Tanah Surga, Katanya…


credit : 21cinelpex.com

Haaaaiiiii… Haaloooooo… Apakabar semua?? 🙂

Kali ini aku mo ngomongin tentang film Tanah Surga, Katanya.. Ya, sebenarnya seh filmnya sendiri udah lama. Tayang serentak di bioskop tanggal 15 Agustus kemaren, mungkin dipasin untuk memperingati hari kemerdekaan Indonesia. Nontonnya sendiri gak niat, tapi karena mo ngajak ibu dan tante-tante nonton bioskop, dan katanya film ini berlokasi di Pontianak (yang ternyata gak ada sama sekali syuting di Pontianaknya dong >.< ) maka pergilah aku membawa si ibu dan tante.

Nulis postingan ini ingin berbagi pandangan, penggambaran film dengan pandangan aku sebagai orang kalimantan. Ya, walaupun aku bukan tinggal didaerah perbatasan. Tapi toh aku deket juga dengan situasi seperti itu. Bapak aku sendiri pernah kerja di daerah perbatasan yang capek-capek beli TV yang dapet bukannya RCTI malah TV 3. Aku sendiri pernah merasakan susahnya pergi ke kampung-kampung asal ibu dan bapak yang harus menggunakan kapal air melewati hutan-hutan selama berjam-jam yang bukannya sampe, ditengah jalan kapal airnya malah mogok dan aku kecemplung ke sungainya :mrgreen:

Cerita filmnya sendiri? Rasanya temen-temen blogger udah sering deh yak membaca resensinya. Yaitu tentang kehidupan seorang anak bernama Salman yang hidup di perbatasan Indonesia – Serawak (ya, kami lebih sering nyebut serawak seh daripada Malaysia). Bagaimana dia dan warga disekitarnya sangat kesulitan untuk mendapatkan pendidikan, bagaimana tidak ada fasilitas kesehatannya sama sekali disana (dimana dokter aja cuma berbekal stetoskop dan obat-obatan sejenis enstrostop 😛 ), bagaimana uang ringgit lebih dikenal daripada rupiah, dan bagaimana ketidaktahuan penduduk dusunnya (yang digambarkan dari anak-anak sekolahnya) bagaimana bentuk dan warna bendera merah putih itu dan lagu kebangsaan Indonesia Raya yang setiap upacara selalu dinyanyikan oleh siswa-siswa di sekolah perkotaan.

Pandangan aku tentang film ini? LOGAT MELAYUNYA HANCUR!! 😛 Banyak kata-kata yang rasanya gak akan dipake oleh orang melayu digunakan di film itu. Tadi seh mau nyatet apa-apa aja 😛 Tapi keburu males dan sampe ngetik postingannya sekarang udah keburu lupa 😆 Tapi yang mau tahu bagaimana ‘anehnya’ logat bahasa Pontianak ya seperti film itu lah. Lumayan kan jadinya orang diluar kalimantan tahu juga *colek una* 😉

Soal isi filmnya sendiri ada beberapa catatan yang selama ini memang jadi kebiasaan di kalimantan barat disini. Di film diceritakan bahwa kebutuhan pokok mereka semuanya berasal dari Malaysia. Makanya ringgitlah yang berperan disana, bukannya Rupiah. Kenyataannya? Jangankan di perbatasan, di Pontianak aja seperti barang-barang yang dibeli dari Malaysia. Kami udah terbiasa dengan gula Malaysia yang harganya jauh lebih murah. Kalau kalian pergi ke kabupaten Sanggau aja misalnya daerah perbatasannya, orang-orang pada punya mobil, tapi ya mobil malaysia (yang bentuknya sangat khas banget menurut aku) bukan mobil Kijang atau Honda Jazz.

Soal kesehatan? Di film digambarkan bagaimana susahnya Hasyim, kakek Salman yang harus berobat ke kota karena harganya mahal. Mana pula dia gak mau berobat di Malaysia (sayang sekali *eh 🙄 ) Pada kenyataannya? Kalau sakit lebih baik ke Kuching dulu, selain murah, berobat di Kuching kesembuhannya bisa lebih besar kesempatannya, dan disana sepertinya pengobatannya berbeda aja dengan di sini. Contohnya tetangga aku yang divonis harus melakukan operasi jantung. Ketika dia tidak mau dan berobat ke Kuching, dia sama sekali gak disaranin buat operasi, cuma makan obat dan penyakitnyapun berkurang! HEBAT! *menurut aku*

Soal pendidikan? Di film digambarkan bagaimana buruknya sekolah yang cuma terdiri dari satu guru dan 2 kelas tersebut. Kenyataannya? Aku punyatemen prajabatan kemaren 3 orang  yang penempatan mengajarnya di perbatasan. Nama daerah salah satunya adalah Sajingan Besar. Tidak ada listrik, tidak ada sinyal telepon. Lucu kalau udah melihat pola tingkah mereka datang ke kota. Semua-muanya mau dibeli. Ya emang seperti itu guru di daerah terpencil, punya uang tapi gak bisa memanfaatkannya.

Tapi dari yang aku denger adalah sekolah disana sudah lumayan banget. Dari segi pembangunannya dimana banyak sekolah sekolah yang dibangun baru atapun ditambah kapasitasnya. Dari yang tadinya hanya ada sekolah dasarnya, sekarang sudah dibangun SMP-SMP satu atap sehingga pendidikan 9 tahun yang dicanangkan oleh pemerintah bisa dilaksanakan. Ya berproses lah.

Kalau di Pontianak? Mau ngelanjutin kuliah dimana? Jawaban ke Kuching udah lumayan familiar deh ditelinga. Aku juga gak tahu kenapa kuliah di kuching bisa jadi pilihan. Padahal menurut aku seh masih bagusan ITB, UI atau UGM, jauh malah bagusnya.

Lalu ada satu adegan di film yang menggambarkan bagaimana perbedaan antara serawak dan kalimantan dari segi pembangunan (jalannya) yang berbeda jauh banget. Memang seperti itu seh serawak, karena aku pernah ikut perjalanan pemuda kalimantan barat gitu sepanjang jalan indonesianya melewati batu-batu dan jalan yang gak rata, pas masuk Malaysia langsung disambut dengan aspal yang mulus. Sebenarnya jalan-jalan udah banyak yang dibangun seh, ya mudah-mudahan aja pembangunnya bisa terus dan menyeluruh dipelosok desa.

Tapi menurut aku emang asyikan di sini seh. berpergian dari desa ke desa dengan menggunakan motor air itu sangat asyik menurut  aku. Ya walaupun pembangunan jalan darat tetep harus menjadi prioritas karena perbedaan waktu dari jalan air dan jalan darat sangat kentara. Contohnya aja kalau lewat air ke desan Telok Pak kedai di Kabupaten Kubu Raya dari Pontianak bisa 3-4 jam. Nah, kalau lewat jalan darat (sekarang udah ada, tapi belum bisa masuk mobil) cuma 1 jam aja gitu.

So, ada yang mau ke kalimantan? Lokasi syuting filmnya di Sungai Ambawang berbatasan langsung dengan Pontianak loh 😉

Advertisements

Joko Anwar : Modus Anomali


Kamis kemaren secara random ingin nonton film di bioskop. Sebenarnya pengen nonton sebuah film luar negeri. Eh, tapi pas lihat jejeran film di 21cineplex.com kok jadi tertarik sama salah satu film Indonesia yang lagi tayang. Yak, judulnya apalagi kalau bukan Modus Anomali.

Karena aku memfollow akun twitternya Joko Anwar jadi sebenarnya aku gak terlalu asing dengan film ini. Posternya udah beberapa lama merajai timeline. Tapi, udah lama juga sampai detik aku mau nonton aku gak tahu sebenarnya ini film tentang apa. Satu-satunya yang membuat aku yakin untuk menontonnya ya apalagi kalau bukan sang Sutradara si Joko Anwar. Dari tiga filmnya yang sudah tayang dan diputar, aku menonton 2 diantaranya yaitu Janji Joni dan Pintu terlarang. Satu yang belum aku tonton adalah Kala (karena 3 filmnya yang aku anggap bagus jadi tertarik buat beli DVD Kala).

Nah, siapa yang gak pernah nonton Janji Joni gitu? Ini film termasuk film yang enak bener buat ditonton, dan yang paling penting, jalan ceritanya gak biasa untuk ukuran film indonesia saat itu. Kalau Pintu terlarang? Aku mulai salut dengan Joko Anwar mulai film ini, karena jalan ceritanya sangat kompleks dan membuat aku yakin kalau indonesia juga bisa membuat film Triller yang keren banget. Sebenarnya ada juga film horor yang keren juga berjudul Rumah Dara yang aku kira si Joko ini sutradaranya. Eh tapi ternyata bukan, dia cuma numpang lewatin muka aja ternyata 😛

Jadwal filmnya pukul 19.00. Pergi dari rumah pukul 18.25, tapi tetep telat dong. Gak macet seh jalanan, tapi rame aja gitu. Belum lagi pas nyari parkiran mobil juga perlu waktu yang panjang. Hmmm… Akhirnya, pukul 19.05 masuk dengan kebingungan melihat ceritanya.

Jalan ceritanya..

Ada seorang laki-laki yang terbangun dari tidurnya mendapati dirinya sedang di dalam sebuah hutan sendirian dan lupa ingatan yang berada didekat dengan sebuah rumah. Saat memasuki rumah itu dia melihat seorang perempuan yang sedang hamil meninggal dan mayatnya tergeletak begitu aja. Disampingnya ada sebuah rekaman video yang memperlihatkan dia dan keluarganya yang tengah liburan hingga kemudian ada seorang berseragam hijau yang datang dan membunuh istrinya.

Dari video tersebut dia mengetahui bahwa kedua anaknya masih selamat dan dia harus menolong mereka. Maka dimulailah pencarian kedua anaknya tersebut. Dalam masa pencariannya, dia selalu aja ketakutan oleh seseorang yang berseragam ijo yang ingin membunuhnya. Berulang kali dia bersembunyi namun selalu saja ditemukan dan hendak dibunuh.

Satu-satunya kunci yang bisa menuntunnya untuk mengingat semuanya adalah weker yang selalu saja menuntunnya ke tempat demi tempat yang sayangnya secara tak sengaja malah membuat anak-anak tersebut tersakiti.

***

Awal menonton filmnya aku bingung banget. Kok tiba-tiba neh orang langsung seperti orang gila berlari di hutan gak jelas juntrungannya. Belum lagi dia selalu saja melihat video saat istrinya dibunuh yang menurut aku aneh karena kok muka dia ini gak ada yak? Kalimat yang dia ucapkan juga selalu aja pake bahasa inggris. Lah ini mereka syutingnya maksudnya dimana? Aku yakin dia syutingnya di Indonesia deh, tapi kok pake bahasa inggris segala gitu.

Jalan ceritanya menurut aku juga terkesan rumit. Ya, namanya juga Joko Anwar yak, gak rumit ya gak Joko 😛 Beberapa kali aku menebak jalan ceritanya selalu aja berakhir salah dan salah. Tapi pas ditengah film aku yakin bahwa sang pembunuh adalah mereka yang masih hidup itu. Tapi bagaimana menjelaskannya? Lalu siapa yang pake seragam ijo yang ada di video yang sedang membunuh istrinya itu?

Pada saat aku gak tahu jawabannya dan berfikir film akan habis ternyata aku salah! Ternyata jalan ceritanya baru dimulai. Iyaaa,,, setengah terakhir dari filmnya menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Tebakan mengapa bodohnya dia terjawab sudah yang membuat semua penonton bersorak : oowww begitu..

Karena jalan cerita film ini tentang pembunuhan gitu, kadang film ini berusaha untuk menampilkan kesadisan dari pembunuhan yang dia buat. Tapi kalau untuk penontonnya seperti aku gak masuk hitungan seh sadisnya, sedangkan film The Raid yang kata orang sadis banget aja aku gak merasa sadis kok, apalagi film beginian 😛

Ya, walaupun filmnya berakhir dengan penjelasan yang teramat gamblang yang ujung-ujungnya agak mengurangi daya tariknya, tapi over all aku suka deh film ini.. 7/10 deh. Lagian kita emang harus mendukung perfilman indonesia kan yak. Ya, udah ada kemajuan deh, tahun ini aku udah nonton 3 film indonesia yaitu 5 menara, the raid dan modus anomali ini (tapi sayang the raid terlalu kebaratan dan modus anomali yang pake bahasa inggris)

So, yuk mari menonton film indonesia :mrgreen:

Laskar Pemimpi ~ disaat semangat pejuang bukan hanya milik pemimpin


amriawan.blogspot.com

Satu lagi film Indonesia yang layak buat di tonton, komedi Musikal Laskar Pemimpi.

Film ini bertemakan perjuangan mempertahankan kemerdekaan, mirip seperti pada film Darah Garuda, yang membedakannya adalah film ini mengambil kental unsur komedinya, walaupun penceritaan tentang tokokh2 penting yang bergerak di dalamnya tidak diambil asal-asalan juga.

Jalan ceritanya kira-kira seperti ini:

Berfokus pada daerah Jogja dan sekitarnya, ada sebuah Laskar yang dipimpin oleh Kapten Hadi Sugito (Gading Marten), Letnan Bowo (T. Rifnu Wikana), kopral Jono (Dwi Sasono) dan Toar (Yosi Project Pop)  yang sedang mencari para gerilyawan baru untuk sebuah misi penyerangan Belanda.

Saat pendaftaran terbuka dilaksanakanlah, berganbunglah anggota2 laskar lainnya dengan berbagai macam alasan. Sri Mulyani (Tika Project Pop) yang masuk ke dalam laskar karena desanya yang dihancurkan oleh Belanda dan ayahnya yang diambil secara paksa sehingga diapun berniat untuk menolong sang ayah. Udjo (Project Pop) seorang anak dari keluarga nigrat yang terpaksa masuk menjadi gerilyawan karena untuk mengambil hati perempuan yang telah lama menjadi pujaannya Wiwid (Shanty), serta Ahok (Odhie Project Pop) dan Tumiwo (Gugum Project Pop).

Suatu ketika, secara tiba-tiba markas laskar mereka diserang oleh pihak Belanda, dan menyandera beberapa orang dari sana, termasuklah Wiwid dan pacar dari Kopral Jono, Yayuk (Masayu Anastasia). Namun mereka juga mendapatkan seorang sandera, seorang tentara KNIL (orang Indonesia yang direkrut Belanda menjadi prajuritnya) bernama Once (Oon Project Pop).

Dengan niat ingin menyelamatkan Wiwid dan Yayuk, serta ayahnya Sri. Maka Kopral Jono, Udjo dan Sripun mengajak Ahok dan Tumiwo untuk melakukan misi ini. Dibantu oleh Once yang digunakan sebagai sumber informasi mengenai markas Belanda.

——————————————————————————————————

Kalau melihat statistik jumlah tertawa penonton di bioskop dan aku sendiri, film ini dapet banget komedinya. Unsur komedi yang natural dan apa adanya. Gak ada unsur paksaan yang membuat kita tertawa garing (padahal aku susah lho tertawa kalau untuk film :P).

Unsur-unsur kecilpun diperhatikan oleh sang sutradara dalam hal ini, seperti penggunaan bahasa belanda dan bahasa jawa yang kental. Sayangnya pada saat menggunakan bahasa Jawa tidak ada teks yang diberikan pada film ini. (lagi-lagi mereka berfikir bahwa yang nonton ini hanya orang Jawa kali yah *kecewa* ). Penggunaan pakaian masyaraka dan para gerilyawannya, serta tempat2 yang yang memang secara kasat mata gak ada miss sama sekali.

Ada hal yang lumayan mengganggu saat aku menonton film ini adalah efek tembak pada saat mereka berperang. Api yang dikeluarkan dari senapan2 mereka sangat terlihat ‘palsu’, dan membuat efek itu seakan kita sedang main games (-_-“).

——————————————————————————————————–

Yang ingin disampaikan dari film ini adalah bagaimana masyarakat luas juga banyak yang mempertahankan kemerdekaan tanpa pernah nama mereka disebutkan dalam buku sejarah. Bagaimana mereka melakukannya itu tentu tidaklah begitu penting. Yang penting adalah hasil yang kita dapatkan, kemerdekaan secara utuh.

Tema film kemerdekaan juga sedang marak sepertinya saat sekarang ini. Mungkin karena rasa nasionalisme kita udah luntur atau gimana. Tapi melihat banyaknya terjadi pertikaian antar kelompok dan antar ras rasanya ini akan membuat pahlawan kita yang telah banyak gugur itu menangis. Bagaimana bangsa yang telah dibelanya malah saling bunuh dengan sesama. Nyawapun telah menjadi murah, dan membunuh adalah hal yang ‘biasa’ kalau itu terjadi saat kita berkelahi (Oh God!)

Maka, marilah kita bersama mulai merenung. Apa yang telah pahlawan lakukan untuk bangsa ini. Dan apa yang telah kita lakukan sekarang. Kalau cuma buat rusuh dan onar, untuk apa kita merdeka dulu? Bukannya lebih baik kita selalu sijajah saja tapi rasa nasionalisme dan kekeluargaan kita akan lebih besar? Paling tidak toh kita memang pasti akan masuk surga dengan cara berjihad! Bukan cara jihad tolol dengan memasang bom di sepeda.

Sutradara : Monty Tiwa

Sang Pencerah


Hendralesmana.com

Barusan tadi sore nonton nih film. Emang rada udah lama sih, tapi kan gak lama-lama amat yang lumayan untuk dibahas dan menuh-menuhin blog 😀

Awalnya gak begitu tertarik dengan judulnya dan posternya. Sang pencerah, apa itu maksudnya. Terus posternya juga orang-orang yang berbapakaian jawa. Maaf bagi para penduduk jawa yang melimpah itu. Aku tidak terlalu suka dengan kebudayaannya, apalagi kalau disuruh menonton filmnya. Mau nonton apa aku?

Tapi seiring dengan sering dibahasnya film ini, dan banyaknya tailer2 yang menyebar di teve atau dunia maya, aku jadi tahu bahwa film ini adalah film tentang Kiai Haji Ahmad Dahlan yang merupakan pendiri Muhammadiyah di Indonesia. Barulah aku tertarik untuk menontonya.

Sedikit ceritanya (versi niee):

Darwis (Kiai Haji Ahmad Dahlan Muda) adalah remaja yang melihat ajaran Islam berbeda dengan kebanyakan orang di daerahnya. Sebuah daerah yang masih melakukan kebudayaan nenek moyang yang banyak salah. Misalnya saja memberikan sesajien pada pohon untuk meminta pertolongan. Padahal mereka itu Islam. Terbawa ingin mempelajari Islam lebih, diapun memutuskan untuk naik haji dan belajar Islam di Mekah. Setelah pulang, diapun mendapat nama baru yaitu Haji Ahmad Dahlan.

Berbekal ilmu yang dimilikinya, H. Ahmad Dahlan membuat sebuah perombakan besar di kampungnya. Dimulai dengan mengganti arah kiblatnya, karena kebanyakan mesjid di daerahnya menyesuaikan dengan arah jalan, bukan arah Ka’bah. Diapun menjadi Kiai dengan pemikiran Islam modern yang membuat resah para pemuka agama yang lebih tua sehingga sebagian besar masyarakat menyebutnya sebagai Kiai kafir.

Beberapa perdebatan2 penting yang bisa aku tangkap (baca: yang aku ingat :D):

Q: Kenapa kiblat harus sesuai dengan arahnya? Bukannya iman itu di dalam hati?

A: Kalau begitu apa fungsinya Ka’bah dibagun. Ka’bah dibagun untuk menyatukan umat Islam menghadap ke bagian yang sama.

Q: Bolehkah tidak membuat ‘perayaan’ saat peringatan 40 hari kematian?

A: Tidak pernah nabi menyuruh kita untuk melakukan peringatan kematian. Apalagi sampai membuat umatnya sulit karena tidak memiliki biaya.

Q: Kenapa melarang yasinan?

A: Tidak pernah bermaksud melarang yasinan. Membaca surah yasin bersama-sama dan terus menerus membuat surah itu bagaikan surah yang khusus dan membuat lupa surah-surah lainnya. Padahal Al-Qur’an banyak memiliki surah yang juga bagus isinya.

Q: Kenapa menggunakan peralatan kafir untuk berkegiatan? Itukan haram?

A: Kita menggunakan peralatan mereka bukan untuk bertindah kejahatan. Malah membuat kita lebih mudah. Itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan haram.

Lakumdinukum Waliyadin ~ Untukmu agamamu dan untukku agamaku.

———————————————————————————————————————————————-

Banyak sekali yang bisa didiskusikan pada film ini, tentu bukan dalam tahap mengkritik si sineas. Melainkan pandangan kita terhadap ajaran agama Islam modern.

Aku dibesarkan dalam keluarga yang rada kuno memandang agama. Tapi orang tuaku sangat membuka diri untuk masukan2 baru yang jika baik akan diterima dengan baik pula.

Tapi jika aku dibilang Islam modern tentu aku tidak mau seperti itu, apalagi kalau dibilang sebagai Islam liberal. Aku sebagai manusia bebas yang mencampur adukkan semuanya, mengambil yang baik dan mengubur yang buruk.

Kebanyakan warga Muhammadiyah yang aku kenal tidak mau melakukan beberapa hal. Contoh paling seringnya adalah mereka tidak mau mengikuti acara tahlilan. Alasannya mungkin seperti yang diungkapkan pada film ini. Bahwa do’a itu dari dalam hati dan tidak perlu beramai-ramai. Apalagi membunyikan suara keras yang membuat tidak nyaman para tentangga. Tanggapan aku tentang ini adalah Tahlilan itu tidak wajib, tapi kalau ada yang mau dan mampu untuk melakukan, kenapa musti kalut. Toh gak ada salahnya berdo’a beramai-ramai (istilahnya ibu aku itu makin banyak yang berdo’a makin baik 😀 ).

Ada lagi kebiasaan mereka yang hanya mau sholat taraweh sebanyak 8 rakaat, gak lebih. Katanya nabi itu sholatnya juga cuma 8 rakaat. Ini juga belum ada bukti yang kongkret (sepengetahuan penulis). Kalau ada mesjid yang menyenglenggarakan lebih dari 8 rakaat, mereka akan pulang. Tanggapan aku, lah wong ibadah kok mikir2 toh! Bukannya lebih banyak rakaat kita akan lebih banyak dapat pahalanya?

Sekali lagi aku tekankan, aku gak benci dengan aliran Muhammadiyah. Malah kadang kala pemikiran mereka banyak bagusnya. Aku hanya tidak ingin mengikuti aliran ajaran agama Islam apapun. Kalau ditanya jawaban aku cuma Islam (titik).

——————————————————————————————————————————————–

Sekarang, marilah kita lihat mengenai filmnya (mulai sok pinter komentari film :P). Yang pertama aku garis bawahi kekurangan film ini adalah banyaknya penggunaan bahasa jawa dan ANEHNYA sangat jarang ada teksnya. emangnya Hanung cuma mau menjual filmnya untuk orang Jawa kah? Aku ora ngerti. Kasih kek teks terjemahan yang lengkap. Gak rugi juga kan.

Terus aku juga kurang suka penggambaran ketika beberapa adegan hitam putih. Mungkin maksudnya inikan film settingan tahun 1900an. Tapi gak perlu juga kali ada gambar kresek-kresek itu.

Awal pertama kali menonton, aku bilang pada temanku: Hati-hati habis menonton ini kita jadi pengikut Muhammadiyah. Tapi tenang saja kok, bagi yang telah memiliki keteguhan hati (caelah bahasanye :D) film ini gak begitu kuat untuk menggiring kita masuk jadi pengikutnya.

Yang pasti, aku jadi tahu setelah film ini bahwa Muhammadiyah sangat berperan besar dalam pendidikan modern untuk bangsa Indonesia. Jadi aku akan sangat menghormati Muhammadiyah sepenuh hati 😀 (mungkin jika punya anak akan memasukkan ke SD Muhammadiyah 2 Pontianak. – woy! gak ada hubungannya coba :P).

Dan akhirnya seneng deh bisa nonton film Indonesia yang baik lagi, setelah kemaren aku baru nonton Darah Garuda. Mudah2an perfilman Indonesia semakin maju yah.

note: film Sang Pencerah, darah garuda berdampingan dengan film dawai 2 asmara dan dilihat boleh dipegang jangan. Do’a penulis agar kedua film terakhir dapat menghilang dari dunia perbioskopan Indonesia. Amin 😀

Darah Garuda


Hari pertama lebaran aku isi dengan menonton film darah garuda. Penting buat aku menonton film ini karena ini adalah film Indonesia yang sangat bagus menurut aku. Rugi saja aku selalu menonton film-film hollywood tapi gak mau menyisihkan waktu untuk memnonton film Indonesia yang menarik. Maka pergilah aku malam pertama lebaran ke Mall untuk menonton bioskop.

Aku tidak akan membahas sinopsis atau review dari film ini. Karen sinopsis sudah banyak beredar di internet. Kalau mau buka saja webnya di http://www.merahputihthefilm.com/darahgaruda.com/. Di sana bahkan sudah ada thilernya. Gak pelru lah aku panjang lebar hanya untuk copy paste kan 😀

Tulisan ini aku buat untuk membahas isi dari film ini. Karena film ini memang membahas banyak hal yang berkaitan dengan masa mempertahankan kemerdekaan serta isu-isu yang berkembang di dalamnya.

Telah kita ketahui bersama bahwa pemeran di film ini terdiri dari berbagai suku bangsa dari Indonesia. Sang pemimpin Amir, yang diperankan oleh Lukman Sardi berasal dari Jawa. Marius (Darius Sinatria) berasal dari bangsawan Jakarta. Thomas (Donny Alamsyah) seorang kristen yang berasal dari Manado, Sulawesi Utara. Ada lagi Dayan (T. Rifnu Wikana) yang merupakan Hindu Bali.

Masalah ada ketika mereka bertemu dengan Sersan Yanto (Ario Bayu) yang bertanya pada Amir, Kenapa ia bisa mempercayai mereka? Yang bisa di percaya hanyalah para Jawa dan Islam.

Serius, pada saat kalimat ini aku merasa tersentil emosiku. Karena aku memang bukan orang jawa. Aku akan dengan sangat bangga mengatakan kepada orang yang bertanya asalku adalah Kalimantan. Sebuah pulau di utara Jawa yang begitu besar dan bergabung dengan 2 negara lainnya, Malaysia dan Brunei. Sebuah pulau yang multikultural yang menerima siapapun yang datang, tanpa sibuk berkoar untuk mengusir seperti pulau yang kecil itu. Sebuah pulau yang berisi masyarakat berani untuk berfikir kedepan, tanpa sombong bahwa mereka berasal dari daerah terkenal.

Tapi tentu film ini sangat bijak, pada akhirnya kita tahu bahwa bhineka tunggal ika itu bukan hanya Jawa. Bahkan mereka menampakkan siapa yang akhirnya penghianat itu 🙂

Dilain adegan juga ada yang berkata: Apa itu Indonesia? Yang aku tahu hanyalah Java, Sumatra, Borneo, Sulawesi. Tidak ada Indonesia.

Yah, beberapa kali aku berfikir betapa sombongnya pahlawan dahulu yang menyatukan masyarakat yang amat sangat berbeda menjadi sebuha negara Indonesia. Kenapa mereka tidak membuat negara Java saja? Karena mereka terlalu sombong dengan masyarakat di luarnya menurutku.

Tengok saja orang-orang yang berkoar menginginkan peperangan Indonesia-Malaysia. Tentu mereka dengan mudah menyatakan ingin berperang. Toh garis terdepan itu ada di Kalimantan dan Sumatra, bukan di Jawa. Yang ingin berperang itu, tak mungkin berani kesini jika perang benar-benar terjadi.

Film ini menunjukkan, walaupun orang Bali, Sulawesi dan lainnya, mereka tetap mencintai Indonesia. Sudah menjadi kehendak Tuhan untuk mempersatukan negara yang sangat besar ini. Ini sudah menjadi takdir Indonesia. Maka, tugas kita sebagai penurus hanyalah mempertahankan dan mengisi kemerdekaan itu dengan baik. Tidak ada waktu lagi berfikir bahwa aku jawa, aku sulawesi, aku sumatera, aku kalimantan.

Darah Garuda memang banyak menguras emosi. Kalimat kasarnya adalah ketika menonton film ini kita akan membenci Belanda. Wajar saja orang-orang yang terlibat langsung dengan peperangan biasanya sangat anti dengan belanda. Mau tahu alasannya? tontonlah film ini. lagi pula, kapan lagi kita mendapatkan film Indonesia yang berkualitas? Bisa dihitung dengan jari kan setiap tahunnya 😀

Film Indonesia


Beberapa hari lalu, saat aku bangun tidur. Kebiasaan yang selalu aku lakukan adalah keluar kamar kemudian jalan ke bawah rumah. Maklum, kamar aku memang berada di lantai dua rumah yang kadang membuat aku tak tahu menahu tentang ‘dunia’ bawah, hehe.

Namun, postingan ini tentu bukan untuk menceritakan kebiasaan bangun pagiku yang rata-rata baru melek jam 8 SIANG itu. Atau kebiasaan aku yang suka geje mau ngapain dipagi hari. Postingan ini tentu sesuai dengan judul yang aku beri di atas, yaitu mengenai film Indonesia.

Melanjutkan cerita dan inti permasalahannya. Seperti biasa, pagi itu bapakku menyetel radio besar yang ada di ruang keluarga. Kalau gak salah, radio Pro 2 RRI, salah satu radio favorit bapak. Pagi itu secara random sang penyiar memutar lagu yang lumayan udah lama. Kalau gak salah, lagunya itu ‘Kekasih Terakhir’-nya Melly Goeslaw. Sountrack film ‘Apa Artinya Cinta?’ tahun 2005 yang diperankan oleh Sandy Aulia dan Samuel Rizal.

Mendengar lagu itu aku jadi teringat dengan film-film Indonesia lima tahun yang lalu, atau lebih. Pada zaman itu aku sangat menyukai film Indonesia. Biasa dibilang, apapun yang diputar oleh bioskop 21 yang merupakan satu-satunya bioskop di kotaku selalu aku datangi untuk menonton. Baik film drama seperti, Apa Artinya Cinta?, Dealova, Brownies, Ungu Violet, Catatan Akhir Sekolah, atau film horornya seperti Hantu Bangku Kosong, Panggil Namaku 3x, Bangsal 13 dan banyak film lainnya menjadi list film yang pernah aku pantengin di bioskop.

Sekarang, aku masih menonton bioskop, namun film yang aku tonton sudah sangat jauh berbeda. Aku sekarang lebih memilih untuk menonton film-film Hollywood. Bukan karena aku yang sekarang sok untuk menonton film barat, tapi lebih karena menurutku film Indonesia sekarang sudah sangat turun kualitasnya.

Fenomena yang berkembang diperfilman Indonesia sangat menyedihkan. Mulai dari fenomena film komedi yang mengaitkan dengan tema sex bermunculan. Kemudian dilanjutkan dengan fenomena film hantu. Kedua jenis film ini kemudian mendominasi hampir seluruh bioskop Indonesia dalam jangka waktu yang lama. Dampak menyedihkannya lagi adalah ketika kedua jenis film itu digabungkan. Maksudnya, film hantu yang berbau sex. Kemudian, pada akhirnya sekarang tema sex tidak bergantung lagi di area komedi dan hantu. Mereka memiliki temanya sendiri. Mereka mulai berdiri sendiri.

Tak perlu untuk menyebutkan nama-nama film yang berjenis demikian. Aku rasa yang membaca postingan ini sudah tahu apa-apa saja yang termasuk dengan jenis tersebut.

Kadang, aku sangat rindu dengan kondisi film Indonesia dulu. Karena tidak bisa aku pungkiri fenomena ini membuat cara pandang aku tentang film Indonesia menjadi sangat berubah. Aku sangat memilih-milih untuk menonton film Indonesia sekarang. Takut kecewa dan takut rugi untuk mengeluarkan uang 20 ribu hanya untuk menonton film di bioskop. Ini tentu saja tidak hanya terjadi padaku. Tetapi juga pada teman-teman yang ada disekitarku. Malah, kakakku tidak mau lagi menonton bioskop untuk film Indonesia. Ini sungguh sesuatu yang ironis.

Lalu kemudian ini salah siapa? Apakah salah para produser atau sutradara yang telah membuat film yang kurang bermutu di negeri ini. Atau salah penonton yang masih saja mau menonton film yang ditanyangkan oleh mereka. Karena kita tidak bisa melupakan bahwa film itu masih bisa exis karena ada sokongan penonton yang masih menikmatinya.

Apalah aku yang hanya seorang anak perempuan yang berpendapat untuk meminta: “Tolong hentikan film jenis seperti itu”. Suara aku tentu tidak didengar oleh mereka yang jauh secara fisik dan sosial. Tapi, aku sangat ingin film Indonesia membaik lagi.

Semoga harapan aku akan terkabul dalam waktu yang dekat. Jangan jadikan perfilman Indonesia menjadi mati suri lagi seperti satu dekade yang lalu.