Cinderella


Judul : Cinderella’s Sister / Cinderella’s Step Sister

Jumlah episode : 20

Rilis : Maret 2010

================================

Barusan selesai nonton film ini. Rasanya sih rada telat, tapi gak papa lah. Seperti kata pepatah, lebih baik telat dari pada gak sama sekali 😀 (pepatah yang buruk menurutku).

Awalnya kurang tertarik untuk menonton nih film, soalnya drama mellow banget kayaknya. Dan ternyata emang iya, dari episode 1 hingga episode terakhir, nih film akan banyak banget menguras air mata kita, tapi bagi yang udah menyukai k-drama semenjak 5 tahun kebelakang, pasti akan kangen dengan suasana film seperti ini. Suasana film yang ngena banget di hati 🙂

Lokasi filmnya juga bukan berada di ibu kota Seol, tapi sebuah kota kecil yang indah dan sepanjang film kita akan disuguhkan pemandangan yang indah dari kota kecil ini. Rumah yang di ambil sebagai lokasi syutingpun sangat khas berbentuk rumah tradisional Korea. So, selain mendapatkan cerita yang manis, kita juga akan ‘puas’ dengan pemandangannya.

Waduh, dan sekarang adalah waktunya menulis sinopsis *mulai bingung*

Sinopsis:

Sesuai dengan judulnya, cerita ini bergaris besar tentang seorang anak yang memiliki orang tua tunggal. Tapi jika versi cinderella biasa adalah sang anak dari pihak bapak yang akan di tonjolkan, beda dengan film ini. Anak yang ditonjokan justru adalah anak dari pihak ibu.

Song Eun Jo (Moon Geun Young) bersama dengan ibunya tinggal di rumah pacar ibunya. Setiap hari sang ibu dan pacarnya selalu saja bertengkar, hingga kadang ibunya babak belur. Suatu hari, ibu dan pacarnya sedang bertengkar, Eun Jo yang sudah mulai merasa bosan mulai bersiap untuk kabur. Saat pacar ibunya sedikit lengah, Eun Jo dengan sigap menarik keluar ibunya dan pergi dari rumah itu. Dengan dibantu oleh keponankan pacar ibunya Han Jung Wo remaja (Yoon Suk Hyun) akhirnya ibu dan Eun Jopun berhasil kabur. Awalnya ibu Eun Jo tidak rela meninggalkan rumah itu, tapi setelah mengetahui bahwa Eun Jo telah mengambil perhiasan pacar ibunya, ibunyapun kemudian bersedia melarikan diri (dasar mata duitan!)

Pacar ibunya yang sadar perhiasannya diambil kemudian menyuruh orang untuk mengejar mereka berdua. Saat mereka berada di dalam kereta api, merekapun berhasil terkejar. Di dalam kereta api Eun Jo yang sedang bersembunyi di toilet bertemu dengan Goo Hyo Sun (Seo Woo) dan menitipkan perhiasan yang telah dicurinya. Eun Jo akhirnya berhasil di tangkap kembali oleh pacar ibunya, tetapi ibunya berhasil lolos dan mendapatkan pesan untuk mengambil perhiasan itu kepada seorang anak.

Ibu Eun Jopun mulai mencari Hyo Sun sesuai dengan informasi yang diberikan oleh Eun Jo. Kemudian iapun bertemu dengan Hyo Sun yang mengajak ke rumahnya. Ternyata Hyo Sun adalah seorang anak dari pengusaha bir yang sangat kaya dan memiliki rumah yang amat besar. Ibu Eun Jo yang secara tidak sengaja bajunya kotor kemudian diberikan Hyo Sun pakaian ibunya yang telah meninggal. Saat ibu Eun Jo mengenakan pakaian itu, sadarlah Hyo Sun bahwa ia sangat mirip dengan ibunya dan ingin sekali ibu Eun Jo menjadi ibu barunya. Karena ibu Eun Jo yang cantik dan bersikap baik, ayah Hyo unpun mau menjadikan ibu Eun Jo menjadi istri barunya :-/

Ibu Eun Jo kemudian meminta calon suaminya yang baru menjemput Eun Jo, dan ayah Hyo Sun pun memerintahkan Hong Ki Hoon (Chung Jung Myung) untuk menjemputnya.

Menjemput Eun Jo bukanlah hal yang mudah, syukurnya Ki Hoon telah diperingatkan oleh Ibu Eun Jo akan hal ini. Maka, setelah berlarian disepanjang jalan, serta jatuh bangun Ki Hoonpun berhasil membawa Eun Jo ke rumah besar keluarga Goo.

Eun Jo yang sedari kecil memang telah hidup susah menjadi seorang gadis yang keras dan egois namun pintar dan rajin belajar. Dia memandang sinis kepada semua orang, ayah barunya, adik tirinya dan bahkan Ki Hoon. Namun Ki Hoon yang merasakan kesedihan yang tersimpan di dalam hati Eun Jo merasa simpati padanya dan mulai menyukainya. Eun Jo pun, lama kelamaan mulai menyukai Ki Hoon yang baik dan dewasa, terutama setelah dia menjadi guru private untuknya.

================================================================

Setahu aku film ini tayang bersamaan dengan Prosecutor Princess dan Personal Taste, dan Cinderella’s Sister mendapat ranting paling tinggi di Korea sana.

Ini gak bisa diragukan karena dibanding dengan dua pesaingnya, film ini memang lebih kuat dari soal jalan cerita dan penokohan. Mungkin kebanyakan orang masih senang dengan cerita yang mellow dellow 😛

Dan yah, sebagai penulis, aku merekomendasikan drama ini untuk ditonton 😀

Selamat menonton 🙂

Sang Pencerah


Hendralesmana.com

Barusan tadi sore nonton nih film. Emang rada udah lama sih, tapi kan gak lama-lama amat yang lumayan untuk dibahas dan menuh-menuhin blog 😀

Awalnya gak begitu tertarik dengan judulnya dan posternya. Sang pencerah, apa itu maksudnya. Terus posternya juga orang-orang yang berbapakaian jawa. Maaf bagi para penduduk jawa yang melimpah itu. Aku tidak terlalu suka dengan kebudayaannya, apalagi kalau disuruh menonton filmnya. Mau nonton apa aku?

Tapi seiring dengan sering dibahasnya film ini, dan banyaknya tailer2 yang menyebar di teve atau dunia maya, aku jadi tahu bahwa film ini adalah film tentang Kiai Haji Ahmad Dahlan yang merupakan pendiri Muhammadiyah di Indonesia. Barulah aku tertarik untuk menontonya.

Sedikit ceritanya (versi niee):

Darwis (Kiai Haji Ahmad Dahlan Muda) adalah remaja yang melihat ajaran Islam berbeda dengan kebanyakan orang di daerahnya. Sebuah daerah yang masih melakukan kebudayaan nenek moyang yang banyak salah. Misalnya saja memberikan sesajien pada pohon untuk meminta pertolongan. Padahal mereka itu Islam. Terbawa ingin mempelajari Islam lebih, diapun memutuskan untuk naik haji dan belajar Islam di Mekah. Setelah pulang, diapun mendapat nama baru yaitu Haji Ahmad Dahlan.

Berbekal ilmu yang dimilikinya, H. Ahmad Dahlan membuat sebuah perombakan besar di kampungnya. Dimulai dengan mengganti arah kiblatnya, karena kebanyakan mesjid di daerahnya menyesuaikan dengan arah jalan, bukan arah Ka’bah. Diapun menjadi Kiai dengan pemikiran Islam modern yang membuat resah para pemuka agama yang lebih tua sehingga sebagian besar masyarakat menyebutnya sebagai Kiai kafir.

Beberapa perdebatan2 penting yang bisa aku tangkap (baca: yang aku ingat :D):

Q: Kenapa kiblat harus sesuai dengan arahnya? Bukannya iman itu di dalam hati?

A: Kalau begitu apa fungsinya Ka’bah dibagun. Ka’bah dibagun untuk menyatukan umat Islam menghadap ke bagian yang sama.

Q: Bolehkah tidak membuat ‘perayaan’ saat peringatan 40 hari kematian?

A: Tidak pernah nabi menyuruh kita untuk melakukan peringatan kematian. Apalagi sampai membuat umatnya sulit karena tidak memiliki biaya.

Q: Kenapa melarang yasinan?

A: Tidak pernah bermaksud melarang yasinan. Membaca surah yasin bersama-sama dan terus menerus membuat surah itu bagaikan surah yang khusus dan membuat lupa surah-surah lainnya. Padahal Al-Qur’an banyak memiliki surah yang juga bagus isinya.

Q: Kenapa menggunakan peralatan kafir untuk berkegiatan? Itukan haram?

A: Kita menggunakan peralatan mereka bukan untuk bertindah kejahatan. Malah membuat kita lebih mudah. Itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan haram.

Lakumdinukum Waliyadin ~ Untukmu agamamu dan untukku agamaku.

———————————————————————————————————————————————-

Banyak sekali yang bisa didiskusikan pada film ini, tentu bukan dalam tahap mengkritik si sineas. Melainkan pandangan kita terhadap ajaran agama Islam modern.

Aku dibesarkan dalam keluarga yang rada kuno memandang agama. Tapi orang tuaku sangat membuka diri untuk masukan2 baru yang jika baik akan diterima dengan baik pula.

Tapi jika aku dibilang Islam modern tentu aku tidak mau seperti itu, apalagi kalau dibilang sebagai Islam liberal. Aku sebagai manusia bebas yang mencampur adukkan semuanya, mengambil yang baik dan mengubur yang buruk.

Kebanyakan warga Muhammadiyah yang aku kenal tidak mau melakukan beberapa hal. Contoh paling seringnya adalah mereka tidak mau mengikuti acara tahlilan. Alasannya mungkin seperti yang diungkapkan pada film ini. Bahwa do’a itu dari dalam hati dan tidak perlu beramai-ramai. Apalagi membunyikan suara keras yang membuat tidak nyaman para tentangga. Tanggapan aku tentang ini adalah Tahlilan itu tidak wajib, tapi kalau ada yang mau dan mampu untuk melakukan, kenapa musti kalut. Toh gak ada salahnya berdo’a beramai-ramai (istilahnya ibu aku itu makin banyak yang berdo’a makin baik 😀 ).

Ada lagi kebiasaan mereka yang hanya mau sholat taraweh sebanyak 8 rakaat, gak lebih. Katanya nabi itu sholatnya juga cuma 8 rakaat. Ini juga belum ada bukti yang kongkret (sepengetahuan penulis). Kalau ada mesjid yang menyenglenggarakan lebih dari 8 rakaat, mereka akan pulang. Tanggapan aku, lah wong ibadah kok mikir2 toh! Bukannya lebih banyak rakaat kita akan lebih banyak dapat pahalanya?

Sekali lagi aku tekankan, aku gak benci dengan aliran Muhammadiyah. Malah kadang kala pemikiran mereka banyak bagusnya. Aku hanya tidak ingin mengikuti aliran ajaran agama Islam apapun. Kalau ditanya jawaban aku cuma Islam (titik).

——————————————————————————————————————————————–

Sekarang, marilah kita lihat mengenai filmnya (mulai sok pinter komentari film :P). Yang pertama aku garis bawahi kekurangan film ini adalah banyaknya penggunaan bahasa jawa dan ANEHNYA sangat jarang ada teksnya. emangnya Hanung cuma mau menjual filmnya untuk orang Jawa kah? Aku ora ngerti. Kasih kek teks terjemahan yang lengkap. Gak rugi juga kan.

Terus aku juga kurang suka penggambaran ketika beberapa adegan hitam putih. Mungkin maksudnya inikan film settingan tahun 1900an. Tapi gak perlu juga kali ada gambar kresek-kresek itu.

Awal pertama kali menonton, aku bilang pada temanku: Hati-hati habis menonton ini kita jadi pengikut Muhammadiyah. Tapi tenang saja kok, bagi yang telah memiliki keteguhan hati (caelah bahasanye :D) film ini gak begitu kuat untuk menggiring kita masuk jadi pengikutnya.

Yang pasti, aku jadi tahu setelah film ini bahwa Muhammadiyah sangat berperan besar dalam pendidikan modern untuk bangsa Indonesia. Jadi aku akan sangat menghormati Muhammadiyah sepenuh hati 😀 (mungkin jika punya anak akan memasukkan ke SD Muhammadiyah 2 Pontianak. – woy! gak ada hubungannya coba :P).

Dan akhirnya seneng deh bisa nonton film Indonesia yang baik lagi, setelah kemaren aku baru nonton Darah Garuda. Mudah2an perfilman Indonesia semakin maju yah.

note: film Sang Pencerah, darah garuda berdampingan dengan film dawai 2 asmara dan dilihat boleh dipegang jangan. Do’a penulis agar kedua film terakhir dapat menghilang dari dunia perbioskopan Indonesia. Amin 😀

Negeri Van Oranje


Kutubuku.com

Bener-bener gak direncanain terlebih dahulu buat nulis ni postingan. Baru beberapa menit yang lalu aku menyelesaikan membaca novel ini. Niatnya sih pingin nulis besok aja. Tapi gak tahu kenapa aku yang biasanya malas untuk bergerak menghidupkan laptop jadi malah langsung beranjak dari pembaringan yang empuk beralih kedepan laptop yang panas. Mungkin semangat para Aagaban masih terserap di dalam tubuhku hingga bisa seperti malam ini (beneran deh aku merasa aneh dengan kalimat terakhir :p ).

Seperti biasanya, aku menulis sesuatu tentang buku atau film bukan untuk memberi sinopsis apalagi memberi review. Ini karena aku berfikir bahwa aku gak bakat dalam hal ini. Pengetahuanku tentang dunia film dan tulis menulis masih terlalu dangkal yang menyebabkan aku kurang pede. Tapi beberapa kali aku tetap nyoba kok. Mudah2an karena seringnya mencoba kemampuanku jadi lebih terasah (apalagi kalau dapat komentar dari kalian semua, makin senang deh aku menulisnya 😀 ).

Kalau kalian masih ingin tahu sinopsis lengkap dengan para penulisnya dan kisah2 lainnya. Kalian bisa langsung datang berkunjung ke websitenya di http://www.negerivanoranje.nl/

Aneh juga kalau gak bercerita sedikit tapinya.

Jadi novel ini bercerita tentang 5 orang mahasiswa Indonesia yang secara terpisah datang ke Belanda untuk sekolah. Lima orang itu adalah Lintang, seorang cewek yang kuliah dengan uang sendiri dan mengambil jurusan sastra di Universitas Leinden. Geri yang merupakan anak pengusaha sukses asal bandung dan mahasiswa senior di Belanda, maksudnya dia udah lama di Belanda, udah dari jaman mengambil gelar Barchelor. Wicak, seorang aktifis LSM yang terdampar di Belanda karena dicari oleh sekelompok mafia ilegal loging untuk dibunuh (suer deh ini novel bukan bergenre horror, murni hanya latar belakang cerita). Bajar seorang pebisnis muda yang sukses di Indonesia dan tertantang untuk hidup susah di negeri orang. Dan terakhir Daus, seorang PNS Depag yang mendapat beasiswa untuk melanjutkan sekolah dibidang hukum. Mereka semua bertemu secara tidak sengaja di stasiun kereta karena badai (sungguh nasib yang indah).

Pemaparan di dalam novel ini sangat detail tentang kehidupan mahasiswa di Negeri Belanda. Bagaimana mereka beraktifitas, susah senang mereka saat mengerjakan papper dan penyelesaian tesis. Cara jitu menghemat, mendapatkan apartement tempat tinggal, event2 yang ada di Belanda, kebiasaan mahasiswa Indonesia di sana dan masih seabrek2 pengetahuan lainnya yang membuat sekilas novel ini seperti ‘Buku Petunjuk’.

Tapi novel tetaplah novel. Tentu di sini juga ada permasalahan dan inti ceritanya dong. Gimana konflik antara para personil Aagaban ini dan cara penyelesaiannya khas orang dewasa yang bukan lagi anak remaja ingusan.

Novel ini akan membuat semangat kita untuk bersekolah lagi naik beberapa tingkat (apalagi ditengah dilema aku yang ingin melanjutkan kuliah atau serius cari kerja sana di sini). Gak ada istilahnya status kalau sudah jauh dari rumah. Apalagi sampai di negeri orang. Yang ada hanya 1: kalau dapat teman satu perantauan yang berasal dari daerah yang sama, akan berasa kayak keluarga pastinya (syukur2 kalau bisa jadi jodoh 😀 ).

Karena kekurang telitian aku yang jarang mendapat novel bagus dengan membeli, tapi dengan meminjam (catatat bahwa novel ini hasil pinjaman dari teman aku di Bandung bernama Wulan), aku jadi pingin punya ini novel. Berasa punya buku ajaib yang siapa tahu kalau aku ke luar negeri nanti bisa banyak membantu (Amiiiiiiiiinnnnn).

oiya! dibuku ini juga ada tips2 jika kita ingin berbackpacker ria keliling Eropa (Ya Allah, mudah2an aku pernah merasakannya seumur hidup ini..) dengan cara yang murah.

Soooo,,, tunggu apa lagi..

Mari mulai membaca novel ini..

Lah kok masih baca nih tulisan, ayo sono ke toko buku belinya. Atau gaya seperti aku yang modal pinjam..

Selamat menikmati keindahan cerita..

bye!

Darah Garuda


Hari pertama lebaran aku isi dengan menonton film darah garuda. Penting buat aku menonton film ini karena ini adalah film Indonesia yang sangat bagus menurut aku. Rugi saja aku selalu menonton film-film hollywood tapi gak mau menyisihkan waktu untuk memnonton film Indonesia yang menarik. Maka pergilah aku malam pertama lebaran ke Mall untuk menonton bioskop.

Aku tidak akan membahas sinopsis atau review dari film ini. Karen sinopsis sudah banyak beredar di internet. Kalau mau buka saja webnya di http://www.merahputihthefilm.com/darahgaruda.com/. Di sana bahkan sudah ada thilernya. Gak pelru lah aku panjang lebar hanya untuk copy paste kan 😀

Tulisan ini aku buat untuk membahas isi dari film ini. Karena film ini memang membahas banyak hal yang berkaitan dengan masa mempertahankan kemerdekaan serta isu-isu yang berkembang di dalamnya.

Telah kita ketahui bersama bahwa pemeran di film ini terdiri dari berbagai suku bangsa dari Indonesia. Sang pemimpin Amir, yang diperankan oleh Lukman Sardi berasal dari Jawa. Marius (Darius Sinatria) berasal dari bangsawan Jakarta. Thomas (Donny Alamsyah) seorang kristen yang berasal dari Manado, Sulawesi Utara. Ada lagi Dayan (T. Rifnu Wikana) yang merupakan Hindu Bali.

Masalah ada ketika mereka bertemu dengan Sersan Yanto (Ario Bayu) yang bertanya pada Amir, Kenapa ia bisa mempercayai mereka? Yang bisa di percaya hanyalah para Jawa dan Islam.

Serius, pada saat kalimat ini aku merasa tersentil emosiku. Karena aku memang bukan orang jawa. Aku akan dengan sangat bangga mengatakan kepada orang yang bertanya asalku adalah Kalimantan. Sebuah pulau di utara Jawa yang begitu besar dan bergabung dengan 2 negara lainnya, Malaysia dan Brunei. Sebuah pulau yang multikultural yang menerima siapapun yang datang, tanpa sibuk berkoar untuk mengusir seperti pulau yang kecil itu. Sebuah pulau yang berisi masyarakat berani untuk berfikir kedepan, tanpa sombong bahwa mereka berasal dari daerah terkenal.

Tapi tentu film ini sangat bijak, pada akhirnya kita tahu bahwa bhineka tunggal ika itu bukan hanya Jawa. Bahkan mereka menampakkan siapa yang akhirnya penghianat itu 🙂

Dilain adegan juga ada yang berkata: Apa itu Indonesia? Yang aku tahu hanyalah Java, Sumatra, Borneo, Sulawesi. Tidak ada Indonesia.

Yah, beberapa kali aku berfikir betapa sombongnya pahlawan dahulu yang menyatukan masyarakat yang amat sangat berbeda menjadi sebuha negara Indonesia. Kenapa mereka tidak membuat negara Java saja? Karena mereka terlalu sombong dengan masyarakat di luarnya menurutku.

Tengok saja orang-orang yang berkoar menginginkan peperangan Indonesia-Malaysia. Tentu mereka dengan mudah menyatakan ingin berperang. Toh garis terdepan itu ada di Kalimantan dan Sumatra, bukan di Jawa. Yang ingin berperang itu, tak mungkin berani kesini jika perang benar-benar terjadi.

Film ini menunjukkan, walaupun orang Bali, Sulawesi dan lainnya, mereka tetap mencintai Indonesia. Sudah menjadi kehendak Tuhan untuk mempersatukan negara yang sangat besar ini. Ini sudah menjadi takdir Indonesia. Maka, tugas kita sebagai penurus hanyalah mempertahankan dan mengisi kemerdekaan itu dengan baik. Tidak ada waktu lagi berfikir bahwa aku jawa, aku sulawesi, aku sumatera, aku kalimantan.

Darah Garuda memang banyak menguras emosi. Kalimat kasarnya adalah ketika menonton film ini kita akan membenci Belanda. Wajar saja orang-orang yang terlibat langsung dengan peperangan biasanya sangat anti dengan belanda. Mau tahu alasannya? tontonlah film ini. lagi pula, kapan lagi kita mendapatkan film Indonesia yang berkualitas? Bisa dihitung dengan jari kan setiap tahunnya 😀

Prosecutor Princess


koreandrama.org

Judul : Prosecutor Princess

Jumlah episode: 16

Rilis : Maret 2010

===================================

Yak, aku baru saja selesai menonton K-drama yang telah aku bicarakan pada postingan yang lalu dan tanpa paksaan darimanapun aku mengatakan bahwa drama ini sangat bagus karena telah sukses membuatku menangi segukan diepisode-episode terakhirnya.

Jenis film ini memang gak ada komedi-komedinya sama sekali. Beberapa adegan memang bisa membuat kita tertawa, tapi mereka bukan melucu. Jadi yang berharap menyaksikan drama yang lucu maka jauhilah film ini 😛

Yah, gimana ya, sebenarnya aku juga kurang bisa menulis untuk sinopsis sesuatu yang telah aku tonton. Kalau gak jatuhnya spoiler yah jatuhnya biasa-biasa aja gitu. Jadi, marilah kita belajar (lah kok jadi ngajak barengan :D)

Sinopsis:

Cerita ini tentang seorang jaksa perempuan bernama Ma Hye Ri (Kim So Yeon). Dia adalah putri dari seorang pengusaha kaya hingga membuatnya hidup dalam dunia glamor. Selalu memakai pakaian, sepatu dan aksesoris branded. Ketika acara kelulusannya, dia yang ingin mengejar mendapatkan sepatu dari desainer terkenal meninggalkan acara kelulusan untuk pergi ke resort yang berada di tempat permainan ski.

Malang nasibnya ketika barang-barangnya dicuri maling dan kamar yang telah dipesannya telah diambil oleh seorang laki-laki kaya. Lebih apes lagi ketika ingin pulang mobilnya dikempeskan oleh orang.

Tapi, karena memang berniat untuk membeli sepatu itu, Hye Ri tetap menghadiri lelang dan akhirnya memenangkan lelang tersebut. Tapi pada akhirnya dia tidak bisa mengambilnya karena dia tidak bisa membayarnya. Saat negosiasi itulah dia melihat orang yang mengenakan jaket yang sama dengan pencuri yang mencuri barang-barangnya. Tapi, ternyata orang yang disangkanya itu adalah seorang jaksa bernama Yoon Se Joon (Han Jung So).

Balik ke hotel Hye Ri melihat ternyata orang yang membeli sepatu yang diincarnya adalah laki-laki yang juga telah mengambil kamar yang telah dipesannya. Berharap bisa mendapatkan sepatu itu, iapun menumpang menginap semalam di kamarnya.

Dengan segala cara kalimat dan upaya, akhirnya sepatu itupun dia dapatkan dengan berjanji bahwa dia akan membayar semua yang telah di keluarkan laki-laki itu selama ini.

Cerita berlanjut ketika Hye Ri mulai bekerja di kejaksaan. Ternyata dia masuk ke devisi yang sama dengan jaksa yang ditemuinya di resort kemaren. Dan yang lebih mengejutkan lagi ketika dia bertemu dengan laki-laki tempat ia menginap yang ternyata adalah seorang pengacara bernama Seo In Woo (Park Shi Hoo).

Suatu hari Hye Ri tertimpa masalah karena dituduh membawa anak dibawah umur ke klub malam. Pada akhirnya ia meminta bantuan pengacara Seo dan setelah itu merekapun mulai dekat satu sama lain. Namun, walaupun dekat dan In Woo selalu membantu Hye Ri menyelesaikan segala masalahnya tetapi Hye Ri akhirnya menyukai seniornya di kejaksaan yaitu Se Joon. Hal ini membuat senior perempuan yang lain Jing Jung Sun (Choi Song Hyun) cemburu karena dia telah menyukai Se Joon jauh sebelum Hye Rin ada.

Hye Rin pun mulai menyadari ketika bahwa ia sebenarnya mencintai In Woo ketika pengacara tersebut menghilang. Cinta merekapun tidak mulus karena masalah masa lalu keluarga yang membuat teka-teki film ini mulai terpecahkan.

 

 

Seperti drama korea yang telah aku tonton, drama ini sangat keren. Menguras emosi dan pemasalahannya yang tidak tertebak hingga ia menceritakannya sendiri dari adegannya. Dan endingnya juga bagus, gak memaksa. Kita disuruh untuk menunggu beberapa adegan lagi hingga akhirnya sampai klimaks dari drama ini.

Pokoknye high recomended deh ne drama.

Selamat menonton 😀

Dunia Hiburan


http://threespeech.com

Kemaren aku baru saja menyelesaikan menonton drama korea yang entah sudah judul keberapa. Dan entah untuk keberapa kalinya mereka berhasil membuatku menangis segukan. Inilah sebabnya yang membuat aku terus mencari dan mencari lagi judul-judul baru drama-drama korea baru. Karena aku yakin, drama mereka pasti bagus dan yang paling penting untuk aku adalah sudah barang tentu drama ini akan habis hanya belasan episode, kalaupun panjang paling hanya sampai 30an episode.

Mari kita bandingan dengan sinetron Indonesia sekarang. Semua sinetron sekarang striping (bener gak neh tulisan). Aku gak ingat pasti kapan fenomenal sinetron kejar tayang dan menayangkan episodenya setiap hari ini. Yang aku ingat adalah sewaktu aku masih SD dulu sinetron itu hanya seminggu sekali. Jadi setiap hari kita akan mendapat tayangan baru. Hari senin nonton sinetron A, selasa sinetron B, Rabu sinetron C dan seterusnya. Bahkan sering juga Sabtu minggu sinetron libur dan isikan oleh tayangan kuis-kuis yang menyenangkan. Misalnya kuis kata berkait, piramida, who wants to be a milioner dan masih banyak lagi kuis yang ada.

Bukan hanya menayangkan setiap hari dan kejar tayang. Sinetron sekarang juga (istilahnya) tidak ada ujungnya. Kalau sudah punya ranting tinggi maka jangan harap para produser dan sutradara itu akan menghentikannya. Ada lagi istilah season di sini.

Merujuk ke drama korea, season sangat jarang ada. Kalaupun ada biasanya jarak antara season satu dengan lainnya lumayan lama. Bisa satu tahun bahkan lebih. Kalau Indonesia merujuk ke drama dari Amerika yang memang mempunyai season yang panjang dengan episode yang banyak mungkin saja. Aku memang tidak terlalu mengikuti drama Amerika. Sebut saja Friends yang digadang-gadang banyak penontonya. Bahkan filmnya saja aku tidak pernah menonton. Satu-satunya drama yang aku tonton habis satu season adalah Heroes. Tapi season kedua dan ketiganya tidak aku tonton.

Balik lagi ke sinteron Indonesia. Karena keadaan sinetron sekarang yang amat sangat buruk menurut aku jadilah aku sekarang kurang suka untuk menonton teve. Bahkan bukan hanya sinetron, ini juga merembet ke acara realiti show yang menurut aku banyak adegan dramanya. Tidak real sama sekali lagi. Jadi untuk apa mereka masih menyebutnya reality?

Mungkin, dari puluhan juta penduduk Indonesia menikmat teve aku hanya sebagian kecil masyarakat yang sudah sangat jenuh dengan tayangan yang mereka angkat (lagi-lagi). Belum lagi fenomena musik di Indonesia yang sekarang sedang ‘musim’ lagu melayu. Bahkan musik-musik pop di negara ini sudah mulai tersingkir sedikit demi sedikit.

Oh, mau jadi apa kedepannya entertaiment di negaraku ini. Jika beberapa tahun lalu malaysia merujuk ke Indonesia untuk segala hal termasuk dunia hiburannya. Aku tidak heran kalau beberapa tahun lagi masyarakat Indonesia mulai merujuk ke hiburan dari Malaysia. Fenomenanya sudah ada, yakni sinetron anak-anak Upin Ipin yang menurut aku sangat berkualitas dan mengajarkan anak-anak dengan sangat baik. Musik malaysia juga sudah mulai tertata dengan baik menurut teman-temanku yang kuliah di sana.

Jadi, mau menunggu kehancuran dunia hiburan Indonesiakah kita?