Apakabar Dunia?


Beberapa jam ini, aku lagi bosan banget, terus tetiba pengen nulis blog. Tapi gak tahu juga mau nulis apaan. Lalulah teringat dengan judul wordpress kalau kita nulis pertama kali : hello World! Maka, akupun pengen nulis ngalur ngidul seperti menulis diary. Aku sebenarnya kangen banget nulis jurnal kehidupan, tapi udah tua gini kayaknya banyak fikiran kalau nulis terlalu “vulgar”. Mau nulis yang biasa-biasa aja sebenarnya aku kehabisan ide selama corona ini, manalah gak ada liburan sama sekali udah setahun lebih, jadi makin berasa bosan.

Nah, sesi curhat kali ini aku mau cerita tentang,

KANTOR

Udah dua bulan ini pembayaran tunjangan di kantor aku mandek. Aku secara pribadi sebenarnya gak ada masalah sama sekali. Mandeknya pembayaran tunjangan ini bagi aku cuma berakibat aku tidak bisa menginvestasikan uang aku sejak bulan februari dan maret ini. Palingan aku juga gak bisa jajan terlalu banyak, tapi kalau pengen banget jajan, aku minta uang ke suami, hahahaha. Walaupun aku gak berdampak, tapi tetap aja aku bete. Yang biasanya pegang uang terus tetiba gak pegang sama sekali itu berasa gimana ya, gemes gitu. Untungnya uang investasi aku sedikit sekali yang ada cash di tabungan, jadi tangan ini gak gatal buat ambil cuma karena pengen jajan.

Tapi, gak berdampak sama aku pribadi tentu beda dengan sebagian besar teman-teman aku yang lain ya. Kebanyakan yang berdampak adalah yang gajinya sudah habis untuk bayar cicilan dan untuk keuangan sehari-hari dari tunjangan tersebut. Ini tentu berdampak juga dengan kinerja pekerjaan. Orang-orang jadi gak konsen, fikirannya udah cari cara gimana bisa dapat uang di luar tunjangan rutin. Ada yang jualan kue lah, ada yang kerjain hal lain lah, dan banyak lagi.

Menurut aku, telatnya pembayaran tunjangan ini udah gak sehat. Seharusnya ada solusi cepat untuk menyelesaikannya. Gemesnya adalah bukan karena uangnya gak ada, tapi karena sebuah unsur yang belum dipersiapkan. Semoga aja dalam minggu ini bisa segera ada pencerahan. Karena kalau nyambung lagi sampai bulan depan, hingga tunggakan jadi 3 bulan udah gak sehat seh menurut aku.

VAKSIN

Selasa kemaren akhirnya suami dapat Vaksin Sinovac dosis pertamanya. Kenapa dapet? Karena dia kerjanya di kantor para petinggi, pas mereka dapat jatah vaksin, eh ternyata staf-stafnya juga bisa dapat, jadilah dia nyelip. Beruntung banget, hahahahaha. Setelah di vaksin, efek yang dirasakan suami adalah pegal-pegal di daerah tangan yang disuntik. Lalu keesokan harinya ngantuk seharian. Gak tahu juga efeknya per hari ini apa karena dianya belum cerita, hahaha.

Untuk aku yang bekerja di pelayanan, seharusnya udah masuk dapat vaksin di gelombang kedua seh ini ya. Tapi hilalnya gak ada kelihatan sama sekali. Dengan terbitnya peraturan vaksin gotong royong di mana perusahaan swasta bisa membeli vaksin sendiri untuk karyawannya malah di kantor kakak aku yang kayaknya dapat duluan dosis pertamanya. Kalau bisa beli aku pengen banget beli sendiri seh, lama banget soalnya nunggu antrian ini.

Yang anehnya di lingkungan aku adalah ternyata banyak banget yang gak mau divaksin! Aku gemes banget sama orang yang gak mau seh. Karena mereka mereka yang bakalan menggagalkan usaha pemerintah untuk bisa mencapai 90% penduduk divaksin.

Sayangnya lagi adalah anak-anak di bawah 18 tahun belum juga boleh divaksin karena penelitiannya belum selesai. Kalau si K udah divaksin kan lumayan ya, kami sekeluarga bertiga udah divaksin. Mudah-mudahan udah bisa saling melindungi diri satu dengan lainnya.

KABUT ASAP

Udah beberapa minggu ini di Pontianak ada kabut asap. Kabut asap ini setiap tahun terjadi. Gak boleh ada panas dikit 1-2 minggu pasti ke depannya ada kabut asap. Seingat aku dari aku SD selalu aja ada kabut asap gini. Aku bingung udah 20 tahun lebih masih ada kabutnya ada dan tidak ada perubahan sama sekali. Entah apa salahnya.

Biasanya, kalau udah kabut asap gini sekolah diliburkan. Tapi karena ini corona dan sekolah juga gak datang offline, maka si K sekolahnya ya kayak biasa aja tetap online dari jam setengah 8 sampai jam 1. Menurut aku, SFH adalah salah satu cara yang bisa diambil sekolah nantinya jika udah offline dan ada kabut asap lagi. Soalnya kalau udah kabut gini biasanya sekolah bisa diliburkan sampai 2 minggu gitu loh. Dan selama 2 minggu anak anak ya gak ngapa-ngapain. Karena udah terbiasa sekolah pake meet mudah-mudahan gak ada lagi istilah libur sekolah karena asap ya.

***

Wokey, segitu dulu curhatan dari aku. bye!

Cerita Sekolah Online Primary 1 di Kinderfield Pontianak


Sebelum bulan Juli datang, aku masih berharap bahwa anak-anak sekolah akan masuk secara offline. Kondisi Corona di Pontianak pada bulan Juli kemaren gak begitu buruk. Pertanggal 1 Juli 2020, kasus positif di Kota Pontianak cuma 4 orang aja yang aktif, bahkan di bulan Juli Pontianak juga pernah dalam posisi zero kasus corona. Melihat tren positif, aku beharap banyak dong sekolah akan masuk. Tapi ternyata gak. Keputusan bersama 4 menteri bilang yang boleh masuk hanya kota yang berada di zona hijau itupun 2 bulan pertama anak SMA, dua bulan kedua anak SMP dan dua bulan berikutnya (jika zona hijau tetap bisa dijaga) barulah anak SD. Kalau aku hitung sesuai dengan peraturan ini “jatah” anak SD masuk ke sekolah itu (jika tetap zona hijau) adalah di bulan Nopember yang mana udah masa ulangan sekolah dan ya udah ding sekalian aja masuk januari. Makanya semenjak itu aku gak berharap banyak untuk si K bisa bersekolah offline.

Karena sudah dihadapkan pada kenyataan sekolah akan tetap online paling gak sampai akhir semester 1 (bahkan jika aku menulis sekarang aku yakin kalau selama kelas 1 ini si K akan terus sekolah online, MUNGKIN baru akan mulai sekolah online saat naik Primary 2) jadi aku udah menurunkan ekspetasi. Sekolah yang dulunya aku nanti-nantikan sebagai tempat anak menimba ilmu menjadi beban berat orang tua untuk harus siap mendampingi anaknya. Aku ingat banget perkataan Mas Mentri Pendidikan waktu itu, bahwa anak-anak pasti akan sangat berdampak banget dengan kondisi sekolah online ini, dan yang paling berdampak adalah anak Sekolah Dasar awal yang harusnya menerima pondasi-pondasi pendidikan diwaktunya sekarang. Maka, anak-anak yang akan tetap unggul adalah anak-anak yang mendapatkan perhatian penuh pendidikannya dari orang tua di rumah. Karena, yang mereka temui adalah orang tua untuk tempat belajar sekarang, bukan guru-guru di sekolahnya, walaupun ada tatap muka online sekalipun.

Aku, seperti orang tua lain pada umumnya, tentu ingin memberikan yang terbaik untuk si K dong selama sekolah online ini. Dan aku tidak ingin si K menjadi salah satu anak tertinggal karena terdampak Corona, bahkan kalau bisa dia menjadi anak unggul di tengah himpitan ini. Tentu dengan penurunan ekspetasi di sana sini seperti aku gak akan mengikutkan si K lomba kompetisi online (yes, masih banyak banget kompetisi online di masa sekarang) karena si K paham dengan pelajarannya aja aku udah bersyukur banget. Dengan waktu aku yang terbatas jugaย  di mana aku gak ada waktu untuk mendampingi dia setiap hari selama online di sekolah, tapi aku akan meluangkan banyak waktu aku di sore dan malam hari untuk mengulang pelajaran dan mengerjakan tugas-tugasnya yang sehari bisa ada 2-3 tugas dari sekolah. Paling nggak, itulah usaha terbaik aku.

So, mau gak mau, suka gak suka, sekolah online tetap akan berjalan dan perjuangan harus dimulai :mrgreen:

Sebelum mulai pembelajaran online, sekolah si K mengadakan pertemuan orang tua murid dengan kepala sekolah dan guru-guru tingkat Primary 1.ย  Hal yang paling mendasar dari penjelasan oleh kepala sekolah adalah, sistem online akan tetap sama dengan waktu KGB (karena sebagian besar anak Primary berasal dari TK di Kinderfield juga) dengan menggunakan google meet dan google class. Yang membedakan adalah adanya nilai yang dikejar di Primary ini. Setiap tes, setiap tanya jawab, setiap tugas akan dinilai dan menjadi penilaian untuk rapor semesteran. Untuk penilaian akan dibagi persentasenya, Semesteran Test berapa persen, Class Test berapa persen, portopolio, tugas, presentasi, keaktifan di kelas dan lainnya. Puyeng! Karena emak harus tahu kan, biasanya aku kan terima hasil aja dari gurunya, huhuhu.

Udah pertemuan, guru-guru kelaspun langsung memberikan jadwal pelajaran online tatap muka dan online tidak tatap muka. Seperti yang aku ceritakan di postingan sebelumnya sekolah si K untuk tingkat Primary 1 itu ada 13 matapelajaran, 10 matpel itu online tatap muka dan 3 matpel itu cuma dikasih tugas-tugas aja via google class. Sekarang tugas aku adalah gimana mengkondisikan si K tetap bisa online dengan nyaman SENDIRIAN dan aku bisa kerja di kantor dengan tenang tanpa harus khawatir dia ketinggalan pelajarannya karena gak didampingi?

Pertama yang aku lakukan adalah, mengajari si K cara masuk ke google meetnya sendirian. Aku kasih tahu cara menghidupkan komputer dan laptopnya (kadang pake komputer kadang pake laptop dia) cara buka browser, aku kasih tahu cara klik apa supaya bisa menulis url di browser untuk masuk google meet dan untuk masuk google class, terus aku kasih tahu kode kelasnya (yang untungnya cuma 2 yang mana 1 untuk seluruh matapelajaran, dan satu lagi untuk khusus pelajaran moral education) dan yang terakhir adalah aku ingatin berkali-kali jadwal masuk kelas-kelasnya yaitu oukul 07.30, terus 10.15 dan 12.30. Awalnya aku telponin setiap hari saat sebelum meetnya di mulai, tapi udah semingguan dia hapal sendiri seh udah gak perlu diingatin lagi.

Diajarin gitu emangnya di rumah gak ada yang bisa bantuin Niee? Jadi ya, si K itu selama aku kerja aku titipkan di rumah mbahnya. Biasanya yang jagain si K itu mbahnya atau gak bibinya suami yang dari bayi temenin dan ngurusin makan minum gitu loh. Dan karena dua duanya udah berumur, aku gak bisa ngajarin mereka berdua seh. Aku lebih percaya si K lebih bisa aku ajarin daripada mbah dan bibi. Lagian, dengan ngajarin si K langsung, dia bisa lebih mandiri dan gak tergantung kepada siapa-siapa untuk mengurus sekolahnya. Jadi lebih bertanggungjawab sama tugas sekolahnya kan, bukan mengandalkan orang lain.

Awal sekolah online, aku ragu si K akan mendapatkan pelajaran yang baik dan ketakutan kedua adalah dia yang kehilangan momen bermain bersama temannya. TAPI ternyata si K menikmati loh belajar onlinenya. Dia juga bisa tetap membagikan cerita tentang teman-temannya saat sepulang aku kerja. Dia biasanya cerita bahwa si A, B dan C anak baru yang bukan dari Kinderfield, bahwa si D kamarnya lucu karena pink semua, bahwa si E selalu pake headset kalau belajar, kalau si F suka ngajak main dulu jika guru-gurunya belum datang dan anak anak udah siap di meet. BAHWA anak-anak punya cara mereka sendiri untuk beradaptasi dengan kekacauan dunia ini. Saking beradaptasinya, saat aku bilang gimana kalau nanti masuk sekolah lagi, si K gak mau dong! Maunya online aja katanya, hahahaha (walaupun dia tetap senang jika bisa bermain langsung bersama teman-teman sekolahnya lagi).

Pagi sekolah, malam ngerjain tugas, masih ada les online pula untuk pianonya. Hari-hari si K walaupun gak sesibuk dulu tapi tetap berkegiatan teratur lah. Aku masih bisa bersyukur bahwa sekolah si K tetap berusaha untuk memberikan pendidikan yang terbaik untuk murid-muridnya. Karena aku tahu banget, di depan mata aku sendiri, aku melihat anak anak lain yang kegiatan pendidikannya udah hilang begitu saja digantikan dengan hanya bermain setiap hari. Mempunyai rutinitas yang masih mempuni untuk pendidikan formal dan non formal di masa pandemi ini sangat harus bisa disyukuri.

***

Kalau sekolah onlinenya udah lancar, terus kalau pas tes gimana Niee?

Jadikan ya, untuk test sendiri, sekolah si K menggunakan dua metode, yang umum adalah dengan google form, tapi ada juga yang menulis manual di buku yang kemudian hasilnya di foto dan diupload ke google class. Awal-awalnya, aku SELALU mendampingi si K kalau sedang test. Selain dia gak bisa (karena belum aku ajarin) upload tugasnya sendiri ke google class, aku juga ingin memastikan jawaban yang dia jawab itu benar seh (walaupun tentu aku masih dengan prinsip anak gak boleh dibantu saat test). Tapi, lama kelamaan aku gak sanggup juga dong nemankannya karena jadwalnya yang banyak banget dan gak mungkin juga aku meninggalkan kantor setiap dia test. Untungnya emang jadwal kantor agak senggang selama corona ini seh, jadi bisalah mendampingi sedikit-sedikit. Namun akhirnya aku menyerah juga dan memutuskan untuk mengajarkan si K mengupload tugas-tugasnya sendiri ke google class. Ternyata diajarin sekali dua kali anaknya udah bisa dong! Terpujilah anak generasi Alpha yang udah siap banget masuk ke dunia digital. Bayangkan banget kalau corona ada di awal tahun 2000 kan yak, udahlah internet masih lemot bahkan gak ada, kalau adapun kita semuanya masih gaptek! Jadi disyukuri ajalah posisi sekarang.

Dengan perjuangan panjang dan melelahkan itu, akhirnya awal Desember kemaren si K bagi rapor. Kalau biasanya bagi rapor adalah momen para orang tua bertanya kepada guru dan sekolah tentang perkembangan anaknya, kali ini tentu berbeda. Kita sebagai orang tua dan guru berbagi cerita tentang anak tersebut dan akupun demikian. Guru si K menceritakan bagaimana si K selama google meet berlangsung dan aku juga menceritakan apa yang si K masih sulit untuk mengerti (tentu pelajaran PPKN dan Agama seperti yang aku tulis di postingan kemaren) dan bagaimana situasi si K di rumah selama pembelajaran online ini. Benar-benar ya, tahun 2020 ini kita orang tua dipaksa untuk ikut andil besar dalam pendidikan anak-anak kita. Yang dulu bisa menyerahkan sepenuhnya kepada sekolah tahun ini gak bisa. Paling tidak aku sebagai orang tua belajar, belajar bertanggungjawab penuh untuk pendidikan si K. Semoga di Primary 1 ini mendaji pondasi dasar bagi aku untuk mendapinginya sampai jenjang jenjang berikutnya hingga dia mandiri saat dewasa.

Ok, segini dulu kali ya ceritanya. Sebenarnya aku mau ceritakan tentang isi dari rapor si K yang menurut aku unik karena ada dua rapor yang dibagikan yaitu rapor dari sekolah dan rapor versi kemendikbud. Tapi karena postingannya udah kepanjangan juga jadi dipostingan selanjutnya aja ya.

 

bye.

Gak Punya Teman


Haiii, Hallo, apakabar semuanya? Pada sibuk apa seh aku penasaran, hahahahaha. Biasanya kan tahun baru gini lagi mikirin mau liburan ke mana gitu kan? Tapi tahun ini kan beda ya, dan mau rencanain untuk tahun 2021 juga masih ragu dan takut kecewa jadi kalau aku cuma berasa kayak robot hidup dari hari ke hari ngulang terus tanpa rencana, hahahaha.

Tulisan kali ini, aku mau menceritakan unek-unek aku selama ini seh. Tentang teman. Pertama, aku mau tanya sama yang baca di sini, kalian punya banyak temen gak seh? Temen yang dari kecil gitu, bisa dari SD/SMP/SMA yang udah tua gini (TUAAA) masih tetap rutin bersama, kumpul bareng gitu atau sekedar masih rutin chats dengan intens?

Untuk aku sendiri, jawabannya adalah : GAK ADA! Hahahaha.

Aku tuh sebenarnya punya banyak teman waktu di SD atau SMP, SMA bahkan kuliah. Tapi ya sekedar temen aja gitu loh. Dari SD setelah pindah ke SMP yang notabene aku satu-satunya yang berasal dari SD aku, praktis temen SD udah gak pernah ngobrol dan jarang ketemu. SMP ke SMA pun gitu, karena temen akrab aku dulu gak ada yang masuk ke SMA yang sama, jadinya jarang ketemu juga dan udahlah pisah aja. Dulu juga gak ada aplikasi whatsapp atau telegram dan segala macam ya, jadi harus pake SMS atau telpon yang ribet banget gitu, huahahaha.

Di kuliah juga aku punya banyak teman, tapi ya gitu deh. Kalau ketemu lagi seh emang seru banget ya, tapi itu jarang banget lah kejadiannya. Jadi hari hari aku lebih ke yang sendirian gitu aja sama keluarga.

Sebenarnya, aku gak pernah bosan seh sendiri atau gak ngumpul sama teman gitu. Aku selalu suka sendirian, dan sekarang juga aku gak pernah sendirian sama sekali kan yak. Selalu ada si K di rumah yang menemankan dan ada si abang suami juga.

Cuma ya, dari jaman aku kuliah, kerja dan bekeluarga sampai sekarang aku selalu iri kalau lihat teman-teman aku yang bisa kumpul-kumpul sama teman-teman lainnya. Gak tahu kenapa ya, kok aku bisa iri gitu. Padahal kalau diajak juga aku ogah karena kumpul dan bertemu dengan temannya teman itu gak banget untuk aku. Aku ada ketakutan nanti mau ngomong apa? Terus kalau aku nanti gak asyik gimana? Bahkan sampai aku merasa gak pede dan malu gitu loh.

Udah tahu aku gak bakalan nyaman buat ketemu orang dan hal yang paling nyaman buat aku adalah di rumah sendiri, tetap aja kalau lihat teman-teman aku kumpul bareng aku iri, hahahaha. Irinya sampai kalut gitu loh dan akhirnya berujung aku unfollow temen temen aku gak gak terlalu akrab gitu, kalau teman akrab akunya hide storynya, huahahahaha.

Dari dulu aku udah sadar seh kalau aku ini tipe orang introvet. Aku gak bisa tuh ketemu orang baru terus bisa memulai percakapan. Aku lebih suka diam dan mengamati orang daripada harus berbasa basi sama orang yang duduk disebelah. Cuma aku masih kalut gitu loh, iri lihat pertemanan orang, tapi gak suka juga kalau harus bertemu teman setiap hari karena merasa ribet dan kalau ada waktu mending di rumah aja nonton TV atau main sama K gitu loh. Jadi, aku pastikan ini penyakit banget lah yang harus disembuhkan.

Usaha pertama aku untuk menyembuhkannya adalah aku harus berani mengakui ke diri aku sendiri bahwa aku emang iri. Dulu mah boro-boro ya, sok-sokan asyik gitu padahal mah iri aja. Setelah aku bisa terbuka dengan diri aku sendiri, tahapan selanjutnya adalah aku ingin mengurai permasalahannya. Kenapa aku iri? Lebih tepatnya, kenapa aku bisa iri dengan orang-orang yang punya teman yang bisa selalu main bareng dari kecil sampai sekarang gitu? Jawabannya udah jelas lah ya, karena aku gak punya, aku gak ada teman yang bisa secara rutin jalan bareng, atau sekedar ulang tahun yang datang ke rumah untuk kasih sureprice dan segala macamnya. Aku gak punya teman seperti itu. Lalu aku uraikan lagi, memang aku segitu gak punya teman kah?

Kalau pertanyaan seperti ini sebenarnya aku punya temen loh. Temen aku yang sekarang hari-harinya adalah temen kantor aku. Aku punya banyak temen dari kantor aku yang pertama, aku juga punya teman akrab dari kantor aku yang kedua, aku bahkan punya temen kantor yang intens yang bisa membahas gosip apapun di kantor aku yang ketiga dan terakhir sekarang. Kami masih instens chats bareng, kami masih bisa jalan bareng atau makan siang bareng, bahkan kami ada hobi yang sama dan tentu kami bisa ngobrol yang panjang lebar tanpa takut kehabisan hal yang bisa dibicarakan.

Lalu, kenapa aku iri sama hal yang emang aku gak punya? Maksudnya gak punya teman SD-SMP-SMA atau kuliah yang maish rutin ketemuan? Padahal aku punya dengan hal yang berbeda? Lagian berteman itu emang gak bisa dipaksain kan yak?

Terus, beberapa hari belakangan ini aku juga sering menonton YT tentang minimalis dan produktifitas. Ternyata, hidup minimalis gak cuma tentang barang aja, tapi juga fikirian bahkan teman! Lalu Raditya Dika pernah dengan bangganya berbicara kenapa dia terlihat santai tapi tetap bisa produktif ya karena dia gak punya teman! Gak punya teman itu maksudnya gak ada teman nongkrong gitu loh. Dan ini bukan cuma dia, tapi orang orang lain juga. Jadi bukan hal yang aneh jika gak punya teman itu. Dengan lo gak punya teman yang harus nongkrong setiap saat, lo punya banyak waktu untuk bekerja, lo punya banyak waktu untuk keluarga, bahkan lo punya banyak waktu untuk diri lo sendiri! Itu diri sendiri udah diajak ngobrol belom dari hati ke hati biar gak iri lagi sama kehidupan orang lain? *ngomong sama kaca*

Balik lagi soal aku yang iri dengan orang yang bisa punya teman banyak dan instens. Ternyata, ada hal di dalam diri aku yang takut kalau aku yang gak punya teman ini akan menjadi orang aneh gitu loh. Aku takut aku termasuk orang yang gak kece atau terlihat keren dimata orang lain karena gak punya teman seumuran sepergaulan. Kok manusia gak punya teman seh?

Tapi ternyata, setelah aku telaah lebih dalam, banyak juga kok manusia-manusia di dunia ini yang gak punya teman. Yang kalau ada masalah gak curhat dan difikirkan sendiri. Yang kalau pengen ke mall atau belanja lebih menikmati sendiri karena akan lebih cepat dan gak capek. Yang kalau mau makan tinggal pesan gojek makan sendiri. Dan manusia itu, manusia seperti aku itu gak aneh! Hahahaha.

So, mungkin ini emang permasalahan aku. Permasalahan yang sudah diujung dan menurut aku sudah ada titik jalan terangnya. Karena udah aku fikirkan dan terbuka sama diri aku sendiri. Tapi mungkin ada yang baca tulisan gak penting aku ini dan merasa relate, hey! kamu gak sendiri loh. Bahwa kita menyukai kesendirian, ketenangan, kepraktisan dan merasa ribet dengan keramaian, gak bisa ngobrol sama orang itu ya biasa aja. Masih termasuk manusia normal lah, hahahaha.

bye.

Sisa Dua


Belakang ini, aku sering nulis panjang lebar di Facebook. Panjang banget sampai sebenarnya cocok untuk ditulis di blog. Karena sayang, aku pindahin aja beberapa tulisannya ke blog deh yak. Belakangan ini seh tulisannya kebanyakan ngeluh tentang corona. Nulisnya udah seperti aku nulis blog pertama kali tahun 2009-2010an gitu deh, hahaha. So, ini adalah tulisan pertama yang aku copas dari status FB aku yang aku tulis tanggal 5 Juli 2020.

No photo description available.

Kemaren, baca status temanku yang bahagia, bahwa Pontianak kasus aktif positifnya sisa dua. Aku yang gak pernah percaya sajian data di Indonesia tentu langsung berfikir “eits tunggu dulu” mari kita cek presentase jumlah yang dites dengan jumlah penduduk. Ternyata aku gak dapet, yaudah lah ๐Ÿคฃ

Lalu, akupun lihat jumlah ODPnya aja, karena ODP sekarang ini adalah orang yang tes Rapidnya reactive [1]. Sedang menunggu hasil swab. Walaupun aku gak pernah percaya juga dengan hasil rapid tes ya karena “You Know Why“. Hasil negatif rapid hanya kebahagian semu untuk kita penduduk negara berkembang yang kekurangan uang untuk langsung aja tes PCR๐Ÿ˜—

Ternyata, jumlah ODP di Pontianak masih 168. Berarti masih ada 168 orang yang sedang menunggu hasil swab. Hasilnya bisa negatif dan tentu saja bisa positif.

Aku sendiri, sudah banyak mengurangi kecemasan aku terhadap corona. Udah gak relate banget dengan keadaan orang orang sekitar aku soalnya, yang cenderung sudah melupakan. Yang dulu aku setiap pagi nyemprotin ruang kerja pake hand sainitaizer sekarang udah gak. Tapi masih nyemprotin meja habis orang asing datang ke ruangan.

Yang dulu gak pernah mau diajak makan prasmanan, sekarang kadang mau kadang gak tapi kalau iya selalu mintanya ambil duluan biar belum tersentuh tangan tangan yang aku gak tahu asalnya dari mana dan aku pegang prasmanannya pake tissue basah. Ribet emang si irni ๐Ÿคฃ

Aku masih aneh lihat perkumpulan orang yang dengan santai gak pake masker. Kalau ada warga yang datang ke ruangan aku langsung suruh ke luar dan gak dilayani. Pernah suatu hari aku mau diviralkan katanya karena gak nerima dia yang gak pake masker. Aku tantangin aja sekalian, kapan lagi si Irni bisa viral, tapi gak mau juga. Ya gak jadi viral dah si Irni.

Bolak balik diskusi sama suami tentang orang yang naik sepeda dan gak pake masker. Si Falla Adinda aja 70km ride full pake masker loh! Masak yang cuma 10-20 km gak tahan? Aku emang kalau berdebat, hanya jika aku bisa menang. Kalau gak bisa menang, aku minta maaf duluan ๐Ÿ˜›

Balik lagi ke jumlah kasus aktif di Pontianak yang tinggal 2 orang ini. Aku sendiri sangat ingin Pontianak cepat masuk ke sona hijau. Ya tahu sendiri lah aku pengen banget si K masuk sekolah. Syarat sekolah dibuka adalah jika sudah masuk zona hijau. Aku sampai ngomong sama suami, kalau pemerintah bohong sama datanya terserahlah. Aku cuma pengen anak masuk sekolahโ˜น๏ธ

Disekitar aku, anak dibawa makan di restoran, ngemall dan bahkan liburan ke singkawang itu udah hilir mudik di timeline. Lah, kalau seperti itu, kenapa juga gak masuk sekolah sekaliankan? Karena menurut pendapat aku pribadi, sekolah lebih berfaedah daripada mall dan liburan, huhuhu.

Si K sendiri belum aku bawa ke mall dan liburan [2]. Aku menyesal juga kenapa gak lanjut aja pergi ke Jepang kemaren. Lah di Indonesia lebih parah kok, Jepang sampai sekarang aman aman aja. Sekarang kalau mau pergi di sananya yang gak terima warga negara Indonesia.

Eropa udah buka border ke 15 negara, Indonesia gak termasuk. Blasslah Indonesia udah gak dipercaya orang di dunia luar sama sekali karena penanganan Covidnya semrawut.

Kemaren ngobrol di rumah. Tentang orang yang liburan ke singkawang. Aku gak masalah seh sebenarnya. Soalnya lah petinggi petinggi aja udah liburan semua. Mulai dari yang paling atas sampai yang paling bawah. Beda kasus dengan menteri kesehatan New Zealand yang mengundurkan diri dari jabatannya setelah diburan ke pantai yang sepi dengan keluarganya. Merasa bersalah kata dia [3]. Makanya aku suka ngingetin diri sendiri sekarang, jangan suka marahin masyarakat kecil yang kongkow kongkow ngopi atau berjualan. Mereka cuma mencari rejeki dan cari kebahagiaan.

Terus ada yang ngajak, ayo kalau gitu kita liburan? Ya maaf maaf aja, kalau aku diajak liburan di sekitaran kalimantan seh ogah. Malu sama tiket 3 negara yang aku hanguskan demi pencegahan corona ๐Ÿคช kalau ngajak aku ya ke Taiwan lah minimal. Hari ini aku seharusnya udah landing di Taipe terus lagi minum teh tradisional. Tapi ini fikiran aku untuk hari ini, gak tahu besok kalau berubah ๐Ÿคฃ

Jadi kesimpulannya apa?

Ya gak adalah kesimpulannya, si Irni cuma pengen buat status aja. Nulis panjang lebar emang kesenangan aku sebagai blogger yang blognya gak terlalu aktif sekarang ๐Ÿ˜‚

Tapi aku sadar, bahwa cari selamat masing masing udah gak mungkin bisa sekarang. Kecuali kalian gak pernah sama sekali ke luar rumah selama 4 bulan. Apalagi kalau kalian orang yang gak enakkan.

Kalau aku seh gak mau ya aku bilang gak mau, kalau gak suka aku bilang gak suka. Udah 3 undangan acara keramaian aku tolak. Tapi mungkin tinggal nunggu waktu aja si irni juga ngikutin arus. Gak tahu kapan, tapi semoga jangan cepat cepat, atau paling gak nunggu kasus ODP nol di Pontianak, yang gak tahu kapan ๐Ÿ˜Œ

***

[1] Kepala BPBD Kota Pontianak komen di postingan aku ini, “menanyakan” perihal apa emang benar ODP itu orang yang Rapid Testnya positif. Aku baru sadar seh, ODP di sini adalah orang yang emang dipantau PLUS orang yang rapidnya positif. Kenapa datanya digabung gini aku gak tahu juga. Bacanya jadi rancu seh ini (kemudian aku hapus pertemanan sama si bapak kepala BPBD tersebut ๐Ÿ˜› )

[2] Pernah aku ajak makan sekali di Pondok Kakap

[3] Setelah ketahuan

ps : jumlah kasus aktif di Pontianak update per tanggal 7 Juli 2020 kemaren masih 2 kasus. Semoga segera 0 yak!

 

 

 

Curhatan Blogger “Tua”


Karena saya ngeblog itu tidak punya niche, bahkan model lifestyle blogger sekalipun – NIEE

disclaimer : postingan ini hanya pendapat pribadi yak, jadi jangan dipusingin, apalagi dibaperin :P
sumber : MakeUsOf

Suatu ketika, si Niee rada mati gaya dengan list blog walking yang dipunyainya sekarang. Aku itu masih berkutat dengan list lama yang aku subcribe di email. Sampai hari ini, blog yang aku selalu buka itu adalah blognya Mas Arman, Zilko, Mbak Bebe, Teh Erry, Mbak Nonik, Om NH, Bunda Monda, Ais, Mama Hilsya, Hani, Mbak Nella dan temen-temen blogger lainnya yang rata-rata udah berteman dan saling BW di blog lebih dari 5 tahun tapi intensitas ngeblognya udah berkurang jauh (termasuk aku sendiri) kecuali si Zilko ๐Ÿ˜›

Aku inget dulu pertama kali nulis di blog sekarang tahun 2009 itu gak ada pengunjungnya sama sekali. Kemudian, ada seorang temen SMA yang posting Indonesia Matters di Tumblr, yang memperlihatkan urutan ranking blog-blog di Indonesia. Ranking pertama itu blognya Diana Rikasari yang mau lo kunjungi ribuan kali juga gak akan dia kunjungan balik :P, dan ranking kedua adalah Blognya Om NH. Jadilah aku berkunjung ke blognya dan mulai kapan gitu berani berkomentar dan mendapatkan kunjungan balasan. Wuiihh, senengnya kebangetan ๐Ÿ˜› Dapat blognya Mas Arman juga dari Indonesia Matters itu dan kok ya orangnya ramah bener, komennya ratusan masih mau ngebalas BW ke blog aku yang komennya 1-2 aja :mrgreen: Dan berlanjutlah ke blog-blog lainnya yang aku dapat dari link komentar di blog-blog yang aku kunjungi.

Zaman dulu rasanya masih susah nyari komunitas blogger yang terbuka. Maksudnya komunitas ada, tapi cuma untuk kalangan terbatas aja, jadilah aku gak ikut komunitas apapun. Walaupun gak ikut komunitas tapi ngeblog dan blog walking itu menyenangkan banget menurut aku. Tidak ada blog yang berniche kecuali lo udah jadi seleb blogger sebangsa Diana Rikasari. Temen-temen blogger itu udah kayak jadi akrab banget, karena dengan membaca blognya kita jadi tahu keluarganya, kita jadi tahu kebiasaannya, kita jadi tahu perkembangannya. Semacam blognya mas Arman itu aku ngikutinnya dari Mas Arman cuma punya Andrew, terus Mbak Ester hamil Emma dan sekarang Emma udah SD aja. Atau blognya Zilko dari dia baru datang ke Belanda dan kuliah di TU Delft sampe dia bekerja di industri sekarang. Dan Mbak bebe yang dari dia belum punya anak, sampai kita hamilnya berbarengan dan dia duluan punya anak kedua ๐Ÿ˜€ Atau bahkan Mbak Nella yang aku tahu dia mendapatkan jodohnya yang sekarang itu dari online dating ya karena cerita di blog.

Proses ngeposting dan membaca blog orang lain itu mengalir dengan sendirinya. Aku ngeblog karena nyaman dan aku blog walking itu juga karena nyaman. Karena rindu membaca perkembangan temen-temen blogger yang aku punyai. Aku senang membaca “perkembangan hidup” temen-temen blogger bertahun-tahun lamanya. Sampai sekarang, aku tidak pernah bosan membaca blog-blog yang aku sebutkan di atas walaupun karena kesibukan aku sekarang kadang aku tidak membuat komentar disetiap postingannya.

Jika dibandingkan, dulu list blogwalking aku jumlahnya bisa puluhan. Entah karena apa banyak diantaranya sudah tidak ngeblog lagi. Dan ada yang masih bertahan ngeblog karena beberapa lama tidak saling berkomentar jadi putus hubungan dan aku sendiri lupa url blog mereka. Duh! >.< Karena ingin memperbanyak teman lagi mulailah beberapa bulan belakangan ini aku ikut komunitas sana sini. Mencari blog-blog yang bisa kujadikan “teman” seperti blog-blog sebelumnya. Walaupun gak satu komunitas, walaupun gak bakalan pernah ketemu, dan walaupun gak ada target apa-apapun untuk saling blogwalking atau membubuhkan komentar.

TAPI KOK AKU GAK KETEMU YAK!

Dihampir setiap komunitas yang aku masuki, banyak dari blognya adalah blog semi profesional yang bicara soal SEO, DA/PA, HTML dan banyak istilah bloging lainnya yang sebenarnya aku tahu apa itu (secara lulusan IT gini loh :P) tapi aku gak mau tahu tentang urusan seperti itu untuk blog aku. Yang isinya ngasih tips bermacam-macam dengan seribu tema tapi berasa satu = HAMPA.

Iya, kok ya aku hampa banget ya baca blog semuanya. Walaupun temanya bermacam-macam dengan tulisan yang rapi wah dan berkesan, tapi aku tetap berasa hampa. Pencarian aku untuk mencari “teman blog” sampai sekarang rasanya gagal. Gak ada lagi Susah sekarang blogger yang dengan suka hati membagikan ceritanya tanpa memerdulikan kunjungan atau traffic blog. Hampir semua ingin menjadikan dirinya blogger profesional. Walaupun gak menutup mata kalau profesi blog sekarang memang sangat menggiurkan. Penghasilannya bahkan mengalahkan orang yang kerja di kantoran. Tapi bahkan ada satu kali aku menemukan blog yang ngeblognya baru mulai April 2017 tapi udah ngomong monetize blog! Ketika itu aku berasa blogger tua. Blogger yang gak mau ikut perkembangan zaman. Blogger yang kalau blog dan postingannya dilihat sama blogger zaman now mungkin langsung kebingungan, ini blog apaa seh, kok jelek banget isinya ๐Ÿ˜›

Kadang, aku jadi rindu dengan temen-temen blog aku jaman dulu. Apa kabar ya si Pitsu? Udah punya anak berapa dia? Masih ngeblog gak ya? Atau si Titi yang tadi pagi aku buka blognya udah lumutan postingan terakhir di tahun 2014 >.< Mbak Thia si dokter gigi juga apa kabarnya ya? Mbak reni di Jawa timur juga! Deva mana deva! Atau sama divia yang kayaknya sibuk ngasuh anak, atau dhenok yang ketemu cuma di FB dan Instagram.

Hallo semua, gak kangen ngeblog lagi? Ngerusuh lagi di komentar? Aku kok kangen >.<

Perjalanan Dinas dengan Balita


Jadi ceritanya akhir Januari yang sibuk kemaren aku mendapat sebuah undangan dari Kemkes untuk hadir pada pertemuan desk keuangan di Bekasi. Sebenarnya seh undangan seperti itu udah sering yak, dan seringnya juga walaupun itu adalah tugas dan kerjaan aku, tapi akunya gak pernah mau pergi dari mulai bulan Juli tahun 2013 hingga pertemuan terakhir bulan Juli 2015 karena beralasan dari hamil sampelah masih menyusui.

Akhir bulan januari kemaren si K berulangtahun yang kedua. Walaupun belum ada rencana dalam waktu deket mau nyapih neh anak, tapi sepengetahuan orang kalau menyusuikan cuma kewajiban dua tahun yak, kalau lebih dari itu ya pandai-pandai emaknya aja. Jadi kalau beralasan lagi masih nyusuin anak untuk gak ikut ke pertemuan ke Bekasi kayaknya kok gak enak ya dengan orang kantor. Ditambah lagi yang biasanya bantuin aku untuk pergi-pergi itu lagi cuti pula pas tanggal undangannya, galau deh saya!

Mau nolak udah gak enak, mau pergi gak tega ninggalin si K karena emang neh anak dua tahun dalam hidupnya gak pernah mau bobo malam sama orang laen selain emaknya, bahkan bapaknya gak pernah loh! Emang akunya seh yang salah mempolanya seperti itu karena kan aku udah ninggalin dia seharian kerja ya, ya rasanya gak tega aja kalau pulang kerja anaknya masih sama orang laen. Solusinya? Ya tetep ke Bekasi dengan bawa si Balita!

Apakah itu jadi solusi yang benar dan tepat? Jawabannya TIDAK saudara-saudara! Yang ada selama 6 hari (eh 4 hari ding di Bekasinya) aku stress tingkat tinggi. Si cuek IRNI yang biasanya santai menghadapi apapun hancur berkeping-keping pas pertemuan itu. NYERAH! PENGEN BALIK DIHARI KEDUA! Tapi kerjaan belom selesai begimana dong *mewek*

Fotonya gak nyambung. Lagi males foto foto di bekasi :P
Fotonya gak nyambung. Lagi males foto foto di bekasi ๐Ÿ˜›

Hari #1. Pontianak – Bandara Soeta – Bekasi (registrasi)

Sebagai anak perencanaan (aku kerjanya di bidang ini di kantor ๐Ÿ˜› ) tentu perencanaan aku udah lumayan mateng dong mau pergi perjalanan dinas kali ini. Apalagi aku sekarang kan bawa si K.

Pertama yang jadi perhatian adalah jadwal terbangnya. Karena si K ini jadwal tidur siangnya antara jam 10-11 gitu, jadi milih terbangnya jam 10an. Mikirnya akan ditidurkan selama 1 jam penerbangan dari Pontianak ke Jakarta aku bisa duduk dengan tenang. Dan rencana ini sangat berhasil loh, apalagi aku terbang cuma berdua doang kan gak ada yang nemenin, jadi si K tidur selama penerbangan sangatlah membantu.

Kedua, sebenarnya aku punya temen dari kabupaten laen yang diajakin ke Bekasi bareng, tapi sengaja aku pesenin dia tiket pesawat yang jam 12an. Kenapa? Karena akukan sampe di bandara jam 12an tuh, nah rencananya aku mau ngasih makan si K dulu karena kan ke Bekasi lumayan lah ya sejaman gitu, kasian kalau harus makan klo nunggu di bekasi dan kasian kalau temen aku harus nungguin aku ngasih makan si K, jadilah jadwalnya pas, pas aku selesai ngasih si K makan, pas pula temennya datang. Aku pasti milih ke bekasinya pake taxi biar gak ribet.

Sampe di Bekasi dan pas ngurus administrasi buat dapetin kamar si K mulai betingkah, kelihatan banget dia gak betah di ruangan administrasi itu, padahal udah dikasih maenan, udah dikasih kue, udah dikasih minum dingin, tetep aja gak betah. Ujung-ujungnya digendong kemana-mana sampailah dapat kamar.

Temen kamarnya sendiri aku udah nentuin, temen dari Kabupaten sesama Kalbar juga yang dua malam gak datang-datang, jadilah aku nyaman tidur berdua K aja di kamar :mrgreen:

Malemnya ada pembukaan panitia, aku skip kegiatannya gak ikut karena jam setengah 7 aja si K udah bobo.

Hari #2. BEKASI (DESK KEUANGAN)

ย Kesengsaraan di mulai! hiks!

Pagi-paginya aku masih santai aja seh, di kamar berdua aja dengan si K masak nasi terus ngasih makan dia dengan lauk seadanya. Makannya di kamar, soalnya kalau harus ke cafetarianya kok ribet ya bawa si K. Anaknya makannya lancar seh alhamdulillah. Setelah selesai, kemas-kemas kerjaan dikit mulailah si Niee dengan membawa bahan seabrek, bawa laptop, gendong si K ke ruang pertemuannya. Kira-kira datengnya jam 8, tapi panitianya satupun gak ada dong! Maen-maenlah si K di ruangan itu, masih ok seh. Nunggu-nunggu lama kok ya gak mulai-mulai acaranya, jadi bawa si K maen ke Dino Club aja yang ada di Harris.

Sampe jam 9an balik lagi ke ruangan Desk dan udah rame aja dong ternyata! Desk Propinsi Kalbar udah banyak yang antri juga. Untung udah kenal semua, temen-temen waktu tahun 2011-2013 juga jadi pada ngasih aku kesempatan duluan. Makasih ya semuanyaaa *peluksatusatu* Tapi ya tetep aja, si K lihat keramaian gitu yang awalnya mau ditinggal sambil dikasih ipad lama-lama bosen dan kemudian histeris dong! Seruangan desk ngelihat aku! Malu? Gak! Sama sekali gak malu mah akunya bawa anak, tapi konsentrasi aku jadi buyar semua. Desk belum ada hasil sama sekali. Si K udah ngamuk-ngamuk, dibujuk, diajak jalan sama temen kabupaten laen selama aku desk gak mau! Aku stress! Aku nyesel senyesel nyeselnya ikut pertemuan ini *mewek*

Karena udah gak bisa dikendalikan lagi si K nya, akhirnya aku nyerah. Aku tinggalin bahan dan laptop aku ke panitia dan aku bawa si K ke kamar. Di kamar dia langsung tenang aja dong! Dan karena udah jamnya dia bobo ya aku boboin. Akunya? bingung kenapa bisa terdampar di Bekasi ini >.<

Si K bangun langsung di bawa ke Sumarecon nyari makan yang bisa di makan K. Tapi rasanya susah ya nyari makan untuk anak dua tahun di mall, rasanya gak ada yang pas aja gitu. Selesai makan balik lagi ke ruangan desk, dapet hasil desk yang kurang memuaskan, harus mengutak atik aplikasi lagi yang aplikasinya aku gak punya! Solusinya tinggalin laptop lagi sama temen kabupaten. Si K udah nangis kejer dari depan pintu desk. Kayaknya dia trauma lihat orang yang segitu banyaknya dengan suara bising bergema. Ajakin si K maen ke Dino lagi.

Balik dari Dino mau ambil laptop alhamdulillah aplikasinya udah kepasang, tapi si K nangis kejer lagi di ruangan desk. Balik ke kamar aja sambil ngutak atik aplikasi. Si K disuruh nonton TV aja, tapi alhamdulillah anaknya anteng kalau di kamar. Sampai sore mandek! Gak ketemu apa yang salah. Ditelpon terus sama panitia supaya ke ruangan desk aja dengan nada yang gak enakin hati. Gimana mau ke ruangan desk buuuu.. ini anaknya nangis kejer terus kalau dibawa kesana! *mewek lagi*

Beres-beres sore, ngasih makan si K balik lagi ke ruangan desk. kali ini gak ketemu sama panitia, cuma ketemu sama temen-temen sepropinsi. Tanya-tanya belum ada yang selesai, katanya panitianya kalut Kalbar belum ada desk satu orangpun *lemes* (Si K mukanya cemberut sepanjang emaknya curhat)

Balik ke kamar, kemas-kemas. Telpon papanya K dalam keadaan mewek “Abaaanggg, pengen pulaaanggg. Gak mau desk lagi bawa si K. Kasian anaknya nangis kejer terus kalau dibawa keruangan desk. Hiks! ๐Ÿ˜ฆ “

Mendengar istrinya yang gak pernah stress tingkat tinggi gini (biasanya aku cuek dalam menanggapi sesuatu) si suami langsung panik. Nyari tiket ke Jakarta hari itu juga gak dapet. Akhirnya dapet tiket jam 6 pagi besoknya. si Abang bilang insyaAllah jam 9 sampe ke Bekasi. Si Niee nya lega-lega nggak enak hati. Soalnya suaminya lagi sibuk-sibuknya kerjaan di kantor *maapkeun* ๐Ÿ˜ฆ

Hari #3. BEKASI (DESK LAGI)

Paginya udah males sendiri mau ngedesk. Pokoknya nungguin papanya aja baru berani ninggalin si K. Lagian gak efektif juga. Untungnya jam 9 lewat si abang dateng. Huwaaaa.. berasa lega banget. Langsung deh si K diserahterimakan sama papanya dan akunya bisa ngedesk dengan tenang. Huft!

Ngedesknya disambil bobokan dan kasih makan si K seh. Tapi sampe sore juga udah selesai. Tahu gitu si abang disuruh dateng hari selasa aja kan yak biar hari rabunya bisa balik lagi ke Pontianak. Tapi ya gitu udah nanggung.

Malamnya tanya-tanya sama panitianya siapa tahu bisa pulang. Eh malah kena omelin katanya belum ada duitnya ๐Ÿ˜›

Malamnya si kakak temen sekamar dateng, jadilah aku, K dan abang ngungsi deh ke apartemen di Bekasi deket hotel.

Hari #4. BEKASI (PULANG.. PULANG!!!)

Hari ini bener bener isinya cuma dari panitia ke panitia sambil bawa surat sakti bukti udah selesai ngedesk sama bawa muka lemes. Sebenarnya seh beneran lemes karena tiket pulang ke Pontianak udah gak ada lagi buat hari ini (kamis). Adanya buat hari sabtu. Tapi udah malessss banget di hotel lama lama. suasananya udah gak mendukung banget.

Pagi-pagi buta udah ke kepala sub bagian yang bertanggungjawab masalah administrasi. Pas ngomong udah takut duluan disemprot kayak kemaren malam, eh moodnya lagi baek kayaknya. Dirusuh cari tiket pengganti dulu. Tapi tetep aja gak dapet tiketnya, soalnya tiket pesawat di waktu imlek ke Pontianak itu bagaikan jarum dalam jerami deh, susah! dan MAHAL! Adanya hari sabtu sore seharga 1,7 juta di ambil aja deh, pokoknya pulang cepat.

Dengan muka memelas akhirnya kamis siang menjelang sore dikasih ijin pulang sama panitia. Udah jam 4 sore, tapi akunya langsung berkemas dan cau ke Jakarta pake kereta.

Bye-bye Bekasi. Mudah-mudahan kalau ke sana lagi dengan kegembiraan yak. Gak menimbulkan trauma mendalam seperti ini. ๐Ÿ˜ฆ

***

Semenjak kejadian susahnya bawa si K keacara pertemuan kali itu, beberapa kali aku mendapat undangan ke luar Pontianak masih angkat tangan deh. Masih mohon-mohon sama bos supaya gak aku yang diberangkatkan. Masih belum siap deh. Dan karena hal ini juga sering membuat aku berfikir emang perempuan yang punya anak balita itu sebenarnya gak boleh bekerja deh. Mungkin bisa jadi guru, yang pulangnya rada awalan dan gak pernah pergi kemanapun (kayak ibu aku) tapi gak kerja kantoran yang mobilitasnya tinggi kayak di kantor aku ini.

Ya, mudah-mudah2an aja ada jalan terbaik deh. Mungkin aku pengennya kerja di kelurahan buat ngetik surat pengantar buat KTP dan KK aja >.<