Dosis Pertama Vaksin CoronaVac


Akhirnya, setelah penantian panjang (yang gak panjang amat juga seh 😛 ) aku pada hari selasa tanggal 9 Maret 2021 kemaren mendapatkan dosis pertama vaksin CoronaVac. Seperti yang aku ceritakan sebelumnya bahwa minggu lalu suami aku akhirnya dpaat vaksin pertamanya karena ada acara vaksin masal pejabar di kantornya. Aku langsung protes dong, masak public service seperti kantor aku malah dapatnya belakangan seh? Eh hari jumatnya dapat pengumuman bahwa kantor aku bakalan dapat jadwal juga pada hari Selasa.

Aku kirain semua bakalan dapat gitu dong vaksinnya, sekantoran gitu. Ternyata gak! Masih ada dijatah cuma 20 dosis dikarenakan menurut Dinas Kesehatan mereka sedang mengejar vaksin untuk lansia juga. Kantor aku lalu membuat kebijakan bahwa 20 orang itu adalah anak-anak Front Office yang emang setiap hari berinteraksi dengan banyak orang. Untuk aku yang walaupun di Public Service tapi ketemu orang bisa cuma 1-2 aja setiap harinya jadi gak dapat jatah dong! Huhuhuhu.

Tapi, bukan Irni kalau langsung menyerah dong yak! Karena banyak dengar orang yang gak mau vaksin, aku langsung datangin bos aku bilang kalau ada yang gak mau vaksin dari 20 orang itu, jatahnya buat aku aja ya pak! Dan berhasil dong! Emang banyak yang gak mau ternyata! Antara bersyukur dan gemes seh, hahahaha. Alasan gak mau vaksinnya beraneka ragam. Ada yang masih meragukan vaksin corona ini. Kalau ini gak debat deh yak, di dunia udah banyak perdebatan serupa, jadi aku gak ikut-ikutan. Ada yang masih miss informasi dengan vaksin ini. Ada juga yang termakan hoax yang katanya kalau vaksin langsung pingsan dan ada pemberitaan meninggal segala. Dan terakhir yang paling menggelikan itu adalah orang yang takut sama jarum suntik! Hmmmm.

Aku kira takut sama jarum suntik ini cuma becandaan aja yak. Karena emang seh dulu waktu imunisasi SD di sekolah banyak banget temen-temen aku yang kabur dari jendela kalau duah petugas puskesmas datang buat imunisasi. Ini aku fikir adalah karena kesalahan kita para orang tua yang kalau memarahi ancamannya “ntar disuntik sama dokter” gitu ya. Karena itu aku gak mau banget mengancam anak, apalagi dengan kata suntik. Pas kemaren bibi yang temenin si K di rumah waktu kecil ada nyinggung-nyinggung soal suntikan aku langsung tegur dan bilang di depan bibinya dan si K bahwa suntik itu sakit emang, tapi sangat baik untuk tubuh karena yang dimaksukkan itu kalau gak obat ya vaksin yang emang diperlukan buat tubuh, jadi jangan dijadikan bahan becandaan. Takut sama jarum suntik diusia yang sudah sangat tua aku kira adalah permasalahan inner child di masa lalu.

Lalu, sampailah aku pada hari H penyuntikan vaksin. Saking semangatnya, aku adalah salah satu orang pertama yang datang di tempat vaksinasinya, hahahaha. Urutan penyuntikan vaksin adalah mengisi daftar hadir (perlu membawa KTP btw), lalu mendapatkan nomor antrian. Setelah nomor kita dipanggil akan ada petugas registrasi yang akan mengisi data kita ke dalam website vaksinasi gitu menggunakan NIK dan nomor handphone. Setelah mengisi data, kitapun kemudian dipanggil dan diperiksa oleh dokter atau tenaga medis lainnya. Yang diperiksa cuma suhu dan tekanan darah aja seh. Terus ada daftar pertanyaan yang ditanya sama dokternya. Aku gak ingat banget seh pertanyaannya, yang pasti pertama adalah apakah ada kontak dengan pasien covid 14 hari kebelakang, apakah pernah positif covid, apakah sedang sakit flu, batuk deman dan lainnya? Apakah ada penyakit bawaan (ini banyak banget penyakitnya kayak HIV, diabetes, asma dll gitu) terus ditanya apakah sedang hamil atau sedang menyusui.

Untuk aku sendiri, aku menjawab semua pertanyaan itu dengan jawaban TIDAK. Tapi aku gak tahu juga apakah kalau ada jawaban YA dari daftar pertanyaan itu kita langsung didiskualifikasi untuk mendapatkan vaksin covidnya. Soalnya pertanyaannya agak rancu kan yak. Yang aku tahu kalau di eropa (aku ada nonton video seorang dokter WNI yang kerja di Jerman) bahwa tahap 1 dari vaksinasi di Jerman adalah orang yang beresiko tinggi. Resiko tinggi ini adalah lansia dan orang yang mempunyai penyakit bawaan. Kalau pertanyaan di atas ditanyakan jawabannya YA dan tidak boleh berarti untuk vaksin di Indonesia sendiri belum bisa untuk orang berpenyakit bawaan ya.

Terus untuk ibu menyusui. Teman aku seorang dokter di Jawa Tengah mengatakan bahwa ibu menyusui sudah boleh menerima vaksin sekarang. Berarti seharusnya pertanyaan perihal menyusui ini udah gak perlu ditanyain lagi dong yak! Sayangnya aku gak dapat Peraturan atau landasan tentang Vaksin untuk orang yang boleh dan gak boleh ini seperti apa. Sepertinya Kemenkes atau Dinkes harus melalukan lebih banyak sosialisasi terkait ini deh. Biar masyarakat gak salah informasi, yang sekarang dapatnya cuma kalau gak dari berita ya dari katanya-katanya aja.

Karena semua pertanyaan tadi aku jawab TIDAK, aku langsung diarahkan untuk disuntik vansinnya di lengan tangan kiri sebelah atas seperti imunisasi difteri. Untuk aku secara pribadi seh suntiknya gak sakit ya, paling terasa dikit pas jarumnya masuk ke tangan, habis itu ya gak terasa apa-apa lagi. Setelah di vaksin terus kita harus duduk minimal 30 menit di ruangan tersebut sebelum boleh meninggalkan ruangannya. Setelah 30 menit, lalu petugas memberikan tanda bukti aku udah disuntikkan vaksin dosis pertama dan akan mendapatkan dosis selanjutnya tepat 14 hari setelah ini. Ya, mudah-mudahan aja bisa tetap sehat sampai dosis kedua diberikan yak.

Untuk aku sendiri, setelah merasa 1 hari dilakukan vaksin, aku gak merasakan efek samping apa-apa seh yak. Kalau suami aku ngantuk berat aku ya gak ngantuk juga, biasa aja gitu. Tangan juga gak terlalu sebal dan berat ataupun nyeri. Ya semoga emang gak ada efek samping apapun deh.

So, segitu aja cerita aku tentang vaksin Covid-19 pertama aku. Semoga ada perbaikan di dunia ini untuk menanggulangi pandemi ini. Dan semoga pandemi ini segera berakhir, anak bisa sekolah lagi dan kita bisa beraktifitas seperti dulu lagi.

 

bye.

Kok Mereka Gak Sekolah, Ma?


Belakangan ini, si K udah aku bolehkan untuk main bersama anak-anak lain tetangga di dekat rumah aku. Biasanya dia main setelah aku menjemputnya dari rumah mbahnya pulang ke rumah sekitar pukul 16.30 gitu. Mainnya biasa aja seh, kalau gak lari-larian, atau main sepeda, atau cuma ngobrol-ngobrol ala anak kecil gitu.

Masalahnya adalah, semenjak dia diperbolehkan main, dia lebih sering memperhatikan anak-anak di lingkungan aku. Biasanya kan dia cuma ke luar untuk diantar ke rumah mbahnya dan sekolah, sekarang dia punya kebiasaan baru.

Aku gak tahu kalau di kota lain ya, tapi kalau di Pontianak itu sekolah yang bisa SFH dengan metode tatap muka via online itu bisa dihitung jari satu tangan. Yups, gak lebih dari 5 deh. Bahkan sekolah Islam swasta yang dulunya aku lihat keren ternyata gak menerapkan sekolah tatap muka via online. Jadi kebanyakan sekolah di sini gurunya cuma memberikan tugas membaca dan tugas mengerjakan soal via whatsapp.

Dulu aku sempat mikirin ini seh, cuma ya sekarang udah gak peduli. Aku sekarang lebih memikirkan si K harus tetap mendapatkan pelajaran yang baik walaupun hanya sekolah online. Jadi anak-anak yang main dari pagi sampai sore di lingkungan tempat tinggal aku itu udah pemandangan sehari-hari.

Tapi, semenjak si K memperhatikan teman-teman sepermainannya di pagi hari yang tetap bisa main tapi dia sibuk sekolah, dia mulai mempertanyakan kok anak-anak lain tidak sekolah sedangkan dia harus sekolah?

Kejadiannya pagi ini seh, ketika aku udah buru-buru mau antar dia ke rumah mbahnya untuk sekolah online, dia hampir mau ke luar rumah dan main bersama anak-anak lainnya. Aku spontan langsung panggil dong, ” K! Ayo masuk mobil, nanti telat sekolahnya!” Dianya aneh lihat anak-anak lain gak sekolah, anak-anak lain kayaknya aneh juga lihat dia kok pagi-pagi udah siap sekolah dengan tas sekolah dan seragamnya lengkap.

Terus, pas diperjalanan menuju rumah mbahnya, aku tanyain dong dia. Tahu gak kenapa anak-anak lain gak sekolah sedangkan dia harus sekolah online?

Tentu dia gak bisa jawab dong! Hahahaha. Kalau udah kayak gini, aku suka lebaykan jawaban aku seh biar si K merasa yang dia lakukan itu hebat dan beda, tapi tentu harus jawaban yang benar ya, bukan bohong. Jawaban aku adalah “Karena masih banyak di Pontianak ini yang sekolahnya gak siap dengan sistem online. Ya gurunya gak siap dengan teknologi, ya sekolahnya gak mampu untuk memberikan fasilitas seperti komputer dan laptop, dan anak-anaknya yang gak mampu untuk punya laptop di rumah untuk belajar. Jadi kalau kamu masih bisa sekolah online setiap hari dari rumah, kamu adalah salah satu anak yang beruntung di Indonesia ini.”

“Bayangkan, kalau kamu tidak sekolah hampir setahun sekarang. Kamu tidak belajar online yang akhirnya kamu jadi tidak tahu ilmu pengetahuan. Anak yang tidak tahu ilmu pengetahuan tidak akan menjadi pintar secara mendadak. Dan kamu tahu kalau orang yang tidak berpendidikan itu seperti apa?”

“Orang yang tidak sekolah dan tidak pintar tidak bisa mendapatkan pekerjaan yang bisa mendapatkan uang”, jawab si K akhirnya.

“Ya. Mungkin mereka tetap bisa mendapatkan pekerjaan, tapi orang yang berpendidikan dan pintar akan lebih mudah untuk mendapatkan pekerjaan yang dia inginkan dengan gaji yang baik ketimbang orang yang tidak pintar,” sambung aku lagi.

***

Aku sendiri, emang sering mensoundingkan pentingnya belajar buat si K seh. Bahwa tugas utama dia semasa kecil ini adalah belajar. Belajar apapun, mau itu belajar di sekolah, belajar piano, bahkan belajar menggambar dan membuat video yang sekarang dia sangat sukai. Apapun itu yang penting belajar. Maka dari itu, kalau dia iri dengan anak-anak lain yang lebih banyak bermain, dia bisa berfikir sendiri dia lebih baik memilih yang mana, belajar atau bermain?

Lalu terakhir sebelum sampai di rumah mbahnya aku tanyakan lagi ke dia, “Jadi, kamu mau main dari pagi sampe sore atau mau tetap belajar online dan bermain jika sudah selesai sekolah dan belajar?”

“I still want online school,” jawab si K dengan muka yang masih menerawang :mrgreen:

Test Online


Seberapa sering anak kalian yang masih SFH ada test? Kalau sekolah si K kok sering banget ya? Huhuhu.

Aku gak tahu juga kalau nanti sekolah masuk seperti biasa (yang entah itu kapan terealisasinya) testnya akan seberapa banyak. Yang pasti kalau sekarang menurut aku buanyak banget test yang harus si K ikuti. Kan sekolah si K itu pake istilah term setiap 3 bulan sekali itu. Nah, setiap term akan ada class testnya untuk masing-masing pelajaran. Bahkan untuk pelajaran Math dan English class testnya itu ada 2 kali setiap term. Untuk class test sendiri berarti udah ada 10 test untuk tiap term nya a.k.a ada 40 test disepanjang tahun untuk tipe class test.

Aku fikir kemaren (saat term 1) hanya akan ada class test aja. Eh ternyata gak dong! Selain class test yang ada di setiap term. Ada juga Semester test yang dilakukan tiap semester yaitu saat term 2 dan term 4 nantinya. Semester test itu untuk seluruh mata pelajaran juga. Kalau gak salah (kok aku jadi lupa ya, hahahaha) untuk semester test english juga dilakukan 2 kali jadi ada 9 kali semester test dan 18 kali sepanjang tahunnya.

Kalau dijumlahlah berarti si K melakukan 58 test sepanjang tahun di kelas 1 ini. Wow banyaaaak bangeeet yaaa, huhuhu.

Kalau udah lihat kayak gini dan membandingkan anak kelas 1 sekolah negeri kok ya jomplang banget ya. Mereka pelajaran sekolahnya dikit, dan tesnya juga mudah banget gitu. Kalau si K untuk pelajaran math aja sekarang udah belajar perkalian dengan pengelompokan, sains udah belajar jenis jenis tumbuhan dan binatang. Sosial udah belajar lingkungan, arah angin (utara timur selatan barat) dan lain sebagainya.

Terus nyesel gak masukkan si K ke sekolah swasta? Ya tentu tidak dong! Hahahaha. Ya apalagi zaman covid sekarang ini ya, jomplang banget pendidikan antara anak swasta dan anak negeri. Kalau anak-anak negeri ini gak diurus dengan baik oleh Pemerintah dan orang tuanya, menurut pendapat aku pribadi ilmunya bakalan ketinggalan seh dengan anak yang tetap sekolah meskipun di rumah kayak si K.

Balik lagi cerita tentang test. Jadi selama ini, kalau class test itu hampir selalu aku temenkan seh. Karena biasanya si K itu terburu-buru ngerjainnya yang ujung-ujungnya ada bagian yang kelupaan. Belum lagi testnya yang perlu upload hasil foto ke google class room.

Yang membuat aku stress sendiri adalah, kalau menemankan test ini terus anaknya gak bisa! Antara pengen aku benerin atau dibiarin aja gitu kan? Hahahaha.

Tapi ya biasanya, kalau si K upload hasil testnya dan gurunya lihat ada yang salah, biasanya gurunya suruh si K memperbaiki. Karena itulah aku juga ikut dong! Kalau lihat ada yang menurut aku salah aku biasanya bilang bagian ini ada yang salah, coba baca lagi dan kalau ketemu diperbaiki. Cuma ya aku gak mau kasih tahu jawabannya juga. Aku fikir kasian kalau jawabannya dikasih tahu, ntar anaknya gak belajar.

Terus masalahanya kan aku kurang bisa bahasa inggris ya. Toefl aku terakhir tes itu waktu mau skripsi dan nilainya cuma 450 aja, hahahaha. Kadang ya, aku fikir jawaban si K salah untuk English karena aneh gitu kalimatnya, aku suruh betulkan dong ya. Terus ternyata jawaban dia yang bener dong! Gurunya bilang yang dia tulis pertama itu udah bener, kenapa diganti lagi? Huahahahaha. Jadilah semenjak itu aku gak pernah ganggu-ganggu lagi jawaban si K untuk urusan English :mrgreen:

Ada lagi pelajaran yang beneran aku gak ngerti sama sekali, Mandarin! Test terakhir yang dia lakukan untuk term 3 75%nya aku gak tahu dong jawabannya! Bayangkan ada beberapa soal (5 soal kalau gak salah) yang soalnya adalah huruf mandarin gitu, terus pilihan gandanya juga huruf mandarin. Jadi mereka disuruh menyambung kalimat! Jangankan tahu jawabannya ya, wong bacanya aja aku gak bisa kan! *nangis dipojokan* Jadi karena aku gak ngerti aku berharap aja deh bahwa si K emang ngerti dengan jawabannya bukannya asal tebak aja, hahahahaha. Sayangnya kemaren gak bisa lihat hasil google formnya, jadi akan selalu penasaran sampai akhir term deh.

Karena gak bisa ngajarin si K ini, aku jadi pengen banget memperbaiki bahasa Inggris aku dan belajar bahasa Mandarin seh yak. Tapi aku masih mager gitu, hahahaha. Mudah-mudahanan tahun depan aku bisa mulai les bahasa deh :mrgreen:

Wokey, segitu aja cerita aku selama mendampingi anak test online ya.

 

 

bye.

Katniss is Turning 7!


Hari sabtu tanggal 23 Januari kemaren, si K ulangtahun ke 7! Yeaaay.

Bener-bener gak berasa ya, anak aku udah 7 tahun aja, hahahaha. Karena blog ini lebih tua dari umur si K, jadi perjalanannya masih tersimpan rapi tentu saja dari mulai hamil, melahirkan, bayi, ASI Ekslusif, ulang tahun pertama, dan tentu masih banyak lagi cerita-cerita lainnya. Mudah-mudahan apa yang aku tulis di blog ini menjadi cerita indah buat K saat dia dewasa. Bukan cerita yang membuat dia sedih ketika membacanya.

Yang mau baca cerita-cerita tentang ulangtahun si K dari mulai dia pertama kali ulangtahun bisa baca di sini yak  😀

  1. Cerita Ulang Tahun Katniss ke 1
  2. Cerita Ulang Tahun Katniss ke 2
  3. Cerita Ulang Tahun Katniss ke 3
  4. Cerita Ulang Tahun Katniss ke 4
  5. Cerita Ulang Tahun Katniss ke 5
  6. Cerita Ulang Tahun Katniss ke 6

Seperti biasa, setiap tahunnya aku selalu memikirkan tema yang cocok untuk diangkat sebagai tema ulang tahun si K. Waktu umur 1 tahun tema ulangtahunnya Sofia karena dia lumayan suka nonton Disney Jr saat itu, walaupun kebanyakan masih belum ngertinya seh. Dulu itu aku tontonnya sebagai usaha aku untuk si K aktif berbahasa inggris, hahahaha. Ulang tahun kedua temanya adalah finger family dan frozen. Ini dipilih karena sepanjang umur 1 tahun dia selalu aja nyanyi dan nonton finger family song dengan berbagai macam model, aku saat itu sampai bosen banget dengernya, hahahaha. Milih frozen karena beberapa kali juga suka disetelin film frozen dan lumayan hapal let it go nya.

Tema ulangtahun ketiga adalah Mickey Mouse ya karena kita baru balik dari Hongkong Disneyland dan dia lagi suka-sukanya cerita ke orang-orang tentang dia yang pergi ke rumah Mickey dan bertemu dengan Mickey Mouse. Tahun keempatnya dipilih Little Pony karena tahun itu dia kok ya hapal banget seluruh nama-nama karakternya Little Pony. Dia juga suka banget dengan lagu-lagunya dan bisa menyanyikannya. Ulang tahun kelima temanya adalah Rapunzel. Aku juga gak ingat kenapa kita pilih tema ini. Seingat aku cuma karena dia maunya jadi Princess dan aku pilihin Rapunzel karena ada contoh kue ulangtahun yang culu gitu bentuknya pake tower segala. Dan pas jadi kuenya emang kece banget!

Tahun lalu temanya adalah super hero girl karena lagi-lagi dia lagi suka banget nonton super hero girl di Disney Channel dan dia katanya gak mau lagi jadi princess.

Nah tahun ini, tema yang aku angkat (dengan persetujuan anaknya tentu saja) adalah Roblox! Ya apalagi kalau bukan karena dia lagi senang-senangnya main game Roblox, hahahaha. Aku berharap seh, setiap tema yang kita angkat diacara ulangtahunnya itu membuka memory aku, suami dan si K apa hal-hal yang sedang dia sukai setahun sebelum dia ulangtahun. Jadi ada ceritanya gitu loh.

Ulang tahun kali ini tentu aja gak buat acara yang gimana-gimana. Cuma di rumah aja dengan nenek dan mbahnya. Ada juga dua sepupunya yang datang ke rumah. Semenjak gak sekolah, aku emang rutinkan si K main sama sepupunya yang walaupun gak seumuran, tapi tetap lah ya sama-sama anak kecilnya. Karena sebagai anak tunggal dan tidak bergaul dengan anak sekitar rumah, aku masih berfikir dia perlu ada interaksi langsung dengan anak-anak seumuran seh yak. Aku cuma bertahan beberapa bulan aja kemaren, huhuhu. Semoga pandemi cepat berlalu deh yak biar anak-anak bisa main lain sama teman-teman sebayanya.

Ulangtahunnya gak pake acara tentu saja. Pagi-pagi kita mulai seperti biasanya, aku masak sarapan dan papanya keliling ambil pesanan makanan dan kue-kue. Terus udah sarapan, udah mandi bersih kemudian kita foto-foto dan tiup lilin. Berdoa segala sesuatu baik untuk K sekarang dan dimasa depannya. Setelah foto-foto yang gak sampai setengah jam juga, terus langsung makan deh selesai. Hahahaha.

Walaupun cuma di rumah dan gak ada acara apa-apa, tapi ulangtahunnya aku persiapkan dengan lengkap dong. Karena gak maukan akunya si K kehilangan 1 kali cerita ulangtahunnya. Jadi sebelum hari H yang aku persiapkan adalah:

  • Tema ulangtahun, ini penting banget karena akan menyangkut di semua aspek acaranya. Kalau temanya udah pasti yang lainnya bakalan tinggal mengikuti aja.
  • Bentuk kue ulangtahun. Karena biasanya temanya udah kita sebut, aku bakalan langsung googling model kuenya. Pas banget model cake tema roblox ini banyak banget sudah ya pake, jadi aku tinggal pilih aja yang aku paling suka beberapa jenis. Nanti, aku lihatin ke si K beberapa model kuenya. Dan yang dia pilih adalah yang akan kita buatkan.
  • Goodie bag. Tahun-tahun sebelumnya, kami biasanya kalau gak ngasih snack ya ngasih mainan. Tapi karena sekarang lagi pandemi kok ya kalau ngasih snack kurang seru, kalau ngasih mainan mahal, huahahahaha. Terus beberapa bulan ini aku lagi sering banget makan kue yang dijual mamanya temen si K pas TK. Pas di IG-nya aku lihat kuenya bisa dijadikan hampers, jadilah kita pesan browniesnya untuk dijadikan hampers ulangtahun dan aku bagikan ke tetangga dan keluarga terdekat.
  • Balon. Sebenarnya aku gak mau hias ulangtahunnya pake balon. Selain gak ada fungsinya, aku juga males seh lihat balon, hahahaha. Etapi seminggu sebelumnya sepupunya yang kecil ulangtahun pake balon yang banyak dan dia jadi kepengan ada balon juga dong! Tapi karena aku tetep gak mau ada balon yang nempel di dinding rumah, jadilah aku pesan standing balon aja dan pasang beberapa balon biasa di atas meja. Lumayan juga untuk hiasa foto biar gak kosong-kosong amat.
  • Baju seragam. Ini karena permintaan papanya yang pengen buat baju seragam untuk hari ulangtahun si K. Karena aku punya kenalan (lagi-lagi mommynya teman si K sekolah) yang punya percetakan buat baju, jadi gampang banget pesannya. Hasil bajunya juga bagus banget, bukan model sablon gitu loh yang kalau pake mesin cuci suka nempel-nempel terus rusak, tapi beneran diprint seperti dicetak gitu, kusuka banget dah.
  • Puding. Ini juga gak pengen beli sebenarnya, tapi akhirnya pesan lagi-lagi karena kue ulangtahun sepupunya kemaren pake puding jadi dia pengen ada juga, padahal kuenya udah aku pesan kan gak lucu kalau dibatalin, huhuhu.

So, begitulah cerita ulangtahun si K yang ketujuh tahun ini. Doa jangka pendek aku seh semoga pandemi ini cepatan selesai, semoga sekolah cepetan bisa masuk lagi dan semoga si K gak ada ketinggalan pelajarannya walaupun sekolahnya online.

Untuk jangka panjangnya doanya tetap sama setiap tahunnya. Semoga doa doa dalam hati mommy and daddynya terkabul aja. Amiin.

 

bye

 

Cerita Sekolah Online Primary 1 di Kinderfield Pontianak


Sebelum bulan Juli datang, aku masih berharap bahwa anak-anak sekolah akan masuk secara offline. Kondisi Corona di Pontianak pada bulan Juli kemaren gak begitu buruk. Pertanggal 1 Juli 2020, kasus positif di Kota Pontianak cuma 4 orang aja yang aktif, bahkan di bulan Juli Pontianak juga pernah dalam posisi zero kasus corona. Melihat tren positif, aku beharap banyak dong sekolah akan masuk. Tapi ternyata gak. Keputusan bersama 4 menteri bilang yang boleh masuk hanya kota yang berada di zona hijau itupun 2 bulan pertama anak SMA, dua bulan kedua anak SMP dan dua bulan berikutnya (jika zona hijau tetap bisa dijaga) barulah anak SD. Kalau aku hitung sesuai dengan peraturan ini “jatah” anak SD masuk ke sekolah itu (jika tetap zona hijau) adalah di bulan Nopember yang mana udah masa ulangan sekolah dan ya udah ding sekalian aja masuk januari. Makanya semenjak itu aku gak berharap banyak untuk si K bisa bersekolah offline.

Karena sudah dihadapkan pada kenyataan sekolah akan tetap online paling gak sampai akhir semester 1 (bahkan jika aku menulis sekarang aku yakin kalau selama kelas 1 ini si K akan terus sekolah online, MUNGKIN baru akan mulai sekolah online saat naik Primary 2) jadi aku udah menurunkan ekspetasi. Sekolah yang dulunya aku nanti-nantikan sebagai tempat anak menimba ilmu menjadi beban berat orang tua untuk harus siap mendampingi anaknya. Aku ingat banget perkataan Mas Mentri Pendidikan waktu itu, bahwa anak-anak pasti akan sangat berdampak banget dengan kondisi sekolah online ini, dan yang paling berdampak adalah anak Sekolah Dasar awal yang harusnya menerima pondasi-pondasi pendidikan diwaktunya sekarang. Maka, anak-anak yang akan tetap unggul adalah anak-anak yang mendapatkan perhatian penuh pendidikannya dari orang tua di rumah. Karena, yang mereka temui adalah orang tua untuk tempat belajar sekarang, bukan guru-guru di sekolahnya, walaupun ada tatap muka online sekalipun.

Aku, seperti orang tua lain pada umumnya, tentu ingin memberikan yang terbaik untuk si K dong selama sekolah online ini. Dan aku tidak ingin si K menjadi salah satu anak tertinggal karena terdampak Corona, bahkan kalau bisa dia menjadi anak unggul di tengah himpitan ini. Tentu dengan penurunan ekspetasi di sana sini seperti aku gak akan mengikutkan si K lomba kompetisi online (yes, masih banyak banget kompetisi online di masa sekarang) karena si K paham dengan pelajarannya aja aku udah bersyukur banget. Dengan waktu aku yang terbatas juga  di mana aku gak ada waktu untuk mendampingi dia setiap hari selama online di sekolah, tapi aku akan meluangkan banyak waktu aku di sore dan malam hari untuk mengulang pelajaran dan mengerjakan tugas-tugasnya yang sehari bisa ada 2-3 tugas dari sekolah. Paling nggak, itulah usaha terbaik aku.

So, mau gak mau, suka gak suka, sekolah online tetap akan berjalan dan perjuangan harus dimulai :mrgreen:

Sebelum mulai pembelajaran online, sekolah si K mengadakan pertemuan orang tua murid dengan kepala sekolah dan guru-guru tingkat Primary 1.  Hal yang paling mendasar dari penjelasan oleh kepala sekolah adalah, sistem online akan tetap sama dengan waktu KGB (karena sebagian besar anak Primary berasal dari TK di Kinderfield juga) dengan menggunakan google meet dan google class. Yang membedakan adalah adanya nilai yang dikejar di Primary ini. Setiap tes, setiap tanya jawab, setiap tugas akan dinilai dan menjadi penilaian untuk rapor semesteran. Untuk penilaian akan dibagi persentasenya, Semesteran Test berapa persen, Class Test berapa persen, portopolio, tugas, presentasi, keaktifan di kelas dan lainnya. Puyeng! Karena emak harus tahu kan, biasanya aku kan terima hasil aja dari gurunya, huhuhu.

Udah pertemuan, guru-guru kelaspun langsung memberikan jadwal pelajaran online tatap muka dan online tidak tatap muka. Seperti yang aku ceritakan di postingan sebelumnya sekolah si K untuk tingkat Primary 1 itu ada 13 matapelajaran, 10 matpel itu online tatap muka dan 3 matpel itu cuma dikasih tugas-tugas aja via google class. Sekarang tugas aku adalah gimana mengkondisikan si K tetap bisa online dengan nyaman SENDIRIAN dan aku bisa kerja di kantor dengan tenang tanpa harus khawatir dia ketinggalan pelajarannya karena gak didampingi?

Pertama yang aku lakukan adalah, mengajari si K cara masuk ke google meetnya sendirian. Aku kasih tahu cara menghidupkan komputer dan laptopnya (kadang pake komputer kadang pake laptop dia) cara buka browser, aku kasih tahu cara klik apa supaya bisa menulis url di browser untuk masuk google meet dan untuk masuk google class, terus aku kasih tahu kode kelasnya (yang untungnya cuma 2 yang mana 1 untuk seluruh matapelajaran, dan satu lagi untuk khusus pelajaran moral education) dan yang terakhir adalah aku ingatin berkali-kali jadwal masuk kelas-kelasnya yaitu oukul 07.30, terus 10.15 dan 12.30. Awalnya aku telponin setiap hari saat sebelum meetnya di mulai, tapi udah semingguan dia hapal sendiri seh udah gak perlu diingatin lagi.

Diajarin gitu emangnya di rumah gak ada yang bisa bantuin Niee? Jadi ya, si K itu selama aku kerja aku titipkan di rumah mbahnya. Biasanya yang jagain si K itu mbahnya atau gak bibinya suami yang dari bayi temenin dan ngurusin makan minum gitu loh. Dan karena dua duanya udah berumur, aku gak bisa ngajarin mereka berdua seh. Aku lebih percaya si K lebih bisa aku ajarin daripada mbah dan bibi. Lagian, dengan ngajarin si K langsung, dia bisa lebih mandiri dan gak tergantung kepada siapa-siapa untuk mengurus sekolahnya. Jadi lebih bertanggungjawab sama tugas sekolahnya kan, bukan mengandalkan orang lain.

Awal sekolah online, aku ragu si K akan mendapatkan pelajaran yang baik dan ketakutan kedua adalah dia yang kehilangan momen bermain bersama temannya. TAPI ternyata si K menikmati loh belajar onlinenya. Dia juga bisa tetap membagikan cerita tentang teman-temannya saat sepulang aku kerja. Dia biasanya cerita bahwa si A, B dan C anak baru yang bukan dari Kinderfield, bahwa si D kamarnya lucu karena pink semua, bahwa si E selalu pake headset kalau belajar, kalau si F suka ngajak main dulu jika guru-gurunya belum datang dan anak anak udah siap di meet. BAHWA anak-anak punya cara mereka sendiri untuk beradaptasi dengan kekacauan dunia ini. Saking beradaptasinya, saat aku bilang gimana kalau nanti masuk sekolah lagi, si K gak mau dong! Maunya online aja katanya, hahahaha (walaupun dia tetap senang jika bisa bermain langsung bersama teman-teman sekolahnya lagi).

Pagi sekolah, malam ngerjain tugas, masih ada les online pula untuk pianonya. Hari-hari si K walaupun gak sesibuk dulu tapi tetap berkegiatan teratur lah. Aku masih bisa bersyukur bahwa sekolah si K tetap berusaha untuk memberikan pendidikan yang terbaik untuk murid-muridnya. Karena aku tahu banget, di depan mata aku sendiri, aku melihat anak anak lain yang kegiatan pendidikannya udah hilang begitu saja digantikan dengan hanya bermain setiap hari. Mempunyai rutinitas yang masih mempuni untuk pendidikan formal dan non formal di masa pandemi ini sangat harus bisa disyukuri.

***

Kalau sekolah onlinenya udah lancar, terus kalau pas tes gimana Niee?

Jadikan ya, untuk test sendiri, sekolah si K menggunakan dua metode, yang umum adalah dengan google form, tapi ada juga yang menulis manual di buku yang kemudian hasilnya di foto dan diupload ke google class. Awal-awalnya, aku SELALU mendampingi si K kalau sedang test. Selain dia gak bisa (karena belum aku ajarin) upload tugasnya sendiri ke google class, aku juga ingin memastikan jawaban yang dia jawab itu benar seh (walaupun tentu aku masih dengan prinsip anak gak boleh dibantu saat test). Tapi, lama kelamaan aku gak sanggup juga dong nemankannya karena jadwalnya yang banyak banget dan gak mungkin juga aku meninggalkan kantor setiap dia test. Untungnya emang jadwal kantor agak senggang selama corona ini seh, jadi bisalah mendampingi sedikit-sedikit. Namun akhirnya aku menyerah juga dan memutuskan untuk mengajarkan si K mengupload tugas-tugasnya sendiri ke google class. Ternyata diajarin sekali dua kali anaknya udah bisa dong! Terpujilah anak generasi Alpha yang udah siap banget masuk ke dunia digital. Bayangkan banget kalau corona ada di awal tahun 2000 kan yak, udahlah internet masih lemot bahkan gak ada, kalau adapun kita semuanya masih gaptek! Jadi disyukuri ajalah posisi sekarang.

Dengan perjuangan panjang dan melelahkan itu, akhirnya awal Desember kemaren si K bagi rapor. Kalau biasanya bagi rapor adalah momen para orang tua bertanya kepada guru dan sekolah tentang perkembangan anaknya, kali ini tentu berbeda. Kita sebagai orang tua dan guru berbagi cerita tentang anak tersebut dan akupun demikian. Guru si K menceritakan bagaimana si K selama google meet berlangsung dan aku juga menceritakan apa yang si K masih sulit untuk mengerti (tentu pelajaran PPKN dan Agama seperti yang aku tulis di postingan kemaren) dan bagaimana situasi si K di rumah selama pembelajaran online ini. Benar-benar ya, tahun 2020 ini kita orang tua dipaksa untuk ikut andil besar dalam pendidikan anak-anak kita. Yang dulu bisa menyerahkan sepenuhnya kepada sekolah tahun ini gak bisa. Paling tidak aku sebagai orang tua belajar, belajar bertanggungjawab penuh untuk pendidikan si K. Semoga di Primary 1 ini mendaji pondasi dasar bagi aku untuk mendapinginya sampai jenjang jenjang berikutnya hingga dia mandiri saat dewasa.

Ok, segini dulu kali ya ceritanya. Sebenarnya aku mau ceritakan tentang isi dari rapor si K yang menurut aku unik karena ada dua rapor yang dibagikan yaitu rapor dari sekolah dan rapor versi kemendikbud. Tapi karena postingannya udah kepanjangan juga jadi dipostingan selanjutnya aja ya.

 

bye.

Sosial Media


Kalau ada yang ngefollow aku di instagram, mungkin pernah baca story aku yang sempat menyebutkan bahwa aku pada bulan Agustus memutuskan untuk mendisactivekan akun Facebook aku. Sebenarnya, ini bukan pertama kali terjadi seh. Aku udah pernah disactive akunnya beberapa tahun yang lalu selama setahunan lebih gitu. Alasan aku tahun kemaren disactive adalah karena teman, hahaha. Gak ada spesifik satu teman seh, tapi seingat aku, aku males banget baca status-status teman-teman aku (karena dulu facebookan isinya temen-temen dunia nyata aja gitu). Ini mungkin ada nyambung dengan aku yang introvert ditulisan aku sebelumnya kali ya, hahaha.

Terus, pas masuk kerja awal-awal aku sangat bersyukur aku gak punya FB karena aku jadi gak bersusah payah saling berteman di sosial media sama teman kerja. Aku (sampai sekarang juga seh sebenarnya) paling gak suka loh berteman dengan orang dunia nyata (apalagi teman kantor) di sosial media. Kalau ada yang perhatikan (ya kali ada Niee! 😛 ) aku itu paling males ngomongin kerjaan di sosial media manapun. Sampai pada tahap aku gak mau ada yang tahu aku kerja di mana karena biasanya yang tahu aku kerja di mana bakalan minta bantu dan merepotkan aku sendiri, huahahaha. Sekarang aja aku wanti2 sama keluarga inti aku bahwa jangan bilang si Irni kerja di mana. Karena aku gak mau repot 😛

Aku gak tahu waktu pastinya kapan aku mulai main Facebook lagi, seingat aku, alasan aku main lagi adalah karena aku sedang mencari “teman” baru untuk di blog ini, dan komunitas blog pada saat itu banyak yang basenya di facebook. Karena itulah aku mulai aktif dan malah keterusan! Keterusan ini maksudnya adalah bukan hanya disana untuk blog gitu loh, tapi malah tambah teman kantor, tambah riuh dan malah aktif setiap hari di sana, hahahaha.

Aku gak bisa pungkiri seh emang facebook itu asyik banget buat aku. Apalagi semenjak aku ikutan komunitas blog itu, walaupun banyak yang cuma berteman dan lalu menghilang begitu aja tanpa saling nyapa, tapi beberapa orang yang aku temui di facebook (terutama yang blogger) ternyata sangat asyik tulisannya untuk diikuti. Sebut saja yang paling aku suka itu Olenka yang sering membahas traveling dan politik dunia, mbak Ade Komalasari yang sering membahas tentang Family dan pendidikan, terus ada lagi mbak Iin yang suka aja lihat dia ceirta tentang keluarganya. Dan yang paling aku sukai dari facebook adalah saat aku masuk ke komunitas traveling. Isinya penuh dan bermanfaat banget. Di luar dari status teman dunia nyata yang aku masih gak suka, aku sangat menyukai timeline Facebook aku yang kaya, sampai korona menyerang!

Menyukai timeline Facebook yang aku maksudkan ini adalah karena menurut aku, aku sudah sangat memfilter status orang yang ingin aku baca. Kalau aku gak suka aku langsung unfollow, kalau terlalu sayap kiri atau kanan aku langsung unfriends. Aku gak perduli seh mau kenal atau gak kalau gak suka ya gak suka. Urusan dunia nyata sama urusan media sosial aku pisahkan benar karena aku maunya buka Facebook ya bersenang-senang. Timeline aku sebersih ketika ada dua kubu politik hampir yang gak ada membahas gito loh. Tapi ternyata politik kalah sama corona, hahahaha. Semenjak maret tetiba semua membahas corona, aku juga seh gak tahan juga buat gak bahas, hahahaha.

Pembahasan corona ini terlalu luas -DAN- terlalu sempit disaat yang bersamaan. Aku gak usah lah bahas itu lagi karena capek, hahahaha. Semenjak itu timeline FB udah gak semenyenangkan dulu lagi. Group travelingpun awal-awalnya pada bertengkar antara yang pengen liburan sama yang gak setuju ada yang liburan dan bawa “penyakit” ke Indonesia. Lalu lama kelamaan groupnya mati suri. Si Olenka yang aku paling suka baca tulisan dan ceritanya setiap hari (apalagi dia ini aku follow dari jaman di Malaysia sampai dia pindah ke UK) terus berubah haluan jadi jualan daster. Ya gak masalah seh dia jualan daster, tapi menurut aku facebooknya udah gak semenarik dulu. Orang-orang juga pada saling berpendapat dan gak ada yang mau mengalah.

Maka dari itu, karena aku udah merasa Facebook udah gak asyik, dan sebenarnya dari dulu aku pengen mengurangi sosial media tapi gak bisa, jadi inilah saat yang tepat aku mengundurkan diri dari Facebook. Beneran pas aku disactive aku gak ada keraguan dan gak ada kangen-kangennya gitu mau buka lagi. Sep deh aku bisa lepas dari 1 sosial media lainnya setelah twitter, hahahahaha.

Tapi ternyata, gak sampai di sana. Aku tutup Facebook, eh malah aktif (semakin aktif banget gitu loh maksudnya) di Instagram! Hahahaha. Dulu ya, aku lihat instagram itu sekali sekali doang kalau udah bosan sama facebook. Jadi Facebook tetap sosial media utama aku. Tapi karena udah gak di FB malah setiap hari bukan instragram dan setiap hari post story.

Aku sampai mikir gitu loh, kok aku ribut banget di IG, padahal mah gak ada yang melarang  juga kan? Hahaha. Tapi untuk aku pribadi aku sendiri gak suka. Sama seperti di facebook, walaupun aku gak suka mah tetap aja aku aktif terus dan rasanya gak akan mungkinlah aku berenti satu hari gak buat status di IGS. Sampai akhirnya minggu lalu aku merasa bosan dengan Instagram!

Gak tahu kenapa bolak balik aku buka kok ya bosan banget ya lihatnya. Apa karena aku terlalu sering menggunakannya gitu loh? Tapi aku tangkap kebosanan itu dengan inilah saatnya si Irni menemukan momen untuk mengurangi sosial media lagi. Jadilah senin pagi kemaren aku putuskan untuk menghapus aplikasi Instagram hingga hari ini. Rencananya seh seminggu aja dihapusnya, tapi kalau aku lihat aku ok-ok aja gak ada instargram dan gak kangen mungkin akan aku lanjutkan, hahahaha.

Rencananya adalah aku akan buka instagram aku (setelah seminggu gak buka sama sekali) di komputer aja. Jadi aku bisa tetap dapat update informasi terbaru. Aku tuh takut kelewat update info drama korea terbaru gitu loh, huahahahaha. Yang lain seh aku gak juga difikirkan. 😛

So, begitulah cerita tentang aku dan sosial media sekarang. Kelihatan banget seh aku lebih produktif saat gak ada sosial media. Produktif nonton drama korea maksudnya, huahahahaha. Aku juga kalau ada waktu luang main sama K dan nonton film-film Indonesia yang ada di Netflix. Ternyata ya lumayan emang filmnya, walaupun kalau ada di bioskop tetap gak bakalan aku tonton seh, huahahaha. Jadi kemaren aku ada nonton Aruna dan Lidahnya sama Antologi Rasa. Ntar kapan-kapan kalau gak males aku mau bahas lah di sini dua film itu.

 

bye.