Jika Aku Menjadi


PEMIMPIN DI KOTA INI..

Haaaiiiii… Haalloooo.. Apakabar semuanyaaa? Sehat kan yak? :mrgreen:

Aku lagi berhayal-hayal neh, apa yak yang akan aku kerjakan jika aku menjadi pemimpin di kota yang sekarang aku sedang tinggali ini? Soalnya kadang merasa banyak hal-hal yang tidak sesuai dengan pemikiran aku (bahkan hati nurani aku, tsaa πŸ˜› ) yang dilakukan oleh orang-orang yang berpengaruh di atas sana. Karena suara aku gak akan didengar juga, jadi mendingan berkhayal aja yak di blog ini πŸ˜€

Untuk pedomannya, yang aku ambil adalah pertanyaan-pertanyaan yang diajukan untuk para calon walikota pada saat pilkada beberapa bulan yang lalu. Pemilihannya sendiri udah lewat, dan udah ada pemenangnya juga seh. Jadi mari kita langsung apa yuks!

PERTANYAAN PERTAMA: Masalah Pariwisata. Kota Pontianak yang memiliki potensi pariwisata belum memanfaatkan potensi itu secara maksimal. Jika Anda terpilih menjadi walikota Pontianak, apa yang Anda lakukan untuk membangun pariwisata di Kota Pontianak?

Jawaban dari calon pertama: Kota Pontianak memiliki tempat pariwisata yang berpotensi sangat besar misalnya Tuga Khatulistiwa, Makam Sultan dan Kraton Kadriah. Tetapi belum dimanfaatkan secara maksimal. Maka jika saya terpilih menjadi walikota Pontianak. Tiga potensi ini akan saya makimalkan secara tepat.

Tanggapan aku? Hmmm.. Emang seh yak tempat yang disebutkan di atas itu penting karena merupakan bagian dari secara dan icon dunia. TAPI sebagai masyarakat awam yang aku harapkan bukan itu seh.

Jika aku menjadi seorang walikota, yang aku bangun di Pontianak adalah wisata lokal yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk kegiatan sehari-hari. Misalnya taman-taman untuk piknik di hari libur, hutan-hutan kota yang tertata rapi dan ada outbound, waterfront yang tertata dengan rapi (sekarang ada seh, tapi ya gitu deh kondisinya) dan lain sebagainya yang membuat fikiran aku kalau mau jalan gak mall lagi mall lagi.

Mungkin juga bisa dibangun waduk-waduk buatan di mana di dalamnya ada terdapat joggingtrack, arena bersepeda, pohon-pohon besar yang teduh. Ya kalau mau membayangkan seperti ini deh:

Gambar dari blog reisha.wordpress.com

Kan seru yak sore-sore bawa debay jalan-jalan pake stoller ke taman beginian. Daripada ke Mall yang harus mengeluarkan duit banyak. Sayangnya gak ada satu tanggapan dari semua calonpun yang memikirkan tentang taman kota ini 😦

PERTANYAAN KEDUA: Masalah Air Bersih. Kota Pontianak yang dialiri sungai kapuas masih tidak bisa memenuhi permintaan air bersih untuk seluruh warganya. Banyaknya limbah dari sampah baik perusahaan dan masyarakat membuat air sungai tercemar. Apalagi ditambah dengan tidak maksimalnya PDAM menyuplai air ke rumah-rumah penduduk.

Jawaban dari calon kedua: Bahwa permasalahan air bersih adalah dari air baku yang dimiliki oleh PDAM terutama pada kebocoran pipa-pipanya. Maka hal yang harus dilakukan adalah memastikan tidak ada lagi kebocoran pipa di kota ini.

Tanggapan aku? Ya, sebagai kota sungai yang terbiasa menggunakan air sungai untuk kebutuhan sehari-hari seh titik poinnya bukan di PDAM, TAPI pembersihan air sungai dari limbah-limbah tersebut.

Jika aku menjadi walikota, yang akan aku lakukan adalahΒ  pemaksaan perusahaan yang beroperasi di sepanjang sungai kapuas untuk merelokasi pabriknya jauh dari sungai agar limbah yang dihasilkannya tidak langsung masuk ke dalam sungai. Pelarangan keras juga harus dilakukan untuk masyarakat atau industri rumah tangga membuang sampah ke sungai. Jika air sungai telah bersih, maka PDAMpun akan mampu kok menyukupi kebutuhan air bersih masyarakatnya.

PERTANYAAN KETIGA: Masalah Tata Kota (Drainase). Pontianak yang sering banjir jika terjadi hujan.

Jawaban dari calon ketiga adalah: solusi mengatasi banjir adalah peninggian jalan, penjagaan parit primer yang dimulai dari parit tokaya dan pembenahan drainase.

Masalahnya adalah jika jalan ditinggikan terus menerus seperti apa yang telah dilakukan pada 5 tahun terakhir ini, jalan di Kota Pontianak akan terbebas dari banjir, NAMUN air dari tumpahan jalan raya akan masuk ke dalam rumah-rumah penduduk.

Pembangunan tarup kadang tidak melihat aliran air dari sisi jalan sehingga bukannya malah mengurangi banjir, tapi membuat lokasi banjir baru dan pelebaran jalan kebanyakan memperkecil drainase yang akhirnya tidak dapat menampung curahan air hujan di kota ini.

Jika aku menjadi walikota yang aku lakukan adalah memperlebar drainase-drainase disepanjang jalan utama (yang sekarang malahan beberapa titik ditutup aja gitu salurannya :devil: ) Mengembalikan posisi parit primer ke kondisi semulanya. Yang dulu bisa dilewati oleh sepit dan menjadi jalur transpotasi seperti jalan dahulu kala.

Lah wong Amerika saja membangun kawasan baru dengan parit-paritnya yang menyerupai Venice kok kenapa Pontianak gak bisa? Potensi itu ada tapi gak dimanfaatkan sayang banget kan.

Foto dari dreamindonesia.wordpress.com  dan kesultanankadriah.blogspot.com
Parit Besar dahulu dan sekarang. Foto dari dreamindonesia.wordpress.com dan kesultanankadriah.blogspot.com

PERTANYAAN KEEMPAT: Masalah kemacetan. Pontianak telah menjadi kota yang berkembang dengan adanya kemacetan di jam-jam sibuk seperti pagi pada jam pergi sekolah dan sore hari pada saat jam pulang kantor.

Jawaban dari calon nomor 4: bahwa titik kemacetan di Kota Pontianak adalah di Jalan Tanjungpura dan Tol Kapuas 1. Maka, harus ada pemecahan konsentrasi kendaraan di sana dengan adanya pembangunan tol kapuas 3.

Sayangnya, pembangunan tol Kapuas 3 yang direncanakan terletak di ferry penyebrangan yang menurut pendapat aku jika dibangun di sana bukannya mengurai kemacetan malah akan menambah titik kemacetan baru. Aku setuju dengan pendapat pasangan nomor tiga bahwa gak cocoklah pembangunan itu disana, yang benar lokasinya adalah di arah menuju luar kota seperti daerah Batulayang menuju daerah jeruju.

Balik lagi ke permasalahan drainase di atas. Jika Kota Pontianak berhasil membangun transportasi airnya rasanya akan bisa kok mengurangi kemacetan. DAN transportasi umum jangan dilupakan. Orang menggunakan kendaraan pribadi karena merasa bahwa transportasi umum gak menyenangkan. Jika transportasi kita bisa seperti Putra Jaya di Malaysia saja, pasti pada mau dong naek bus.

PERTANYAAN KE LIMA: Kemiskinan. Di Kota Pontianak ada 5,77 % dari jumlah penduduk atau berjumlah 32.530 jiwa.

Jawaban dari calon nomor lima adalah pembangunan yang berkeadilan, bukan sama rata.

Errrggghhh.. Sebenarnya ini aku gak ada pandangan blas deh *gagal jadi walikota* πŸ˜› TAPI yang aku tahu bahwa kemiskinan itu timbul dari gaya hidup keluarganya dalam hal pendidikan.

Sebagai contoh tetangga aku yang ayahnya dahulu kala adalah orang sukses (pegawai pergawai pertamina) sewaktu kecil selalu mendapat apa yang diinginkannya bahkan saat malas bersekolah. Akhirnya pada saat dia dewasa dan orangtuanya telah meninggal dia tidak bisa lagi menikmati kesuksesan orangtuanya. Yang ada hanya selembar ijazah SD yang jaman sekarang sudah gak laku lagi kan yak. Ujung-ujungnya sekarang bekerja sebagai buruh harian lepas.

MAKA orangtuaku sangat berpesan bahwa pendidikan adalah modal kita menjadi apapun yang kita mau. Gak ada ceritanya lo lulusan SD bisa jadi orang kaya. Karena menurut aku pendidikan itu juga membentuk pemikiran kita untuk menjadi seorang karyawan maupun fikiran untuk berwirausaha.

Solusinya untuk kota ini ya jangan sampai ada anak yang putus sekolah karena GAK MAU atau MALAS! Pemaksaan sangat perlu dilakukan deh. Apalagi sekolah udah gratis kan, jadi gak ada alasan lagi.

Memang seh ini gak akan terasa ditahun sekarang. Tapi akan terasa 10 atau 20 tahun lagi bahwa kota ini telah memiliki usia kerja yang produktif dan mempunyai daya saing serta mandiri dan tidak lagi berharap pada bantuan pemerintah.

PERTANYAAN TERAKHIR: Masalah Listrik.

Jawaban pasangan nomor enam: ini kok videonya kepotong yak? πŸ˜›

Ya, kalau menurut aku seh masalah listrik ini masalah negara. Toh yang mengolah adalah perusahaan milik negara kan yak. Sebagai walikota cuma bisa bekerja sama dengan pihak PLN dan menanyakan apa-apa yang menjadi penyebab pemadaman bergilir di Kota ini.

***

Ya, begitulah jika aku menjadi walikota versi Niee. Aku sendiri gak pernah kepikiran untuk menjadi pemimpin baik walikota, gubernur, apalagi Presiden di negeri ini seh. Repot! Terlalu politisasi.

Harapan aku semoga saja kota ini bertambah maju dari tahun ke tahun. Bukan dilihat dari pembangunannya, tapi dilihat dari kenyamanan masyarakatnya tinggal di Kota ini. Menyenangkan sekali bukan jika kita terbangun dan mebayangkan betapa nyamannya mandi dengan air yang segar, membaca atau menonton berita dipagi hari dengan segelas air hangat, pergi ke kantor dengan suasana hati yang nyaman dan sampai di kantor tanpa terlambat, bermain hujan tanpa takut rumah kebanjiran dan melihat anak-anak tumbuh dengan sehat dengan fasilitas taman yang menyenangkan. Sederhana aja kan? πŸ˜‰

Catatan:
  • Video debat calon walikota Pontianak bisa dilihat di sini
  • Kalimat pertanyaan dan jawaban dirangkum sendiri oleh penulis dengan dengan pencarian pemaknaan yang sama.
Advertisements

29 thoughts on “Jika Aku Menjadi”

    1. hahahaha.. itulah mbak, aku suka gemes dengan jawaban-jawaban siapapun calon calon pemimpin daerah di negara ini. Terdengar selalu aja kepentingan, gak ada yang mikir kalau dari segi rakyatnya gimana >.<

      etapi aku gak pengen jadi pemimpin daerah seh πŸ˜›

      1. setuju sama Nella, jawabanmu pinter banget niee…
        iya kurasa Pontianak itu banyak potensinya, sungai, makanan, buah2an, budaya bisa dibagusin semua tuh

        1. Hahaha.. Gak bermaksud untuk menjawab lebih pintar seh bun. Tapi lebih menjawab sesuai keinginan hati dari seorang masyarakat yang memang sehari-hari berada di kota ini..

  1. Kalo dilihat2 sih jawabannya mba Niee lebih menjanjikan, hahahha…
    Kalo jawabannya mereka para calon wakil rakyat sih lebih terlihat pencitraan, wkakkaa… πŸ˜†

  2. Jadi walikota itu yg nomor satu adalah memperhatikan warganta ya Niee. Bagaimana agar warganya bisa hidup dgn nyaman dan aman πŸ™‚ . Itu yg harus ada di benak mereka.

    Dan aku setuju. Masalah pendidikan itu penting banget. Efeknya memang jangka panjang, tapi krusial. Kali enggak, mau jadi gimana 10-20 tahun lagi kan?

    1. bener banget zil, tapi kebanyakan sekarang pimpinan itu mikirin cuma politik seh. amat sangat jarang pemimpin yang emang dari hatinya memperbaiki wilayah yang mereka pimpim. Jadi sedih lihatnya.

      Kalau masalah pendidikan emang jangan disepelekan deh yak πŸ™‚

  3. sebenarnya pemimpin itu adalah cerminan rakyatnya…
    dan juga pemerintah itu hanya mempasilitasi…
    makanya terkadang banyak pemimpin yg terkesan ngak menepati janji kampanye..pdhal faktor sebenarnya yang susah diubah itu adalah rakyatnya..misal masalah tertib lalu lintas, buang sampah sembarangan/sungai dll…
    IMHO ya Nie πŸ˜€

    1. kalau aku seh gak setuju deh dengan istilah cerminan rakyat itu.Soalnya pemimpin kan harus lebih tangguh dari rakyat dong πŸ˜€

      tapi masalah dari faktor masyarakat tentu juga ada, gak 100% yang salah itu pemerintah. Rakyat juga harus mendukung upaya yang dilakukan pemerintah untuk mereka.

  4. : Isi blognya bermanfaat banget Mbk πŸ™‚
    Kapan ya Pontianak bisa lebih baik 😦
    Hujan 1 jam aja udah banjir,jalan rusak dimana2,tapi yang diperbaiki malah jalannya para pejabat mulu.
    Tuh jalan untuk rakyat diperbaiki dulu,jangan nunggu hancur benar baru diperbaiki -_-

Balas Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s