Bahasa Daerah..


Haaaiiiii Haloooo.. Apakabar semuanya? Masih baik kan? :mrgreen:

Tadi, di ruangan kantor kedatangan pegawai dari ruangan lain. Ya, dia emang udah gak asing lagi seh di ruangan. Namanya juga ruangan aku emang selalu berasa menyenangkan untuk orang-orang berkunjung *halah 😛 Anggaplah namanya Masko. Masko ini asli Sunda yang bisa berbahasa jawa. Di ruangan aku sendiri, ada satu orang sunda asli, satu orang jawa medok. Jadilah mereka berbicara dengan bahasa mereka tanpa aku mengerti satu katapun yang terucap dari bibir gak manis mereka.

Biasanya, kalau mereka serius dengan perbincangan mereka sendiri seh aku gak terlalu ambil pusing dengan bahasa yang mereka gunakan. Permasalahannya adalah, kalau mereka mulai entah melakukan gerak tubuh apa yang membuat aku berfikir, neh orang ngomongin aku gak yak? Kan jadinya gak enak sendiri!

petani-kata.blogspot.com

Aku yang aslinya orang bugis banjar (tapi janganlah kalian bertanya bahasa bugis ataupun banjar, karena aku gak tahu! >.< ) lahir dan besar di Pontianak hanya mengetahui satu bahasa, bahasa Indonesia! (yak, kalau gak dihitung dengan bahasa inggris aku yang hancur lebur berantakan yak 😛 ) Terdengar sumpah pemuda banget yak 8)

Tapi beneran loh, walaupun bahasa daerah di Pontianak itu adalah bahasa melayu, tapi aku hanya sedikit tahu bahasa melayu tersebut. Ya, kalau bahasa sehari-hari ngerti lah, kalau udah terlalu medok melayunya ya aku keblenger juga >.< Lagian kerugian bahasa melayu menurut aku adalah semua orang mengerti!

Contoh mudahnya saat aku melakukan perjalanan dinas yang mana pesertanya adalah dari seluruh kabupaten kota di Indonesia. Mulailah pada saat menentukan teman sekamar. Biasanya aku sengaja gak milih-milih temen sekamar yang udah kenal, biar ada temen akrab lainnya gitu :mrgreen: Permasalahannya adalah saat melakukan telpon dengan orang rumah. Mereka yang dari daerah lain (aku pernah sekamar dengan orang banjar, jawa timur, jawa tengah dan bergaul dengan orang palangka serta NTB) dengan damainya bertelpon ria tanpa takut/merasa risih aku ketahui. Sedangkan aku? jadi malu-malu mau nelpon mah, soalnya pasti mereka tahu apa yang aku bicarakan! 😦

Pernah juga aku sekamar bertiga, yang dua temen sekamar aku berasal dari Jawa Timur. Asli lah, mereka kalau bicara berdua ya pake bahasa jawa yang sama sekali aku gak mengerti. Jadi merasa terkucilkan gitu >.<

Semenjak kejadian-kejadian itu barulah aku sadar emang bahasa pemersatu di negeri ini berperan penting dikehidupan sehari-hari. Dan bahasa indonesia digunakan juga untuk menghormati orang yang ada di dekatmu. Walaupun kalian gak ngomongin orang itu, tapi kalau pake bahasa yang gak dimengerti juga agak risih kan yak?

Sooo,, mari budayakan bahasa Indonesia :mrgreen:

nb: temen aku ada bilang kalau ada dua orang yang saling bicara menggunakan bahasa melayu kadang mereka gak ngerti juga apa yang dibicarakan. Kalau temen-temen blogger ngerti gak seh sebenarnya bahasa melayu itu? Tapi, bahasa yang bukan hanya mengganti ‘a’ jadi ‘e’ loh 😛

Negara Dunia Ketiga


Haaaiii,, Halooo,, Apa kabar semuaaa??

Beberapa hari yang lalu, eh beberapa minggu deh (atau bulan?? ) Aaahh, pokoknya udah lama banget dah 😛 aku menonton film yang menceritakan tentang perjuangan seorang warga negara Amerika yang membantu pembuatan rumah penampungan di Afrika. Katanya film ini terinspirasi dari kisah nyata. Udah ada yang pada tahu judul film ini? Yaaaakkk,, bener semua judul filmnya:  Machine Gun Preacher *tepuk tangan* :mrgreen:

21 cineplex

 Film ini bercerita tentang seorang penjahat yang bernama Sam Childers (Gerard Butler) yang ‘bertobat’ kemudian menjadi seorang hampa yang patuh. Diapun kemudian bekerja sebagai tukang disebuah perusahaan kontraktor hingga akhirnya usahanya berhasil dan dia mendirikan perusahaannya sendiri.

Suatu ketika, dia diajak untuk membangun rumah-rumah di Sudan Afrika. Maka perginya Sam untuk melakukan pekerjaannya sambil lebih mendekatkan diri pada agama dengan menolong orang-orang disekitarnya.

Sampai di Sudan, yang dilihat Sam ternyata amatlah mengerikan. Perang saudara dimana-mana dan tidak adanya tempat bernaung anak-anak agar dapat hidup dengan tenang. Maka, saat waktunya sudah habis, Sam-pun pulang ke rumahnya dengan segala rencana yang telah disusunnya di Afrika. Untuk membangun rumah penampungan.

***

Aku gak akan cerita panjang lebar atas film ini. Tapi melihat ceritanya, kalau gak inget ini berasal dari kisah nyata (yang dibuktikan dengan gambar-gambar yang diambil Sam dan keluarganya saat mengunjungi sudan) aku gak akan percaya bahwa ada orang seperti Sam yang rela meninggalkan tempatnya yang nyaman di negaranya untuk menolong orang yang sama sekali tidak dikenalnya.

Dan berfikirlah aku, bahwa jika suatu negara dikunjungi oleh orang dari negara lain, kemudian orang lain itu terenyuh dan membantu negara tersebut bukankah itu termasuk kedalam negara dunia ketiga? Negara yang tidak bisa menuntaskan masalahnya sendiri sehingga ‘perlu’ bantuan orang dari negara lain. Seperti Sudan ini? Aaah,, kasian sekali Sudan itu yak 😛

Tapiiiii,,, kemudian aku menonton tayangan Kick Andy yang berjudul: KU TAMBATKAN HATI DI INDONESIA. Dalam episode ini, Andy F Noya mengundang 4 narasumber yang merupakan warga asing dan menetap di Indonesia, karena kata terenyuh itu keluar. Kemudian akupun berfikir, apakah Indonesia mirip dengan Sudan yang dibantu oleh WNA karena tidak mampu lagi menolong masyarakatnya sendiri?

kickandy.com

Contohnya adalah Andre Graff, seorang WN Perancis yang jatuh cinta pada Indonesia di Wora-Woru, Waikabubak, NTT. Dia jatuh cinta kepada daerah ini karena daerah ini gak mempunyai sumber air bersih! Jadi, diapun dengan usaha kerasnya membangun sumur-sumur air bersih dari hasil uang pribadinya sendiri yang awalnya dikatakan pekerjaan bodoh oleh warga sekitar. Tapi hasilnya? Sekarang beta sudah punya air bersih toh 😀 *pengaruh iklan*

Bangga, sekaliguh miris juga. Bangga karena ternyata banyak warga negara asing yang mencintai negeri ini lebih dari negeri tempat lahirnya sendiri. Namun miris melihat kenyataan kenapa mereka bisa sampe ke sasar disini kalau bukan kenyataan bahwa negara ini masih bermasalah? Atau lebih lagi kalau negara ini masih masuk kategori negara dunia ketiga?

Ya, negara ini masih membangun. Negara ini masih banyak perlu belajar. Mudah-mudahan, negara ini akan terus maju hingga akhirnya gak ada lagi WNA yang mencintai Indonesia karena kemirisannya tapi mencintai Indonesia karena keindahannya kan yak 🙂

Indonesia 2020


http://www.apkasi.or.id

Haaiiiii Hallooo.. Apakabar semua? Ada apa dengan judul aku sekarang? Kok sepertinya mau menerawang seperti mama lauren aja. Lagian untuk apa menerawang segala kalau toh tahun ini kata suku maya mau kiamat (huwaaaa,,, tapi jangan dong,, aku kan belum kawiinnnn 😛 ).

Ok, fokus *benerin posisi duduk*

Kemaren, entah ada angin apa bos besar nyuruh aku kesebuah pertemuan. Pas masuk, eh ternyata yang diundang itu adalah jabatan yang setara dengan bos besar itu. Waduh, aku yang anak bawang ini jadi mati kutu deh. Emang ngerjain dah si bos. Tapi karena aku yang cuek bebek kayak tokek (gaaaakkk nyambung nieee) ya nyante aja pake cokelat diantara pakaian safari.

Pertemuannya biasa aja. Tentang pengembangan Kota Pontianak kedepan deh. Tapi karena aku anak gaul seantero kota Pontianak yang tahunya cuma wilayah seputaran mall dan sekitarnya 😛 , bukannya bos besar yang harus mikiran rakyatnya jadinya aku cuma mendengar aja deh tanpa berkomenta (padahal mulut ini udah gak sabar mau nyeloteh banyak >.< ).

Tema yang paling aku dengar adalah masalah krisis pangan yang akan terjadi di Indonesia tahun 2020. Kalian pernah dengar gak kalau wilayah negara-negara importir beras Indonesia seperti India dan Thailand mulai menguangi eksport berasnya karena untuk kepentingan negaranya pribadi. Maka dengan itu, Indonesia sekarang beralih ke Pakistan. Apa juga akan bertahan? Tentunya tidak!

Indonesia yang pada tahun 70-90 mengumandangkan sebagai negara agraris juga gak bisa bersuara dalam hal ini. Gimana mau bersuara kalau lahan sawahnya aja udah berkurang dijadikan perkebunan atau perumahan? Atau gimana mau jadi negara agraris kalau anak-anak sekarang gak ada lagi yang cita-citanya sebagai petani?

Coba tanyain deh sama anak-anak sekarang. Cita-citanya jadi apa? Palingan jawaban mereka mau menjadi dokter, pilot, presiden, atau yang sekarang terkenal adalah pekerja kreatif. Cita-cita mau jadi petani? Apa itu cupu!

Para petani di kampung-kampung juga bermainset kalau untuk meningkatkan derajat hidup keluarganya, anak-anaknya tidak boleh lagi jadi petani. Minimal mereka sekolah dan bekerja di perkotaan. Biarlah menjadi kuli asal jangan jadi petani. Keren yak kedengarannya? Tapi kalau semua orang indonesia ini berfikir begitu lalu siapa yang akan jadi petani di negeri ini?

Pada akhirnya, di tahun tahun kedepan, orang-orang Indonesia akan menjadi semakin kaya. Pendapatan perkapita semakin meningkat. Orang tidak ada lagi yang kesusahan tapi dibalik itu kita akan kelaparan karena krisis pangan! Beras akan lebih mahal daripada perhiasa. Apakah kita mau hal itu terjadi?

Karena itu seorang bos besar di dalam pertemuan itu mewanti-wanti anaknya untuk menjadi petani modern. Petani yang bisa menghasilkan beras-beras untuk daerahnya sendiri. Minimal, Pontianak gak akan kelaparan kalau krisis pangan itu terjadi. (Beneran, pas bapak ini ngomong aku merinding juga dengarnya).

Ini sebenarnya salah siapa?

Orang pasti menyalahkan pemerintah dong yang gak mensejahterakan para petaninya. Kalau di Malaysia (CMIIW) pemerintahnya akan menjaga harga beras milik petani. Kalau harga jualnya terlalu rendah, pemerintah akan mensubsidi para petani agar petani tidak mengalami kerugian. Jadi, gak ada lagi istilahnya petani beras yang gak  punya beras karena gak sanggup beli.

Tapi lagi lagi. Pemerintah itu siapa? Bagai menampar diri sendiri dong kalau kami ngomong banyak gini 😛 Namun, aku gak mau dong mampu beli emas tapi gak bisa beli beras.

Jadi, apa cita-cita anak-anak kita?

Hallo Uruguay ~ Selamat Mengalahkan Indonesia..


Indonesia VS Uruguay

Kemaren adalah pertandingan persahabatan antara Indonesia dengan Uruguay yang dimenangkan oleh Uruguay dengan skor telak 7-1. Gol pengembira Indonesia di ceploskan oleh Boaz pada pertengahan babak pertama yang merupakan gol pertama juga pada pertandingan itu.

Aku gak terlalu merhatiin pertandingan yang disiarkan langsung oleh TV One dan ANTV itu, pas pembukaannya aku sedang berada di rumah teman, pas pertandingannya aku sedang berada di Mall dan melihat gol pertama tercipta yang membuat Indonesia untuk sementara unggul 1-0. Kemudian tak lama kemudian Uruguay membalas hingga skor menjadi 2-1 pada saat Half Time.

Bagi aku, ini adalah pertandingan yang biasa saja. Pertandingan persahabatan yang biasanya berfungsi untuk melihat seberapa kuat kekuatan TimNas. Tapi kenapa yang diundang harus Uruguay? yang notabene adalah negara 4 besar terkuat di dunia. Sedangkan Indonesia, piala dunia saja belum masuk. Ini membuat aku berfikir bahwa PSSI mengundang Uruguay ke Indonesia hanya untuk senang-senang. Mungkin akan ada kebanggaan kalau sebuah Tim dari negara besar sepakbola melawan TimNas kita. Tapi menurut aku diundangnya TimNas Uruguay hanya untuk berkata: Hallo Uruguay ~ Selamat Mengalahkan Indonesia..

Pulang ke rumah aku langsung membuka TV, lihat2 dikit ke ANTV. Ternyata pertandingan sudah masuk ke menit 80 dan kedudukannya sudah 7-1, wow! Bukankah ini sangat mubajir? Mengeluarkan uang 4M cuma untuk melihat dikalahkan, dan tentu pertandingan ini tidak bisa dijadikan parameter kekuatas TimNas.

Kalau memang ingin menghitung kekuatan, menurut aku, seharusnya Indonesia mengundang Tim yang memang selevel dengan Indonesia. Atau paling gak ya yang akan bertanding dengan Indonesia kelak di Piala Asia atau AFF. Bukankah itu akan lebih efektif untuk pengukuran kekuatan?

Uruguay dalam waktu dekat tidak akan pernah bertanding secara resmi di ajang internasional dengan Indonesia. Kenapa kita capek2 untuk mengundang mereka. Bukankah lebih bagus jika yang diundang itu Jepang, Korea, Arab Saudi atau Australia. Atau yang kecil sekalian dulu seperti Thailand dan Filipina yang bahkan Indonesia sendiri masih sulit untuk menaklukkannya.

Jadi, kita masih bermimpi untuk mengalahkan Uruguay?

———————————————————————————————————————————————-

Menilik kondisi TimNas yang sedang babak belur sekarang, banyak orang pengamat bola yang berfikir bahwa ini adalah kesalahan kondisi di dalam PSSI, organisasi yang memang mengurus segala sesuatu tentang sepak bola Indonesia. Banyak kalangan berpendapat isu yang dilontarkan PSSI untuk menguatkan TimNas masih jauh dari kata cukup untuk mengantarkan Indonesia menjadi juara di Asean, apalagi di Dunia (pikir2 lagi bung).

Saya sangat sependapat dengan Andi Bachtiar yang berbicara bahwa kalau sepakbola ingin maju, yang lebih utama adalah membuat fasilitas yang memadai dulu. Perbaiki stadion. Jangan dulu mikirin pelatih negara mana yang akan kita ambil untuk melatih. Pemain yang biasa saja akan menjadi pemain yang luar biasa kalau berada di tempat pelatihan yang baik, akan tetapi pemain yang luar biasa akan menjadi biasa kalau mereka berlatih di tempat yang buruk. Yah, memang begitulah keadaannya.

Jadi, karena blog ini milik aku pribadi, dan aku memiliki hak politik untuk memilih :P, maka kalau bisa memilih, aku akan memilih Andi Bachtiar Yusuf untuk menjadi ketua PSSI menggantikan Nurdin Halid sekarang. Minimal, omongannya yang ceplas-ceplos ini bisa mengantarkan sepakbola Indonesia paling tidak menjadi juara si Asean.

Dunia Hiburan


http://threespeech.com

Kemaren aku baru saja menyelesaikan menonton drama korea yang entah sudah judul keberapa. Dan entah untuk keberapa kalinya mereka berhasil membuatku menangis segukan. Inilah sebabnya yang membuat aku terus mencari dan mencari lagi judul-judul baru drama-drama korea baru. Karena aku yakin, drama mereka pasti bagus dan yang paling penting untuk aku adalah sudah barang tentu drama ini akan habis hanya belasan episode, kalaupun panjang paling hanya sampai 30an episode.

Mari kita bandingan dengan sinetron Indonesia sekarang. Semua sinetron sekarang striping (bener gak neh tulisan). Aku gak ingat pasti kapan fenomenal sinetron kejar tayang dan menayangkan episodenya setiap hari ini. Yang aku ingat adalah sewaktu aku masih SD dulu sinetron itu hanya seminggu sekali. Jadi setiap hari kita akan mendapat tayangan baru. Hari senin nonton sinetron A, selasa sinetron B, Rabu sinetron C dan seterusnya. Bahkan sering juga Sabtu minggu sinetron libur dan isikan oleh tayangan kuis-kuis yang menyenangkan. Misalnya kuis kata berkait, piramida, who wants to be a milioner dan masih banyak lagi kuis yang ada.

Bukan hanya menayangkan setiap hari dan kejar tayang. Sinetron sekarang juga (istilahnya) tidak ada ujungnya. Kalau sudah punya ranting tinggi maka jangan harap para produser dan sutradara itu akan menghentikannya. Ada lagi istilah season di sini.

Merujuk ke drama korea, season sangat jarang ada. Kalaupun ada biasanya jarak antara season satu dengan lainnya lumayan lama. Bisa satu tahun bahkan lebih. Kalau Indonesia merujuk ke drama dari Amerika yang memang mempunyai season yang panjang dengan episode yang banyak mungkin saja. Aku memang tidak terlalu mengikuti drama Amerika. Sebut saja Friends yang digadang-gadang banyak penontonya. Bahkan filmnya saja aku tidak pernah menonton. Satu-satunya drama yang aku tonton habis satu season adalah Heroes. Tapi season kedua dan ketiganya tidak aku tonton.

Balik lagi ke sinteron Indonesia. Karena keadaan sinetron sekarang yang amat sangat buruk menurut aku jadilah aku sekarang kurang suka untuk menonton teve. Bahkan bukan hanya sinetron, ini juga merembet ke acara realiti show yang menurut aku banyak adegan dramanya. Tidak real sama sekali lagi. Jadi untuk apa mereka masih menyebutnya reality?

Mungkin, dari puluhan juta penduduk Indonesia menikmat teve aku hanya sebagian kecil masyarakat yang sudah sangat jenuh dengan tayangan yang mereka angkat (lagi-lagi). Belum lagi fenomena musik di Indonesia yang sekarang sedang ‘musim’ lagu melayu. Bahkan musik-musik pop di negara ini sudah mulai tersingkir sedikit demi sedikit.

Oh, mau jadi apa kedepannya entertaiment di negaraku ini. Jika beberapa tahun lalu malaysia merujuk ke Indonesia untuk segala hal termasuk dunia hiburannya. Aku tidak heran kalau beberapa tahun lagi masyarakat Indonesia mulai merujuk ke hiburan dari Malaysia. Fenomenanya sudah ada, yakni sinetron anak-anak Upin Ipin yang menurut aku sangat berkualitas dan mengajarkan anak-anak dengan sangat baik. Musik malaysia juga sudah mulai tertata dengan baik menurut teman-temanku yang kuliah di sana.

Jadi, mau menunggu kehancuran dunia hiburan Indonesiakah kita?

Indonesia – Malaysia


beritalangsung.com

Dari kemarin aku ingin menulis sesuatu tentang konflik Indonesia – Malaysia ini, tapi kok rasanya udah ketinggalan jaman untuk membahas ini ketika aku sekarang membuka teve dan baru mengetahui bahwa ternyata hari ini baru saja dilakukan perundingan antara pemerintah Malaysia dan Indonesia di Kinabalu.

Aku memang sangat jarang menonton teve. Ada beberapa alasan untuk itu, mungkin di postingan lain aku akan membahasnya. Sekarang fokus dulu dengan bahasan ini.

Indonesia-Malaysia memanas lagi. Ini setelah Malaysia menangkap polisi perbatasan kita, padahal kapal kita sama sekali tidak melewati batas teritorial Malaysia. Konflik mulai berlanjut ketika Malaysia meminta pertukaran (paling tidak itulah yang masyarakat dan aku ketahui dari media) untuk melepaskan petugas Indonesia itu. Sebuah pertukaran dengan nelayan Malaysia yang ditangkap oleh Indonesia karena menangkap ikan di wilayah Indonesia.

Kontan masyarakat Indonesia yang katanya berjiwa nasionalis itu marah. Kenapa bisa petugas kita harus ditukar dengan maling? Dan mulailah aksi brutal terhadap Malaysia di negara kita ini.

GANYANG MALAYSIA!!

Itulah kalimat yang sering aku dengar oleh para demonstran dan disiarkan oleh seluruh stasiun televisi nasional. Sebuah kalimat yang mulanya keluar dari mulut presiden Indonesia pertama, yaitu Ir. Soekarno saat terjadi konflik dengan Malaysia pada beberapa dekade lalu.

Mengganyang, atau melumatkan Malaysia tidak asing terdengar ditelinga kita. Tapi bolehlah aku bertaruh, kebanyakan mereka yang menyebutkan kata itu bahkan mungkin tidak tahu makna sebenarnya dari ganyang itu sendiri. Bahkan, jika ditelusuri di wikipedia, sangat sulit untuk menemukan arti ganyang. Ketika aku memasukkan keyword itu di Google, yang aku temui hanyalah beberapa artikel tentang Indonesia yang ingin mengganyang Malaysia atau mereka yang hanya sekedar membahasnya (seperti aku juga disini :D).

Aku pribadi, sangat tidak senang dengan masyarakat yang sok ingin berperang dengan Malaysia. Bahkan aku meragukan, mereka yang berteriak di depan teve itu mau ikut digaris depan saat benar-benar ada peperangan. Tindakan seperti membakar bendera suatu bangsa lain terlihat sangat kekanak-kanakan. Bahkan walaupun Malaysia pantas untuk mendapatkan itu semua.

Benci Malaysia. Begitulah banyak orang disekitarku berbicara. Mereka kebanyakan nonton berita sepertinya, menurutku. Coba tanya saja dengan mereka, kenapa membenci Malaysia. Kebanyakan mereka menjawab, karena Malaysia merebut Sipadan dan Ligitan. Karena Malaysia telah mengklaim batik, reog, lagu daerah dan masih banyak lagi. Karena Malaysia telah sering kali memindahkan patok batas di perbatasan Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur. Karena Kasus Ambalat dan wilayah Kepulauan Natuna. Dan semua itu ada diberita teve. Mereka tidak melihat sisi lain kenapa kita harus membenci Malaysia.

Tentu saja berita itu ada benarnya, dan jangan pungkiri juga ada juga salahnya. Contohnya, barusan saja di Metro TV, aku baru tahu ternyata Sipadan dan Ligitan itu tidak pernah diklaim milik Indonesia. Mungkin kasusnya Indonesia hanya ikut-ikutan bertaruh di Mahkamah Internasional. Siapa tahu Indonesia bisa menang. Soal klaim milik Indonesia seperti batik dll itu, jangan salahkan 100% Malaysia. Berkacalah kepada diri sendiri dulu. Jika Malaysia tidak mengklaim barang-barang itu, apakah Bangsa Indonesia yang besar ini pernah berfikir mau mendaftarkan barang tersebut ke PBB?

Kemudian masalah perbatasan dan patok batas negara. Aku sebagai warga Kalimantan Barat sangat paham benar kalau wilayah kami sangat bergantung dengan Malaysia. Aku yang berada di ibukota saja tidak asing untuk itu. Kami sering berkunjung untuk berlibur ke Kucing, Serawak Malaysia. Pelajar kami juga banyak yang kuliah di sana. Untuk berobat akan jauh lebih murah dan mudah untuk berobat di sana. Di Pontianak, tempat tinggalku, sangat banyak kantor-kantor tempat konsultasi dari rumah sakit Malaysia. Membuktikan, bahwa mereka sangat memperhatikan kebutuhan kami.

Itu di wilayah perkotaan. Perdesaan lebih parah lagi ketergantungannya. Akses ke ibukota propinsi yang sangat jauh dan mahal jadi alasan terkuat untuk masyarakat lebih memilih untuk menggantukan perekonomiannya di Malaysia. Wilayah seperti Sanggau, Sintang, Putusibau, Sambas dan sebagainya tidak pernah mendapat perhatian bahkan dari stasiun televisi nasional. Sudah berapa tahun Indonesia merdeka, tapi mereka tidak bisa mengakses teve tersebut untuk menonton. Mereka harus memasang Parabola digital. Sedangkan untuk mengakses teve Malaysia sangat gampang di sana.

Lalu, masih menyalahkan Malaysia kah kita?

Menurut pendapatku pribadi, peperangan dan pemutusan hubungan diplomatik tidak akan menyelesaikan masalah, malah justru akan merugikan bangsa kita sendiri. Apalagi bagi masyarakat perbatasan.

Solusi yang aku fikirkan malah lebih ke solusi fisik. Seperti, bangun wilayah perbatasan. Pusat perekonomian, pendidikan, dan kesehatan. Itulah yang kita perlukan sekarang ini. Jika kita bisa mengumpulkan koin prita, koin bilqis, solidaritas Aceh dan banyak lagi, kenapa kita tidak tergerak untuk menggalang solidaritas untuk membangun wilayah perbatasan? Apa karena mereka tidak sedang dalam kondisi bencana, atau tidak sedang dalam kondisi darurat?

Tapi apakah kondisi sekarang ini masih juga kita kategorikan dalam kondisi tidak daruat? Saat negara tetangga sedang sibuk untuk mengais dari tanah air kita. Merusak kedaulatan NKRI. Kalau dibiarkan terus menerus seperti ini, aku tidak heran jika disuruh memilih, masyarakat perbatasan itu lebih ingin menjadi warganegara Malaysia. Tentu dengan ketidaktahuannya tentang hukum Malaysia yang tidak sedemokrasi di Indonesia. Apalah mereka masyarakat awam yang hanya tahu apakah mereka diperhatikan atau tidak diperhatikan.