Sang Pencerah


Hendralesmana.com

Barusan tadi sore nonton nih film. Emang rada udah lama sih, tapi kan gak lama-lama amat yang lumayan untuk dibahas dan menuh-menuhin blog 😀

Awalnya gak begitu tertarik dengan judulnya dan posternya. Sang pencerah, apa itu maksudnya. Terus posternya juga orang-orang yang berbapakaian jawa. Maaf bagi para penduduk jawa yang melimpah itu. Aku tidak terlalu suka dengan kebudayaannya, apalagi kalau disuruh menonton filmnya. Mau nonton apa aku?

Tapi seiring dengan sering dibahasnya film ini, dan banyaknya tailer2 yang menyebar di teve atau dunia maya, aku jadi tahu bahwa film ini adalah film tentang Kiai Haji Ahmad Dahlan yang merupakan pendiri Muhammadiyah di Indonesia. Barulah aku tertarik untuk menontonya.

Sedikit ceritanya (versi niee):

Darwis (Kiai Haji Ahmad Dahlan Muda) adalah remaja yang melihat ajaran Islam berbeda dengan kebanyakan orang di daerahnya. Sebuah daerah yang masih melakukan kebudayaan nenek moyang yang banyak salah. Misalnya saja memberikan sesajien pada pohon untuk meminta pertolongan. Padahal mereka itu Islam. Terbawa ingin mempelajari Islam lebih, diapun memutuskan untuk naik haji dan belajar Islam di Mekah. Setelah pulang, diapun mendapat nama baru yaitu Haji Ahmad Dahlan.

Berbekal ilmu yang dimilikinya, H. Ahmad Dahlan membuat sebuah perombakan besar di kampungnya. Dimulai dengan mengganti arah kiblatnya, karena kebanyakan mesjid di daerahnya menyesuaikan dengan arah jalan, bukan arah Ka’bah. Diapun menjadi Kiai dengan pemikiran Islam modern yang membuat resah para pemuka agama yang lebih tua sehingga sebagian besar masyarakat menyebutnya sebagai Kiai kafir.

Beberapa perdebatan2 penting yang bisa aku tangkap (baca: yang aku ingat :D):

Q: Kenapa kiblat harus sesuai dengan arahnya? Bukannya iman itu di dalam hati?

A: Kalau begitu apa fungsinya Ka’bah dibagun. Ka’bah dibagun untuk menyatukan umat Islam menghadap ke bagian yang sama.

Q: Bolehkah tidak membuat ‘perayaan’ saat peringatan 40 hari kematian?

A: Tidak pernah nabi menyuruh kita untuk melakukan peringatan kematian. Apalagi sampai membuat umatnya sulit karena tidak memiliki biaya.

Q: Kenapa melarang yasinan?

A: Tidak pernah bermaksud melarang yasinan. Membaca surah yasin bersama-sama dan terus menerus membuat surah itu bagaikan surah yang khusus dan membuat lupa surah-surah lainnya. Padahal Al-Qur’an banyak memiliki surah yang juga bagus isinya.

Q: Kenapa menggunakan peralatan kafir untuk berkegiatan? Itukan haram?

A: Kita menggunakan peralatan mereka bukan untuk bertindah kejahatan. Malah membuat kita lebih mudah. Itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan haram.

Lakumdinukum Waliyadin ~ Untukmu agamamu dan untukku agamaku.

———————————————————————————————————————————————-

Banyak sekali yang bisa didiskusikan pada film ini, tentu bukan dalam tahap mengkritik si sineas. Melainkan pandangan kita terhadap ajaran agama Islam modern.

Aku dibesarkan dalam keluarga yang rada kuno memandang agama. Tapi orang tuaku sangat membuka diri untuk masukan2 baru yang jika baik akan diterima dengan baik pula.

Tapi jika aku dibilang Islam modern tentu aku tidak mau seperti itu, apalagi kalau dibilang sebagai Islam liberal. Aku sebagai manusia bebas yang mencampur adukkan semuanya, mengambil yang baik dan mengubur yang buruk.

Kebanyakan warga Muhammadiyah yang aku kenal tidak mau melakukan beberapa hal. Contoh paling seringnya adalah mereka tidak mau mengikuti acara tahlilan. Alasannya mungkin seperti yang diungkapkan pada film ini. Bahwa do’a itu dari dalam hati dan tidak perlu beramai-ramai. Apalagi membunyikan suara keras yang membuat tidak nyaman para tentangga. Tanggapan aku tentang ini adalah Tahlilan itu tidak wajib, tapi kalau ada yang mau dan mampu untuk melakukan, kenapa musti kalut. Toh gak ada salahnya berdo’a beramai-ramai (istilahnya ibu aku itu makin banyak yang berdo’a makin baik 😀 ).

Ada lagi kebiasaan mereka yang hanya mau sholat taraweh sebanyak 8 rakaat, gak lebih. Katanya nabi itu sholatnya juga cuma 8 rakaat. Ini juga belum ada bukti yang kongkret (sepengetahuan penulis). Kalau ada mesjid yang menyenglenggarakan lebih dari 8 rakaat, mereka akan pulang. Tanggapan aku, lah wong ibadah kok mikir2 toh! Bukannya lebih banyak rakaat kita akan lebih banyak dapat pahalanya?

Sekali lagi aku tekankan, aku gak benci dengan aliran Muhammadiyah. Malah kadang kala pemikiran mereka banyak bagusnya. Aku hanya tidak ingin mengikuti aliran ajaran agama Islam apapun. Kalau ditanya jawaban aku cuma Islam (titik).

——————————————————————————————————————————————–

Sekarang, marilah kita lihat mengenai filmnya (mulai sok pinter komentari film :P). Yang pertama aku garis bawahi kekurangan film ini adalah banyaknya penggunaan bahasa jawa dan ANEHNYA sangat jarang ada teksnya. emangnya Hanung cuma mau menjual filmnya untuk orang Jawa kah? Aku ora ngerti. Kasih kek teks terjemahan yang lengkap. Gak rugi juga kan.

Terus aku juga kurang suka penggambaran ketika beberapa adegan hitam putih. Mungkin maksudnya inikan film settingan tahun 1900an. Tapi gak perlu juga kali ada gambar kresek-kresek itu.

Awal pertama kali menonton, aku bilang pada temanku: Hati-hati habis menonton ini kita jadi pengikut Muhammadiyah. Tapi tenang saja kok, bagi yang telah memiliki keteguhan hati (caelah bahasanye :D) film ini gak begitu kuat untuk menggiring kita masuk jadi pengikutnya.

Yang pasti, aku jadi tahu setelah film ini bahwa Muhammadiyah sangat berperan besar dalam pendidikan modern untuk bangsa Indonesia. Jadi aku akan sangat menghormati Muhammadiyah sepenuh hati 😀 (mungkin jika punya anak akan memasukkan ke SD Muhammadiyah 2 Pontianak. – woy! gak ada hubungannya coba :P).

Dan akhirnya seneng deh bisa nonton film Indonesia yang baik lagi, setelah kemaren aku baru nonton Darah Garuda. Mudah2an perfilman Indonesia semakin maju yah.

note: film Sang Pencerah, darah garuda berdampingan dengan film dawai 2 asmara dan dilihat boleh dipegang jangan. Do’a penulis agar kedua film terakhir dapat menghilang dari dunia perbioskopan Indonesia. Amin 😀

Negeri Van Oranje


Kutubuku.com

Bener-bener gak direncanain terlebih dahulu buat nulis ni postingan. Baru beberapa menit yang lalu aku menyelesaikan membaca novel ini. Niatnya sih pingin nulis besok aja. Tapi gak tahu kenapa aku yang biasanya malas untuk bergerak menghidupkan laptop jadi malah langsung beranjak dari pembaringan yang empuk beralih kedepan laptop yang panas. Mungkin semangat para Aagaban masih terserap di dalam tubuhku hingga bisa seperti malam ini (beneran deh aku merasa aneh dengan kalimat terakhir :p ).

Seperti biasanya, aku menulis sesuatu tentang buku atau film bukan untuk memberi sinopsis apalagi memberi review. Ini karena aku berfikir bahwa aku gak bakat dalam hal ini. Pengetahuanku tentang dunia film dan tulis menulis masih terlalu dangkal yang menyebabkan aku kurang pede. Tapi beberapa kali aku tetap nyoba kok. Mudah2an karena seringnya mencoba kemampuanku jadi lebih terasah (apalagi kalau dapat komentar dari kalian semua, makin senang deh aku menulisnya 😀 ).

Kalau kalian masih ingin tahu sinopsis lengkap dengan para penulisnya dan kisah2 lainnya. Kalian bisa langsung datang berkunjung ke websitenya di http://www.negerivanoranje.nl/

Aneh juga kalau gak bercerita sedikit tapinya.

Jadi novel ini bercerita tentang 5 orang mahasiswa Indonesia yang secara terpisah datang ke Belanda untuk sekolah. Lima orang itu adalah Lintang, seorang cewek yang kuliah dengan uang sendiri dan mengambil jurusan sastra di Universitas Leinden. Geri yang merupakan anak pengusaha sukses asal bandung dan mahasiswa senior di Belanda, maksudnya dia udah lama di Belanda, udah dari jaman mengambil gelar Barchelor. Wicak, seorang aktifis LSM yang terdampar di Belanda karena dicari oleh sekelompok mafia ilegal loging untuk dibunuh (suer deh ini novel bukan bergenre horror, murni hanya latar belakang cerita). Bajar seorang pebisnis muda yang sukses di Indonesia dan tertantang untuk hidup susah di negeri orang. Dan terakhir Daus, seorang PNS Depag yang mendapat beasiswa untuk melanjutkan sekolah dibidang hukum. Mereka semua bertemu secara tidak sengaja di stasiun kereta karena badai (sungguh nasib yang indah).

Pemaparan di dalam novel ini sangat detail tentang kehidupan mahasiswa di Negeri Belanda. Bagaimana mereka beraktifitas, susah senang mereka saat mengerjakan papper dan penyelesaian tesis. Cara jitu menghemat, mendapatkan apartement tempat tinggal, event2 yang ada di Belanda, kebiasaan mahasiswa Indonesia di sana dan masih seabrek2 pengetahuan lainnya yang membuat sekilas novel ini seperti ‘Buku Petunjuk’.

Tapi novel tetaplah novel. Tentu di sini juga ada permasalahan dan inti ceritanya dong. Gimana konflik antara para personil Aagaban ini dan cara penyelesaiannya khas orang dewasa yang bukan lagi anak remaja ingusan.

Novel ini akan membuat semangat kita untuk bersekolah lagi naik beberapa tingkat (apalagi ditengah dilema aku yang ingin melanjutkan kuliah atau serius cari kerja sana di sini). Gak ada istilahnya status kalau sudah jauh dari rumah. Apalagi sampai di negeri orang. Yang ada hanya 1: kalau dapat teman satu perantauan yang berasal dari daerah yang sama, akan berasa kayak keluarga pastinya (syukur2 kalau bisa jadi jodoh 😀 ).

Karena kekurang telitian aku yang jarang mendapat novel bagus dengan membeli, tapi dengan meminjam (catatat bahwa novel ini hasil pinjaman dari teman aku di Bandung bernama Wulan), aku jadi pingin punya ini novel. Berasa punya buku ajaib yang siapa tahu kalau aku ke luar negeri nanti bisa banyak membantu (Amiiiiiiiiinnnnn).

oiya! dibuku ini juga ada tips2 jika kita ingin berbackpacker ria keliling Eropa (Ya Allah, mudah2an aku pernah merasakannya seumur hidup ini..) dengan cara yang murah.

Soooo,,, tunggu apa lagi..

Mari mulai membaca novel ini..

Lah kok masih baca nih tulisan, ayo sono ke toko buku belinya. Atau gaya seperti aku yang modal pinjam..

Selamat menikmati keindahan cerita..

bye!

Bulu Tangkis


Siang-siang secara random liatin ibu sama bapak nyetel teve di RCTI. Pas stasiun itu nyiarin film King. Pada tahu kan film King? Yupz, film yang bercerita tentang bulutangkis.

Sebenarnya aku tidak terlalu menggemari bulutangkis. Tapi sebagai warna negara Indonesia, siapa seh yang tidak mengetahui olahraga satu ini? Bahkan mungkin olahraga ini satu-satunya olahraga yang aku bisa memainkannya tanpa mempermalukan diri sendiri.

Pengetahuan tentang olahraga ini aku juga kurang paham. Tidak seperti bola yang aku tahu hampir banyak tentang kejuaraannya. Sebut saja World Cup, ada lagi Euro, terus Piala Afrika, Amerika, dan Asia.

Itu baru kejuaraan antar negaranya. Kejuaraan antar klubnyapun aku sedikit banyak tahu. Apa itu EPL, La Liga, Bundes Liga, Seri A, Champions, Europa League, Piala Dunia antar klub, bahkan kejuaraan kecil seperti Piala Raja di Spanyol dan Carling di Inggris.

Indonesia juga aku sedikit banyak tahu bahwa devisi utama liga Indonesia itu ISL, ada lagi devisi I. Yang memang ISL itu kemaren adalah Arema Indonesia dan masih banyak lagi.

Walaupun aku tidak ahli dalam hal perbolaan, tapi kalau diajak bicara tentang bola aku gak akan malu-maluin deh (asal jangan ngajak main aja :D)

Nah, kembali lagi ke Bulutangkis. Bisa dibilang olahraga bangsa Indonesia adalah bulutangkis. Berkumandangnya lagu Indonesia Raya apalagi kalau bukan bulutangkis yang menangkatnya. Indonesia pernah juara dunia untuk bulutangkis, bahkan setiap tahun Indonesia masuk ke dalamnya. Jauh jika dibandingkan dengan sepak bola di Indonesia yang hanya bisa terseok-seok di Piala Asia. Piala Dunia? jangan terlalu banyak berharap dulu!

Yang patut dipertanyakan adalah, jika Bulutangkis merupakan olahraga bangsa, tapi kenapa gaungnya sangat kecil sekali terdengar? Bandingkan dengan sepakbola yang orang pada kalut ketika teve mana yang akan menyiarkan EPL tahun ini.

Aku tahu sekarang tengah ada China Master Super Series. Di mana tak ada satupun wakil Indonesia yang masuk ke final. Alasan yang mendasar adalah karena memang tak ada pemain senior (kecuali Liliana/Natsir) yang dibawa mengikuti kejuaraan itu. Karena masih libur lebaran cuy! Cina enak aja buat pas musim libur se Indonesia Raya ini.

Beberapa bulan yang lalu juga ada Piala Dunia Bulutangkis yang lagi-lagi Indonesia tidak mempunyai juaranya. Satu-satunya wakil yang bisa dibanggakan adalah Taufik Hidayat yang mendapat juara kedua.

Tahu dari mana aku itu semua? Yah, aku lumayan aktif di internet dan dunia maya. Kebetulan orang-orang dunia maya yang aku ikuti itu banyak membawa berita tentang segala macam hal.

Itu aku yang aku beruntung dan aktif. Bagaimana yang tidak? karena masyarakat Indonesia yang aktif di dunia maya sangatlah sedikit (tentu dibandingkan dengan jumlah rakyat Indonesia sendiri). Belum lagi dikurangi mereka yang hanya berkutat ke dunia maya tanpa respek ke hal-hal seperti ini. Otomatis yang ‘tahu’ tak sampai 1% dari penduduk Indonesia.

Ini merupakan hal yang miris menurut pendapat aku. Kecintaan akan bulu tangkis harus dipupuk. Dan cara memupuknya adalah memperbanyak pengeksposan media terhadap olahraga ini.

Bagaimana bisa cinta kalau kita tidak sering ‘bertemu’.

Ini berhubungan erat dengan prestasi perbulutangkisan Indonesia pada umumnya tentunya. Tidak bisa kita menutup mata bahwa prestasi Indonesia sudah sangat menurun dibanding dengan 2 dekade silam (tahun 90an). Dulu Indonesia adalah ‘juara’ bulutangkis dunia. Semua negara takut jika berhadapan dengan Indonesia. Sekarang? Indonesia yang malah takut dengan China, Korea, BAHKAN Malaysia.

Indonesia memang negara ke 2 paling berjaya di kejuaraan dunia BWF dengan raihan 18 gelar, berada di belakang china yang di urutan pertama dengan raihan 40 gelar. Itupun Indonesia terakhir kali meraihnya pada tahun 2007 silam.

Piala Thomas Indonesia boleh bangga bilang merupakan negara dengan jumlah raihan terbanyak sebanyak 13 gelar TAPI terakhir kali Indonesia mendapatkannya itu pada tahun 2002.  Sudah 8 tahun berselang! apalagi untuk piala Uber yang terakhir kali Indonesia mendapatkannya adalah pada tahun 1994 (mungkin Susi Susanti masih ada di dalam skuad itu).

Lupakan piala itu, kita melihat Piala Sudirman. Kejuaraan bertaraf Super Series yang pasti milik Indonesia. Bahkan China mendominasi pada kejuaraan ini, dan Indonesia sendiri terakhir memenanginya pada tahun 1989! tahun yang sudah sangat lampau.

Apa kabar perbulutangkisan Indonesia sekarang?

Menurut aku, memang sekarang masih banyak pebulu tangkis yang bagus seperti Taufik Hidayat, Sony Dwikuncoro, Simon Santoso, Liliana/Natsir, dan masih banyak lagi. Tapi kebanyakan mereka berada pada usia yang relatif sudah tua. Mana generasi penurusnya?

Kita memang kalah jauh dengan China yang rotasi pemainnya sangat cepat. Bahkan pemain utama mereka sekarang berusia kisaran 20-24 tahun.

Maka, marilah kita memperhatikan perbulutangkisan kita. Dimulai dari hal yang kecil seperti mengikuti berita-berita kejuaraannya (suer, ini juga aku masih belajar, lebih sering buka sport bagian bola 😦 ).

Kita ini Indonesia. Kita harum dengan olahraga Bulutangkisnya 😀

Hidup itu berjalan, gak pake’ mundur


Sebenarnya gak tahu juga mau nulis apa malam ini (masih bingung sebenarnya kalau jam 1 itu pagi atau malam). Awalnya mau nulis tentang seorang Andi Yusuf Bachtiar yang ingin mencalonkan diri sebagai ketua PSSI, tapi gak jadi. Terus pingin nulis sesuatu tentang bola, tapi kayaknya kurang materi juga buat nulis. Jadila tulisan ini yang terpostingkan.

Karena udah kepalang tanggung kepingin nulis tentang bola, jadinya aku selipin dikit deh yah cerita aku malam ini. Jadi, sebagai anggota MUI yang taat (tunggu! kalian tahu kan maksud aku MUI ini apaan? tahu dong yah! Yupz, Manchester United Indonesia) aku dari kemaren udah nungguin partai tadi sore antara MU melawan Liverpool. Laga yang amat panas pastinya dan saat pertandingan berjalanpun ternyata laga memang panas 😀

Akhirnya MU menang 3-2 di partai ini yang membuat level semangat aku naik tinggkat ke tinggat ‘hampir’ rajin, yah tentu belum rajin-rajin amat yah. Tapi kalian gak nungguin aku nulis detail tentang pertandingannya kan? Inika postingan tentang hal lain. Bola hanya diselipkan. Aku mana sempat bilang bahwa MU yang unggul duluan lewat sundulan Berbatov di laga awal. Lalu aku gak mungkin lagi cerita panjang lebar bahwa Berbatov kembali ngegolin di babak kedua dengan tendangan salto yang indah. Apalagi aku mana sempat bilang bahwa Liverpool kemudian nyamain kedudukan lewat adu pinalti dan freekick karena Torres yang terlalu lemah sering jatuh di daerah terlarang. Terus yang paling gak sempat tentu aku menuliskan endingnya saat Berbatov Hat Trick yang membuat MU unggul lagi dan akhirnya menang. Aku sungguh-sungguh tidak sempat menceritakan itu semua 😛

Nah, karena kemenangan itu semangat aku ada sedikit. Yang aku manfaatkan untuk menyelesaikan PR perbaikan skripsi aku. Ya ya, pengakuan terdalam aku adalah, aku sudah sidang sarjana tapi belum perbaikan 😀 (kan kemaren baru libur lebaran kakak *ngeles*).

Lalu apa? Apa yang aku lakukan setelah lulus ini?

Serius, dari lubuk hati yang terdalam aku bingung sekali. Pingin rasanya aku bekerja dan mendapatkan pekerjaan yang layak dan baik (maksudnya taukan kalian semua? a.k.a yang bergaji besar). Tapi aku bukan anak pemalas loh yang mencari pekerjaan bergaji besar tetapi santai. Ini dunia bung! kalau mau bergaji besar pasti harus kerjaan yang ‘keras’.

Tapi, bagaimana aku bisa mendapatkannya? Kirim lamaran kesana-dan-kemari tentu bukan tipe aku. Sangat berharap aku bisa suatu hari nanti menjadi penulis aja.

Lalu akupun berfikir untuk lanjut sekolah lagi. Toh, orang tua malah menyemangati untuk hal ini. Kalau aku mengambil jalan ini tentu aku harus tahu konsekuensinya kalau mempunyai gelar s2 dikotaku belum terlalu berfungsi. Kalau udah kepalang tanggung ya jadinya bekerja sebagai dosen saja.

Soal pengalaman ngajar mengajar aku memang ada bakatnya. Toh aku pernah bekerja sebagai pengajar bimbel di suatu bimbingan selama 6 bulan. Waktu yang tidak sebentar tentunya.

Aku sudah menentukan pilihan. Kalau aku gak dapat pekerjaan selama 2 bulan kedepan, aku pasti akan melanjutkan sekolah lagi. Berfikir untuk sekolah di ITB mengambil program studi Sistem Informasi, atau kalau gak di IT Telkom mengambil Teknik Informatika.

Mudah-mudahan pilihanku gak salah. 😀

SEMANGAT!! /

Darah Garuda


Hari pertama lebaran aku isi dengan menonton film darah garuda. Penting buat aku menonton film ini karena ini adalah film Indonesia yang sangat bagus menurut aku. Rugi saja aku selalu menonton film-film hollywood tapi gak mau menyisihkan waktu untuk memnonton film Indonesia yang menarik. Maka pergilah aku malam pertama lebaran ke Mall untuk menonton bioskop.

Aku tidak akan membahas sinopsis atau review dari film ini. Karen sinopsis sudah banyak beredar di internet. Kalau mau buka saja webnya di http://www.merahputihthefilm.com/darahgaruda.com/. Di sana bahkan sudah ada thilernya. Gak pelru lah aku panjang lebar hanya untuk copy paste kan 😀

Tulisan ini aku buat untuk membahas isi dari film ini. Karena film ini memang membahas banyak hal yang berkaitan dengan masa mempertahankan kemerdekaan serta isu-isu yang berkembang di dalamnya.

Telah kita ketahui bersama bahwa pemeran di film ini terdiri dari berbagai suku bangsa dari Indonesia. Sang pemimpin Amir, yang diperankan oleh Lukman Sardi berasal dari Jawa. Marius (Darius Sinatria) berasal dari bangsawan Jakarta. Thomas (Donny Alamsyah) seorang kristen yang berasal dari Manado, Sulawesi Utara. Ada lagi Dayan (T. Rifnu Wikana) yang merupakan Hindu Bali.

Masalah ada ketika mereka bertemu dengan Sersan Yanto (Ario Bayu) yang bertanya pada Amir, Kenapa ia bisa mempercayai mereka? Yang bisa di percaya hanyalah para Jawa dan Islam.

Serius, pada saat kalimat ini aku merasa tersentil emosiku. Karena aku memang bukan orang jawa. Aku akan dengan sangat bangga mengatakan kepada orang yang bertanya asalku adalah Kalimantan. Sebuah pulau di utara Jawa yang begitu besar dan bergabung dengan 2 negara lainnya, Malaysia dan Brunei. Sebuah pulau yang multikultural yang menerima siapapun yang datang, tanpa sibuk berkoar untuk mengusir seperti pulau yang kecil itu. Sebuah pulau yang berisi masyarakat berani untuk berfikir kedepan, tanpa sombong bahwa mereka berasal dari daerah terkenal.

Tapi tentu film ini sangat bijak, pada akhirnya kita tahu bahwa bhineka tunggal ika itu bukan hanya Jawa. Bahkan mereka menampakkan siapa yang akhirnya penghianat itu 🙂

Dilain adegan juga ada yang berkata: Apa itu Indonesia? Yang aku tahu hanyalah Java, Sumatra, Borneo, Sulawesi. Tidak ada Indonesia.

Yah, beberapa kali aku berfikir betapa sombongnya pahlawan dahulu yang menyatukan masyarakat yang amat sangat berbeda menjadi sebuha negara Indonesia. Kenapa mereka tidak membuat negara Java saja? Karena mereka terlalu sombong dengan masyarakat di luarnya menurutku.

Tengok saja orang-orang yang berkoar menginginkan peperangan Indonesia-Malaysia. Tentu mereka dengan mudah menyatakan ingin berperang. Toh garis terdepan itu ada di Kalimantan dan Sumatra, bukan di Jawa. Yang ingin berperang itu, tak mungkin berani kesini jika perang benar-benar terjadi.

Film ini menunjukkan, walaupun orang Bali, Sulawesi dan lainnya, mereka tetap mencintai Indonesia. Sudah menjadi kehendak Tuhan untuk mempersatukan negara yang sangat besar ini. Ini sudah menjadi takdir Indonesia. Maka, tugas kita sebagai penurus hanyalah mempertahankan dan mengisi kemerdekaan itu dengan baik. Tidak ada waktu lagi berfikir bahwa aku jawa, aku sulawesi, aku sumatera, aku kalimantan.

Darah Garuda memang banyak menguras emosi. Kalimat kasarnya adalah ketika menonton film ini kita akan membenci Belanda. Wajar saja orang-orang yang terlibat langsung dengan peperangan biasanya sangat anti dengan belanda. Mau tahu alasannya? tontonlah film ini. lagi pula, kapan lagi kita mendapatkan film Indonesia yang berkualitas? Bisa dihitung dengan jari kan setiap tahunnya 😀

Lebaran di Pontianak


Seperti apa lebaran di kampung halaman kalian?

Aku tidak tahu bagaimana suasana lebaran di kampung lainnya, karena toh aku memang tidak pernah berlebaran selain di kampung aku pontianak. Tapi kebanyakan yang aku dengar dari orang-orang adalah perayaan di kampung lain (terutama di daerah jawa) angat jauh berbeda dengan di Pontianak. Kebanyakan di sana takbiran, sholat Ied kemudian bersalam-salaman disepanjang jalan.

Ok, mari bandingkan dengan kampungku, Pontianak.

Belum lagi lebaran, di Pontianak telah mempersiapkannya dengan baik. Masuk ke malam ramadan 21 ada istilahnya ‘Keriang Bandung’ adalah tradisi masyarakat Pontianak menghidupkan api/lilin di depan rumah. Dulu tradisi ini menggunakan obor yang ditaruh di depan rumah. Kemudian digantikan dengan lampu yang di buat dari botol bekas kemudian diberi sumbu dan di masukkan minyak tanah. Masuk ke masa sekarang, orang-orang lebih memilih menggunakan lampu warna-warni yang digantung di langit-langit rumah.

Sepuluh hari telah berlalu, lampu-lampu disepanjang jalan dan rumah telah dihidupkan dan masyarakat Pontianakpun mulai menanti datangnya tradisi lainnya, yaitu tradisi ‘Meriam Karbit’. Biasanya ini dilakukan dari H-3 hingga H+3. Kegiatannya ya hanya membunyikan meriam yang berada di sepanjang tepian sungai kapuas, terutama di daerah jembatan Kapuas 1.

Kalau pendatang mungkin akan terkejut dengan bunyi yang menggelegar hingga keseluruh penjuru kota Pontianak saking besarnya. Tapi bagi kami masyarakat Pontianak itu membuat semarak malam-malam lebaran. Bahkan setiap malam takbiran banyak dari masyarakat yang berkumpul di satu titik itu untuk melihat dan mendengar meriam dari jarak yang lebih dekat sambil menikmati pemandangan sungai kapuas dimalam hari.

http://motosuki.multiply.com

Dan apa yang daerah lain lakukan setelah sholat ied dan bertemu dengan keluarga? Lebaran selesai dan saatnya berliburan ke pantai atau ketempat rekreasi? Ya, mungkin itulah yang di lakukan. Beda dengan kami masyarakat Pontianak. Lebaran tidak selesai hanya bergitu saja.

Jauh-jauh hari setiap rumah telah menyiapkan kue-kue yang cukup banyak untuk dihidangakan di ruang tamu. Ini dilakukan untuk menyambut tamu-tamu yang datang berkunjung.

Masyarakat di sini memang terbiasa untuk saling mengunjungi rumah masing-masing untuk bersilahturakmi. Si A akan kerumah B dan si B akan membalasnya dengan berkunjung ke rumah A. Dan seterusnya untuk berkelompok-kelompok orang. Belum lagi yang janjian untuk berkumpul dan mengunjungi satu per satu dari rumah masing-masing. Sangat aneh untuk sebagian orang, tapi sangat menyenangkan.

Lagian, kapanlah lagi kita dapat berkunjung ke rumah masing-masing jika tidak pada hari lebaran? Maka, masyarakat di kota pontianak akan memanfaatkan waktu seperti ini untuk slaing bersilahturahmi.

Yang jelek dari tradisi ini adalah kegiatan masyarakat yang berbenah rumah, membeli perlengkapan furniture baru, mengecat rumah, membeli gorden, peralatan makan dan masih banyak lagi. Bagai saling bersaing demi gengsi.

Apapun itu, tradisi ini harus di lestarikan. Sebagai masyarakat yang lahir dan besar di Pontianak, akan sangat aneh bagi aku jika suatu saat nanti di pontianak saat lebaran hanya bersalaman di mesjid atau di depan rumah.

Selamat lebaran 🙂

Gema Takbir


Sudah sejak siang hari kotaku diguyur hujan yang lumayan lebat. Jika hari-hari biasa tentu kita akan lebih memilih untuk bergulung di dalam selimut di atas kasur.

Tapi hari ini beda. Ya tentu lah sangat beda. Hari ini adalah hari terakhir Ramadan. Kesedihan memang menggelayuti bagi sebagian orang yang merasa akan meninggalkan bulan suci dan penuh rachmat ini. Belum tentu tahun depan kita bisa bertemu lagi dengan Ramadan. Tapi banyak juga yang senang, karena tak lain adalah besok Idul Fitri. Hari kemenangan yang banyak ditunggu oleh kebayakan orang.

Sebenarnya, apa arti kemenangan itu? Jika kita tanyakan kepada para kyai pastilah mereka mengatakan kemenangan dari segala ujian di bulan Ramadan. Bagaimana kita telah berhasil menahan segala keburukan yang selama ini kita kerjakan pada bulan-bulan lainnya. Kemenangan karena telah berhasil melakukan segala kegiatan yang dapat menampung pahala. Jika kita tanyakan kepada anak-anak arti kemenangan itu, tentulah mereka berkata dengan polosnya bahwa kemenangan akan berhasil berpuasa dan akhirnya mendapat hadiah berupa uang dan baju baru.

Kebudayaan Indonesia, tak dapat untuk kita pungkiri adalah bersifat konsumtif jika sudah mengenai hari kemenangan itu. Contohnya adalah hari ini. Ditengah hujan yang deras, orang-orang masih saja bersibuk untuk pergi ke pasar. Membeli segala sesuatu yang dianggap masih kurang untuk mempersiapkan lebaran ini.

“Kok orang-orang ini mau sih belanja pas hujan gini?” tanyaku kepada kakakku. Teman aku berjalan hari ini.

“Lah, kita juga sedang apa? Kita kan juga berjalan waktu hujan?” jawab kakakku yang malah balik bertanya.

“Tapikan kita pake’ mobil. Kalau kayak mereka yang menggunakan motor, gak mau ah,” ucapku menyelesaikan diskusi itu.

Memang, sebenarnya aku harus banyak-banyak bersyukur. Ditengah orang yang masih banyak kehujanan, aku bisa berteduh dengan hangat di dalam mobil sambil mengendarainya dengan tenang. Tidak ada ketakutan akan barang belanjaan yang akan basah atau makanan yang baru saja dibeli akan rusak.

Jadi, apa makna kemenangan bagi aku pribadi?

Kemenangan adalah jika aku bisa mengubah dari sesuatu yang buruk atau kurang menjadi baik ditahun ini. Ramadan lebih untuk aku intropreksi diri. Apa yang telah aku lakukan dan belum aku lakukan selama 11 bulan belakangan ini. Maka akupun inginkan sebuah perbaikan. Jika perbaikan itu terjadi, maka menanglah aku. Dan hari kemenangan itu akan menjadi lebih indah dan lebih bermakna.

Baju baru? Rasanya itu hanyalah reward untuk semuanya.

Aku pribadi, tidaklah terlalu suka dengan segala kesibukan untuk hari lebaran. Baju hari ini dibeli ya besok dipakai. Kue hanya pelengkap yah beli saja seadanya. Rumah dibersihkan hanya untuk menghormati tamu yang pastinya akan lebih banyak dibandingkan hari-hari biasanya.

Kebanyakan keluarga aku bersikap konsumtif. Mereka bilang ini tradisi, harus dilestarikan. Lagian kapan lagi berkumpul dan bersenang-senang seperti ini kalau bukan sewaktu lebaran.

Hmm, benar juga sih. Maka akupun ikut-ikut saja apapun itu. Tapi kalau aku sudah berkeluarga sendiri, gak tahu juga deh apa aku akan sesibuk sekarang atau akan santai-santai saja. Atau bahkan aku akan lebih sibuk? Haha, gak tahu juga deh.

Maka, apapun itu, inti dari hari kemenangan ini adalah mensucikan diri kita sesuci-sucinya. Kalau perlu ya kita minta maaf juga. Karena kapan lagi kalau bukan saat ini 😀

=====

Minal Aidzin Wal Faidzin.

Mohon Maaf lahir dan batin.

Selamat Iedul Fitri 1431H.