Bye 2020


2020 itu berat.

Sebenarnya, aku gak mau nulis tentang 2020. Di kepala aku udah penuh aja tentang kelelahan baik fisik maupun mental. 2020 itu berat untuk aku, untuk kita semua.

Walaupun kalau dilihat dari luar aku gak terdampak langsung oleh pandemi dari sisi keuangan, dari sisi kesehatan ataupun dari sisi sosial, tapi secara keseluruhan 2020 bukanlah tahun favorit aku tentunya.

Orang lain boleh bilang bahwa tahun 2020 ini tempatnya belajar. Tapi bagi aku tahun 2020 ini tempatnya menangis. Bahwa manusia itu beneran boleh dan bisa menangis.

Biasanya, manusia tempatnya membuat rencana, TAPI bahkan di tahun 2020 aku gak bisa membuat rencana sama sekali. Aku takut gagal, aku takut gak ada waktu, aku takut yang direncanakan menjadi kacau.

2021 itu hampa.

Biasanya, aku memulai sebuah tahun dengan berencana. Paling sering seh berencana liburan. Tapi 2021 bahkan berencana masuk sekolah buat anak saja rasanya jauh dari pandangan mata.

Tahun ini itu berat, tapi benarkah tahun 2021 akan lebih ringan? Kok aku kurang yakin untuk berharap. Dengan gelombang pandemi di mana-mana tinggi lagi. Dengan berita vaksin yang malah disangkal gak bakalan terlalu efektif dan berita negatif-negatif lainnya.

Padahal aku udah gak main sosial media. Aku udah gak ada Facebook, aku gak baca twitter, dan isi Instagram aku sekarang cuma bunga kembang kuncup. Tapi tetap aja masih dengar kabar. Mungkin mau pindah ke bulan dulu baru gak ada kabar dan coronapun bisa hilang ๐Ÿ˜›

Ahhhh, bagaimanapun bye-bye 2020. Dan selamat datang 2021.

Aku tak mau terlalu berharap, tapi aku juga tak mau terlalu curiga.

Selamat tahun baru semuanya. Untuk Kamu, Aku dan Kita semua.

 

Pontianak, 31 Desember 2020.

Cerita Sekolah Online Primary 1 di Kinderfield Pontianak


Sebelum bulan Juli datang, aku masih berharap bahwa anak-anak sekolah akan masuk secara offline. Kondisi Corona di Pontianak pada bulan Juli kemaren gak begitu buruk. Pertanggal 1 Juli 2020, kasus positif di Kota Pontianak cuma 4 orang aja yang aktif, bahkan di bulan Juli Pontianak juga pernah dalam posisi zero kasus corona. Melihat tren positif, aku beharap banyak dong sekolah akan masuk. Tapi ternyata gak. Keputusan bersama 4 menteri bilang yang boleh masuk hanya kota yang berada di zona hijau itupun 2 bulan pertama anak SMA, dua bulan kedua anak SMP dan dua bulan berikutnya (jika zona hijau tetap bisa dijaga) barulah anak SD. Kalau aku hitung sesuai dengan peraturan ini “jatah” anak SD masuk ke sekolah itu (jika tetap zona hijau) adalah di bulan Nopember yang mana udah masa ulangan sekolah dan ya udah ding sekalian aja masuk januari. Makanya semenjak itu aku gak berharap banyak untuk si K bisa bersekolah offline.

Karena sudah dihadapkan pada kenyataan sekolah akan tetap online paling gak sampai akhir semester 1 (bahkan jika aku menulis sekarang aku yakin kalau selama kelas 1 ini si K akan terus sekolah online, MUNGKIN baru akan mulai sekolah online saat naik Primary 2) jadi aku udah menurunkan ekspetasi. Sekolah yang dulunya aku nanti-nantikan sebagai tempat anak menimba ilmu menjadi beban berat orang tua untuk harus siap mendampingi anaknya. Aku ingat banget perkataan Mas Mentri Pendidikan waktu itu, bahwa anak-anak pasti akan sangat berdampak banget dengan kondisi sekolah online ini, dan yang paling berdampak adalah anak Sekolah Dasar awal yang harusnya menerima pondasi-pondasi pendidikan diwaktunya sekarang. Maka, anak-anak yang akan tetap unggul adalah anak-anak yang mendapatkan perhatian penuh pendidikannya dari orang tua di rumah. Karena, yang mereka temui adalah orang tua untuk tempat belajar sekarang, bukan guru-guru di sekolahnya, walaupun ada tatap muka online sekalipun.

Aku, seperti orang tua lain pada umumnya, tentu ingin memberikan yang terbaik untuk si K dong selama sekolah online ini. Dan aku tidak ingin si K menjadi salah satu anak tertinggal karena terdampak Corona, bahkan kalau bisa dia menjadi anak unggul di tengah himpitan ini. Tentu dengan penurunan ekspetasi di sana sini seperti aku gak akan mengikutkan si K lomba kompetisi online (yes, masih banyak banget kompetisi online di masa sekarang) karena si K paham dengan pelajarannya aja aku udah bersyukur banget. Dengan waktu aku yang terbatas jugaย  di mana aku gak ada waktu untuk mendampingi dia setiap hari selama online di sekolah, tapi aku akan meluangkan banyak waktu aku di sore dan malam hari untuk mengulang pelajaran dan mengerjakan tugas-tugasnya yang sehari bisa ada 2-3 tugas dari sekolah. Paling nggak, itulah usaha terbaik aku.

So, mau gak mau, suka gak suka, sekolah online tetap akan berjalan dan perjuangan harus dimulai :mrgreen:

Sebelum mulai pembelajaran online, sekolah si K mengadakan pertemuan orang tua murid dengan kepala sekolah dan guru-guru tingkat Primary 1.ย  Hal yang paling mendasar dari penjelasan oleh kepala sekolah adalah, sistem online akan tetap sama dengan waktu KGB (karena sebagian besar anak Primary berasal dari TK di Kinderfield juga) dengan menggunakan google meet dan google class. Yang membedakan adalah adanya nilai yang dikejar di Primary ini. Setiap tes, setiap tanya jawab, setiap tugas akan dinilai dan menjadi penilaian untuk rapor semesteran. Untuk penilaian akan dibagi persentasenya, Semesteran Test berapa persen, Class Test berapa persen, portopolio, tugas, presentasi, keaktifan di kelas dan lainnya. Puyeng! Karena emak harus tahu kan, biasanya aku kan terima hasil aja dari gurunya, huhuhu.

Udah pertemuan, guru-guru kelaspun langsung memberikan jadwal pelajaran online tatap muka dan online tidak tatap muka. Seperti yang aku ceritakan di postingan sebelumnya sekolah si K untuk tingkat Primary 1 itu ada 13 matapelajaran, 10 matpel itu online tatap muka dan 3 matpel itu cuma dikasih tugas-tugas aja via google class. Sekarang tugas aku adalah gimana mengkondisikan si K tetap bisa online dengan nyaman SENDIRIAN dan aku bisa kerja di kantor dengan tenang tanpa harus khawatir dia ketinggalan pelajarannya karena gak didampingi?

Pertama yang aku lakukan adalah, mengajari si K cara masuk ke google meetnya sendirian. Aku kasih tahu cara menghidupkan komputer dan laptopnya (kadang pake komputer kadang pake laptop dia) cara buka browser, aku kasih tahu cara klik apa supaya bisa menulis url di browser untuk masuk google meet dan untuk masuk google class, terus aku kasih tahu kode kelasnya (yang untungnya cuma 2 yang mana 1 untuk seluruh matapelajaran, dan satu lagi untuk khusus pelajaran moral education) dan yang terakhir adalah aku ingatin berkali-kali jadwal masuk kelas-kelasnya yaitu oukul 07.30, terus 10.15 dan 12.30. Awalnya aku telponin setiap hari saat sebelum meetnya di mulai, tapi udah semingguan dia hapal sendiri seh udah gak perlu diingatin lagi.

Diajarin gitu emangnya di rumah gak ada yang bisa bantuin Niee? Jadi ya, si K itu selama aku kerja aku titipkan di rumah mbahnya. Biasanya yang jagain si K itu mbahnya atau gak bibinya suami yang dari bayi temenin dan ngurusin makan minum gitu loh. Dan karena dua duanya udah berumur, aku gak bisa ngajarin mereka berdua seh. Aku lebih percaya si K lebih bisa aku ajarin daripada mbah dan bibi. Lagian, dengan ngajarin si K langsung, dia bisa lebih mandiri dan gak tergantung kepada siapa-siapa untuk mengurus sekolahnya. Jadi lebih bertanggungjawab sama tugas sekolahnya kan, bukan mengandalkan orang lain.

Awal sekolah online, aku ragu si K akan mendapatkan pelajaran yang baik dan ketakutan kedua adalah dia yang kehilangan momen bermain bersama temannya. TAPI ternyata si K menikmati loh belajar onlinenya. Dia juga bisa tetap membagikan cerita tentang teman-temannya saat sepulang aku kerja. Dia biasanya cerita bahwa si A, B dan C anak baru yang bukan dari Kinderfield, bahwa si D kamarnya lucu karena pink semua, bahwa si E selalu pake headset kalau belajar, kalau si F suka ngajak main dulu jika guru-gurunya belum datang dan anak anak udah siap di meet. BAHWA anak-anak punya cara mereka sendiri untuk beradaptasi dengan kekacauan dunia ini. Saking beradaptasinya, saat aku bilang gimana kalau nanti masuk sekolah lagi, si K gak mau dong! Maunya online aja katanya, hahahaha (walaupun dia tetap senang jika bisa bermain langsung bersama teman-teman sekolahnya lagi).

Pagi sekolah, malam ngerjain tugas, masih ada les online pula untuk pianonya. Hari-hari si K walaupun gak sesibuk dulu tapi tetap berkegiatan teratur lah. Aku masih bisa bersyukur bahwa sekolah si K tetap berusaha untuk memberikan pendidikan yang terbaik untuk murid-muridnya. Karena aku tahu banget, di depan mata aku sendiri, aku melihat anak anak lain yang kegiatan pendidikannya udah hilang begitu saja digantikan dengan hanya bermain setiap hari. Mempunyai rutinitas yang masih mempuni untuk pendidikan formal dan non formal di masa pandemi ini sangat harus bisa disyukuri.

***

Kalau sekolah onlinenya udah lancar, terus kalau pas tes gimana Niee?

Jadikan ya, untuk test sendiri, sekolah si K menggunakan dua metode, yang umum adalah dengan google form, tapi ada juga yang menulis manual di buku yang kemudian hasilnya di foto dan diupload ke google class. Awal-awalnya, aku SELALU mendampingi si K kalau sedang test. Selain dia gak bisa (karena belum aku ajarin) upload tugasnya sendiri ke google class, aku juga ingin memastikan jawaban yang dia jawab itu benar seh (walaupun tentu aku masih dengan prinsip anak gak boleh dibantu saat test). Tapi, lama kelamaan aku gak sanggup juga dong nemankannya karena jadwalnya yang banyak banget dan gak mungkin juga aku meninggalkan kantor setiap dia test. Untungnya emang jadwal kantor agak senggang selama corona ini seh, jadi bisalah mendampingi sedikit-sedikit. Namun akhirnya aku menyerah juga dan memutuskan untuk mengajarkan si K mengupload tugas-tugasnya sendiri ke google class. Ternyata diajarin sekali dua kali anaknya udah bisa dong! Terpujilah anak generasi Alpha yang udah siap banget masuk ke dunia digital. Bayangkan banget kalau corona ada di awal tahun 2000 kan yak, udahlah internet masih lemot bahkan gak ada, kalau adapun kita semuanya masih gaptek! Jadi disyukuri ajalah posisi sekarang.

Dengan perjuangan panjang dan melelahkan itu, akhirnya awal Desember kemaren si K bagi rapor. Kalau biasanya bagi rapor adalah momen para orang tua bertanya kepada guru dan sekolah tentang perkembangan anaknya, kali ini tentu berbeda. Kita sebagai orang tua dan guru berbagi cerita tentang anak tersebut dan akupun demikian. Guru si K menceritakan bagaimana si K selama google meet berlangsung dan aku juga menceritakan apa yang si K masih sulit untuk mengerti (tentu pelajaran PPKN dan Agama seperti yang aku tulis di postingan kemaren) dan bagaimana situasi si K di rumah selama pembelajaran online ini. Benar-benar ya, tahun 2020 ini kita orang tua dipaksa untuk ikut andil besar dalam pendidikan anak-anak kita. Yang dulu bisa menyerahkan sepenuhnya kepada sekolah tahun ini gak bisa. Paling tidak aku sebagai orang tua belajar, belajar bertanggungjawab penuh untuk pendidikan si K. Semoga di Primary 1 ini mendaji pondasi dasar bagi aku untuk mendapinginya sampai jenjang jenjang berikutnya hingga dia mandiri saat dewasa.

Ok, segini dulu kali ya ceritanya. Sebenarnya aku mau ceritakan tentang isi dari rapor si K yang menurut aku unik karena ada dua rapor yang dibagikan yaitu rapor dari sekolah dan rapor versi kemendikbud. Tapi karena postingannya udah kepanjangan juga jadi dipostingan selanjutnya aja ya.

 

bye.

[Review Drakor] Record of Youth


Haiii, hallooo apakabar semuanya? Balik lagi dengan si Irni yang mereview drama korea. Tapi kali ini agak beda karena langsung cuss nulisnya di blog aja. Ternyata nulis review drakor di IG itu gak terlalu menyenangkan seperti di Facebook yak, hahaha. Eits, tapi aku gak kangen dengan facebook kok. Rasanya hidup aku lebih damai kalau cuma main IG aja. Itupun aku tim mute dan block loh, hahaha. Kalau kalian tim sakit hati atau tim mute?

Kali ini aku mau nulis review tentang drama korea yang beberapa bulan lalu aku tamatin nontonnya. Ya seperti judulnya seh aku akan review drama terbarunya Park Bo Gum sebelum dia berangkat wanmil yaitu Record of Youth. Btw, jadi inget cerita di drama ini tuh tentang artis yang galau dengan wajib militernya. Jangan-jangan si PBG milik drama ini karena line ceritanya mirip sama hidupnya yak, ya walaupun secuil aja, hahahaha.

Nonton drama ini awalnya karena orang-orang pada heboh tentang drama yang mengejar mimpi. Tahu lah yak, drama kejar mimpi ini lagi hits di korea sono. Pokoknya drakor sekarang jauh deh dari chaebol yang mencintai orang miskin dan tidak direstui orang tua laki-laki. Nontonnya jadi lebih semangat gitu!Sa Hye Jun (Park

Sa Hye Jun (Park Bo Gum) dan Won Hae Hyo (Byeon Woo Seok) adalah teman dari semasa mereka SD karena tinggal dilingkungan dan bersekolah di sekolah yang sama. Mereka juga memiliki kesamaan karir, yaitu sama-sama seorang model dan tengah berusaha untuk bisa masuk ke industri drama. Walaupun secara kemampuan mereka mirip, akan tetapi perjuangan mereka sangat berbeda satu dengan yang lainnya. Hae Hyo yang merupakan anak dari keluarga kaya mendapatkan support penuh dari keluarganya, terutama dari ibunya. Dia masuk ke agensi yang besar, dia juga bisa fokus mengurusi karirnya tanpa sibuk berfikir mencari tambahan penghasilan.

Jauh berbeda dengan Hye Jun. Dia berasal dari agency kecil yang bosnya sangat jahat. Beberapa kali bos dari agencynya tidak membayar jasanya saat peragaan busana. Hasilnya Hye Jun keluar dari agency dan beberapa lama tidak memiliki agency sama sekali. Dilain pihak, keluarga Hye Jun tergolong miskin, ayahnya adalah tukang borongan yang memiliki banyak hutang dikarenakan kakeknya yang dulu sering ditipu orang, ibunya adalah asisten rumah tangga di rumahnya Hae Hyo, kakaknya yang dari universitas Seoul juga baru saja bekerja disebuah bank lalu tertipu oleh agen perumahan. Karena itulah selain model, Hye Jun memiliki beberapa pekerjaan paruh waktu seperti kerja direstoran dan pengaja minimarket.

An Jeong Ha (Park So Dam) adalah seorang asisten penata rias. Dia adalah anak dari keluarga broken home. Ibunya menceraikan ayahnya karena menganggap ayahnya malas dan tidak mau bekerja, lalu menikah lagi. Tapi bukannya hidup lebih enak, dia malah mendapatkan suami lebih buruk dan memiliki banyak hutang yang kahirnya selalu meminta uang dari Jeong Ha. Jeong Ha sejak beberapa tahun adalah fans Hye Jun dan suatu hari, ketika dia dijak oleh salonnya untuk ikut event makeup untuk peragaan busana, diapun kemudian bertemu dengan Hye Jun untuk pertama kalinya.

Awalnya dia menyangkal bahwa dia adalah fans Hye Jun, tapi karena Hye Jun merasa nyaman dengan Jeong Ha, akhirnya mereka sering bertemu dan berpacaran. Saat mulai berpacaran dengan Jeong Ha, karir Hye Jun sedikit demi sedikit membaik. Diapun kemudian mendapatkan agency kecil yang sangat mendukung karirnya.

Tapi seiring bertambahnya kepopuleran Hye Jun, masalah baru timbul. Bahwa dia dan Jeong Ha tidak memiliki banyak waktu lagi untuk bersama. Jeong Ha pun ingin berusaha juga mengembangkan usahanya agar lebih besar daripada sekarang.

Lalu, dapatkah mereka bersama sampai mau memisahkan? ๐Ÿ˜›

***

Episode-episode awal drama ini sangat menyenangkan yak. Kerasa banget perjuangan Hye Jun meraih mimpinya yang kok rasanya jalannya sangat terjal dan berliku. Awalnya aku sempat berfikir bahwa drama ini realistis yang mengakibatkan gak mungkin lah dia sukses di dunia hiburan ini. Mana lawannya adalah temannya yang kaya raya lagi kan. Follower sosmed aja bisa dibeli! Pas tes popularitas, dia udah kalah duluan.

Tapi makin memasuki episode pertengahan dan episode akhir kok ya rasanya ini ya tetep another romantic drama korea aja seh. Yang membuat mimpi anak muda bahwa cita-cita dapat diraih karena usaha keras. Karena bagi aku yang udah tua gini, untuk seorang anak sukses dan merubah status hidupnya dari miskin ke kelas menengah, atau kelas menengah ke menengah atas itu sangat sedikit loh, bisa dibilang gak lebih dari 1% aja di dunia nyata.

Yang disayangkan adalah, karena di awal episode udah kuat banget cerita dan karakternya, tapi lama-lama kok tya berasa drop gitu. Kisah keluarganya gak dibahas tuntas, kenapa dia benci sama ayahnya. Kenapa benci sama ayahnya tapi gak benci sama mamanya atau kenapa kakaknya yang selama ini gak akrab dengannya tapi tiba-tiba sok jadi membela adiknya. Dari segi percintaan juga gak dibahas tuntas, bagaimana perjuangan mereka untuk mempertahankan statusnya, langsung breg aja gitu kalau kita gak bisa meraih mimpi bersama ya udah bay!

Terus yang paling aneh menurut aku adalah kisah sahabatan trio Hye Jun, Hae Hyo dan Jin U. Merekakan sahabatan dari kecil ya dan setiap haripun masih kumpul ngobrol atau bertemu buat minum. Tapi kok ya terasa kaku gitu. Jin U yang berpacara sama aduknya Hae Hyo masih takut-takut cerita. Hye Jun yang sukses kemudian membuat Hae Hyo kesal dan lalu menjauhinya. Akrabnya kurang kerasa gitu loh.

Jadi, jadi, siapa yang udah nonton ini juga? Gimana-gimana pendapatnya?

 

7/10

 

bye.

Sosial Media


Kalau ada yang ngefollow aku di instagram, mungkin pernah baca story aku yang sempat menyebutkan bahwa aku pada bulan Agustus memutuskan untuk mendisactivekan akun Facebook aku. Sebenarnya, ini bukan pertama kali terjadi seh. Aku udah pernah disactive akunnya beberapa tahun yang lalu selama setahunan lebih gitu. Alasan aku tahun kemaren disactive adalah karena teman, hahaha. Gak ada spesifik satu teman seh, tapi seingat aku, aku males banget baca status-status teman-teman aku (karena dulu facebookan isinya temen-temen dunia nyata aja gitu). Ini mungkin ada nyambung dengan aku yang introvert ditulisan aku sebelumnya kali ya, hahaha.

Terus, pas masuk kerja awal-awal aku sangat bersyukur aku gak punya FB karena aku jadi gak bersusah payah saling berteman di sosial media sama teman kerja. Aku (sampai sekarang juga seh sebenarnya) paling gak suka loh berteman dengan orang dunia nyata (apalagi teman kantor) di sosial media. Kalau ada yang perhatikan (ya kali ada Niee! ๐Ÿ˜› ) aku itu paling males ngomongin kerjaan di sosial media manapun. Sampai pada tahap aku gak mau ada yang tahu aku kerja di mana karena biasanya yang tahu aku kerja di mana bakalan minta bantu dan merepotkan aku sendiri, huahahaha. Sekarang aja aku wanti2 sama keluarga inti aku bahwa jangan bilang si Irni kerja di mana. Karena aku gak mau repot ๐Ÿ˜›

Aku gak tahu waktu pastinya kapan aku mulai main Facebook lagi, seingat aku, alasan aku main lagi adalah karena aku sedang mencari “teman” baru untuk di blog ini, dan komunitas blog pada saat itu banyak yang basenya di facebook. Karena itulah aku mulai aktif dan malah keterusan! Keterusan ini maksudnya adalah bukan hanya disana untuk blog gitu loh, tapi malah tambah teman kantor, tambah riuh dan malah aktif setiap hari di sana, hahahaha.

Aku gak bisa pungkiri seh emang facebook itu asyik banget buat aku. Apalagi semenjak aku ikutan komunitas blog itu, walaupun banyak yang cuma berteman dan lalu menghilang begitu aja tanpa saling nyapa, tapi beberapa orang yang aku temui di facebook (terutama yang blogger) ternyata sangat asyik tulisannya untuk diikuti. Sebut saja yang paling aku suka itu Olenka yang sering membahas traveling dan politik dunia, mbak Ade Komalasari yang sering membahas tentang Family dan pendidikan, terus ada lagi mbak Iin yang suka aja lihat dia ceirta tentang keluarganya. Dan yang paling aku sukai dari facebook adalah saat aku masuk ke komunitas traveling. Isinya penuh dan bermanfaat banget. Di luar dari status teman dunia nyata yang aku masih gak suka, aku sangat menyukai timeline Facebook aku yang kaya, sampai korona menyerang!

Menyukai timeline Facebook yang aku maksudkan ini adalah karena menurut aku, aku sudah sangat memfilter status orang yang ingin aku baca. Kalau aku gak suka aku langsung unfollow, kalau terlalu sayap kiri atau kanan aku langsung unfriends. Aku gak perduli seh mau kenal atau gak kalau gak suka ya gak suka. Urusan dunia nyata sama urusan media sosial aku pisahkan benar karena aku maunya buka Facebook ya bersenang-senang. Timeline aku sebersih ketika ada dua kubu politik hampir yang gak ada membahas gito loh. Tapi ternyata politik kalah sama corona, hahahaha. Semenjak maret tetiba semua membahas corona, aku juga seh gak tahan juga buat gak bahas, hahahaha.

Pembahasan corona ini terlalu luas -DAN- terlalu sempit disaat yang bersamaan. Aku gak usah lah bahas itu lagi karena capek, hahahaha. Semenjak itu timeline FB udah gak semenyenangkan dulu lagi. Group travelingpun awal-awalnya pada bertengkar antara yang pengen liburan sama yang gak setuju ada yang liburan dan bawa “penyakit” ke Indonesia. Lalu lama kelamaan groupnya mati suri. Si Olenka yang aku paling suka baca tulisan dan ceritanya setiap hari (apalagi dia ini aku follow dari jaman di Malaysia sampai dia pindah ke UK) terus berubah haluan jadi jualan daster. Ya gak masalah seh dia jualan daster, tapi menurut aku facebooknya udah gak semenarik dulu. Orang-orang juga pada saling berpendapat dan gak ada yang mau mengalah.

Maka dari itu, karena aku udah merasa Facebook udah gak asyik, dan sebenarnya dari dulu aku pengen mengurangi sosial media tapi gak bisa, jadi inilah saat yang tepat aku mengundurkan diri dari Facebook. Beneran pas aku disactive aku gak ada keraguan dan gak ada kangen-kangennya gitu mau buka lagi. Sep deh aku bisa lepas dari 1 sosial media lainnya setelah twitter, hahahahaha.

Tapi ternyata, gak sampai di sana. Aku tutup Facebook, eh malah aktif (semakin aktif banget gitu loh maksudnya) di Instagram! Hahahaha. Dulu ya, aku lihat instagram itu sekali sekali doang kalau udah bosan sama facebook. Jadi Facebook tetap sosial media utama aku. Tapi karena udah gak di FB malah setiap hari bukan instragram dan setiap hari post story.

Aku sampai mikir gitu loh, kok aku ribut banget di IG, padahal mah gak ada yang melarangย  juga kan? Hahaha. Tapi untuk aku pribadi aku sendiri gak suka. Sama seperti di facebook, walaupun aku gak suka mah tetap aja aku aktif terus dan rasanya gak akan mungkinlah aku berenti satu hari gak buat status di IGS. Sampai akhirnya minggu lalu aku merasa bosan dengan Instagram!

Gak tahu kenapa bolak balik aku buka kok ya bosan banget ya lihatnya. Apa karena aku terlalu sering menggunakannya gitu loh? Tapi aku tangkap kebosanan itu dengan inilah saatnya si Irni menemukan momen untuk mengurangi sosial media lagi. Jadilah senin pagi kemaren aku putuskan untuk menghapus aplikasi Instagram hingga hari ini. Rencananya seh seminggu aja dihapusnya, tapi kalau aku lihat aku ok-ok aja gak ada instargram dan gak kangen mungkin akan aku lanjutkan, hahahaha.

Rencananya adalah aku akan buka instagram aku (setelah seminggu gak buka sama sekali) di komputer aja. Jadi aku bisa tetap dapat update informasi terbaru. Aku tuh takut kelewat update info drama korea terbaru gitu loh, huahahahaha. Yang lain seh aku gak juga difikirkan. ๐Ÿ˜›

So, begitulah cerita tentang aku dan sosial media sekarang. Kelihatan banget seh aku lebih produktif saat gak ada sosial media. Produktif nonton drama korea maksudnya, huahahahaha. Aku juga kalau ada waktu luang main sama K dan nonton film-film Indonesia yang ada di Netflix. Ternyata ya lumayan emang filmnya, walaupun kalau ada di bioskop tetap gak bakalan aku tonton seh, huahahaha. Jadi kemaren aku ada nonton Aruna dan Lidahnya sama Antologi Rasa. Ntar kapan-kapan kalau gak males aku mau bahas lah di sini dua film itu.

 

bye.

Gak Punya Teman


Haiii, Hallo, apakabar semuanya? Pada sibuk apa seh aku penasaran, hahahahaha. Biasanya kan tahun baru gini lagi mikirin mau liburan ke mana gitu kan? Tapi tahun ini kan beda ya, dan mau rencanain untuk tahun 2021 juga masih ragu dan takut kecewa jadi kalau aku cuma berasa kayak robot hidup dari hari ke hari ngulang terus tanpa rencana, hahahaha.

Tulisan kali ini, aku mau menceritakan unek-unek aku selama ini seh. Tentang teman. Pertama, aku mau tanya sama yang baca di sini, kalian punya banyak temen gak seh? Temen yang dari kecil gitu, bisa dari SD/SMP/SMA yang udah tua gini (TUAAA) masih tetap rutin bersama, kumpul bareng gitu atau sekedar masih rutin chats dengan intens?

Untuk aku sendiri, jawabannya adalah : GAK ADA! Hahahaha.

Aku tuh sebenarnya punya banyak teman waktu di SD atau SMP, SMA bahkan kuliah. Tapi ya sekedar temen aja gitu loh. Dari SD setelah pindah ke SMP yang notabene aku satu-satunya yang berasal dari SD aku, praktis temen SD udah gak pernah ngobrol dan jarang ketemu. SMP ke SMA pun gitu, karena temen akrab aku dulu gak ada yang masuk ke SMA yang sama, jadinya jarang ketemu juga dan udahlah pisah aja. Dulu juga gak ada aplikasi whatsapp atau telegram dan segala macam ya, jadi harus pake SMS atau telpon yang ribet banget gitu, huahahaha.

Di kuliah juga aku punya banyak teman, tapi ya gitu deh. Kalau ketemu lagi seh emang seru banget ya, tapi itu jarang banget lah kejadiannya. Jadi hari hari aku lebih ke yang sendirian gitu aja sama keluarga.

Sebenarnya, aku gak pernah bosan seh sendiri atau gak ngumpul sama teman gitu. Aku selalu suka sendirian, dan sekarang juga aku gak pernah sendirian sama sekali kan yak. Selalu ada si K di rumah yang menemankan dan ada si abang suami juga.

Cuma ya, dari jaman aku kuliah, kerja dan bekeluarga sampai sekarang aku selalu iri kalau lihat teman-teman aku yang bisa kumpul-kumpul sama teman-teman lainnya. Gak tahu kenapa ya, kok aku bisa iri gitu. Padahal kalau diajak juga aku ogah karena kumpul dan bertemu dengan temannya teman itu gak banget untuk aku. Aku ada ketakutan nanti mau ngomong apa? Terus kalau aku nanti gak asyik gimana? Bahkan sampai aku merasa gak pede dan malu gitu loh.

Udah tahu aku gak bakalan nyaman buat ketemu orang dan hal yang paling nyaman buat aku adalah di rumah sendiri, tetap aja kalau lihat teman-teman aku kumpul bareng aku iri, hahahaha. Irinya sampai kalut gitu loh dan akhirnya berujung aku unfollow temen temen aku gak gak terlalu akrab gitu, kalau teman akrab akunya hide storynya, huahahahaha.

Dari dulu aku udah sadar seh kalau aku ini tipe orang introvet. Aku gak bisa tuh ketemu orang baru terus bisa memulai percakapan. Aku lebih suka diam dan mengamati orang daripada harus berbasa basi sama orang yang duduk disebelah. Cuma aku masih kalut gitu loh, iri lihat pertemanan orang, tapi gak suka juga kalau harus bertemu teman setiap hari karena merasa ribet dan kalau ada waktu mending di rumah aja nonton TV atau main sama K gitu loh. Jadi, aku pastikan ini penyakit banget lah yang harus disembuhkan.

Usaha pertama aku untuk menyembuhkannya adalah aku harus berani mengakui ke diri aku sendiri bahwa aku emang iri. Dulu mah boro-boro ya, sok-sokan asyik gitu padahal mah iri aja. Setelah aku bisa terbuka dengan diri aku sendiri, tahapan selanjutnya adalah aku ingin mengurai permasalahannya. Kenapa aku iri? Lebih tepatnya, kenapa aku bisa iri dengan orang-orang yang punya teman yang bisa selalu main bareng dari kecil sampai sekarang gitu? Jawabannya udah jelas lah ya, karena aku gak punya, aku gak ada teman yang bisa secara rutin jalan bareng, atau sekedar ulang tahun yang datang ke rumah untuk kasih sureprice dan segala macamnya. Aku gak punya teman seperti itu. Lalu aku uraikan lagi, memang aku segitu gak punya teman kah?

Kalau pertanyaan seperti ini sebenarnya aku punya temen loh. Temen aku yang sekarang hari-harinya adalah temen kantor aku. Aku punya banyak temen dari kantor aku yang pertama, aku juga punya teman akrab dari kantor aku yang kedua, aku bahkan punya temen kantor yang intens yang bisa membahas gosip apapun di kantor aku yang ketiga dan terakhir sekarang. Kami masih instens chats bareng, kami masih bisa jalan bareng atau makan siang bareng, bahkan kami ada hobi yang sama dan tentu kami bisa ngobrol yang panjang lebar tanpa takut kehabisan hal yang bisa dibicarakan.

Lalu, kenapa aku iri sama hal yang emang aku gak punya? Maksudnya gak punya teman SD-SMP-SMA atau kuliah yang maish rutin ketemuan? Padahal aku punya dengan hal yang berbeda? Lagian berteman itu emang gak bisa dipaksain kan yak?

Terus, beberapa hari belakangan ini aku juga sering menonton YT tentang minimalis dan produktifitas. Ternyata, hidup minimalis gak cuma tentang barang aja, tapi juga fikirian bahkan teman! Lalu Raditya Dika pernah dengan bangganya berbicara kenapa dia terlihat santai tapi tetap bisa produktif ya karena dia gak punya teman! Gak punya teman itu maksudnya gak ada teman nongkrong gitu loh. Dan ini bukan cuma dia, tapi orang orang lain juga. Jadi bukan hal yang aneh jika gak punya teman itu. Dengan lo gak punya teman yang harus nongkrong setiap saat, lo punya banyak waktu untuk bekerja, lo punya banyak waktu untuk keluarga, bahkan lo punya banyak waktu untuk diri lo sendiri! Itu diri sendiri udah diajak ngobrol belom dari hati ke hati biar gak iri lagi sama kehidupan orang lain? *ngomong sama kaca*

Balik lagi soal aku yang iri dengan orang yang bisa punya teman banyak dan instens. Ternyata, ada hal di dalam diri aku yang takut kalau aku yang gak punya teman ini akan menjadi orang aneh gitu loh. Aku takut aku termasuk orang yang gak kece atau terlihat keren dimata orang lain karena gak punya teman seumuran sepergaulan. Kok manusia gak punya teman seh?

Tapi ternyata, setelah aku telaah lebih dalam, banyak juga kok manusia-manusia di dunia ini yang gak punya teman. Yang kalau ada masalah gak curhat dan difikirkan sendiri. Yang kalau pengen ke mall atau belanja lebih menikmati sendiri karena akan lebih cepat dan gak capek. Yang kalau mau makan tinggal pesan gojek makan sendiri. Dan manusia itu, manusia seperti aku itu gak aneh! Hahahaha.

So, mungkin ini emang permasalahan aku. Permasalahan yang sudah diujung dan menurut aku sudah ada titik jalan terangnya. Karena udah aku fikirkan dan terbuka sama diri aku sendiri. Tapi mungkin ada yang baca tulisan gak penting aku ini dan merasa relate, hey! kamu gak sendiri loh. Bahwa kita menyukai kesendirian, ketenangan, kepraktisan dan merasa ribet dengan keramaian, gak bisa ngobrol sama orang itu ya biasa aja. Masih termasuk manusia normal lah, hahahaha.

bye.

Karakter Para Pemain Start UP


Haaiiii, Hallloooo, apakabar semuanya?

Akhir tahun lagi pada ngapain neh? Ada rencana liburan atau masih tetap di rumah aja? Aku sendiri sampai sekarang gak ada rencana yang pasti seh. Cuma pengen adalah kegiatan dikit tapi sampai sekarang belum menutuskan itu apa, hahahaha.

Daripada bete sendiri dengan tahun 2020 ini yang buat rencana aja susahnya setengah mati, maka lebih baik kita arahkan saja energinya ke Drama Korea yang sedang sangat populer sekarang ini. Apalagi kalau bukan Start Up! Tadi malam bener, drama ini baru banget tamat. Aku sendiri udah menamatkan drama ini tadi pagi sebelum memulai aktivitas, huahahaha. Dan sebagai #TimDosan aku anggap ini drama happy ending lah yak *puk-puk #Timjipyeong*

Karena gak mau seperti tulisan review aku biasanya, maka kali ini aku mau membahas tentang empat karakter utama dari drama ini. Tentu dengan pandangan aku sendiri yak, bukan pandangan penulis apalagi netijen yang sekarang sangat terpecah belah ini. Makanya aku gak tulis judulnya review juga karena sepertinya semua orang udah nonton ini drama deh. Udah tahu lah yak secara garis besar jalan ceritanya.

Maka, yuks langsung aja kita mulai yuks!

Seo Dal Mi (Suzy)

Si ambis yang penuh dendam ~

Seo Dal Mi adalah seorang perempuan berumur 27 tahun yang hidup bersama dengan Neneknya. Sewaktu kecil dia memiliki keluarga yang lengkap bersama ayah, ibu dan kakak perempuannya bernama In Jae. Tapi karena ayahnya yang keluar dari perusahaan dan ibunya yang menganggap dia tidak bertanggungjawab dan lalu bercerai, maka terpisahlah dia dengan keluarganya. Dia bersama ayahnya dan kakaknya bersama ibunya. Ibunya kemudian menikah lagi dengan seorang pria kaya dan pindah ke Amerika. Sedangkan ayah Dal Mi berusaha merintis perusahaan akan tetapi kemudian meninggal karena kecelakaan.

Karena kasihan dengan Dal Mi yang tidak memiliki teman, Neneknya kemudian meminta Ji Pyeong, anak yang diasuhnya untuk bersurat dengannya agar dia memiliki teman dan tidak bersedih. Lima belas tahun kemudian, Dal Mi menjadi karyawan kontrak di satu perusahaan dan masih sangat ingin bertemu dengan Do San yang mengiriminya surat.

Walaupun aku #TimDosan, tapi dalam lubuk hatiku yang terdalam *halah* aku sebenarnya beneran terbuka loh sama karakter dalam drama ini. Gak pernah sedikitpun pas nonton aku mengelu-elukan salah satu karakter, baik itu karakter first lead maupun secondlead. Karena itulah mungkin aku berani nulis bedah karakter gini karena aku gak mihak ke karakter apapun di drama ini. Membuat aku nonton lebih lepas dan menertawakan jika salah satu karakter salah memilih.

Seo Dal Mi sendiri adalah pemeran utama wanita di drama ini. Biasanya, kalau aku suka nonton drama, aku akan membela mati-matian karakter utamanya. Karakter utama selalu benar, karakter pendamping selalu salah dan hanya dibuat untuk menghambat kehidupan si karakter utama. Nyatanya, bisa juga loh karakter utama itu gak selalu benar, ya contohnya si Seo Dal Mi ini.

Awal-awal dramanya di mulai, banyak yang pro Dal Mi, mengasihinya dan membenci kakaknya yang telah meninggalkan dia sendirian bersama ayahnya yang ujung-ujungnya meninggal dan membuat dia hidup miskin bersama neneknya. Apalagi, pas awal episode 1 ada adegan yang membandingkan kehidupan Dal Mi dan In Jae yang sangat jauh berbeda. Dal Mi yang bangun di rumah yang sederhana sedangkan In Jae di Amerika dan di apartemen mewah. Dal Mi yang tidak punya baju yang pantas dan In Jae punya satu ruangan khusus untuk tempat pakaiannya. Dan Dal Mi yang terburu-buru naik bus sedangkan In Jae mengendarai mobil mewah.

Lalu pertanyaan aku adalah, apa salahnya In Jae? Hidup seperti itu adalah pilihan Dal Mi secara sadar maka seharusnya sebagai manusia dewasa yang berumur 27 tahun, dia sudah bisa menyadari hal itu dan tidak hanya melihat dari sudut pandang kesuksesan orang lain tanpa menilik usaha apa yang telah dilakukan In Jae selama ini. Dari sini aja kelihatan banget Dal Mi dendam sama In Jae karena iri dengan kehidupan kakaknya yang lebih mapan dan terlihat bahagia.

Sikap Dal Mi yang pendendam, berpengaruh juga terdapat keputusan-keputusan yang dibuatnya di dalam hidupnya. Misalnya saja, dia langsung berhenti dari pekerjaannya karena dia tidak dinaikkan statusnya dari pegawai kontrak ke pegawai tetap. Dia juga ikut mendaftar Sand Box tanpa tahu bisnis proses apa yang ingin dikembangkannya. Untungnya (karena cerita) dia bertemu dengan SamSan yang adalah para jenius dan Sa Ha yang memang punya ilmu design.

Dal Mi yang tidak punya pengalaman di industri start up selalu membuat keputusan hanya dari kepercayaan dan ingin menang dari In Jae. Ini bisa dilihat dari dia langsung percaya-percaya saja dengan Do San (sehingga memberikan saham perusahaannya dengan presentase paling besar) hanya karena Do San adalah teman dia berkirim surat. Padahal ya walaupun beneran Do San adalah beneran “Do San” kalau masalah uang, untuk aku perlu diselidiki dulu deh latar belakang orang ini, siapa keluarganya, bagaimana dia hidup selama ini dan lain sebagainya. Toh dia udah pernah dibohongi Do San yang sok jadi orang kaya, tapi masih ada percaya juga.

Keputusan SamSan Tect mau diakuisisi oleh 2STO juga karena Dal Mi tidak mau kelihatan kalah oleh In Jae yang akhirnya ya karena kesombongannya dan tidak mau mendengar pendapat orang lain, perusahaan mereka malah jadi bubar.

Untuk aku, sisi baik Dal Mi hanyalah dia yang sangat sayang dengan neneknya walaupun yang aku lihat neneknya yang lebih mengayomi Dal Mi daripada sebaliknya. Jadi aku juga bingung kenapa Do San bisa suka dengan Dal Mi padahal mah orangnya biasa aja ๐Ÿ˜› pendapat aku hanya karena Dal Mi cantik aja seh, kalau gak pasti udah bay! Huahahahaha

Nam Do San (Nam Joo Hyuk)

Manusia yang beruntung ~ hahahaha.

Do San adalah seorang jenius yang memiliki perusahaan bernama SamSan Tech yang didirikan bersama kedua temannya, Yong San dan Chul San. Awalnya, dia tidak ada hubungan sama sekali dengan Dal Mi. Akan tetapi suatu saat, Ji Pyeong menghampirinya untuk berpura-pura menjadi “Do San” sang pengirim surat untuk bertemu Dal Mi. Awalnya Do San tidak mau membantu Ji Pyeong, tapi setelah membaca surat-surat yang dikirimkan Dal Mi, dia jadi sangat ingin bertemu dengan Dal Mi. Diapun akhirnya menyukai Dal Mi saat pertemuan pertamanya ๐Ÿ™‚

Satu-satunya pemeran, yang masa kecilnya tidak diceritakan pada episode pertama adalah Nam Do San. Aku berfikir, mungkin karena terlalu kuatnya cerita Ji Pyeong diepisode 1 inilah orang-orang udah kepincut sama dia. Apalagi karakter dia waktu kecil udah kelihatan ganteng nan tampan kan yak dibanding Do San yang hanya sekelebat figuran di TV dan koran aja. Terus mukanya juga masih anak kecil banget.

Do San di sini diceritakan anak yang pintar luar biasa. Dia sewaktu kecil menang olimpiade matematika dan menjadi pemenang termuda saat itu. Walaupun pada akhirnya ketahuan bahwa dia “menyontek” akan tetapi toh emang pinter kan dia, bahkan sewaktu SD aja bisa masuk kuliah tapi berenti karena gak enakan sama yang lebih tua.

Dia juga adalah tipe manusia yang hidupnya lurus-lurus aja. Diluar dia tidak kaya raya seperti Ji Pyeong, dia adalah manusia yang kehidupannya dipengenin banyak orang. Lahir dari keluarga yang bahagia, orang tuanya baik, keluarga besarnya selalu mendukung, bahkan punya hubungan baik sama sepupunya kan sampe dikasih saham 1% aja gitu. Udah dari keluarga bahagia, eh jadi anak pintar pula. Jadi kebanggaan orang tua walaupun ujung-ujungnya merasa itu adalah beban. Tapi orang tua Do San yang membanggakan anaknya adalah sebanyak-banyaknya orang tua yang ada di dunia inikan yak? Jadi ya gak ada masalah juga menurut aku.

Hidupnya lurus bahkan waktu kuliah banyak cewek yang suka sama dia, tapi dianya aja yang gak ngeh jadinya gak respon. Terus ketemu sama teman rasa sodara, Yong San dan Chul San yang selalu mendukung apapun keputusan Do San. Gak pernah menyalahkan satu sama lain, kalaupun gak suka ya udah langsung marah seketika gak pake malu-malu.

Pas ketemu Dal Mi pun dia langsung disukai aja gitu tanpa ba bi bu, walaupun dikasih “kulit” orang kaya tapi ya kalaupun Do San apa adanya ya gak ada yang memalukan juga toh?

Walaupun banyak yang bilang Do San ini gak punya kepribadian karena gak tahu apa yang dia inginkan, tapi menurut aku Do San ini tegas kok. Sekali dia suka sama Dal Mi, dia ngakuin bahwa dia suka. Dia memberikan perhatian yang lebih kepada Dal Mi. Dia juga menjadikan Dal Mi “orang pertama” dalam hidupnya yang selalu keperluannya didahulukan.

Do San juga orang yang sangat jujur karena ya dia orang pertama yang bohong dan gak tahan dengan kebohongan yang dia buat. Bayangkan Ji Pyeong dan Neneknya aja bisa bertahan berbohong selama 15 tahun lebih loh. Tapi dia gak. Terus pas nenek Dal Mi menyuruhnya diam saat tahu matanya akan buta, Dol San memilih menceritakan itu walaupun bisa berakibat dia dibenci oleh nenek Dal Mi. Tapi yang namanya jujur itu lebih baik seh yak.

Mungkin karena hidupnya yang mulus-mulus aja dan selalu beruntung dan jujur, jadi orang banyak yang gak respect sama Dol San dan jadi #timjipyeong ya. Tapi ya menurut aku, apa salahnya menjadi orang yang beruntung? Paling gak dia juga berusaha kok gak cuma diam dan tidak melakukan apapun dihidupnya.

Han Ji Pyeong (Kim Sun Ho)

Orang yang selalu berhati-hati dan curigaan

Han Ji Pyeong adalah seorang anak yatim piatu yang sangat memiliki bakat dengan keuangan dan investasi. Ini dibuktikan dengan dia yang memang lomba simulasi investasi saham. Saat dia berusia 17 tahun, dia yang sudah keluar dari panti asuhan tidak memiliki tempat tinggal untuk melanjutkan hidupnya. Saat dia tidak tahu harus kemana, diapun bertemu dengan Neneknya Dal Mi yang memberikannya tempat tinggal ditoko miliknya.

Saat Ji Pyeong tinggal di tokonya itulah Nenek Dal Mi memintanya untuk menjadikan dia teman Dal Mi dengan memberikannya surat yang akhirnya dilakukan mereka selama setahun sebelum Ji Pyeong pergi ke Seoul untuk melanjutkan kuliah.

Gak salah juga karakter Han Ji Pyeong dibuat seperti itu. Ya mau berharap bagaimana dengan anak yatim piatu yang gak pernah mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tua? Bahkan aku bisa relate sama perasaan Ji Pyeong sama nenek Dal Mi yang selalu merasa berhutang karena pada saat dia gak tahu mau ke mana dan gak ada orang yang bisa diandalkan cuma Nenek Dal Mi yang ada dihidupnya. Apalagi dia memanfaatkan uang nenek Dal Mi untuk diinvestasikan agar dia bisa dapat uang untuk kuliah.

Cerewetnya Ji Pyeong dan diamnya Ji Pyeong adalah salah satu bentuk pertahanan dirinya kepada dunia yang kejam agar dia tidak dijahati oleh orang lain. Kalau Dal Mi dijahatin bisa misuh-misuh sama Neneknya, kalau Do San sedih bisa minta pendapat orang tuanya, lah kalau Ji Pyeong? Hanya Young Sil saja yang bisa tahu perasaannya ๐Ÿ˜›

Ji Pyeong bukanlah Jung Hwan yang banyak alasan dan tidak pernah berani menyatakan cintanya kepada Dal Mi. Dia sudah mengaku di depan nenek, dia pernah mengaku di depan orang antah brantah yang ditemuinya saat minum, dan dia dengan gentle juga sudah mengakui perasaannya di depan Dal Mi. Masalah tiga tahun dia bersama Dal Mi tapi gak ada kemajuan ya bukan masalahnya dari dia dong. Emang Dal Mi nya aja yang sudah menutup diri untuk menyukai orang lain selain Do San.

Dengan Ji Pyeong tidak terlalu menunjukkan perasaannya kepada Dal Mi sekuat mungkin, ini juga berdampak pada rasa sakit yang diterimanya juga tidak akan terlalu besar. Bayangkan aja kalau selama ini dia mepet Dal Mi terus-terusan lalu si Dal Mi tetap milih Do San, bagaimana itu hatinya terpotek-potek?

Tapi walaupun begitu, Ji Pyeong adalah manusia realistis yang baik hatinya. Walaupun dia tidak menjadi pilihan bagi orang yang dia sukai, tapi tetap saja dia memberikan masukan yang baik demi kemajuan saingannya. Bener-bener manusia berdada lapang.

Won In Jae (Kang Han Na)

In Jae adalah impian hidupku, huahahahahaha.

Won In Jae adalah kakak kandung Seo Dal Mi. Sewaktu kedua orang tuanya bercerai, dia kemudian memilih mengikuti ibunya yang akhirnya menikah lagi dengan seorang konglomerat. Dia akhirnya memiliki pendidikan tinggi yang bagus dan berkesempatan memimpin anak perusahaan milik ayah angkatnya.

Sedih banget sebenarnya karakter In Jae ini tidak diberikan banyak tempat di Start Up. Terutama tentang kehidupan pribadinya. Bagaimana kehidupannya bersama ibunya setelah memiliki ayah tiri. Bagaimana perjuangannya dengan belajar sampai bisa memimpin anak perusahaan ayahnya. Terus gak dikasih tentang kehidupan percintaan gitu? Sungguh ya writternim kejam sama In Jae melebihi kejamnya dengan Ji Pyeong!

Menurut aku ya, In Jae adalah orang yang selalu tepat mengambil keputusan dalam hidupnya. Dia memilih ibunya daripada ayahnya karena terlihat ibunya lebih tahuย  mau menjalani hidup yang seperti apa. Walaupun tidak diceritakan tentang masa kecilnya bersama ayah tirinya, tapi jika dilihat dari hasil kerjanya yang akhirnya memimpin anak perusahaan ayahnya, sudah pasti dia adalah anak yang berprestasi dan memiliki jiwa pemimpin.

Pun keputusannya ketika akhirnya keluar dari perusahaan ayah tirinya dan hidup mandiri, dia memiliki visi yang jelas dalam mendirikan perusahaannya. Kejelasan visinya ini terlihat dengan karyawannya yang ikut dia keluar padahal nasibnya belum jelas. Ini menunjukkan bahwa dia adalah pemimpin yang disenangi dan disegani oleh para stafnya.

Dal Mi yang selalu aja ngomongin kalau In Jae mimilih jalan yang salah, toh akhirnya paham juga bahwa In Jae memang punya kapasitas yang besar dalam memimpin sebuah perusahaan.

Selain pintar dan memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat, In Jae juga baik hatinya. Bayangin aja ya kalau disundul dan dikatain jahat terus sama adeknya sendiri, dia tetap selalu memberikan saran dan masukan yang baik untuk Dal Mi. Pun dia sebenarnya masih sayang sama neneknya tapi karena malu aja sudah pindah nama keluarga jadi tidak berani untuk bertemu.

Kalau disuruh milih manusia sempurna di Start Up (selain nenek pastinya) udah pasti aku pilih In Jae seh. Coba aja diujung cerita ada adegan dia bertemu dengan pria tampan anak dari orang kaya yang kagum dengan penampilannya yak, pasti sempurnalah hidupnya, hahahahaha.

***

Jadi, kalian udah pada nonton Start Up belum? Tim anak baik atau tim Do San ini? Tapi aku yakin pada bukan tim Dal Mi lah yak ๐Ÿ˜›

ps: aku pengen bahas jalan ceritanya juga deh, ditunggu yak, siapa tahu aku gak males, huahahahaha.