Biaya Liburan ke Korea Selatan


Ayoo, siapa di sini yang nungguin si Irni bagi-bagi gosip prakiraan biaya buat liburan ke Korea kemaren? Ngacung! πŸ˜›

Selain pertanyaan bagaimana bisa liburan dan “selamat” selama di luar negeri tanpa menggunakan jasa tour (ya ampun, ini tahun 2018 sis, masa’ ini masih jadi pertanyaan mendunia seh? :woot: ), pertanyaan yang sering juga muncul setelah aku pulang dari liburan adalah berapa biaya yang dihabiskan untuk suatu liburan itu sendiri?

Sebelumnya, baca juga dong cerita jalan-jalan si irni ke korea kemaren:

 

 

Perlu ditekankan di sini lagi bahwa aku pergi itu “ala-ala” backpacker. Ala-ala di sini maksudnya ya budgetnya ditekan tapi gak mau susah juga πŸ˜› Tetep perginya pake koper, tetep nginepnya di hotel. Yang ditekan adalah biaya transportasi dari segi pesawatnya dan transportasi yang aku gunakan selama ditempat tujuan (selalu gunakan transportasi umum). Aku juga banyak bawa ransum dari rumah seperti beras (dan magicomnya sekalian :mrgreen: ), bawa lauk pauk seperti abon atau sambal goreng gitu, bawa mie instan dan beberapa barang yang bisa aku gunakan untuk sarapan dan kadang makan malam. Sama bawa panci kecil juga seh, karena kebetulan aku nginep di hotel yang ada nyediain dapur mini gitu πŸ˜€ Untuk hotelnyapun si abang suami yang selalu sigap mengecek harga. Kalau ada penurunan harga baru deh beli. Kemaren aja awalnya target kita untuk hotel itu 1juta semalem bisa dapat 700ribu aja semalem. Dikalikan 10 malemkan lumayan ya pengurangannya.

Ya, namanya juga pegawai gaji pas-pasan tapi liburan mau gaya-gayaan *eh πŸ˜› Jadi harus pandai-pandai mengatur strategi. Karena soal budget ini pulalah aku dan keluarga hanya liburan 1-2 kali aja setahun. Kalau lebih dari itu gak sanggup kakak! Hahahaha.

Ok, kalau gitu mari kita bedah anggaran liburan ke Korea kemaren item per itemnya yak πŸ˜†

Tiket Pesawat ke/dari Korea Selatan

Dikalangan temen kantor dan lingkungan keluarga dekat, aku ini rajanya mencari tiket murah, hahahaha (padahal mah yang jago si abang suami πŸ˜› ). Mereka gak tahu aja bahwa mencari tiket murah itu perlu perjuangan juga. Gak bisa lo mau pergi besok, terus tetiba whatsapp minta dicariin tiket murah sama aku. Lagian, akukan bukan travel agent juga yak, yang bisa tolongin beli tiket murah. πŸ€”

Baca juga : Berburu Tiket Murah

Padahal udah sering aku bilang bahwa kalau mau tiket murah itu harus belinya jauh-jauh hari. Padahal, setiap ada promo tiket selalu aku shared ke sosial media. Tapi teteeeeeep aja masih banyak yang nanya “kok aku gak dapet yang murah kayak gitu Niee? Emang harus cari hari perhari gitu ya?” YAIYALAH! Lah wong orang menang tiket gratis aja usahanya pasti banyak sama juga dengan nyari tiket murah. Huft.

Aku sendiri sebenarnya gak juga nyari tiket yang paling murah. Kalau dapet ya Alhamdulillah, kalau gak dapet ya berarti harus ekstra lagi mengatur strategi keuangan. Karena setiap liburan yang pertama aku targetkan adalah lokasinya. Seperti ke Korea kemaren, aku udah tahu mau ke Korea dan maunya pas musim gugur. Beberapa kali ngutak atik tanggal yang awalnya mau nopember akhir, jadinya pergi oktober akhir karena tiketnya dapet yang masuk di budget ditanggal itu. Ya, pasti adalah yang kita relakan.

This slideshow requires JavaScript.

Secara garis besar, harga tiket yang aku dapatkan untuk ke Korea kemaren adalah:

  • Tiket dari Pontianak ke Kuala Lumpur Rp. 1.017.000,- add ons plus Rp. 563.500
  • Tiket dari Kuala Lumpur ke Busan 807 MYR add ons plus 321 MYR
  • Tiket dari Seoul ke Kota Kinabalu Rp. 6.438. 785,-
  • Tiket dari Kota Kinabalu ke Kuala Lumpur 475 MYR
  • Tiket dari Kuala Lumpur ke Pontianak 458 MYR

Kenapa kita baliknya muter-muter dulu ke Kota Kinabalu? Karena aku bosen naik Air Asia. Dan karena dapet tiket murahnya ke sono dulu ya kita seh hayuk aja πŸ˜›

Penginapan (Hotel) di Busan dan Seoul

Selama liburan ke Korea kemaren aku menggunakan 2 hotel, yaitu satu malam hotel di Busan dan enam malam di Seoul. Untungnya pas perjalanan ini adalah untuk pergi dan pulang ke Korea kami menggunakan flight malam sehingga di Kuala Lumpurnya gak perlu nginep. Beda pas kita pergi ke Hongkong kemaren yang flight pagi sehingga 2 malam kita harus nginep di Kuala Lumpur jadi gak efisien banget.

Baca juga : Liburan ke Disneyland Hongkong

Di Busan, aku nginep di WA Hotel Nampo di daerah Jung-gu. Rasana beruntung banget deh bisa nginep di sini karena kamarnya gede banget! Dengan harga 500 ribuan puas banget deh dengan fasilitas yang ada di hotel ini. Jarang banget soalnya aku liburan dibelikan kamar yang luas (kecuali pas di Macau kemaren nginep di Hard Rock Hotel Macau πŸ˜› ) jadi kesenangan dapat beginian. Sayangnya kita nginepnya cuma semalam. Bener-bener semalam karena sampai kamarnya udah malam dan pagi-pagi udah cek out lanjut jalan dan pergi ke Seoul.

Baca juga : Hotel Irni selama Ngetrip di Hongkong, Macau dan Shenzhen

Di Seoul sendiri aku nginep di D7 Dongdaemun. Seperti biasa yang menjadi pakar untuk pemilihan hotel adalah si abang suami. Kita yang tinggal bawa badan ini ya nurut aja πŸ˜› Milih di hotel ini karena harganya sesuai budget dan nilai plussnya adalah hotelnya menyediakan dapur mini dengan dua kompor gitu. Lumayan kan jadi akunya gak perlu bawa-bawa kompor listrik lagi dari rumah (iya, si Irni selalu bawa kompor listri waktu liburan (ini liburan atau ngebabu yak πŸ˜› )). Setiap pagi, aku biasanya masak dulu untuk makan si K dan beberapa kali masak buat sarapan dan makan malam juga. Jadi hematlah diriku untuk urusan permakanan ini πŸ˜†

Total biaya untuk hotel adalah:

  • Satu Malam di Busan Rp. 561.630,-
  • Enam Malam di Seoul Rp. 4.773.570,-

Transportasi Selama di Korea

Selama di Korea aku sama sekali gak pernah menggunakan taxi. Kepengen seh, biar kayak adegan drama-drama korea gitu, tapi untuk menghemat budget aku urungkan saja πŸ˜› Ada tiga jenis transportasi yang aku gunakan selama di Korea yaitu kereta api cepat atau KTX untuk perjalanan ke luar kota, subway dan bis. Dari ketiga transportasi itu yang paling sering aku gunakan adalah subway karena paling nyaman penggunaannya. Lagian aku kan emang pencinta transportasi masal model beginian :mrgreen: Sebenarnya kalau mau cepat enakan naik bis. Tapi di Korea ini bisnya kurang memadai untuk turis. Dibanyak stasiun sangat kurang informasi rute dengan bahasa Inggris, jadinya kami susah untuk menaikinya.

KTX Busan to Seoul

Untuk subway dan bus aku menggunakan T-Money untuk pembayarannya. Belinya di 11/7 pas di Bandara Busan. Selama 9 hari di Korea aku dan si abang suami top up sebanyak 4 kali untuk T-Money ini. Jadi kira-kira menghabiskan dana 50.000 won untuk satu orang. Total biaya untuk transportasi selama di Korea Selatan adalah:

  • T-MoneyΒ  50.000 KWR (untuk satu orang, si K masih gratis)
  • KTX dari Busan ke Seoul 59.800 KWR (untuk 1 orang, si K masih gratis)
  • ITX dari Seoul ke Nami Island 5.200 KWR (untuk 1 orang, si K masih gratis)

Tiket Masuk Tempat Wisata

Sebenarnya ke Korea udah bisa puas loh dengan jalan-jalan ketempat wisata yang gratis aja. Kalaupun ada yang bayar biasanya juga gak terlalu mahal seperti ke Gyeongbukgung Palace dan Nami Island. Untuk liburan aku sendiri biaya yang lumayan untuk masuk ke tempat wisata adalah waktu ke Everland dan ke Aquarium di Coex Mall. Kalau kalian mau ngeskip kedua tempat ini, biayanya pasti bisa ditekan banget deh πŸ˜€

Harga tiket untuk tempat wisata yang aku datangi adalah:

  • Everland untuk 2 dewasa dan satu anak 99,260 KWR
  • Gyeongbukgung Palace untuk 2 dewasa dan satu anak 7.500 KWR
  • Nami Island untuk 3 orang 32.000 KWR
  • Coex Aquarium dewasa 28,000 KWR anak-anak (3-12 tahun) 22.000 KWR

Biaya Makan Selama di Korea

Seperti yang aku sebutin di atas, bahwa untuk makan aku ada bawa perbekalan dari rumah, jadi mengurangi biaya makan juga yak πŸ˜€ Tapi kalau mau dirata-ratain biaya makan aku selama di Korea adalah 50k untuk sekali makan untuk satu orang. Jadi tinggal dikalikan saja berapa orang dan berapa hari kita di Korea bisa menggambarkan berapa kira-kira biaya yang dihabiskan untuk makan.

Keseringan seh aku makan di Lotteria, pesan burger udang sama ayamnya doang. Nasinyakan udah bekal dari hotel, hahahaha. Ada kayaknya kita beli makan di sini 4-5 kali, selebihnya ya sedapatnya aja kalau lagi pergi ke mana ada restoran halal langsung kita masuk aja untuk makan.

***

Jadi kira-kira udah ada bayangan belum biaya untuk liburan ke Korea. Kalau kalian rajin notalin dari apa yang aku tuliskan di atas, kelihatan banget kan yak, setengah dari biaya liburan itu bertumpu kepada tiket pesawatnya. Karena untuk transport selama di Seoul (kalau gak ngitung kerata api cepat KTX) cuma 1,3 juta aja udah all in untuk 9 hari. Kalau yang dapat tiket pesawat murah banget itu adalah sebuah anugrah yang harus kita syukuri πŸ˜›

Buat nekan biayanya gimana Niee? Ya menurut aku seh, seperti tadi, cari tiket murah. Kemudian gak usah beli makan dan bagasi (dengan bawa backpack 7 kg aja gitu) karena setengah biaya pesawat aku juga dari beli kursi, bagasi dan biaya makan. Nginepnya juga kalau sendirian di hostel aja. Dan perbanyaklah bawa bekal yang bisa menyelamatkan hari-harimu di Korea πŸ˜†

Karena, buat sebagai besar orang, bukan masalah cara perginya kan yak? Tapi bagaimana kita udah sampai disuatu negara dan berfoto selfie di dalamnya, huahahahahaha *digebuk*

Bye.

ps: rate 1 Ringgit Malaysia adalah Rp. 3500 dan 1 Won Korea adalah Rp. 13 waktu tulisan ini dibuat.

Autumn Trip [Korea] : Nami Island


Sebelum baca tulisan ini, baca juga cerita sebelumnya di #Autumn trip Korea Selatan si Niee yak :mrgreen:

  1. Autumn Trip [Korea] : Preview
  2. Autumn Trip [Korea] : Perjalanan ke Korea
  3. Autumn Trip [Korea] : Busan
  4. Autumn Trip [Korea] : N-Seoul Tower, Itaewon dan Myeongdong Street
  5. Autumn Trip [Korea] : Everland
  6. Autumn Trip [Korea] : Gyeongbokgung Palace dan Cheonggyecheon Stream
  7. Autumn Trip [Korea] : Coex Mall, Bukchon Hanok Village dan Dongdaemun Design Plaza
  8. Autumn Trip [Korea] : Nami Island
  9. Autumn Trip [Korea] : Pulang ke Pontianak

***

Nami Island adalah detinasi terakhir kami untuk liburan di Korea Selatan Kali ini. Keesokan harinya aku udah pulang dan paginya hanya akan jalan-jalan santai di tempat yang dekat dengan hotel aja (Baca bagian 7). Rasanya mau nulis ini juga rada baper. Karena, kalau tulisan seri Korea Selatan ini selesai di blog berarti selesai pula fokus aku ke Korea Selatan. Biasanya, kalau udah selesai nulis perjalanan di blog, aku bakalan fokus ke perjalanan selanjutnya dan untuk sementara melupakan trip sebelumnya. Ya, tapi walaupu begitu, trip selanjutnya pasti lebih seru daripada trip Korea ini kan yak :mrgreen:

Mendengar Nami Island, sebenarnya yang ada dibayangan aku hanyalah tempat syuting Drama Korea Winter Sonata. Seharusnya lebih pas ke sini disaat winter yak, biar lebih terasa aura dramanya πŸ˜› Tapi gak papa lah, autumn juga seru kok ke sini. Yang aku inget dari Nami Island ini juga adalah pemeran cowok dan ceweknya bolak balik naik kapal ferry buat pindah dari satu lokasi ke lokasi lainnya dan beberapa kali mereka singgah di Nami.

Nami sendiri adalah sebuah pulau kecil di tengah sungai. Membayangkan Nami bisa tersohor gini hanya karena sebuah drama korea aku kagum juga loh. Masalahnya adalah di Kota Pontianak sendiri punya pulau persis nami gini di tengah Sungai Kapuas. Tapi sayangnya potensi pariwisata ini gak digarap sama Pemerintahnya. Padahal kalau nebeng nama Nami Island aja pasti udah banyak wisatawan yang bakalan pergi ke sini. Misalnya dibuat “Pulau Batulayang, Nami Island from Borneo” gitu, hahahahaha. Ah, tapi ya sudahlah. Lupakan dengan Batulayang, sekarang saatnya cerita tentang Nami Island πŸ˜€

Nami Island

Niat awalnya aku mau dateng ke Nami ini pagi-pagi banget, soalnya selain ke Nami kami juga berniat pengen ke Petite France yang lokasinya satu daerah dengan Nami. Tapi pas hari H kejadiannya sama aja, pagi-pagi heboh dengan acara masak dan sarapan si K yang akhirnya baru bisa turun dari hotel jam 10an.

Dari stasiun subway di dekat hotel, kami langsung menuju ke stasiun Yongsan untuk naik ITX ke Gapyeong. Sebenarnya bisa seh terus-terusan naik subway aja sampai ke Gapyeong, tapi aku trauma dengan jauhnya lokasi dan naik turun subway yang sangat menyita waktu seperti kejadian pas ke Everland tempo hari. Jadi jalan amannya adalah kami naik ITX.

Dari Yongsan ke Gapyeong menggunakan ITX memerlukan waktu kurang lebih 30 menit. Aku sendiri beli tiket ITXnya gak pesan online, tapi beli ditempat. Alasannya seh karena kami takut kalau udah beli online dan kita gak tepat waktu sampai di stasiunnya, tiket kita bakalan hangus, kan sayang banget. Beli tiket ITX di stasiun Yongsan itu mudah kok karena banyak loketnya. Masalahnya itu pas kita mau balik dari Gapyeong kita sama sekali gak ketemu loket yang akhirnya harus beli tiket di mesin. Manalah gak ada pilihan mesinnya yang berbahasa inggris jadi agak kagok. Untung karena lihat kita kebingungan ada petugas yang dateng buat bantuin πŸ˜€

Karena beli ditempat kita jadi gak dapat tempat duduk. Jadi kereta ITX ini ada beberapa gerbong yang ada tempat duduknya dan ada gerbong yang tidak ada tempat duduknya. Dua kali naik pulang pergi kita selalu gak kebagian tempat duduk. Perginya seh masih lumayan karena masih ada dua tempat duduk yang akhirnya dikasih ke aku karena orang Korea kan baik baik sama turis :P, tapi pulangnya kita gak dapat tempat duduk sama sekali, jadi lumayan juga >.<

Sesampainya di Gapyeong, keluar stasiun kita langsung menuju ke tempat pemberhentian busnya. Ada shuttle bus untuk ke Nami Island dari stasiun Gapyeong yang beroperasinya setiap satu jam sekali. Rezeki si K anak sholehah deh, pas kita dateng pas pula busnya dateng dan aku langsung masuk ke dalam bus yang mana harga tiketnya adalah 6000 WON untuk tiket return. Jadi nanti pas pulang kita gak perlu bayar lagi asalkan tiketnya masih kita pegang. Bus ini berhenti dibeberapa terminal termasuk Nami Island, Petiti France dan Morning Calm.

Tiket Masuk ke Nami Island

Seperti yang udah sering diceritakan seantero blog, bahwa untuk masuk ke Nami Island ini kita perlu beli tiket yang mereka namain Visa gitu. Masuk ke Nami selayaknya kita masuk ke negara baru lagi kali yak maksudnya πŸ˜› Harga “visa” ini sendiri adalah 8000 WON udah termasuk biaya naik ferry dari dan ke Nami Island.

Suasana di Ferry Penyeberangan

Hebatnya Korea ini gak setengah-setengah buat ngegarap potensi pariwisatanya. Walaupun yang mau berkunjung ke Nami ini ruame banget, tapi kita gak akan dibuat menunggu lama karena Ferrynya datang setiap 15 menit sekali. Setiap naik ke Ferry akan ada petugas yang dengan cekatan menghitung jumlah penumpang yang masuk ke dalam Ferry. Jadi gak akan ada kejadian ferrynya terlalu penuh sehingga menyebabkan kejadian yang tidak dikehendaki.

Ramenya yang pengen ke Nami Island
Pintu gerbang menuju ke Nami Island

Ngapain aja di Nami Island?

Kalau aku niat awal ke Nami Island selain foto-foto adalah maen-maen daun, hahahahaha. Ya namanya juga anak Pontianak yang gak pernah ketemu dengan musim gugur ya, pasti heboh banget hanya sekedar bisa melihat daun-daun yang berubah warna dan berguguran di tanah. Pas mau ke Nami ini dan ditanyain si K kita mau ke mana aja aku jawabnya kita mau ke tempat si K bisa maen-maen daun sepuasnya! Karena si K ini emang anaknya penggemar daun berat, jadi mendengar ini dia langsung seneng dan semangat dong yak.

Nami ituh, indah banget yaaa!! Ya ampun, gak berhenti aku berucap syukur bisa sampai ke Korea ini. Merasakan musim yang gak pernah kepikiran buat aku rasakan ini. Karena dari dulu emang niat pertama adalah merasain salju duluan. Siapa sangka nyatanya aku bisa merasain suasana Autumn yang indah banget ini duluan. Gak pernah menyesal deh aku memilih ke Korea pas Autumn seperti ini. Dan kalau ada rejeki dan waktu dikemudian hari aku pengen banget balik ke Korea untuk merasain Autumn lagi! (Setelah merasain winter dan semi tentunya πŸ˜› )

Kami bertiga memulai perjalanan dari jalan di tengah peta itu. Kalau gak salah namanya jalan apel (bener gak yak? πŸ˜› ). Dari jalan apel (yang gak aku konfirmasi kebenaran namanya πŸ˜› ) tinggal lurus aja mengikuti jalan. Gak perlu lagi deh lihat-lihat peta lagi.

Disepanjang jalan kita akan disuguhi dengan pohon-pohon! Hahahaha. Iya loh di Nami ini rasanya aku gak ketemu hal lain selain pohon πŸ˜› Jadi mikir kalau kita datang ke sini pas musim semi atau musim panas bakalan membosankan ke sini karena pohonnya bakalan hijau semua πŸ˜›

Disepanjang jalan ada banyak lahan-lahan kosong yang dapat kita gunakan untuk duduk-duduk santai untuk piknik dan main-main. Di sinilah kami bertiga biasanya singgah hanya untuk main-main bubble dan main lari-larian bareng K. Duh, si K kesenangan banget deh sama tempat seperti ini. Berandai di Pontianak ada lahan kosong seperti ini buat dijadikan tempat piknik dan maen-maen bola pasti seru banget yak (kemudian membayangkan panasnya Pontianak lalu gak jadi mau piknik πŸ˜› ).

Setelah beberapa waktu berjalan sambil menikmati pohon dan daun, akhirnya kita sampai juga ditempat fenomenal yang menjadi poin penting di pulau ini. Apalagi kalau bukan patung winter sonata yang terkenal, hahahahaha.

Awalnya aku gak tertarik buat berfoto di patung itu ya. Soalnya pada dasarnya aku bukan penggemar berat drama korea winter sonata ini. Pemainnya aja aku gak tahu siapa dan perannya juga aku lupa namanya πŸ˜›

Tapi pas si K lihat patung itu tiba-tiba aja dia nyeletuk “Mama dan Papa foto di sana ya, peluknya juga gitu, nanti Katniss fotoin”. Eyalah, mumpung anaknya berbaik hati mau fotoin emak bapaknya berdua ya hayukin aja dah :mrgreen: (Tapi fotonya gak diupload di sini ah πŸ˜› )

Dan karena udah bersedia jadi modelnya si K, langsung dong aku sodorin si K buat berfoto juga di depan patungnya. “Kan mama papa udah, giliran Katniss ya”, kataku. Eh, anaknya mau! Seneng deh, hahaha.

Jalan sedikit dari patung Winter Sonata sampailah kita dititik tengah dan pusat dari Nami Island ini. Awalnya aku penasaran banget dengan lokasi pohon-pohon gede di kiri kanan yang dijadikan objek foto seantero umat yang datang ke Nami Island ini, kok ya akunya gak ketemu. Ternyata oh ternyata lokasinya itu di pusat pulaunya.

TAPI jangan berharap deh bakalan dapat foto kece seperti yang terpampang di poster yak. Karena yang mau berfoto di sini rame banget! Kecuali kalian rela menunggu dan gak sambil jagain anak yang lagi pecicilan banget lari-larian ke mana-mana sambil mungutin daun deh baru bisa dapat πŸ˜†

Foto gagal di tempat fenomenal

Si K susah banget buat diajak foto dengan latar pohon-pohon gede ini, karena di depan lokasi ini ada patung yang sangat disukai K dan untuk beberapa saat dia sangat takjub dengan patung itu. Apalagi kalau bukan patung di bawah ini

“Mama, lihat abangnya mau nenen sama mamanya ma”, kata si K dengan hebohnya. Eniho, ini patung melambangkan apa seh? Ada yang tahu gak? Aku soalnya penasaran banget kenapa bisa ada patung model beginian di pulau ini >.<

Setelah puas berkeliling Nami Island, akhirnya kita istirahat juga untuk makan siang yang udah kesorean. Kalau selama ini susah banget buat nyari makanan halal yang pas dilidah aku yang katrok ini, beda dengan di Nami. Di sini ada beberapa restoran yang menyediakan makanan halal. Aku sendiri kemaren makan di Asian Cuisine yang makanannya enak enak! Suka deh. Di restoran ini juga menyediakan mushola plus perlengkapan sholatnya. Pokoknya gak perlu kawatir deh kita selama di Nami Island ini.

Kenyang makan, foto-foto lagi bentara dan kita langsung menuju ke dermaga untuk pulang. Waktu itu jam menunjukkan pukul 16.00 dan udah ada antrian parah untuk masuk ke ferrynya >.< Padahal ferrynya udah 10 menit sekali jalan loh, tetep aja kita perlu nunggu 1 jam lebih sampai bisa naik ke dalam ferry.

Sampai di seberangnya udah jam 5 dan cari-cari informasi katanya gak bakalan sempat kalau mau ke Petite France lagi karena jam tutupnya pukul 18.00. Huwaaaaa, aku sedih πŸ˜₯ Petite

Tapi mau bagaimana lagi ya, kalau emang dipaksain ya gak bakalan sempat juga dan kebetulan si K udah sangat rewel karena kecapean. Akhirnya kita memutuskan untuk udahan aja dan balik lagi menggunakan bus menuju stasiun Gapyeong dan kembali menggunakan ITX ke Seoul.

Bersambung…

Autumn Trip [Korea] : Coex Mall, Bukchon Hanok Village dan Dongdaemun Design Plaza


Sebelum baca tulisan ini, baca juga cerita sebelumnya di #Autumn trip Korea Selatan si Niee yak :mrgreen:

  1. Autumn Trip [Korea] : Preview
  2. Autumn Trip [Korea] : Perjalanan ke Korea
  3. Autumn Trip [Korea] : Busan
  4. Autumn Trip [Korea] : N-Seoul Tower, Itaewon dan Myeongdong Street
  5. Autumn Trip [Korea] : Everland
  6. Autumn Trip [Korea] : Gyeongbokgung Palace dan Cheonggyecheon Stream
  7. Autumn Trip [Korea] : Coex Mall, Bukchon Hanok Village dan Dongdaemun Design Plaza
  8. Autumn Trip [Korea] : Nami Island
  9. Autumn Trip [Korea] : Pulang ke Pontianak

***

Aduh, kok ya gak selesai-selesai ini yak aku nulis cerita tentang trip ke Korea, hahaha. Tapi biarin deh yak, biar selalu ada ide cemerlang buat ditulis di blog πŸ˜›

Hari ketujuh kita di Korea. Kalau dilihat dari itinerary yang kita buat seharusnya aku ke Nami Island hari ini. Tapi kebiasaan aku dan abang suami kalau lagi jalan adalah selalu memperhatikan benar soal cuaca. Ini sangat membantu banget loh btw. Karena memperhatikan cuaca ini, aku dapat menghindari daerah-daerah yang berpotensi hujan. Apalagi aplikasi prakiraan cuaca sekarang udah keren banget kan yak, udah bisa memprediksi cuaca perdaerahnya, gak satu kota aja.

Pas malam-malam sebelumnya kita lihat lagi prediksi cuacanya, eh daerah Nami diprakirakan hujan. Hujannyapun sangat lebat dan mungkin ada angin kencang. Namikan taman-taman gitu kan, jadi gak lucu kalau kita hujan-hujanan di sana. Jadilah kita ganti haluan. Karena gak jadi ke Korean Folk Village (baca bagian 5), akhirnya kita menggantinya dengan yang mirip-mirip dikitlah ke Bukchon Hanok Village.

Karena cuma akan ke daerah Bukchon yang deket, jadi kita masukin juga beberapa tempat yang lainnya lagi. Aku masukin salah satu list tempat yang aku pengen pergi, yaitu Rumah Goblin. Soalnya sering lihat orang foto-foto di depan kampus itukan aku juga mau. Si abang masukin Coex Mall, karena katanya dia penasaran kok ya kita jauh-jauh ke Korea gak ada masuk satu mall sama sekali. Lah iyalah bang, kalau mau ke Mall mah ke Jakarta aja itu banyak yang lebih gede πŸ‘Ώ

Pertama lokasi yang kita tuju adalahΒ  Rumah Goblin yang tak lain dan tak bukan adalah berada di Komplek Duksung Women University. Ke sini gampang kok. Cuma perlu naik subway ke Anguk Station (line 3) dan keluar melalui exit 4 (kalau kalian membawa anak dengan stroller aku saranin keluar dari exit 5 aja karena ada liftnya).

Dengan semangat 45 aku berjalan ke arah yang ramai dituju sama orang. Deretan bangunan Hanok udah terpampang yang membuat aku makin semangat. Ya, gak sempat wisata drama korea selama liburan ini paling gak bisa dong punya satu foto disalah satu drama favoritkan yak.

Etapi pas sampai dipintu masuknya kok banyak rombongan yang berhenti. Pas pengen masuk lagi ke dalam kok ya pintu masuk kampusnya ditutup gitu. Setelah celingak-celinguk mencari maksudnya, ketemulah sama tulisan di bawah ini

Iyaaaa, gak boleh masuk kakak! Ditulisannya dijelasin karena ini komplek bukan cuma universitas, tapi ada SD-SMP dan SMAnya juga dan ternyata kepopuleran drama Goblin membuat serta merta orang-orang berbondong-bondong ke sini dan membuat keriuhan dan menggangu kenyamanan anak-anak itu bersekolah, jadilah kebijakan melarang masuk orang-orang untuk berfoto ini dibuat. Aku sedih kakak πŸ˜₯

Manalah si abang terus-terusan ngeledek lagi selama perjalanan ke Bukchon, aku jadi makin gemes dan kesal. Huh! Si K yang gak tahu apa-apa jadi banyak tanya. “Kenapa Ma? Ada apa Ma?” Yang sininya cuma bisa manyun >.<

Saking penasarannya hari terakhir aku di Korea, aku dateng lagi loh ke sini. Mikirnya mungkin kalau hari libur kampusnya buka dan boleh buat foto-foto. Eh, bukannya buka, malah lebih parah pintu depannya udah langsung digembok. Pupus sudah harapanku buat foto-foto di rumah goblin. Hiks. πŸ˜₯

Bukchon Hanok Village

Salah satu gang yang ada di Bukchon Hanok Village
Salah satu gang yang ada di Bukchon Hanok Village

Lokasi Bukchon Hanok Village ini deket banget dengan Rumah Goblin. Stasiunnya sama, cuma beda exit aja. Kalau kita dari Rumah goblin tinggal jalan lurus aja ke kanan, terus nyebrang diperempatan lurus lagi, ntar ketemu sama satu gang kecil yang banyak orang-orang berjalan ke situ dan banyak yang pake Hanbok, nah berarti kita udah sampai di lokasi Bukchon Hanok Village :mrgreen:

Bukchon Hanok Village sebenarnya bukan tempat wisata. Ini cuma komplek perumahan yang terdiri dari beberapa blok di mana perumahan itu masih bernuansa tradisional Korea banget. Rumah-rumah tradisional ini dimiliki oleh orang pribadi, jadi kita harus sadar diri juga kalau jalan di sini jangan ribut dan mengganggu orang yang berada di dalam rumah. Lah wong kalau ada anak-anak maen petasan waktu lebaran aja kita gak suka kan yak di depan rumah kita, apalagi ini yang didatangi orang sepanjang tahun. Pasti udah pasang kedap suara kali ya di dalam rumahnya πŸ˜›

Bukchon Hanok Village
Bukchon Hanok Village
Bukchon Hanok Village

Kalau semuanya rumah pribadi, terus mau selfie-selfie di dalam rumahnya gimana dong?

Oh tenang, walaupun ini kompleks perumahan pribadi, tapi disetiap beberapa meter ada rumah yang menyediakan toilet umum untuk para turis yang kebelet pipis. Nah kalau ketemu sama rumah yang ada tanda Toilet umumnya masuk aja walaupun kamu gak mau pipis, karena itu adalah kesempatan bagi kita untuk bisa foto-foto di area rumahnya. Bahkan beberapa rumah membuka pintu-pintu rumahnya sebagian untuk kita bisa foto-foto loh. Dan semua itu gratis tanpa penghuninya minta imbalan sama sekali. Ah, aku suka deh soal keramahan orang Korea dengan turis seperti ini πŸ™‚

Coex Mall

Setelah puas keliling di Bukchon Hanok Village, kita langsung cuss menuju ke Coex Mall. Tujuan aku ke sana adalah mau cari makan makanan yang enak biar bisa makan banyak πŸ˜› Iya, selama aku di Korea Selatan ini aku kok rasanya kurang beruntung mendapatkan makanan yang sesuai selera aku. Apalagi kalau bulan makanan Indonesia, hahahaha. Di Busan aku tersesat dulu baru dapet makan. Tigakali nyari makan dapetnya restorannya tutup, satu kali di Itaewon yang akhirnya makan restoran halal manapun yang rasanya biasa aja. Satunya udah jauh-jauh naek bis, pas sampe restorannya tutup juga. Terakhir pas aku dari Gyeongbukgung sebelum ke Stream kami nyari makan dulu naek bus. Udahlah salah berentikan busnya yang sampai harus berjalan kaki hampir sekilo, eh pas sampai ditempatnya, jangankan tutup, gedungnya juga udah mau diroboh >.< Bener-bener buat itinerary yang gak akurat itu sangat menyesatkan!

Coex Mall ini di daerah Gangnam. Awalnya aku mau cari Patung Tangan Gangnam yang terkenal itu. Tapi gak jadi karena males πŸ˜› Cara buat ke sini gampang kok. Tinggal naek subway line 2 kemudian turun di Stasiun Samseong exit 5 atau 6. Semingguan di Korea Selatan rasanya baru di sini aku ketemu sama Oppa-Oppa yang mukanya lumayan ganteng dan cewek-cewek Korea yang cantik-cantik. Mungkin daerah asal juga mempengaruhi tingkat kecantikan di sini πŸ˜›

Ketemu perpustakaan gede di Mall. Keren banget deh perpustakaannya

Keliling-keliling mall nyari restoran halal yang makanannyaΒ  sesuai selera, sampailah aku di restoran Turki yang ada menu pizzanya (yang laen restoran India dan arab rata-rata makanan kari gitu kebanyakan). Kali ini ayo lupakan harga, sekarang harus makan enak dan kenyang! Hahahahaha.

Hasilnya gimana rasanya? Untungnya ENAK! Hahahaha. Gak rugi deh jadinya bayar puluhan ribu won untuk sekali makan kali ini (kemudian besok sampai pulang balik ke Indonesia makan Indomie doang πŸ˜› ) Di Coex Mall ini juga ada Mushola, jadi pas aku dan K makan, si abang sekalian bisa Sholat jama’ Dzuhur dan Ashar.

Karena udah sekalian di Mall, kita pasti langsung cari tempat yang bisa buat K main-main. Pas abang cari-cari ketemulah satu tempat mini Aquarium gitu. Tempatnya kecil seh, tapi menurut aku asyik tempatnya. Mulai masuk kita bakalan dikasih brosur yang isinya ada tempat ngecap stam gitu. Jadi selama perjalanan di dalam Aquariumnya, K sibuk lihat-lihat ikan dan nyari-nyari capnya.

Pulang dari Korea yang diceritain ke Nenek dan orang-orang lain pas ditanya soal Korea ya cuma 2: Everland dan Aquarium ini, hahaha.

Dongdaemun Design Plaza

Dongdaemun Design Plaza

Hari terakhir sebelum ke Bandara, aku, abang dan K masih sempat mampir kedua tempat. Tempat yang pertama apalagi kalau bukan rumah goblin yang ternyata tutup juga di hari minggu itu. Hiks. Tempat kedua yang aku kunjungi adalah Dongdaemun Design Plaza. Untuk bisa sampai ke sini tinggal pake subway line 2, 4 atau 5 dan turun di Dongdaemun History & Culture Park exit 1.

Pengen ke Dongdaemun Design Plaza ini hanya karena pengen foto bareng bunga mawar elektrik aja kakak! Hahahaha. Walaupun paling ok itu kalau perginya malam pas bunganya udah hidup, tapi ya gak papa deh pergi pagi. Masih kece juga kok pemandangannya πŸ˜›

Aku tuh pengen ke sini sebenarnya gara-gra nonton drama Produser yang dibintangin sama Kim Soo Hyun. Di dalam drama itu kalau gak salah mereka boleh deh masuk ke dalam taman bunganya. Tapi kok ini gak boleh ya? Aku jadi sedih πŸ˜₯

Kalau dilihat-lihat lagi, cuma bunga mati elektrik gini aja bisa jadi tempat wisata orang ya. Salut deh dengan fokusnya pemerintah Korea menata pariwisatanya. Semoga Indonesia juga bisa melakukan hal yang sama. Coba gitu buat 1-2 sinetron bagus yang menanyangkan tempat tempat kece di Jakarta aja yang buat orang tertarik ke sana. Terus dijual deh ke negara-negara tetangga. Siapa tahu laku πŸ˜›

***

Segini dulu ya ceritanya. Mudah-mudahan bisa selesaikan menulis tentang Korea ini sebelum aku pergi liburan lagi bulan April mendatang. Ntar jadi menumpuk dah tuh tulisan gak selesai-selesai πŸ˜›

bye.

bersambung..

Autumn Trip [Korea] : Gyeongbokgung Palace dan Cheonggyecheon Stream


Sebelum baca tulisan ini, baca juga cerita sebelumnya di #Autumn trip Korea Selatan si Niee yak :mrgreen:

  1. Autumn Trip [Korea] : Preview
  2. Autumn Trip [Korea] : Perjalanan ke Korea
  3. Autumn Trip [Korea] : Busan
  4. Autumn Trip [Korea] : N-Seoul Tower, Itaewon dan Myeongdong Street
  5. Autumn Trip [Korea] : Everland
  6. Autumn Trip [Korea] : Gyeongbokgung Palace dan Cheonggyecheon Stream
  7. Autumn Trip [Korea] : Coex Mall, Bukchon Hanok Village dan Dongdaemun Design Plaza
  8. Autumn Trip [Korea] : Nami Island
  9. Autumn Trip [Korea] : Pulang ke Pontianak

***

Niatnya mau buat satu tulisan aja pas di Seoul kemaren, tapi ternyata gak bisa deh yak sepertinya, banyak foto yang mau aku panjang di blog soalnya, hahahaha. Jadilah tetep postingannya aku bagi perhari aja. Dan ini adalah hari keenam Aku, Abang dan si K di Korea Selatan πŸ™‚

Gyeongbokgung Palace

Gyeongbokgung Palace: Foto wajib bener sama penjaga pintunya πŸ˜›

Selama di Korea Selatan, tepatnya di Seoul, suhu yang kita dapati itu mulai dari 14 derajat sampe pernah -1 derajat celcius. Untuk aku yang anak Pontianak asli dan gak pernah merantau ke mana mana (penting buat ditulis πŸ˜› ) suhu segini pasti udah dinginnya kebangetan. Tapi, berhubung aku cuma bawa jaket satu buah, jadilah kadang-kadang kita nekat buka jaket untuk mendapatkan foto dengan baju yang beda selain foto-jaket-merah-lagi-itu-lagi, hahaha. Etapi tingkat kedinginan ini sebenarnya tergantung anginnya juga seh. Jadi kadang walaupun suhunya 10 derajat kalau gak ada angin dan matahari terik gitu aku masih tahan buat buka jaket, seperti foto di atas :mrgreen:

Gyeongbokgung Palace sendiri sepertinya wisata-wajib-harus-didatangi kalau kita pertama kali ke Seoul, Korea Selatan. Mungkin udah sama kayak harus ke Merlion Park kalau kita ke Singapore kali yak. Karena alasan “wajib” itulah aku memasukkan tempat ini ke dalam itinerary yang aku buat (iya, alasannya gak penting banget yak πŸ˜› )

Untuk ke tempat ini, caranya mudah kok. Tinggal naek subway, ambil subway line 3 dan berenti di Gyeongbokgung Palace Station dan keluar melalui pintu exit 3. Stasiun ini khas banget loh, jadi nuansanya emang udah dibuat sedemikian rupa jadi kayak tradisional gitu. Kalau kalian keluar stasiun dan stasiunnya masih biasa aja nuansa modern berari kalian salah πŸ˜›

Keluar stasiun kita bakalan langsung merasakan nuansa tradisional korea banget. Orang-orang yang datang ke Gyeongbokgung Palace ini kebanyakan menyewa Hanbok (baju tradisional korea) terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam Palacenya. Pas aku posting foto di Gyeongbokgung Palace di sosmed orang-orang juga banyak nanyain kenapa aku gak pake Hanbok juga seperti yang lain? Jawabannya simpel seh: karena males, hahahahaha. Iya loh aku males harus ganti-ganti baju Hanbok segala dan berkeliling jalan kaki dengan Hanbok itu ribet aja menurut aku. Belum lagi si K kayaknya gak bakalan seneng disuruh-suruh buat ganti baju lagi. Jadi keputusan yang tepat bagi kami adalah gak sewa Hanbok. Walaupun gitu, kita tetep bisa menikmati Gyeongbokgung Palace-nya kok πŸ™‚

Tiket Masuk ke Gyeongbokgung Palace

Di Gyeongbokgung Palace ini ada beberapa gerbang. Kalau kita cuma masuk ke gerbang depannya aja itu gratis. Nah, kalau kita mau masuk lagi ke bangunan utamanya, kita perlu beli tiket terlebih dahulu. Loket tiketnya itu disebelah kanan dari pintu gerbangnya. Gak susah kok lihatnya, karena kelihatan banget dari jauh. Harga tiketnya sendiri murah kok ini, cuma W3000Β  untuk dewasa dan W1500 untuk anak anak atau kalau dirupiahin Rp36000 untuk dewasa dan Rp18000 untuk anak-anak (pantesan semua orang ke sini! πŸ˜› )

Papan informasi di Gyeongbokgung Palace, ada jadwal tour free-nya juga loh. Tapi minimum rombongannya 10 orang
Buku Panduan Gyeongbokgung Palace berbahasa Indonesia

Lalu, ngapain aja di Gyeongbokgung Palace? Ya foto-foto lah! Hahahaha. Emang rasanya gak ada kegiatan lain di sini selain foto-foto seh πŸ˜› Tapi kalau aku lihat, warga lokalnya menikmati Gyeongbokgung Palace ini dengan piknik di tamannya (karena sangat banyak taman-taman dengan rumput-rumput hijau luas banget di sini) atau foto preweed gitu deh.

Gyeongbokgung Palace: Si K mutung gak mau diajak foto πŸ˜›

Walaupun aku bilang ini tempat “cuma” untuk foto-foto aja, tapi entah gimana kok ya aku merasa betah banget loh di dalamnya. Suasananya itu tenang banget, areanya luas, lingkungannya cantik dengan daun-daunnya yang menguning, cuacanyapun dingin (dan gak dingin banget sampai menggigil) yang membuat semuanya terasa pas aja gitu yak. Padahal kalau aku maen ke Jogya aku gak mau loh diajakin ke keratonnya karena merasa gak betah πŸ˜› Lain kalau ini deh.

Si K juga yang awalnya rada mutung ke sini karena sedari depan Palacenya sering diajakin foto terus, pas masuk ke dalam dianya kesenangan banget loh. Seneng pertama adalah karena di dalam aku bebasin dia mau jalan sendiri ke manapun terserah. Kan tempatnya luas dan gak ada kendaraan (ya iyalah Niee). Seneng kedua adalah karena banyak daun-daun gugur di sini dan daunnya yang bersih gitu kan yak, jadi aku bolehin dia ambil dan main daun keringnya (mumpung lagi maen di musin gugur K, puas-puasin yak πŸ˜€ ). Seneng ketiga adalah ternyata si K suka juga loh ke Palace kayak ginian.

Awalnya emang dia bingung pas aku bilang kita mau ke istana. Karena difikiran dia adalah istana itu seperti istananya Cinderella (sebangsa kayak di Disneyland gitu) tapi kok ini beda. Setelah aku jelasin bahwa kalau istana di Korea itu bentuknya seperti ini dan di sini juga dulu ada Princess-nya yang tinggal, si K jadi kesenangan lihat-lihatin istananya.

Kesenangan lihat banyak burung, hahaha
Si K kesenangan lari-larian di jalan gede yang gak ada kendaraannya πŸ˜›
Lari-larian di taman yang luas dan kosong. Kalau pas musim panas cantik kali ya rumput hijaunya
Selfie di depan istana. Kata si K kalau istana Korea itu isinya pintu-pintu doang πŸ˜›

Kalau ada kesempatan ngunjungi Seoul lagi, Gyeongbokgung Palace ini bakalan aku datangin lagi deh. Ya, mudah-mudahan seh di nuansa yang berbeda, gak musim gugur lagi. Misalnya pas musim semi gitu (lirik tajam ke pak suami πŸ˜† ) Jadi wajib banget emang kalau kalian ke Seoul itu ke Gyeongbokgung Palace :mrgreen:

Cheonggyecheon Stream

Setelah puas keliling di Gyeongbokgung Palace yang memakan waktu hampir 3 jam (katanya cuma foto-foto doang Niee, tapi tetep aja lama πŸ˜› ) akhirnya kita keluar melalui pintu gerbang yang sama. Sebenarnya banyak pintu keluar dari Palace ini, cuma aku ada misi khusus kenapa harus keluar lewat pintu utamanya. Karena apalagi kalau bukan kita mau mapir ke Cheonggyecheon Stream, dan sebelum itu mau foto dulu sama King Sejong, hahahahaha (alasan gak penting nomor 2 πŸ˜› ).

Untuk bisa ketemu sama patung King Sejong ini mudah kok. Kita tinggal jalan lurus aja ke depan dari gerbang utamanya Gyeongbokgung Palace menuju ke jalan protokol yang gede banget. Jalan ini terdiri dari dua jalur yang ditengahnya seperti ada trotoar yang gede banget gitu dan di sanalah duduk berdiri patung King Sejong.

Foto Selfie sama King Sejong πŸ˜€

King Sejong ini adalah raja keempat dari Dinasti Joseon. Kalau kalian penggemar drama Korea pasti sering dong nonton drama Korea yang mengambil kisah di jaman dinasti Joseon ini. Dan disetiap dramanya, kita melihat para aktor jika menulis bukan dengan aksara Korea, tapi memggunakan aksara China. Nah, King Sejong ini adalah raja Korea yang pertama memperkenalkan abjad Korea yang sampai sekarang digunakan, Hangeul. Jadi, bagi yang suka dengan abjad korea yang seksi dengan bulatan-bulatannya itu wajib banget loh foto bareng sama King Sejong ini *halah* πŸ˜†

Foto selfie lagi sama Jendral Yi Sun-Shin

Nah, sebenarnya yang satu ini aku gak tahu siapa, tapi karena berdekatan dengan patung King Sejong ya aku foto di sini aja juga πŸ˜› Setelah aku googling ternyata dia adalah Jendral Yo Sun Shin. Seorang Jendral Korea yang pertama kali berperang menggunakan kapal berlapis besi melawan Jepang dan catatan rekornya adalah selalu menang di dalam setiap peperangan. Gilak yak, keren banget neh orang!

Foto bareng dengan patung orang bersejarah di Korea ini aku jadi mikir, selama ini kalau di Jakarta gak pernah terbersit di dalam hati buat foto bareng dengan patung-patung pahlawan di jalan. Lah ini di Korea kok jadi pengen πŸ˜› Mungkin emang patung-patung itu gak digembar gemborkan oleh orang yak. Ya, contohnya aja blogger gak ada nulis wisata ke Jakarta itu foto selfie sama patung Jendral Sudirman, hahaha. Dan yang paling sulit tentu saja lokasi dari patung itu yang gak selfieable *halah* πŸ˜›

Patung Keong (bukan nama sebenarnya) πŸ˜›

Setelah puas selfie-selfie, kita terus jalan lurus ke depan buat menuju ke Cheonggyecheon Stream. Tandanya mudah kok, kalau kalian udah lihat patung keong mahadasyat ini berarti kalian udah di jalan yang benar *eh* πŸ˜› Si K yang daritadi aku selfie-selfie gak ada bunyi sama sekali di dalam strollernya ternyata lagi asyik bobo cantik. Ah, ternyata dia kelelahan banget ngiterin dan lari-larian tadi πŸ˜€

Si abang yang lagi ngedorong K di areal Cheonggyecheon Stream

Cheonggyecheon Stream ini sungai. Iya, cuma sungai, hahaha. Aku gak bisa mendeskripsikan lebih dari itu soalnya πŸ˜› Karena deket dengan Gyeongbokgung Palace aja sepertinya jadi sungai ini sangat terkenal diantara turis yang jalan ke Korea Selatan. Tapi ada sejarahnya juga loh ternyata.

Jadi, jaman dahulu kala *halah* sungai ini juga rusak, persis lah kondisinya seperti kebanyakan sungai di Jakarta yang menjadi tempat pembuangan masyarakatnya. Karena udah lelah dengan bentuk sungai yang jelek itu, Pemerintah Korea membuat jalan layang yang menutupi sungai Cheonggyecheon sehingga selama berpuluh tahun sungai itu hampir terlupakan. Tapi, pada tahun 2003 Pemerintah setempat memulai Cheonggyecheon Restoration Project yaitu mengembalikan fungsi utama Cheonggyecheon. Gak tanggung-tanggung loh, jalan layang yang menutupi sungai itu dirobohkan, membersihkan sungai dan mempercantik lingkungannya yang kita bisa lihat sekarang. Rasa-rasanya tahun itu adalah tahun awal-awal aku suka drama korea deh. Mungkin dengan Cheonggyecheon Restoration Project dibuat juga K-Drama Project ya πŸ˜›

Pose di jalan batu Cheonggyecheon Stream yang fenomenal πŸ˜›

Cheonggyecheon Stream ini tapi sangat gak stroller friendly. Untuk turun dan naiknya kita hanya bisa menggunakan tangga yang sangat curam. Aku lihat dari ujung ke ujung sungainya cuma ada satu terowongan untuk yang beroda, itupun dibagian tengahnya yang nanggung kalau turun atau naik dari titik itu. Jadi si K yang di dalam stroller turun naeknya dibopong si abang deh. Lumayan deh yak, angkat beban kurang lebih 20 kilo πŸ˜›

Sehabis dari Cheonggyecheon Stream kita cuma muter-muterin jalan di tengah kota Seoul. Besok rencananya kita bakalan ke Nami Island, yeay! Tungguin postingan aku selajutnya yak.

Bye

Autumn Trip [Korea] : Everland


Sebelum baca tulisan ini, baca juga cerita sebelumnya di #Autumn trip Korea Selatan si Niee yak :mrgreen:

  1. Autumn Trip [Korea] : Preview
  2. Autumn Trip [Korea] : Perjalanan ke Korea
  3. Autumn Trip [Korea] : Busan
  4. Autumn Trip [Korea] : N-Seoul Tower, Itaewon dan Myeongdong Street
  5. Autumn Trip [Korea] : Everland
  6. Autumn Trip [Korea] : Gyeongbokgung Palace dan Cheonggyecheon Stream
  7. Autumn Trip [Korea] : Coex Mall, Bukchon Hanok Village dan Dongdaemun Design Plaza
  8. Autumn Trip [Korea] : Nami Island
  9. Autumn Trip [Korea] : Pulang ke Pontianak

***

Pas kita ngerencanain ke Korea, kita udah niat bener akan ada satu hari khusus untuk ngajak si K maen-maen ke tempat bermain gitu. Pilihan awalnya sebenarnya lebih mengarah ke Lotte World, tapi setelah aku browsing lebih dalam ternyata di Seoul ada juga Theme Park Outdoor gitu, dan pas aku buka websitenya mirip-mirip dengan Disneyland gitu lah πŸ˜› Jadilah aku lebih milih Everland ini daripada Lotte World.

Kita seh orangnya gak ngoyo yak, maennya ditargetkan palingan 3 jam aja. Makanya kita turun dari hotel jam 10 waktu Seoul dengan asumsi (menurut beberapa blog yang ada) untuk pergi ke Everland itu memerlukan waktu 1,5 – 2 jam. Jadi asumsi kita bakalan sampai jam setengah 12, makan terus maen deh sampai jam 4an. Tapi ternyata untuk menuju ke Everland itu JAUH JAUH BANGET saudara-saudara! Dari hotel jam 10, bener-bener sampai di depan pintunya itu baru jam 1an! Si Irni teler!!! Si abang langsung bilang, ntar kalau nulis di blog jangan lupa bilang kalau Everland itu SANGAT AMAT JAUH! Dari jam 4an udah pengen balik lagi, jadinya kita balik udah jam 7an (ditambah si K betah banget maen di sana) dan sampai di hotel lagi udah jam 10an malam aja >.<

jalur irni menggunakan subway dari hotel ke Everland
Transfer to Yongin Ever Line at Giheung Station on Bundang Line!
  • – It takes 30 minutes from Giheung Station to Jeondae Everland Station (last stop) on Yongin Ever Line.
  • – You can take the shuttle bus (free of charge) from Yongin Ever Line and go to Everland or Caribbean Bay.
  • – Ever Line operation hours 05:30~23:30

Lihat deh jalur aku untuk menuju ke Everland dari hotel. Kelihatannya seh gak seberapa yak. Tapi beneran loh ini sangat-sangat jauh. Manalah kalau udah masuk ketepian kota dan luar kota antara satu stasiun dengan stasiun satunya kan jaraknya jauh yak. Kalau dalam kota cuma 3km aja udah sampe ke stasiun berikutnya. Ini kalau udah keluar kota jarak antar stasiunnya bisa sampai 15km aja loh. Belum lagi pindah-pindah jalur subway. Belum lagi pas udah mau sampai eh kita disuruh keluar karena ada permasalahan keretanya jadi harus nunggu sampe 15 menit untuk mendapatkan kereta selanjutnya. Sungguh-sungguh pengalaman yang “mengesankan” πŸ˜› Bahkan rasanya lebih melelahkan daripada pas kita pindah dari Busan ke Seoul yang cuma perlu waktu total 2,5 jam aja tapi santai karena gak bolak balik ganti stasiun loh!

Kenapa gak pake bus aja? Sebenarnya seh ada juga mikir pake bus. Pake bus di Seoul itu lumayan merepotkan, dan kita baca-baca juga bisa kena macet aja gitu loh yang membuat waktu tempuhnya jadi lebih gak pasti! Ditambah lagi kalau naek bus aku suka mabok kan yak πŸ˜› jadilah kita memutuskan untuk naek subway aja lah yang pasti-pasti dan aman :mrgreen:

Tapi, walaupun amat sangat jauh yang membuat kita membatalkan satu itinerary kita yaituΒ Korean Folk Village (karena lokasinya deket dengan Everland, dan kita gak mau mengulang bepergian lagi dengan rute sejauh itu lagi) pada dasarnya Everland emang menyenangkan kok. Sama deh seperti Theme Park pada umumnya dan emang mirip mirip dikitlah dengan Disneyland πŸ˜›

Karena pas kita datang Everland lagi mengusung tema Halloween, jadilah si K bilang dia lagi di rumah Halloween, hahaha. Maksud Halloween ini bagi si K itu adalah pumpkin yang ada wajahnya loh. Karena kalau ada Halloween ini bakalan ada temen-temennya yang scary katanya semacam ghost, witch, monsters, dan lain sebagainya. Emang rada aneh ya pemikirannya, hahaha. Tapi aku gak tertarik juga menjelaskannya seh tentang Halloween, jadi biar aja si K tetep mikir pumpkinnya namanya Halloween πŸ˜›

Belajar dari pengalaman di Disneyland yang akhirnya kita cuma ngabisin waktu untuk nyari karakter, setelahnya jika ke Theme Park lagi, kita emang lebih fokus untuk bermainan permainannya. Apalagi si K umuran segini udah ngerti banget kalau diajak maen, dan dia ternyata seneng banget bermain di Theme Park seperti ini. Sepertinya harus direncanakan minimal setahun sekali neh buat ke Theme Parknya *kasih proposal ke suami* πŸ˜›

Kita fokus maen di Magicland karena rata-rata permainannya udah bisa dimaenkan si K yang tingginya 1m dan umurnya 3 tahun (biasanya kita bilangnya 4 tahun seh biar bisa masuk, kan 2 bulan lagi juga 4 tahun πŸ˜› ) Dari beberapa permainan yang dimainkan si K, cuma 2 permainan aja yang difoto, itupun karena permainan ini aku gak ikutan jadi bisa fotokan si K. Kalau aku ikut maen buat nemenin si K pasti gak difotokan si abang suami >.<

Waktu kita lagi keliling nyari permainan lagi, eh kok ya pas panget kita ketemu dengan parade dan paradenya bener-bener baru mulai. Gak seperti waktu di Disneyland yang kita nungguin paradenya 30 menit sebelumnya, ini kita gak perlu nunggu langsung dapat.

 

 

Si K bener-bener beruntung deh di Everland ini. Semuanya dimudahkan. Waktu yang cuma sedikit itu (kurang lebih 5 jam aja di everland) bener-bener efektiv banget, jadi gak ada yang terbuang sia-sia. Bahkan makan yang biasanya membuang banyak waktu kita bisa selesai kurang dari 1 jam aja πŸ˜€

Ini dia beberapa permainan yang si K mainkan di Everland:

Kingdom of Car

Jadi kayak ada track gitu yang isinya mobil-mobil yang akan dinaiki oleh anak-anak. Anaknya gak gerakin mobilnya seh jadi mobilnya jalan sendiri. Tracknya juga cuma track kecil, anak-anak gak perlu didampingi dipermainan ini. Si K awalnya rada takut karena harus maen sendiri, tapi setelah maen anaknya kesenangan :mrgreen:

Flying Elephant

Ini maennya aku temenin. Tapi dasar si K, maunya maen tinggi-tinggi banget, jadi kalau turun dia tereak FLYING! Hahaha.

Dragon Coaster

Permainan semacan roller coaster versi mininya. Tapi untuk ukuran anak 3 tahun gak mini-mini juga seh menurut aku. Awalnya aku ragu mau naikin si K ini. Tapi anaknya mau, ya udah hayuk aja deh aku temenin. Dan apa yang terjadi saudara-saudara? Si K kesenangan banget! Dia tereak-tereak disepanjang permainan sambil tertawa. “Permainannya sangat-sangat keren!” kata si K sambil kesenangan. Udah gede boleh lah ya si K diajakin naek roller coaster yang beneran πŸ˜›

Lily Dance

Kita cuma naek ke tempat yang berbentuk bunga lily terus diputer-puter gitu seh. Tapi si K seneng karena katanya ini seperti waktu dia maen ke rumah Hello Kitty kemaren. Aku takjub seh si K masih inget pas kita jalan-jalan ke Hongkong dan Johor Bahru. Soalnya emaknya gak ada memori sama sekali waktu masih balita, hahahaha.

Play Yard

Semacam taman bermain gitu di outdoor yang ada seluncuran yang merupakan permainan kesenangan si K ini, hahaha. Tapi sayangnya lantai di sini dibubuhi sama pasir, jadi baju si K rada kotor >.<

Royal Jubilee Carousel

Ini si K kurang excited seh, soalnya di mall juga sering maennya. Cuma bedanya ini lebih gede aja πŸ˜› Masih ada beberapa permainan si K yang dimaikan, tapi si akunya lupa, hahaha.

 

 

Main di Theme Park ini bener-bener gak merasa waktu yak, baru aja sampai eh udah malam aja. Padahal niatnya cuma 3 jam eh udah 5 jam lebih aja πŸ˜› Mau pulang ngebayangin rute yang melelahkan itu jadi lemes lagi. Tapi tetep dong yak kita harus pulang. Jalan-jalan di Seoulnyakan belum selesai :mrgreen:

Pada dasarnya kita seneng banget di Everland ini. Tapi kalau kita ke Seoul lagi, kayaknya aku nyerah deh buat ke sini lagi πŸ˜› Mending kita ke Lotte World aja deh K ya, paling gak itu di Mall dan di tengah kota, jadi pastinya deket lokasinya, hahaha.

Sampai jumpa di Seoul, bye!

Autumn Trip [Korea] : N-Seoul Tower, Itaewon dan Myeongdong Street


Namsan Seoul Tower

Karena ternyata banyak foto yang mau aku upload, jadi postingan di Seoulnya dipecah beberapa bagian aja yak πŸ˜›

Eh, sebelumnya baca dulu dong tulisan aku lainnya di #Autumn Trip Korea yak:

  1. Autumn Trip [Korea] : Preview
  2. Autumn Trip [Korea] : Perjalanan ke Korea
  3. Autumn Trip [Korea] : Busan
  4. Autumn Trip [Korea] : N-Seoul Tower, Itaewon dan Myeongdong Street
  5. Autumn Trip [Korea] : Everland
  6. Autumn Trip [Korea] : Gyeongbokgung Palace dan Cheonggyecheon Stream
  7. Autumn Trip [Korea] : Coex Mall, Bukchon Hanok Village dan Dongdaemun Design Plaza
  8. Autumn Trip [Korea] : Nami IslandAutumn Trip [Korea] : Nami Island
  9. Autumn Trip [Korea] : Pulang ke Pontianak

***

Sesuai dengan itinerary yang kita buat, hari pertama kita di Seoul akan ke Namsan Seoul Tower dan Myeong Dong. Ditambah nyempil sedikit ke Itaewon karena abang mau nyari restoran halal di daerah ini. Coz daerah yang banyak makanan halalnyakan di Itaewon yak.

Awal pas buat itinerary ke Korea ini aku merasa kok banyak waktu yang terbuang percuma yak dengan jumlah lokasi yang dikit banget di dalam itinerary itu. Etapi ternyata pas dijalani emang segitulah kemampuan kami untuk jalan-jalan salam satu hari loh. Karena rata-rata kita berangkat dari hotel itu jam 10an waktu korea (atau jam 8 waktu Pontianak) dan pulang jam 8an, rasa-rasanya kita juga udah memaksimalkan banget dong yak dengan asumsi kan bawa si K. Tapi tetep aja kita jalan udah terasa capek dan jompo, huahahahahaha πŸ˜›

***

Keluar di KTX udah jam 11an waktu Seoul. Kita langsung cari subway buat menuju ke hotel kita karena takut kalau telat subwaynya bakalan udah tutup dan terpaksa naek taxi ke hotel. Seumur-umur ngetrip, rasanya cuma satu kali naek taxi, pas di KL. Itupun karena bersama ibuk dan kakak dan rasanya udah lelah banget kalau harus naek angkutan umum lagi. Rada menyesal karena harganya mahal πŸ˜› Jadinya sebisa mungkin kita usahain gak naek taxi kalau lagi ngetrip.

Btw, dengan membawa 2 koper gede dan stroller si K yang lagi bobo rasanya emang sulit banget naek subway di Korea itu. Gak seperti di Singapore yang MRTnya ramah dengan roda, si Seoul beberapa lokasinya gak ada lift ataupun ekskalator. Jadi harus naik tangga. Beberapa kali aku harus nungguin abang nurunin dua koper dulu baru kemudian gotong si K yang lagi bobo. Waktu nungguin inilah aku beberapa kali ditanyain sama onnie-onnie korea apakah aku perlu bantuan. Aah, ditanyain seperti ini aku udah seneng kok, berasa disambut gitu di seoul dengan ramahnya πŸ™‚

Keluar dari stasiun subway udah hampir jam 1 pagi. Wuzz, kami langsung disambut sama angin dingin musim gugur Seoul yang buat kami menggigil. Tengah malam di jalan Seoul masih lumayan ramai. Polisi-polisi masih mengatur lalu lintas untuk pemakai jalan. Setelah aku ingat-ingat, polisi di daerah ini mengatur jalannya selama 24 jam loh. Gak pernah sekalipun aku lewat di sana jalannya gak dijagain sama polisi! Tapi emang seh, pengguna jalannya masih seperti di Pontianak, yang kalau ada kesempatan langsung menerobos lampu merah πŸ˜›

Rasa-rasanya, pukul 2 pagi aku baru mulai mencoba untuk tidur dengan tenang. Ah, besok santai-santailah jalannya yak. πŸ˜›

***

Pukul 10.30 waktu seoul kami baru ke luar dari hotel setelah sarapan dan mempersiapkan bekal makannya si K. Kalau diturutin seh emang paling enak masih tidur di hotel neh. Untung kita hotelnya cuma hotel biasa yak. Jadi gak begitu betah di dalamnya πŸ˜›

Dari hotel, kita langsung menuju ke N-Seoul Tower. Si abang sebenarnya nanyain aku mau pake bus atau subway. Kalau pake bus bisa langsung sampai di towernya. Tapi kalau pake subway harus jalan jauh menanjak lagi, terus naek lift, naek kereta gantung sebelum sampai di towernya. Tapi karena si Niee lagi suka berpetualangan (baca: kalau naek bis suka mabok πŸ˜› ) jadilah aku memilih naek subway. Dan ternyata jalannya emang melelahkan kakak! Panjang dan menanjak! >.<

Jalan panjang dan menanjak dari stasiun subway menuju pintu lift N-Seoul Tower
Lagi nungguin lift yang jalannya lelet banget kayak siput

Sampai di pintu lift antrian gak juga terlalu panjang. Tapi perjuangan belum berakhir karena ternyata lift yang posisinya miring itu jalannya lama pake banget kakak! Beberapa orang yang gak sabar nungguin liftnya akhirnya lebih memilih jalan kaki (yang lebih menanjak lagi) untuk sampai ke kereta gantungnya. Diajakin abang buat jalan kaki lagi, akunya ogah! Cukup lah tiga hari ini kaki aku yang gak pernah diajakin olahraga ini menderita bang! >.<

Entah tugu apa di depan pintu lift N-Seoul Tower
Tiket naek kereta gantung one-way. Karena baliknya kita rencananya bakalan naek bus yang langsung menuju Itaewon.

Setelah naek lift, antri cable car, naek cable car lagi, akhirnya kita sampai juga di N-Seoul Tower, Yeaaahh!

Si K pencinta patung

Sesampainya si atas, terus ketemu sama si patung, si K langsung kegirangan dan minta difotoin sama patungnya. Kita seh sebenarnya senang yak si K mau minta foto. Tapi tetep, dia cuma mau foto sama patung dan pas kita aja foto bertiga dianya bete >.<

Sebenarnya tujuan kita ke N-Seoul tower selain foto-foto di bagian gemboknya πŸ˜› Kita juga pengen ngajakin si K ke Teddy Bear House. Ya namanya juga liburan bawa anak kan yak. Apa-apa harus dicarikan tempat yang buat mood anaknya semangat. Apalagi si K ini, setiap pagi dia nanyain kita mau ke mana, dan kalau dia merasa gak ada tempat untuk dia maen dia konfirmasi ulang sampai merasa terpuaskan!

Untungnya suasana si N-Seoul Tower ini masih suasana Hallowen. Dan bertepatan pula pas si K udah ngerti apa itu Hallowen dan karakter-karakternya seperti gosh, mummy, vampire, dan lain sebagainya, jadi dia seneng-seneng aja deh diajakin foto-foto disekitaran karakter itu :mrgreen:

 

Ternyata di N-Seoul Tower banyak juga tempat-tempat yang bisa dikunjungi. Di bagian atas luarnya, ada tempat seperti food court gitu yang kita bisa pesan makanannya dan menikmati pemandangan sambil duduk-duduk dipinggirannya. Masuk lagi ke dalamnya (masuknya menurun) ada beberapa pilihan tempat bermain untuk anak.

Aku sendiri gak ada yang masuk seh, malah sibuk muter-muter cari teddy bear yang akhirnya tutup πŸ˜› Pengen ke atasnya juga males karena kok mahal dan gak sebanding juga πŸ˜› sepertinya masih keren di Hongkong karena tempat masukkan di Mall. Jadi foto-foto sebentar rasanya kita udah cukup puas πŸ˜€

Setelah puas berkeliling di N-Seoul Tower, kita langsung turun ke arah jalan yang berlawanan untuk menuju ke bus stop. Gak susah kok nyarinya, ikutin aja jalannya dan akan langsung dapat jejeran bus yang rame banget. Kalau kita jalan pake travel sepertinya akan dibawa menggunakan bus ke sini untuk naek ke towernya (jadi gak lewat cable car gitu).

Dari titik ini juga ternyata kita bisa berfoto full dengan pemandangan N-Seoul Tower puncaknya. Karena pas kita pertama kali sampai kok ya gak bisa-bisa foto tower sampai ke puncaknya. Ternyata kita salah posisi toh πŸ˜›

jalan menurun menuju ke bus stop
N-Seoul Tower

Dari N-Seoul Tower, kita naek bus langsung ke daerah Itaewon. Niatnya seh mau makan di restoran Indonesia. Pas sampai, eh restorannya tutup dong! Jadilah kita makan ditempat apa yang ada tulisan halalnya aja lah dan memutuskan untuk masuk ke salah satu restoran india.

Sebenarnya, aku sangat menghindari makan di restoran india. Entah kenapa kok rasanya lidah aku kurang cocok dengan makanan india ini. Tapi setiap pergi lah ya yang banyak restoran halal itu kalau gak india ya arab. Jadilah kurang bisa memilih ya kita >.<

Makan di restoran India

Ternyata pas masuk dan melihat menu, ternyata ada beberapa deh makanan yang masih bisa aku makan πŸ˜› Kalau gak salah aku pesannya nasi gimbab (?) yang rasanya lumayan juga.

Di depan restoran ini ada toko makanan halal yang mana akhirnya si abang borong belanja kentang, wortel, mie instan dan lainnya.

Udah puas makan kita ke luar restoran ke atas stasiun subway. Tujuan kita adalah ke Myeongdong. Gak, aku gak bakalan puas belanja kok, karena aku emang gak hobi belanja seh yak πŸ˜› tapi kita niatin buat ke Line Store untuk nyenengin si K karena gagal ke teddy bear house. Eh ternyata Line Store di Itaewon juga ada loh. Dan dari gedungnya kelihatan lebih gede lagi. Jadilah kita ajakin si K buat masuk di sana aja. Etapi anaknya gak mau masuk dong, coz di depannya ada kayak parade karakter Line yang serem-serem gitu. Akhirnya kita cuma foto bentar, langsung cabut ke Myeong Dong.

Line Store Itaewon

Myeong Dong itu seperti apa yak? Kalau aku deskripsikan di Pontianak mungkin seperti pasar Sudirman tapi agak rapian dikit *kemudian ditabok* πŸ˜› Etapi beneran loh, kadang lokasi-lokasi di luar negeri itu ketinggian promosinya aja. Sebenernya ditempat kitapun kalau ditata dengan rapi dan dipromosikan dari hari ke hari, tahun ke tahun lama-lama bisa terkenal juga πŸ˜›

Tujuan pertama ke Myeong Dong adalah ke Line Store lagi. Soalnya pas di Itaewon gemes si K gak mau masuk ke dalam store nya. Alhamdulillah pas di sini dianya mau masuk dan malah mau belanja. Aku tentunya gak kasih dong dia mau belanja seenaknya (milih barang yang mahal-mahal πŸ˜› ) jadi kita arahkan dia beli barang diskonan aja πŸ˜›

 

Setelah puas di Line Store dan dapat beberapa barang diskonan πŸ˜› kitapun ke luar dan jalan-jalan di Myeong Dong. Niat awal ke Myeong Dong adalah apalagi kalau bukan belanja kosmetik untuk diri sendiri. Iya dong, walaupun banyak yang nitip lisptik ke aku waktu bilang mau ke Korea tapi sebenarnya aku males buat beliinnya πŸ˜›

Tapi apa yang terjadi? Sejam keliling-keliling Myeong Dong, bukannya mendapati banyak belanjaan, aku malah bingung dong mau beli yang mana? Beneran sebingung-bingungnya. Akhirnya cuma beli pensil lipstik dan masker buat temen-temen kantor. Si abang sampai nanyain yakin gak beli apa-apa buat pribadi? Aku sangat yakin gak mau balik ke Myeong Dong lagi. Beneran deh sepertinya masuk ke pasar harus dibuang jauh-jauh dari itinerary liburan aku.

Sisa waktu di Myeong Dong, kami bertiga cuma puter-puter cari cemilan halal yang bisa dimakan. Tapi akhirnya satu-satunya cemilan yang aku coba adalah Taiyaki. Kue bentuk ikan dengan isian bermacam-macam dan aku sukak! Kulitnya renyah gitu kayak biskuit dan dalamnya seh tergantung kita pesannya apa. Jadi pengen makan Taiyaki lagi. Di Pontianak ada yang jual gak yak? :mrgreen:

 

Udah puas keliling-keliling akhirnya kita balik ke hotel. Cuma ketiga tempat tapi kita udah lumayan banget loh sampai di hotelnya. Udah hampir mau jam 9 juga. Dan akhirnya tepar lagi πŸ˜›

Besok sesuai janji sebelum ke Korea adalah bawa si K ke tempat bermainnya. Apalagi kalau bukan Everland, yeaaahh! Kalau gak salah Everland ini juga pernah jadi tempat syuting drama korea yak. Rasa-rasanya aku pernah nonton, tapi lupa drama apaan, hahaha.

Bye.