Minggu yang Panjang


Perjalanan Dinas

Hari jumat tanggal 12 Maret yang lalu, bos aku manggil aku ke ruangannya dan bilang bahwa kami ada undangan pertemuan di luar kota dan aku yang membidangi pertemuan itu, jadi yang cocoknya untuk pergi ke sana aku. Seperti yang sering aku tulis di blog ini bahwa aku sangat gak suka perjalanan dinas semenjak menikah dan punya anak. Dulu seh waktu masih sendiri, kayaknya 3-4 bulan sekali aku bisa pergi tugas ke Jakarta atau Bandung bahkan Bali. Karena perjalanan dinas itu juga aku jadi sering kopdaran dengan teman-teman blogger di Bandung dan Jakarta.

Perjalanan dinas terakhir aku adalah pada tahun 2016 ke Bekasi. Saat ini si K aku bawa ke Bekasi karena emang masih asi anaknya walaupun udah 2 tahun lebih.  Hasilnya? Aku capek banget baik secara mental dan secara fisik. Karena itu aku selalu menolak jika ada perjalanan dinas ke luar kota lagi.

Awal awal saat datangnya pandemi covid yang aku senangi adalah, pemerintah memutuskan untuk menghapus hampir 70% anggaran perjalanan dinas luar daerah. Ini berarti tahun lalu aku aman dari tolak menolak perjalanan dinas. Tapi diujung tahun anggaran cerita gak boleh ke mana mana itu seperti dihapus dan dilupakan. Orang-orang malah pada sering perjalanan dinas ke luar kota dan ke luar pulau. Aku gak ngerti lagi, mungkin alasan pemulihan ekonomi.

Terus, awal tahun lalu aku diajak juga untuk perjalanan dinas di dalam pulau tapi harus menggunakan pesawat. Tentu aku tolak dong! Selain aku masih berfikir ini kan masih pandemi? Kenapa pertemuannya gak pake zoom aja? Aku juga mikir bahwa selama aku masih bisa menolak, akan aku tolak. Tapi yang terakhir? Aku udah gak bisa berkata apa-apa lagi seh, jadinya aku terima dengan berat hati, huhuhu.

Akhirnya, pada hari Rabu tanggal 17 Maret 2021 untuk pertama kalinya aku melakukan perjalanan dinas (darat) dan meninggalkan si K di rumah dengan papanya. Untungnya, perjalanan dinas pertama sendirian ini aku lakukan setelah si K berumur 7 tahun. Dia udah sering tidur sendirian juga dan untuk makan mandi dan membersihkan diri juga sudah dilakukan sendiri. Jadi udah aman banget lah untuk aku ninggalin dia. Pun untungnya hari rabu itu adalah hari pertama dia libur sekolah term 3 jadi gak perlu pusing mikirin sekolahnya juga.

Aku perjalanan dinasnya selama 3 hari, dari hari rabu sampe hari jumat, tapi gak ada satu foto diripun yang aku ambil selama pertemuan berlangsung, hahaha. Emang males seh pepotoan di acara sono, kalau perjalanan dinasnya ke luar negeri mungkin lebih semangat 😛 Nah, karena aku jaldinnya ke Sambas, dari Pontianak Sambas itu perjalanan darat selama 6 jam dan diantara itu ada Kota Singkawang yang udah 1,5 tahun juga aku gak pergi ke sana karena pandemi, jadilah aku meminta izin bos aku untuk turun di Singkawang saat perjalanan pulang ke Pontianak.

Liburan ke Singkawang

Si K dan suami aku akan jalan juga dari Pontianak ke Singkawang pada hari jumat dan kita ketemuan di Khayangan Resort Singkawang. Huwaa, ini berarti liburan pertama keluarga aku yang terakhir adalah liburan ke Kuching bulan November tahun 2019 yang lalu. Udah hampir 1,5 tahun gak liburan akunya! Huhuhu.

Udah lama gak liburan ternyata menyenangkan banget ya bisa lihat langit biru di pantai gitu. Rasanya aku kangen banget lihat langit di kota yang berbeda-beda gitu. Karena aku nginapnya hari jumat, jadi suasana hotel masih sepi dan pantainya gak rame orang, jadinya enak banget buat main-main sambil tetap jaga jarak dengan orang.

Aku juga memesan kamar model villa gitu yang terdiri dari dua kamar. Satu kamar buat aku, suami dan si K, dan satu kamar lagi buat ibu aku, tante dan keponakan aku. Ternyata sewa villa gitu seru ya, jadi bisa tetap berinteraksi di ruang tamu tanpa harus masuk ke kamar masing-masing gitu. Aku ada buat video reviewnya gitu seh buat di youtube. Tapi gak tahu juga kapan mau editnya karena lagi males banget edit-edit video tuh, hahahaha.

Vaksin Corona

Hari selasa kemaren, tanggal 23 Maret 2021 akhirnya aku mendapatkan dosis kedua vaksin corona. Suami aku sendiri udah mendapatkan dosis keduanya minggu lalu seh. Ibu aku juga udah vaksin pertama dan akan vaksin kedua hari ini. Jadi bisa dibilang lingkungan aku udah lumayan terpapar vaksin. Sayangnya gurunya sekolah si K belum ada yang dapat vaksin dan pemerintah. Padahal kemaren ada vaksin masal buat para guru. Mungkin masih guru PNS kali ya, yang swasta belum dapat, huhuhu.

Aku juga nunggu banget buat vaksin anak. Karena ya orang tua udah takutnya malah anak-anak yang sekarang kelewat kan. Semoga cepat  selesai deh percobaan vaksin anak-anaknya dan segera bisa di gunakan dalam waktu dekat.

Ok, segitu dulu cerita aku minggu lalu yang terasa panjang banget. Kalian gimana kabarnya?

Dosis Pertama Vaksin CoronaVac


Akhirnya, setelah penantian panjang (yang gak panjang amat juga seh 😛 ) aku pada hari selasa tanggal 9 Maret 2021 kemaren mendapatkan dosis pertama vaksin CoronaVac. Seperti yang aku ceritakan sebelumnya bahwa minggu lalu suami aku akhirnya dpaat vaksin pertamanya karena ada acara vaksin masal pejabar di kantornya. Aku langsung protes dong, masak public service seperti kantor aku malah dapatnya belakangan seh? Eh hari jumatnya dapat pengumuman bahwa kantor aku bakalan dapat jadwal juga pada hari Selasa.

Aku kirain semua bakalan dapat gitu dong vaksinnya, sekantoran gitu. Ternyata gak! Masih ada dijatah cuma 20 dosis dikarenakan menurut Dinas Kesehatan mereka sedang mengejar vaksin untuk lansia juga. Kantor aku lalu membuat kebijakan bahwa 20 orang itu adalah anak-anak Front Office yang emang setiap hari berinteraksi dengan banyak orang. Untuk aku yang walaupun di Public Service tapi ketemu orang bisa cuma 1-2 aja setiap harinya jadi gak dapat jatah dong! Huhuhuhu.

Tapi, bukan Irni kalau langsung menyerah dong yak! Karena banyak dengar orang yang gak mau vaksin, aku langsung datangin bos aku bilang kalau ada yang gak mau vaksin dari 20 orang itu, jatahnya buat aku aja ya pak! Dan berhasil dong! Emang banyak yang gak mau ternyata! Antara bersyukur dan gemes seh, hahahaha. Alasan gak mau vaksinnya beraneka ragam. Ada yang masih meragukan vaksin corona ini. Kalau ini gak debat deh yak, di dunia udah banyak perdebatan serupa, jadi aku gak ikut-ikutan. Ada yang masih miss informasi dengan vaksin ini. Ada juga yang termakan hoax yang katanya kalau vaksin langsung pingsan dan ada pemberitaan meninggal segala. Dan terakhir yang paling menggelikan itu adalah orang yang takut sama jarum suntik! Hmmmm.

Aku kira takut sama jarum suntik ini cuma becandaan aja yak. Karena emang seh dulu waktu imunisasi SD di sekolah banyak banget temen-temen aku yang kabur dari jendela kalau duah petugas puskesmas datang buat imunisasi. Ini aku fikir adalah karena kesalahan kita para orang tua yang kalau memarahi ancamannya “ntar disuntik sama dokter” gitu ya. Karena itu aku gak mau banget mengancam anak, apalagi dengan kata suntik. Pas kemaren bibi yang temenin si K di rumah waktu kecil ada nyinggung-nyinggung soal suntikan aku langsung tegur dan bilang di depan bibinya dan si K bahwa suntik itu sakit emang, tapi sangat baik untuk tubuh karena yang dimaksukkan itu kalau gak obat ya vaksin yang emang diperlukan buat tubuh, jadi jangan dijadikan bahan becandaan. Takut sama jarum suntik diusia yang sudah sangat tua aku kira adalah permasalahan inner child di masa lalu.

Lalu, sampailah aku pada hari H penyuntikan vaksin. Saking semangatnya, aku adalah salah satu orang pertama yang datang di tempat vaksinasinya, hahahaha. Urutan penyuntikan vaksin adalah mengisi daftar hadir (perlu membawa KTP btw), lalu mendapatkan nomor antrian. Setelah nomor kita dipanggil akan ada petugas registrasi yang akan mengisi data kita ke dalam website vaksinasi gitu menggunakan NIK dan nomor handphone. Setelah mengisi data, kitapun kemudian dipanggil dan diperiksa oleh dokter atau tenaga medis lainnya. Yang diperiksa cuma suhu dan tekanan darah aja seh. Terus ada daftar pertanyaan yang ditanya sama dokternya. Aku gak ingat banget seh pertanyaannya, yang pasti pertama adalah apakah ada kontak dengan pasien covid 14 hari kebelakang, apakah pernah positif covid, apakah sedang sakit flu, batuk deman dan lainnya? Apakah ada penyakit bawaan (ini banyak banget penyakitnya kayak HIV, diabetes, asma dll gitu) terus ditanya apakah sedang hamil atau sedang menyusui.

Untuk aku sendiri, aku menjawab semua pertanyaan itu dengan jawaban TIDAK. Tapi aku gak tahu juga apakah kalau ada jawaban YA dari daftar pertanyaan itu kita langsung didiskualifikasi untuk mendapatkan vaksin covidnya. Soalnya pertanyaannya agak rancu kan yak. Yang aku tahu kalau di eropa (aku ada nonton video seorang dokter WNI yang kerja di Jerman) bahwa tahap 1 dari vaksinasi di Jerman adalah orang yang beresiko tinggi. Resiko tinggi ini adalah lansia dan orang yang mempunyai penyakit bawaan. Kalau pertanyaan di atas ditanyakan jawabannya YA dan tidak boleh berarti untuk vaksin di Indonesia sendiri belum bisa untuk orang berpenyakit bawaan ya.

Terus untuk ibu menyusui. Teman aku seorang dokter di Jawa Tengah mengatakan bahwa ibu menyusui sudah boleh menerima vaksin sekarang. Berarti seharusnya pertanyaan perihal menyusui ini udah gak perlu ditanyain lagi dong yak! Sayangnya aku gak dapat Peraturan atau landasan tentang Vaksin untuk orang yang boleh dan gak boleh ini seperti apa. Sepertinya Kemenkes atau Dinkes harus melalukan lebih banyak sosialisasi terkait ini deh. Biar masyarakat gak salah informasi, yang sekarang dapatnya cuma kalau gak dari berita ya dari katanya-katanya aja.

Karena semua pertanyaan tadi aku jawab TIDAK, aku langsung diarahkan untuk disuntik vansinnya di lengan tangan kiri sebelah atas seperti imunisasi difteri. Untuk aku secara pribadi seh suntiknya gak sakit ya, paling terasa dikit pas jarumnya masuk ke tangan, habis itu ya gak terasa apa-apa lagi. Setelah di vaksin terus kita harus duduk minimal 30 menit di ruangan tersebut sebelum boleh meninggalkan ruangannya. Setelah 30 menit, lalu petugas memberikan tanda bukti aku udah disuntikkan vaksin dosis pertama dan akan mendapatkan dosis selanjutnya tepat 14 hari setelah ini. Ya, mudah-mudahan aja bisa tetap sehat sampai dosis kedua diberikan yak.

Untuk aku sendiri, setelah merasa 1 hari dilakukan vaksin, aku gak merasakan efek samping apa-apa seh yak. Kalau suami aku ngantuk berat aku ya gak ngantuk juga, biasa aja gitu. Tangan juga gak terlalu sebal dan berat ataupun nyeri. Ya semoga emang gak ada efek samping apapun deh.

So, segitu aja cerita aku tentang vaksin Covid-19 pertama aku. Semoga ada perbaikan di dunia ini untuk menanggulangi pandemi ini. Dan semoga pandemi ini segera berakhir, anak bisa sekolah lagi dan kita bisa beraktifitas seperti dulu lagi.

 

bye.