasih seh. Beda sama pas kami kemaren main di Penang. Itu tanah lapang di depan City Hall nya beneran bersih banget, jadi gak khawatir kalau si K guling-gulingan di sana. Beda peruntukannya juga kali ya. Kalau dulu di Penang beneran orang-orang pada beraktifitas di tanah itu kayak main bola, duduk-duduk piknik, bahkan ada yang semacam buat kajian gitu di sana. Kalau di Dataran Pahlawan ini pas kita pergi kosong melompong seh, gak ada yang tertarik main di sini kayaknya, hahaha.

Udah puas pepotoan di lapangan itu, kamipun kemudian masuk ke dalam Mallnya. Mallnya ya standar aja seh, gak yang lengkap gimana gitu. Pertama kita singgah ke H&M dan akhirnya si abang suami beli beberapa baju kaos dan si K aku belikan beberapa baju dan jaket juga untuk dia sekolah. Aku sendiri gak ada beli seh, emang niat belanjanya cuma beli Iphone aja, huahahahaha.

Udah belanja baju, akhirnya aku nyari tujuan utama aku ke sini, apalagi kalau bukan Iphone, huahahaha. Pas pula di dalam mallnya ada gerai Iphone dan ada yang aku incer. Ya udah cuss lah kita beli langsung aja sebelum suami berubah fikiran πŸ˜› Mission Complete lah ini biar emak K gak stress lagi menghadapi pekerjaan baru πŸ˜›

Pas ke luar Mall pas udah malam. Karena udah ada di daerah tempat makan, sekalianlah kami akhirnya makan. Kali ini tempat makan yang kami tuju adalah Ayam Wong Solo, biar gak bosen ntar makan nasi lemak muluk πŸ˜›

Jonker Street

Pulang dari makan malam kok ya masih rada awal gitu kalau kita harus langsung pulang ke Hotel. Karena itu akhirnya kami memutuskan untuk jalan ke Jonker Street aja dulu. Tapi ternyata, ke Jonker Street di weekday itu adalah kesalahan besar seh. GAK ADA APA-APA gitu di sana! Hahahahaha. Alhasil kami cuma keliling meratapi sepinya jalanan malam, terus balik dan sebelum ke hotel pepotoan dulu di daerah Red Squarenya karena kok ya malam ternyata sepi :mrgreen:

Menyusuri Sungai Melaka

Keesokan harinya, sesuai dengan rencana, kami setelah sarapan di hotel langsung cuss ke dermaga untuk naik ferry menikmati sungai melaka dari atas sungai. Banyak yang merekomendasikan untuk naik ferry ini malam seh. Tapi karena aku kok ya gak sreg kalau naik kapal malam-malam, makanya aku memutuskan untuk naiknya pagi aja. Dermaga ferry dari daerah Red Square tempat hotel aku nginep ternyata gak begitu jauh. Cuma jalan kaki 10 menit udah sampai.

Naik ferrynya sendiri gimana Niee? Ya menurut aku biasa aja seh, hahahaha. Ya walaupun emang pemandangannya ok, bersih, rapi, tapi ya standar aja gitu, gak ada yang wah banget. Tapi lebih mending lah daripada naik kapal di Sungai Kapuas, huahahahaha.

RED SQUARE

Sebelum balik ke Hotel untuk cuss lanjut perjalanan ke Kuala Lumpur, kami singgah dulu lagi untuk pepotoan di Red Square. Yang tadi malam sepi-sepi aja, ternyata paginya langsung rame dong! Jadilah kita harus antri untuk berfoto dibeberapa spot foto yang terkenal itu. Padahal ini hari bukan weekend loh, dan bukan juga hari libur di Malaysia, tapi tetep aja rame. Yang aku lihat ada beberapa rombongan turis China gitu dan ada juga beberapa keluarga dari Timur Tengah.

Soal wisatawan, sepenglihatan aku, Malaysia ini emang lebih banyak didatangi turis manca negara gitu ya daripada Indonesia. Maksudnya ya jangan disamain dengan Bali atau Jogja seh, ya di sana juga rame turisnya. Tapi kalau aku lihat dibeberapa kota kecil di Malaysia semacam Melaka, Penang, Langkawi, bahkan Kuching yang deket banget dengan Pontianak banyak loh wisatawan manca negaranya. Kalau di Pontianak mah boro-boro ya. Ya semoga Indonesia pariwisatanya bisa semakin maju deh seperti Malaysia bahkan lebih!

***

Setelah puas pepotoan, akhirnya kamipun pulang ke hotel, kemas-kemas koper, cek out dan langsung cuss ke terminal untuk melanjutkan perjalanan ke Kuala Lumpur buat nonton Disney on Ice.

bye!

Jalan di Melaka (Bagian Pertama)


Seperti yang udah aku ceritakan sebelumnya, bahwa liburan kali ini aku niatan awalnya adalah hanya untuk menonton Disney On Ice di KL. Karena awalnya cuma pengen nonton aja, jadi rencananya aku mau perginya hari jumat aja dan pulangnya hari minggu. Lah kok, ternyata hari rabunya itu libur nasional jadi hari kamis dan jumat jadi hari kejepit nasional. Jadilah si abang memutuskan untuk kami perginya hari selasa aja (kebetulan flight PNK-KUL hari selasa itu jam 5 sore), dan pulangnya hari minggu seperti rencana awal.

Rencana udah sep, semua tiket udah dibeli (pesawat, tiket nonton, dll), pas H-1 aku dapat undangan pelantikan dong, untuk hari selasanya! Aku langsung stress, pengen nangis rasanya! Bagi yang udah lama ikutin blog dan sosial media aku pasti tahu deh. Aku sama sekali gak ada target dan keinginan sama sekali untuk mengembangkan karir. Diberi tanggungjawab yang lebih itu aku langsung hilang fokus. Jadinya aku muntah dong semalaman! Badan rasanya gak enak banget, takut besoknya pas pelantikan malah pingsan! Huhuhuhu. Untungnya beli tiketnya sore. Sehabis pelantikan langsung ngadep bos baru bilang kamis, jumat udah ngajuin cuti. Jadi niatan awal liburan untuk nonton Disney, juga jadi pelarian aku sebelum memulai rutinitas baru di kantor baru. Biar semangat gitu ceritanya πŸ˜›

Sebelumnya, baca juga ya tulisan aku tentang liburan dalam rangka nonton Disney On Ice ini:

  1. Itinerary Melaka dan Kuala Lumpur
  2. Jalan di Melaka (Bagian Pertama)
  3. Jalan di Melaka (Bagian Kedua)
  4. [Review Hotel] The RuckSack Caratel, Melaka
  5. Main Salju di Genting, Malaysia
  6. Nonton Disney on Ice di Kuala Lumpur
  7. Review Melia Hotel, Kuala Lumpur

Karena gak fokus mempersiapkan perjalanan kali ini, aku jadi melupakan packing hal yang penting. Aku lupa masukin celana jalan si abang suami dong! Alhasil, si abang pergi ke KL dengan celana dinas yang warna cokelat itu. Kalau ada yang lihat ada keluarga aneh lagi liburan tapi pake celana dinas warna cokelat dari bandara Pontianak, ke Kuala Lumpur, sampai naik bus ke Melaka, iya itu kami πŸ˜†

Penerbangan dari Pontianak ke KL dengan AirAsia biasa seperti biasanya. Gak ada yang bisa diceritakan karena emang gak ada apa-apanya juga di dalam pesawatnya πŸ˜› Karena penerbangannya habis magrib gitu, jadi kami emang udah makan di bandara, jadi yang biasanya pesan online makanan untuk di pesawat gak kami lakukan lagi. Tapi setiap di pesawat aku kok selalu laper gitu ya. Ada yang samaan juga dengan aku gak?

Sampai di KLIA2 udah jam 9.20 pm. Pas ngecek di website bus untuk ke Melaka itu ada yang jam 10an gitu. Dengan pedenya kami gak beli tiketnya karena mikir hari selasa tengah malam gini siapa juga yang habis-habisin tiket busnya? Etapi ternyata beneran habis loh! Jadi kami harus nunggu jadwal selanjutnya yang mana jadwalnya adalah jam 11 malam aja >.< Karena gak ada pilihan, akhirnya kamipun membeli tiket tersebut. Setelah menunggu selama hampir 2 jam karena busnya datangnya telat akhirnya kami bisa jalan juga menuju ke Melaka pukul 12 am.

Selama di perjalanan, aku gak terlalu sadar seh. Dikatain tidur ya tidur karena aku minum antimo, dikatain gak tidur ya gak juga karena rasanya telinga masih kedengaran suara-suara gitu. Jadi intinya gak nyenyak deh tidur aku selama di dalam bis itu. Untungnya karena jalannya malam, yang seharusnya perlu waktu 2 jam untuk dari KLIA2 ke Melaka, cuma kami tempuh dalam waktu 1,5 jam saja. Bus kami berenti di stasiun centralnya Melaka yang kalau malam kok ya rada horor ya kelihatannya karena sepi banget, hahaha. Untung pas nyari grab langsung dapat dan kamipun langsung jalan menuju hotel yang udah si abang suami booking, The Rucksack Caratel. Untuk review khusus untuk hotel ini menyusul ya :mrgreen:

Drama kelupaan bawa celana dan kehabisan tiket bus ternyata bukan drama kami terakhir hari itu. Masih ada satu drama lagi sebelum kami bisa tidur nyenyak di dalam kamar yang udah kami pesan jauh-jauh hari ini. Sampai di depan hotel, pas mau masuk, ternyata pintu hotelnya dikunci dong! Sempat bingung banget gimana caranya masuk karena gak ada bel juga untuk membangunkan petugasnya. Setelah dicari dan dilihat-lihat ada pesan gitu untuk menghubungi nomor sekian jika ingin melakukan cek in. Untungnya (orang melayu selalu untung ya πŸ˜› ) si abang udah beli nomor Malaysia untuk pesan-pesan grab, jadi bisa langsung nelpon si petugasnya. Gak kebayangkan kalau gak punya nomor telpon dan semua toko tutup jam segitu, gimana kita bisa masuk coba >.<

Setelah ditelpon, akhirnya 30 menit kemudian, mbak-mbaknyapun datang dan membukakan pintu untuk kita. Si abang langsung cek in dan mendapatkan kunci untuk masuk ke dalam kamar. Masuk ke dalam kamar si Irni masih sempat-sempatnya buat video singkat review kamar hotelnya untuk buat konten youtube πŸ˜› Setelah ganti baju, kemas-kemas sebentar, kamipun langsung tidur!

Tepian Sungai Melaka

Aku gak tahu apa nama sebenarnya daerah ini. Toh, aku ke sini juga karena hasil sesat membaca Google Maps kok! Hahahaha. Jadi ceritanya niatan aku si abang suami setelah kami berhasil bangun jam 8 pagi setelah drama yang panjang dihari sebelumnya itu adalah pergi ke St. Paul’s Chrurch karena menurutnya sangat dekat dengan hotel. “Jalan 5 menit aja kok dek!” katanya waktu itu. Karena si abang suami bertugas untuk mendorong stroller si K, jadilah aku yang bertugas membaca peta. BTW aniwey, aku lumayan jago kok sebenarnya membaca peta ini. Dulu waktu sekolah, aku ikut pramuka sampai tingkat Laksana gitu πŸ˜› jadilah aku pede. Tapi ternyata peta yang aku baca itu salah dong! Yang akhirnya malam membawa kami muterin tepian sungai Melakanya!

Tapi sebenarnya, pada saat tersesat itu penuh makna juga kok. Saat jalan kami melihat ada toko H&M gitu, karena si abang gak punya celana (gak pake celana cokelat dinas lagi kok, tapi pake celana pendek buat tidur πŸ˜› ) jadi akhirnya kami singgah dan si abang berhasil membeli 2 celana baru! :mrgreen: Di depan tokonya ternyata adalah posisi Jongker Street yang walaupun masih sepi-sepi aja waktu pagi gitu, tapi paling gak kami bisa pepotoan dulu di depannya πŸ˜›

Belok ke kanan dari Jonker Street ternyata ada daerah yang banyak banget muralnya gitu. Aku suka! Muralnya ini tipe mural yang gede-gede nutupin satu dinding bangunan gitu loh. Bukan mural imut-imut kecil ala penang yang “ternyata gitu doang” hahahaha. Sebelum ke Melaka emang aku kurang banyak research seh, jadi pas datang dan lihat ternyata Melaka seperti itu jadi terkagum-kagum juga. Ternyata datang kesebuah tempat tanpa ekspetasi sama sekali itu bisa membuat senang juga yak!

Tempat muralnya itu di dalam gang-gang gitu. Nah, pas kami masuk kesalah satu gang eh kok tembus ke tepian sungai Melakanya dong! Dan ternyata tepiannya cantik! Walaupun bukan tipe waterfront yang banyak ruang terbukanya seh. Ini lebih ke tepian yang dikelilingi sama cafe-cafe dan mural gede-gede lagi dong! Ah, kenapa aku dari dulu gak ke Melaka ya? *thinking*

St. Paul’s Chrurch

Setelah berkeliling lumayan jauh dari hotel, akhirnya kami sadar bahwa sepertinya kami salah membaca google maps. Ini sadarnya juga karena setelah mengikuti google maps kok ya kami menuju jalan kembali ke Hotel. Akhirnya, beralih kematikan directionnya google maps dan pelan-pelan membaca blognya orang-orang lagi. Dan ternyata tempat yang ingin kami tuju itu ada di daerah Red Square Melakanya itu dong! Itu berarti cuma beberapa langkah dari hotel kami! Duh! Tolol banget πŸ˜›

Jadi, diujung daerah Red Square itu ada tangga tinggi dengan tulisan Stadthuys yang ternyata adalah jalan masuk menuju ke St. Paul’s Chrurch. Kalau udah masuk ke sini, ikuti aja jalan menanjak menuju ke bukit kecilnya. Walaupun sedikit ngos-ngosan buat naik, tapi pemandangan Melaka dari atas ketinggian gini ternyata lumayan kece loh! Nah, St. Paul’s Chrurch itu letaknya ya di atas bukitnya ini. Untuk lebih jelasnya gimana tempatnya, bisa ditonton video aku di bawah yak.

Gimana tempatnya Niee? Kalau untuk aku seh ya B aja seh, huahahahahaha. Soalnya aku suka susah kagum sama tempat sejarah yang nangung gitu ya. Seperti ini yang cuma reruntuhan aja gitu. Kalau tempatnya satu bangunan yang megah kayak kastil di Seoul sono seh ya aku kagum, hihihihi. Tapi tetep lumayan kok, apalagi dengan pemandangan laut lepasnya yang kece. Jadi kalau ke Melaka, jangan lupa ke sini yak!

A Famosa

Kalau mau turun dari St. Paul’s Chrurch, jangan melewati jalan yang sama. Tapi pilih jalan menurun di belakang gerejanya. Nah, di belakangnya ini ada benteng lagi yang masuk kesalah satu tempat wajib yang harus dikunjungi kalau kalian ke Melaka, yaitu A Famosa. Tapi lagi-lagi menurut aku tempatnya B aja seh, huahahahaha *dipentung rakyat Melaka*

Yang seru dari daerah A Famosa menurut aku adalah karena di depannya itu termasuk daerah Dataran Pahlawan gitu seh. Walaupun daerah mal-mal yang terkenalnya itu masih diujung jalan lainnya lagi. Kalau di daerah ini jalannya itu terbuat dari pavling block berwarna merah bata dan putih. Kalau ada waktu yang banyak pengen banget duduk-duduk di sini bentara sambil main galah hadang atau tablak deh! Hahahahaha. Sayangnya kami ke sana disiang hari bolong dan kondisi cuacanya panas banget, jadi gak begitu tertarik deh buat main-main.

Museum Samudra

Dari A Famosa, terus kami melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki ke Museum Samudra. Jalan kaki disiang hari dengan suhu yang wow banget itu sesuatu banget loh. Untung lokasinya dekat! Oh iya, setelah kami berkeliling-keliling Melaka ini ternyata emang lokasi wisata-wisata yang jadi menu wajib di kota ini emang deket-deket semua loh! JadiΒ  emang jalan kaki aja cukup banget! Cuma kami aja yang manja kadang yang masih pesan grab buat ke mana-mana. Lagian kan grabnya juga murah banget di Malaysia ini, jadi sayang banget kalau kakinya diajak kerja keras! πŸ˜›

Untuk masuk ke Museum Samudra ini ada biayanya. Bagi penduduk Malaysia biaya untuk orang dewasa adalah RM 5 dan untuk anak-anak RM 3. Sedangkan untuk warga negara asing kayak kita-kita gini, harganya rada beda yaitu RM 10 untuk dewasa dan RM 6 untuk anak-anak. Bedanya 2 kali lipat aja gitu! Tapi karena hitungannya masih murah, jadi gak masalah lah, hahahahahaha.

Ada apa aja di dalam Museum Samudra ini? Ya pada dasarnya isinya menjelaskan tentang isi kapal perang jaman dahulu kala seh yak. Karena Malaysia ini jajahan Inggris, jadi model-model kapalnya itu ya model kapal Inggris gitu. Yang buat senang di sini adalah tempatnya full AC! Bagi kami yang udah seharian terpapar sinar dan teriknya matahari jadi berasa oase di padang gurun deh *lebay* hahahaha. Sayangnya tempat ini WCnya buruk banget seh. Buruknya itu sampai yang gak bisa dipake gitu untuk aku, jadi ya ku sangat tidak suka >.<

Buat yang mau lihat-lihat gimana isi dalam kapalnya bisa nonton video aku di bawah deh.

Wow, ternyata aku ngalor lindur udah 1600an kata aja! Karena sepertinya udah kepanjangan, maka aku potong dulu cerita di Melakanya sampai di sini yak! Untuk cerita selanjutnya akan aku tulis di postingan perjalanan ke Melaka aku bagian dua!

bye.