Bye 2020


2020 itu berat.

Sebenarnya, aku gak mau nulis tentang 2020. Di kepala aku udah penuh aja tentang kelelahan baik fisik maupun mental. 2020 itu berat untuk aku, untuk kita semua.

Walaupun kalau dilihat dari luar aku gak terdampak langsung oleh pandemi dari sisi keuangan, dari sisi kesehatan ataupun dari sisi sosial, tapi secara keseluruhan 2020 bukanlah tahun favorit aku tentunya.

Orang lain boleh bilang bahwa tahun 2020 ini tempatnya belajar. Tapi bagi aku tahun 2020 ini tempatnya menangis. Bahwa manusia itu beneran boleh dan bisa menangis.

Biasanya, manusia tempatnya membuat rencana, TAPI bahkan di tahun 2020 aku gak bisa membuat rencana sama sekali. Aku takut gagal, aku takut gak ada waktu, aku takut yang direncanakan menjadi kacau.

2021 itu hampa.

Biasanya, aku memulai sebuah tahun dengan berencana. Paling sering seh berencana liburan. Tapi 2021 bahkan berencana masuk sekolah buat anak saja rasanya jauh dari pandangan mata.

Tahun ini itu berat, tapi benarkah tahun 2021 akan lebih ringan? Kok aku kurang yakin untuk berharap. Dengan gelombang pandemi di mana-mana tinggi lagi. Dengan berita vaksin yang malah disangkal gak bakalan terlalu efektif dan berita negatif-negatif lainnya.

Padahal aku udah gak main sosial media. Aku udah gak ada Facebook, aku gak baca twitter, dan isi Instagram aku sekarang cuma bunga kembang kuncup. Tapi tetap aja masih dengar kabar. Mungkin mau pindah ke bulan dulu baru gak ada kabar dan coronapun bisa hilang 😛

Ahhhh, bagaimanapun bye-bye 2020. Dan selamat datang 2021.

Aku tak mau terlalu berharap, tapi aku juga tak mau terlalu curiga.

Selamat tahun baru semuanya. Untuk Kamu, Aku dan Kita semua.

 

Pontianak, 31 Desember 2020.

Indonesia 2020


http://www.apkasi.or.id

Haaiiiii Hallooo.. Apakabar semua? Ada apa dengan judul aku sekarang? Kok sepertinya mau menerawang seperti mama lauren aja. Lagian untuk apa menerawang segala kalau toh tahun ini kata suku maya mau kiamat (huwaaaa,,, tapi jangan dong,, aku kan belum kawiinnnn 😛 ).

Ok, fokus *benerin posisi duduk*

Kemaren, entah ada angin apa bos besar nyuruh aku kesebuah pertemuan. Pas masuk, eh ternyata yang diundang itu adalah jabatan yang setara dengan bos besar itu. Waduh, aku yang anak bawang ini jadi mati kutu deh. Emang ngerjain dah si bos. Tapi karena aku yang cuek bebek kayak tokek (gaaaakkk nyambung nieee) ya nyante aja pake cokelat diantara pakaian safari.

Pertemuannya biasa aja. Tentang pengembangan Kota Pontianak kedepan deh. Tapi karena aku anak gaul seantero kota Pontianak yang tahunya cuma wilayah seputaran mall dan sekitarnya 😛 , bukannya bos besar yang harus mikiran rakyatnya jadinya aku cuma mendengar aja deh tanpa berkomenta (padahal mulut ini udah gak sabar mau nyeloteh banyak >.< ).

Tema yang paling aku dengar adalah masalah krisis pangan yang akan terjadi di Indonesia tahun 2020. Kalian pernah dengar gak kalau wilayah negara-negara importir beras Indonesia seperti India dan Thailand mulai menguangi eksport berasnya karena untuk kepentingan negaranya pribadi. Maka dengan itu, Indonesia sekarang beralih ke Pakistan. Apa juga akan bertahan? Tentunya tidak!

Indonesia yang pada tahun 70-90 mengumandangkan sebagai negara agraris juga gak bisa bersuara dalam hal ini. Gimana mau bersuara kalau lahan sawahnya aja udah berkurang dijadikan perkebunan atau perumahan? Atau gimana mau jadi negara agraris kalau anak-anak sekarang gak ada lagi yang cita-citanya sebagai petani?

Coba tanyain deh sama anak-anak sekarang. Cita-citanya jadi apa? Palingan jawaban mereka mau menjadi dokter, pilot, presiden, atau yang sekarang terkenal adalah pekerja kreatif. Cita-cita mau jadi petani? Apa itu cupu!

Para petani di kampung-kampung juga bermainset kalau untuk meningkatkan derajat hidup keluarganya, anak-anaknya tidak boleh lagi jadi petani. Minimal mereka sekolah dan bekerja di perkotaan. Biarlah menjadi kuli asal jangan jadi petani. Keren yak kedengarannya? Tapi kalau semua orang indonesia ini berfikir begitu lalu siapa yang akan jadi petani di negeri ini?

Pada akhirnya, di tahun tahun kedepan, orang-orang Indonesia akan menjadi semakin kaya. Pendapatan perkapita semakin meningkat. Orang tidak ada lagi yang kesusahan tapi dibalik itu kita akan kelaparan karena krisis pangan! Beras akan lebih mahal daripada perhiasa. Apakah kita mau hal itu terjadi?

Karena itu seorang bos besar di dalam pertemuan itu mewanti-wanti anaknya untuk menjadi petani modern. Petani yang bisa menghasilkan beras-beras untuk daerahnya sendiri. Minimal, Pontianak gak akan kelaparan kalau krisis pangan itu terjadi. (Beneran, pas bapak ini ngomong aku merinding juga dengarnya).

Ini sebenarnya salah siapa?

Orang pasti menyalahkan pemerintah dong yang gak mensejahterakan para petaninya. Kalau di Malaysia (CMIIW) pemerintahnya akan menjaga harga beras milik petani. Kalau harga jualnya terlalu rendah, pemerintah akan mensubsidi para petani agar petani tidak mengalami kerugian. Jadi, gak ada lagi istilahnya petani beras yang gak  punya beras karena gak sanggup beli.

Tapi lagi lagi. Pemerintah itu siapa? Bagai menampar diri sendiri dong kalau kami ngomong banyak gini 😛 Namun, aku gak mau dong mampu beli emas tapi gak bisa beli beras.

Jadi, apa cita-cita anak-anak kita?