Jika Aku Menjadi


PEMIMPIN DI KOTA INI..

Haaaiiiii… Haalloooo.. Apakabar semuanyaaa? Sehat kan yak? :mrgreen:

Aku lagi berhayal-hayal neh, apa yak yang akan aku kerjakan jika aku menjadi pemimpin di kota yang sekarang aku sedang tinggali ini? Soalnya kadang merasa banyak hal-hal yang tidak sesuai dengan pemikiran aku (bahkan hati nurani aku, tsaa πŸ˜› ) yang dilakukan oleh orang-orang yang berpengaruh di atas sana. Karena suara aku gak akan didengar juga, jadi mendingan berkhayal aja yak di blog ini πŸ˜€

Untuk pedomannya, yang aku ambil adalah pertanyaan-pertanyaan yang diajukan untuk para calon walikota pada saat pilkada beberapa bulan yang lalu. Pemilihannya sendiri udah lewat, dan udah ada pemenangnya juga seh. Jadi mari kita langsung apa yuks!

PERTANYAAN PERTAMA: Masalah Pariwisata. Kota Pontianak yang memiliki potensi pariwisata belum memanfaatkan potensi itu secara maksimal. Jika Anda terpilih menjadi walikota Pontianak, apa yang Anda lakukan untuk membangun pariwisata di Kota Pontianak?

Jawaban dari calon pertama: Kota Pontianak memiliki tempat pariwisata yang berpotensi sangat besar misalnya Tuga Khatulistiwa, Makam Sultan dan Kraton Kadriah. Tetapi belum dimanfaatkan secara maksimal. Maka jika saya terpilih menjadi walikota Pontianak. Tiga potensi ini akan saya makimalkan secara tepat.

Tanggapan aku? Hmmm.. Emang seh yak tempat yang disebutkan di atas itu penting karena merupakan bagian dari secara dan icon dunia. TAPI sebagai masyarakat awam yang aku harapkan bukan itu seh.

Jika aku menjadi seorang walikota, yang aku bangun di Pontianak adalah wisata lokal yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk kegiatan sehari-hari. Misalnya taman-taman untuk piknik di hari libur, hutan-hutan kota yang tertata rapi dan ada outbound, waterfront yang tertata dengan rapi (sekarang ada seh, tapi ya gitu deh kondisinya) dan lain sebagainya yang membuat fikiran aku kalau mau jalan gak mall lagi mall lagi.

Mungkin juga bisa dibangun waduk-waduk buatan di mana di dalamnya ada terdapat joggingtrack, arena bersepeda, pohon-pohon besar yang teduh. Ya kalau mau membayangkan seperti ini deh:

Gambar dari blog reisha.wordpress.com

Kan seru yak sore-sore bawa debay jalan-jalan pake stoller ke taman beginian. Daripada ke Mall yang harus mengeluarkan duit banyak. Sayangnya gak ada satu tanggapan dari semua calonpun yang memikirkan tentang taman kota ini 😦

PERTANYAAN KEDUA: Masalah Air Bersih. Kota Pontianak yang dialiri sungai kapuas masih tidak bisa memenuhi permintaan air bersih untuk seluruh warganya. Banyaknya limbah dari sampah baik perusahaan dan masyarakat membuat air sungai tercemar. Apalagi ditambah dengan tidak maksimalnya PDAM menyuplai air ke rumah-rumah penduduk.

Jawaban dari calon kedua: Bahwa permasalahan air bersih adalah dari air baku yang dimiliki oleh PDAM terutama pada kebocoran pipa-pipanya. Maka hal yang harus dilakukan adalah memastikan tidak ada lagi kebocoran pipa di kota ini.

Tanggapan aku? Ya, sebagai kota sungai yang terbiasa menggunakan air sungai untuk kebutuhan sehari-hari seh titik poinnya bukan di PDAM, TAPI pembersihan air sungai dari limbah-limbah tersebut.

Jika aku menjadi walikota, yang akan aku lakukan adalahΒ  pemaksaan perusahaan yang beroperasi di sepanjang sungai kapuas untuk merelokasi pabriknya jauh dari sungai agar limbah yang dihasilkannya tidak langsung masuk ke dalam sungai. Pelarangan keras juga harus dilakukan untuk masyarakat atau industri rumah tangga membuang sampah ke sungai. Jika air sungai telah bersih, maka PDAMpun akan mampu kok menyukupi kebutuhan air bersih masyarakatnya.

PERTANYAAN KETIGA: Masalah Tata Kota (Drainase). Pontianak yang sering banjir jika terjadi hujan.

Jawaban dari calon ketiga adalah: solusi mengatasi banjir adalah peninggian jalan, penjagaan parit primer yang dimulai dari parit tokaya dan pembenahan drainase.

Masalahnya adalah jika jalan ditinggikan terus menerus seperti apa yang telah dilakukan pada 5 tahun terakhir ini, jalan di Kota Pontianak akan terbebas dari banjir, NAMUN air dari tumpahan jalan raya akan masuk ke dalam rumah-rumah penduduk.

Pembangunan tarup kadang tidak melihat aliran air dari sisi jalan sehingga bukannya malah mengurangi banjir, tapi membuat lokasi banjir baru dan pelebaran jalan kebanyakan memperkecil drainase yang akhirnya tidak dapat menampung curahan air hujan di kota ini.

Jika aku menjadi walikota yang aku lakukan adalah memperlebar drainase-drainase disepanjang jalan utama (yang sekarang malahan beberapa titik ditutup aja gitu salurannya :devil: ) Mengembalikan posisi parit primer ke kondisi semulanya. Yang dulu bisa dilewati oleh sepit dan menjadi jalur transpotasi seperti jalan dahulu kala.

Lah wong Amerika saja membangun kawasan baru dengan parit-paritnya yang menyerupai Venice kok kenapa Pontianak gak bisa? Potensi itu ada tapi gak dimanfaatkan sayang banget kan.

Foto dari dreamindonesia.wordpress.com  dan kesultanankadriah.blogspot.com
Parit Besar dahulu dan sekarang. Foto dari dreamindonesia.wordpress.com dan kesultanankadriah.blogspot.com

PERTANYAAN KEEMPAT: Masalah kemacetan. Pontianak telah menjadi kota yang berkembang dengan adanya kemacetan di jam-jam sibuk seperti pagi pada jam pergi sekolah dan sore hari pada saat jam pulang kantor.

Jawaban dari calon nomor 4: bahwa titik kemacetan di Kota Pontianak adalah di Jalan Tanjungpura dan Tol Kapuas 1. Maka, harus ada pemecahan konsentrasi kendaraan di sana dengan adanya pembangunan tol kapuas 3.

Sayangnya, pembangunan tol Kapuas 3 yang direncanakan terletak di ferry penyebrangan yang menurut pendapat aku jika dibangun di sana bukannya mengurai kemacetan malah akan menambah titik kemacetan baru. Aku setuju dengan pendapat pasangan nomor tiga bahwa gak cocoklah pembangunan itu disana, yang benar lokasinya adalah di arah menuju luar kota seperti daerah Batulayang menuju daerah jeruju.

Balik lagi ke permasalahan drainase di atas. Jika Kota Pontianak berhasil membangun transportasi airnya rasanya akan bisa kok mengurangi kemacetan. DAN transportasi umum jangan dilupakan. Orang menggunakan kendaraan pribadi karena merasa bahwa transportasi umum gak menyenangkan. Jika transportasi kita bisa seperti Putra Jaya di Malaysia saja, pasti pada mau dong naek bus.

PERTANYAAN KE LIMA: Kemiskinan. Di Kota Pontianak ada 5,77 % dari jumlah penduduk atau berjumlah 32.530 jiwa.

Jawaban dari calon nomor lima adalah pembangunan yang berkeadilan, bukan sama rata.

Errrggghhh.. Sebenarnya ini aku gak ada pandangan blas deh *gagal jadi walikota* πŸ˜› TAPI yang aku tahu bahwa kemiskinan itu timbul dari gaya hidup keluarganya dalam hal pendidikan.

Sebagai contoh tetangga aku yang ayahnya dahulu kala adalah orang sukses (pegawai pergawai pertamina) sewaktu kecil selalu mendapat apa yang diinginkannya bahkan saat malas bersekolah. Akhirnya pada saat dia dewasa dan orangtuanya telah meninggal dia tidak bisa lagi menikmati kesuksesan orangtuanya. Yang ada hanya selembar ijazah SD yang jaman sekarang sudah gak laku lagi kan yak. Ujung-ujungnya sekarang bekerja sebagai buruh harian lepas.

MAKA orangtuaku sangat berpesan bahwa pendidikan adalah modal kita menjadi apapun yang kita mau. Gak ada ceritanya lo lulusan SD bisa jadi orang kaya. Karena menurut aku pendidikan itu juga membentuk pemikiran kita untuk menjadi seorang karyawan maupun fikiran untuk berwirausaha.

Solusinya untuk kota ini ya jangan sampai ada anak yang putus sekolah karena GAK MAU atau MALAS! Pemaksaan sangat perlu dilakukan deh. Apalagi sekolah udah gratis kan, jadi gak ada alasan lagi.

Memang seh ini gak akan terasa ditahun sekarang. Tapi akan terasa 10 atau 20 tahun lagi bahwa kota ini telah memiliki usia kerja yang produktif dan mempunyai daya saing serta mandiri dan tidak lagi berharap pada bantuan pemerintah.

PERTANYAAN TERAKHIR: Masalah Listrik.

Jawaban pasangan nomor enam: ini kok videonya kepotong yak? πŸ˜›

Ya, kalau menurut aku seh masalah listrik ini masalah negara. Toh yang mengolah adalah perusahaan milik negara kan yak. Sebagai walikota cuma bisa bekerja sama dengan pihak PLN dan menanyakan apa-apa yang menjadi penyebab pemadaman bergilir di Kota ini.

***

Ya, begitulah jika aku menjadi walikota versi Niee. Aku sendiri gak pernah kepikiran untuk menjadi pemimpin baik walikota, gubernur, apalagi Presiden di negeri ini seh. Repot! Terlalu politisasi.

Harapan aku semoga saja kota ini bertambah maju dari tahun ke tahun. Bukan dilihat dari pembangunannya, tapi dilihat dari kenyamanan masyarakatnya tinggal di Kota ini. Menyenangkan sekali bukan jika kita terbangun dan mebayangkan betapa nyamannya mandi dengan air yang segar, membaca atau menonton berita dipagi hari dengan segelas air hangat, pergi ke kantor dengan suasana hati yang nyaman dan sampai di kantor tanpa terlambat, bermain hujan tanpa takut rumah kebanjiran dan melihat anak-anak tumbuh dengan sehat dengan fasilitas taman yang menyenangkan. Sederhana aja kan? πŸ˜‰

Catatan:
  • Video debat calon walikota Pontianak bisa dilihat di sini
  • Kalimat pertanyaan dan jawaban dirangkum sendiri oleh penulis dengan dengan pencarian pemaknaan yang sama.

Minggir Semua!


Haaaaiii… Halooooo.. Apakabar semuanya?

Hari minggu gini adalah hari yang paling aku sukai kalau udah mau jalan keluar rumah. Bukan karena mau shoping atau apa seh. Cuma ya kalau minggu gini jalanan kayak surga banget, bebas dari yang namanya macet! YEAAAHHHHH!!

Tadi siang, lagi enak-enaknya jalan mo ke rumah abang, tiba-tiba aku di klakson dari belakang. Perasaan aku jalannya gak pelan dan gak tengah juga deh. Aneh aja rasanya kalau diklakson. Lagian, lajur sebelah kanan kosong kok, kalau mau nyalip gampang.

Aku yang gak suka dengan pengemudi yang mengklakson kendaraan disaat yang gak penting langsung deh otomatis lihat dari kaca spion siapa gerangan yang dibelakang. Eh, ternyata mobil berplat hijau. HUH!!!

Rame bener yak?

Lalu apa yang aku lakukan ketika mengetahui siapa yang dengan ributnya mengklakson berkali-kali itu? Langsung dong aku dengan berbaik hati melambatkan motor dan rada jalan ditengah, hihihihi. Biar makin jengkel tuh orang gak bisa nyalip πŸ‘Ώ

Pulang dari rumah abang aku lagi-lagi harus dipaksa mengalah dengan segerombolan grup motor itu. Dengan seenak hatinya mereka menutup jalan disimpang lampu merah pada saat akan jalan. Ya kalau pas kena hijau seh gak papa yak, ini mereka sampai melebihi waktu yang ada gitu. Untung orang pada kompakan mengklakson mereka dan akhirnya terputus juga deh konvoi mereka *tertawa bahagia dalam hati*

Ya, aku termasuk tipe orang yang kalau di jalan gak suka diganggu. Baik itu dengan sesama pengendara yang suka klakson berlebihan lah, menyalip gak pada tempatnya lah, meneriakkan aku pada saat lampu merah dan aku berhenti, dan masih banyak lagi. Ataupun dengan sekelompok orang yang merasa diri mereka penting sehingga dengan seenak hatinya menyuruh kita minggir.

Yang aku pertanyakan adalah: Apa yang mereka kejar? Rapat yang sangat mendesak? Atau pengen cepat sampai ke rumah biar bisa cepat istirahat? Hmmm… Toh negara ini gak akan hancur kalau mereka telat datang rapat, kecuali telat datang perang πŸ˜› Aahh,,, tapi Lagian kalau sama-sama jalan ya jadinya mereka bisa tahu kan bagaimana rasanya macet dan sumpek itu. Merasakan deritanya kemudian mulai berfikir serius bagaimana mengatasinya.

Anehnya yang aku perhatikan adalah, jika ada Ambulance yang lewat lebih susah membuat orang minggir dan memberi jalan daripada orang-orang di atas. Kadang, jika sedang macet parah Ambulancenya ikutan kena macet juga dong 😦 Aku sampe berdoa mudah-mudahan saudara yang sedang sakit bisa bertahan sampe ke Rumah Sakit.

Mudah-mudahan aja seh ada cara yang beda tentang prioritas orang ini di jalanan. Biar gak ada lagi ceritanya pas kena macet eh malah disuruh minggir karena seseorang mau lewat.

sumber gambar :

OPLET..


Haiiii… Halloo.. Apakabar semua? Pada tahu dengan oplet gak?

Oplet adalah bahasa Pontianak untuk menyebut angkutan umum yang bentuknya seperti mobil carry gitu. Yak, cuma mobil carry loh ya, klo bentuknya bus ya nyebutnya tetep bus. Penampakan oplet seperti dibawah ini:

http://id.wikipedia.org

Macetnya Pontianak akhir-akhir ini, membuat aku mengenang masa-masa lampau. Masa-masa di mana anak-anak SD-SMP yang lucu dan penuh keceriaan seperti aku masih menggunakan oplet ini untuk pergi dan pulang sekolah. Sungguh merupakan masa-masa yang indah 😳

Aku sendiri waktu kecil, kecil banget sangat gak suka yang namanya naek kendaraan bernama mobil. Ya, seperti orang-orang mengejek aku ‘gak bakat jadi orang kaya’ seperti itulah. Tapi beneran, setiap aku naek mobil selalu aja mabok. Bermulai dari kepala yang pusing, kemudian mual dan akhirnya muntah-muntah. Sungguh sesuatu yang gak asyik buat dirasakan.

Jangan membayangkan jarak yang panjang seperti orang yang mudik itu. Hanya dengan jarak 1 KM saja, gejala tersebut langsung aku rasakan. Gak kebayang deh dulu aku bisa nyetir mobil sendiri seperti sekarang. ‘Nyium’ bau mobil aja udah buat aku mual.

Beranjak sedikit besar, karena keperluan akupun mulai sering menggunakan mobil untuk aktifitas. Lagian, bapak yang sering kerja di luar kota dan ibu yang sibuk di sekolah membuat aku harus mandiri untuk pergi kemana-mana. Mulailah kelas 6 SD aku menggunakan Oplet ini untuk pergi ke tempat bimbel.

Setelah seringnya dicoba, ternyata penyakit aku mabok kalau naek mobil mulai berkurang. Ya, kalau untuk jarak 1-2 KM aku bisalah. Tapi jangan lebih! Aku masih bisa teramat pusing dan mual-mual (meskipun gak sampai muntah lagi).

Masuk SMP, aku memutuskan untuk sekolah ditempat yang lebih jauh. Ini hanya karena aku merasa gak ada SMP yang berkualitas di dekat rumah aku dalam jarak 5km. Karena keputusan inilah kedua orang tuaku telah mewanti-wanti aku bahwa aku harus terbiasa dengan Oplet. Gak ada ceritanya bergantung dengan mereka untuk pergi dan pulang sekolah. Lagian, mereka memang sibuk. Jadi, terpaksalah aku harus membiasakan diri lagi naek oplet dengan jarak yang lebih jauh. Sekitar 10 km dari rumah.

Naek oplet dari rumah ke SMP bukanlah perkara yang mudah. Gak ada rute langsung dari rumah ke sekolah. Aku harus berenti disebuah pasar untuk melanjutkan dengan oplet rute lainnya hingga akhirnya sampai di jalan utama dekat sekolah. Tentu kalau menggunakan angkutan umum, kita gak bisa langsung sampai di depan sekolah dengan nyamannya. Aku perlu berjalan kaki lagi sepanjang kurang lebih 300 meter hingga akhirnya tepat sampai di dalam kelas.

Total waktu yang aku perlukan dengan rute seperti itu sekitar 30-40 menit. Tergantung lamanya oplet itu melaju dan banyak tidaknya mereka berenti mengambil penumpang di jalan. Waktu yang sangat singkat bukan? Mengingat dengan jarak yang sama sekarang aku berangkat ke kantor juga harus menempuh waktu yang sama pula. Padahal aku menggunakan motor dari depan rumah hingga depan kantor.

Bisa dibilang, jaman SMP adalah jamannya irni si pengguna oplet. Rute manapun di Pontianak ini pernah aku gunakan. Lagian, kalau ada acara disekolah yang membuat anak-anak pulang lebih awal aku lebih memilih untuk berjalan bersama dengan teman-teman sekolah daripada langsung pulang. Tentunya, kami menggunakan oplet sebagai sarana trasnportasi.

Bandingkan dengan anak SMP sekarang yang kemana-mana sudah menggunakan mobil pribadi. Aku tentu gak membicarakan orang lain. Dilingkungan keluarga aku aja, keponakan yang baru kelas 3 SMP pergi kesekolah menggunakan mobil. Aku selalu menyalahkan dia sebagai penyumbang kemacetan di Kota Pontianak πŸ˜›

Apalagi, kemudahan kepemilikan motor sekarang membuat orang lebih memilih membeli motor daripada harus kemana-mana menggunakan oplet.

Sekarang, setiap pagi ketika aku melewati pasar untuk pergi ke kantor. Gak ada lagi jejeran oplet yang riuh dengan teriakannya menawarkan penumpang. Gak ada lagi anak-anak seragam putih biru atau putih abu-abu yang berlarian kearahnya berebut dengan penumpang lain untuk masuk kedalam jejeran kendaraan plat kuning.

Rasanya, aku rindu dengan teriakan ‘kiri enam, kanan enam – yang belakang geser’. Aaahhh,, pak supir,, apa kabar kalian sekarang? Apa pekerjaan kalian sekarang?

***

Oia, sampai sekarang aku juga masih kurang suka naek kendaraan yang namanya mobil walaupun udah bisa bawa sendiri. Syarat aku membawa sebuah mobil adalah kalau mobil itu gak ada wangi-wangian yang terlalu menyengat yang membuat rasa mual buat aku. So, hidup motor! :mrgreen:

Heart Strings..


Haiii… Halooo.. Apa kabar semua? Udah masuk bulan desember aja neh. Di Pontianak hujan terus. Tapi yang paling terasa beberapa bulan belakangan ini Pontianak sudah dilanda kemacetan 😦

Jadi, akukan rumahnya termasuk jauh dari pusat kota yak. Aku dulu waktu SMA perlu menempuh 20km buat sekolah, kuliah sekitar 15 km dan sekarang kantor perlu sekitar 10 km. Jangan banyangkan seperti Jakarta yak yang jauhnya keterlaluan πŸ˜› tapi ya untuk ukuran kota Pontianak itu jauh banget deh pokoknya.

Waktu aku SMA dengan jarak seperti itu dipagi hari aku bisa menempuh kesekolah dalam waktu 20 menit (rata-rata). Menjelang kuliah, aku bisa menempuh dengan waktu 20 menit juga (namun kali ini aku mengendarai motor dengan lebih santai karena gak ada jam masuk di kampus aku *bagi aku tentunya 😳 * ). Nah, dilihat dari perbandingan itu, tentunya aku bisa dong ke kantor dalam waktu 15 menit?

Faktanya sekarang gak bisa sama sekali. Bahkan waktu yang aku perkirakan 30 menit juga gak cukup. Bahkan pernah aku sampe ke kantor hingga 1 jam lamanya. Bener-bener menjengkelkan macetnya Pontianak dipagi hari. Gak cuma pagi seh, tapi disetiap jam sibuk. Waaahhh,, sepertinya perlu perhatian khusus dari pemerintah neh buat ngelebarin jalan. Jangan sampe terlambat deh >.<

***

http://irmajuanandreas.blogspot.com

Nah, pada tahukan kalau aku itu hobinya membaca buku, nonton film (terutama di bioskop) dan menyukai k-drama. Untuk k-drama sendiri, rasanya aku udah lama gitu gak nonton. Terakhir itu nontonnya K-drama yang judulnya City Hunter.

Kali ini dengan kiat khusus memanage waktu yang ada aku akhirnya berhasil menyisipkan waktuku buat nonton k-drama lagi. Dan yang aku pilih adalah drama yang berjudul Heart Strings. Alasannya simple aja, karena ini dvdnya udah lama aku beli tapi belom sempat menontonnya πŸ˜†

Film ini bergendre drama musikal. Jadi disebuah universitas kesenian di Seoul ada seorang anak cewek bernama Lee Gyu Won. Dia ini adalah cucu dari penyanyi tradisional yang terkenal (sebenarnya sampai menamatkan filmnya juga aku masih gak yakin kakeknya ini terkenal dari mananya πŸ˜› ). Kakeknya ini sangat keras mendidik Gyu Won harus mengikuti jejaknya yang bermain musik tradisional, sehingga masuklah dia ke jurusan musik tradisional.

Ada lagi Lee Shin adalah seorang mahasiswa tingkat atas yang sangat terkenal dan digilai oleh seluruh mahasiswi di kampus itu karena kegantengannya (jujur aku heran juga darimana ide cerita ini muncul sangat kepedean sekali, coz aku merasa seh yang memeranin Lee Shin ini gak ganteng2 amat πŸ˜› ).

Ceritapun kemudian mengalir bagaimana Gyu Won menjadi budak Lee Shin selama sebulan karena kalah taruhan yang menyebabkan cintanyapun mulai tumbuh. Seperti biasa cowok yang merasa ganteng sok jual mahal πŸ˜› Lee Shin pun demikian.

Puncak cerita ini adalah ketika kampus akan mengadakan seperti teater gitu untuk merayakan ulangtahun sekolah ke 100. Gyu Won yang awalnya berpartisipasi buat musik tradisionalnya, kemudian diajak untuk masuk menjadi pemain sekaligus penyanyinya. Ini tentunya sangat sulit buat dia karena kakek yang tidak menyetujui dia bernyanyi modern. Belum lagi ada seseorang yang tidak menyukai kehadirannya di atas panggung.

So, apakah Gye Won dan Lee Shin akan bersatu dan apakah Gye Won bisa naik di atas panggung? :mrgreen:

***

Curhat Session:

Sudah diketahui bersama-samakan aku menulis tentang Singkawang tempo hari karena aku mau memasukkan tulisan aku ke Adira Face Off Indonesia. Tapi udah beberapa kali aku mencoba upload tulisan gak pernah yang namanya berhasil. Loadingnya selalu lama dan ujung-ujungnya ya gagal 😦

Jadi males aja mau posting lagi gara-gara ini. Ah,, kok mau nulis aja susah seh! >.<

Kopdar ke Tiga dan Keempat..


Haaiiii,,, halloooo… apa kabar semuanya? Ngapain aja malam minggu ini? Aku deh cuma bisa blogwalking coz gak ada temen jalannya *hiks πŸ˜› Kali ini seperti janji aku dari postingan kemaren aku mau nulis tentang kopdaran ketiga dan keempat aku di Jakarta kemaren.

Seperti biasa kalau ada acara di pusat (dalam hal ini Kemenkes, coz aku cuma pernah ikut acara kemenkes, hehe) selalu aja jadwalnya sampe hari jum’at, tapi pada kenyataannya hari kamis malem sebenarnya acaranya udah di tutup. Hari jumat pagi tinggal ngurusin administrasi dan pulang deh.

Awalnya aku bangun pagi2 biar administrasinya cepet selesai, eh pas ngurus2 ternyata ada kesalahan perhitungan dalam administrasi aku, jadinya aku harus nunggu lama deh buat diperbaiki, selesai gak selesai udah jam 9an, jadinya baru jam 10an aku bisa cek out dari hotel dan menuju bandara buat ngejemput temen dari Pontianak.

Dari bandara udah jam 11an langsung ngeluncur ke hotel tempat nginep sampe minggu. Daan dari bandara maceeeeeetttt banget. Akukan gak bisa lama2 di dalam mobil yak, bawaannya jadi mabuk pusing gitu sampe di hotel udah jam 12an dan kata resepsionisnya baru bisa masuk jam 1. Waduh! Padahal aku udah janji sama Pitsu buat ketemuan jam 1 di GI. Jam setengah 1 si Pitsu udah bilang aja dia udah sampe di GI (jadi gak enak, maafken aku ya pit >.< ) Masuk ke kamar udah jam setengah 2, kemas2in barang, sholat bentar langsung ngeluncur deh ke GI yang akhirnya jam setengah 3 bisa ketemu Pitsu di Magnum Cafe :mrgreen:

Aku dan Pitsu di Magnum Cafe

Sebenarnya udah lama aku pengen ke Magnum Cafe ini. Dulu pertama kali lihat review dari beberapa blogger sepertinya keren aja gitu. Dan pertama kalikan tahunya neh Cafe cuma bersifat non permanen yak, cuma sampe bulan Mei, tapi bisa juga akhirnya aku singgah ke sini, hehe.

Soal tempatnya menurut aku seh ribet yak, perlu ngantri2 gitu segala, coz tempatnya sempit seh menurut aku secara dia terkenal banget. Tapi eskrimnya enak seh. Sayang karena aku masih rada mabok jadinya gak bisa ngabisin semuanya. Mana belom makan dari pagi pula. *hiks

Ketemu pitsu aslinya orangnya asyik banget. Kebanyakan seh dia yang cerita-cerita ke aku. Ya secara aku emang termasuk orang yang pendiam untuk orang yang pertama kali ketemu. Untung aku bawa temen aku yang lumayan banyak ngomong jadi suasananya gak kaku, hehehe. Ngobrolnya gak jauh2 dari apa yang sering dituliskan di blog seh. Gimana kosannya, kerjaannya dan kesukaannya sama film2 korea.

Yang paling semangat adalah saat dia ngeluarin kamera paraloidnya. Gilak tuh kamera keren banget, temen aku sampai mupeng pengen di beliin buat kado (untung ulangtahunnya masih lama πŸ˜› ) Sampai udah bubaran aja dia masih ngebahas soal kamera itu. Ya, karena si Pitsu juga belinya dari UK, jadinya mungkin masih lama juga baru bisa beli tuh kamera, ribet seh πŸ˜›

Jam 4 kurang akhirnya acara ketemuannya berakhir. Pengennya seh lama2 cerita2 sama pitsu. Ya mudah2an kita bisa ketemuan lagi ya pit, seperti yang aku ceritain kemaren, awal tahun depan aku ada rencana lagi ke Jakarta (buat kerjaan tentunya, hehe)

***

Hari sabtu pertama kali janjian sama @dipiw ke Kota Tua. Karena dia dari depok makanya milih daerah sini yang aksesnya lumayan mudah. Tinggal pake kereta sekali langsung sampe. Tapi akhirnya aku juga berhasil mengajak mbak Thia dan mama Hilsya yang ternyata tempat ini jauh banget dari rumah masing2, hehe.

Aku dan Divia di Meseum Fatahilla

Dari awal kami sudah janjian akan ketemuan di Museum Fatahillah. Aku yang sampe duluan disana sibuk nyari2 sosok yang cuma pernah aku lihat foto2nya. Lirik sana lirik sini kok gak ketemua yak, akhirnya setelah sekian lama ketemu juga.

Pertama kali lihat wajah asli Divia sebenarnya fikiran aku adalah wah beda juga yak dengan di foto selama ini. Kata temen aku dia kalau difoto itu terlihat lebih gemuk dan lebih tembem. Padahal aslinya gak loh, cantik lagi. Dan aku kirain selama ini aku satu angkatan gitu sama dia. Eh ternyata dia lebih muda ding satu tahun dari aku (jadi berasa gak muda lagi *halah* ).

Ketemu langsung keliling2 muterin museum sambil foto2. Untungnya aku bawa fotografer pribadi a.k.a temen aku jadinya aku sama divia bisa narsis2 berdua deh pake si Johnnya dipiw 😳 Dengan divia aku lumayan bisa akrab coz selama ini udah sering twitteran. Lagian neh anak juga udah jarang update blog (ayo dong piw di update tuh blognya).

Capek muterin museum aku akhirnya nunggu mama Hilsya yang katanya udah deket sambil minum es yang ada di sana. Esnya enak juga (aku lupa namanya) hehehe. Tak beberapa lama aku dapet sms dari mama Hilsya yang katanya udah berhasil menemukan aku. Karena aku gak bisa nebak juga yang mana orangnya akhirnya aku dan dipiw nunggu aja deh sambil ngobrol2 lagi.

Aku penasaran kenapa si dipiw ini pengen banget jadi PNS. Karena dari pengamatan aku dari temen-temen aku yang kuliah di jakarta (atau di jawa) rata2 gak mau kembali ke Pontianak karena dapet pekerjaan yang bagus di sana. PNS juga bukan jadi pilihan lagi bagi mereka. Jadi lumayan ‘aneh menurut aku ada orang Jakarta yang masih mau jadi PNS (kan PNS gajinya kecil kakaks πŸ˜› )

Tak lama kemudian akhirnya dateng juga mama Hilsya beserta rombongan lengkap. Ada si kakak a.k.a Hilsyanya πŸ˜€ ada suami dan si adek. Pertama kali tahu kalau Hilsya udah kelas 5 sebenarnya kaget juga. Habis masih imut2 banget seh wajahnya, walaupun udah tinggi seh, hehe. Karena udah hatam di Museum Fatahillah akhirnya kami keluar dan memilih untuk pergi ke Museum Wayang yang ada di seberangnya.

Mama Hilsya dari belakang (pake baju biru πŸ˜€ )

Museum Wayang lebih terawat dari Museum Fatahillah, tapi tetep aja panes banget di dalamnya. Karena aku kurang tertarik dengan sejara, jadinya Museum cuma jadi ajang tempat foto2 seh πŸ˜† Udah puas keliling Mbak Thia masih juga belom dateng coz kena macet jadinya telat, akhirnya karena rombongan udah laper, jadinya kami cari makan di sepanjang jalan disana. Akhirnya milih makan soto yang kali ini ditraktir oleh Mama Hilsya (makasih banget loh mbak :mrgreen: )

Selesai makan akhirnya dapet kabar bahwa Mbak Thia udah sampe di Kota dan sekarang ada di Museum Fatahillah karena memang kami janjian di sana. Beda dengan divia dan Mama Hilsya, kalau mbak Thia ini mudah banget aku ngenalinnya, secara udah eksis di blog, dan lagi dia juga bawa personil lengkap dengan suami dan si kecil vania yang lucu banget πŸ™‚

Mbak Thia dan keluarga di Museum BI

Karena udah kepanasan di dua museum sebelumnya, jadi atas rekomendasi dipiw kami memilih meseum yang dingin dan berAC yak, apalagi kalau bukan Museum Bank Indonesia.

Museumnya lumayan terawat juga, sambil jalan kami sambil cerita2 tentang kegiatan sehari-hari. Aku juga banyak nanya sama Mbak Thia soal gigi dan pemasangan kawat gigi. Kata Mbak Thia seh buat ngepastiin perlu gaknya pasang perlu di foto dulu giginya (yang sebenarnya gak sulit seh buat aku, tinggal ke BP Mata dan Gigi dan gratis pula karena kenal juga sesama orang dinkes πŸ˜› ) tapi masih ragu2 juga seh. Ntar deh kalau udah kepengen baru dicoba, hehe.

Selepas sholat ashar jam 3an semua memutuskan untuk bubar. Awalnya aku mau nebeng sama mbak Thia balik ke Hotel, tapi ternyata temen aku udah mau jemput, gak jadi nebeng deh, lagian kasian juga mbak Thia jadi muter kalau mau nganter aku. Sambil nunggu mbak Thia nanya2 aku soal perbatasan yang kemaren lagi ngehits. Ya sesuai dengan pandangan aku anak propinsi perbatasan sebenarnya kami disini gak terlalu mikir juga yak perbatasan. soalnya kadang masyarakat Indonesia sendiri yang mindah2in patok batas agar rumahnya masuk ke wilayah Malaysia. Lagian perbatasan selama ini kan bener2 gak diperhatikan. Ya sudah lah πŸ˜›

***

Over all kopdaran kali ini seru banget. Lebih berkesan dari kopdaran pertama aku dan lebih lama dari kopdaran kedua aku πŸ˜€ Seneng aja sebenarnya bisa ketemuan secara langsung sama orang2 yang dikenal hanya dari tulisan2nya.

Kapan2 kita ketemuan lagi ya semuanya. Dan buat yang kemaren gak bisa ketemuan, mudah2an lain kali bisa yak ketemuan dengan blogger Pontianak nun jauh di sini πŸ™‚