Weekend Trip – Kuching


Rasanya akhir-akhir ini malu kalau ngaku blogger. Blogger kok blognya keseringan nganggurnya daripada ada update terbarunya πŸ˜› Ya, daripada gak diupdate sama sekali, mari kita cerita tentang weekend trip yang udah beberapa weekend yang lalu ini. Apalagi kalu bukan…

Si Irni balik lagi ke Kuching :mrgreen:

Selfie dulu di dalam pesawat

Sebenarnya gak ada rencana buat ke Kuching ini. Lagian kalau difikir-fikir, di Kuching kurang ada sesuatu yang spesial buat dikunjungi lebih dari satu kali. Ya ibaratnya kalau lo udah pernah sekali ke Kuching sekali ya udah, gak perlu ke sana lagi karena udah gak ada apa-apa lagi yang bisa di eksplore.

TAPI, karena beberapa bulan yang lalu Air Asia membuka rute baru Pontianak – Kuching dan pas pembukaan jalur itu dia promo untuk tiket pesawat (yang mana hampir bersaing dengan harga tiket bis) eh, si abang suami gregetan sendiri dan ngajak buat ke Kuching untuk liburan singkat Jum’at – Minggu. Ya, sebagai istri sholehah πŸ˜› tentu aku iyain aja dong ajakan sang suami tercintah. Lagian daripada begongkan weekend kita ke Mall lagi ke Mall lagi ya lebih baik dimanfaatkan saja tiket promo ini :mrgreen:

Kalau cuma bertiga rasanya kurang seru ya. Bisa-bisa jatoh-jatohnya kita cuma pindah tempat dari rumah ke hotel untuk ke Mall lagi di Kuching πŸ˜› Karena itulah aku ngajakin ibu dan tante buat ikutan liburan kali ini. Eh si nenek mau-mau aja ikut liburan absurd ini, ya udah ding akhirnya kita pergi berlima, Aku – Katniss – Abang Suami – Nenek dan Tante.

Di Kuching ngapain aja? Ya, seperti yang aku bilang diatas, gak ada spesial-spesialnya Kuching ini. Tapi karena si Nenek belum puas eksplore Kuching waktu pertama kali datang karena cuma punya waktu setengah hari aja langsung cus ke KL. Dan si Tante bahkan sama sekali belum pernah ke Kuching bahkan baru pertama kali ngecap passport di sini. Maka tempat yang kami tujupun tempat-tempat wajib kalau ke Kuching.

Waterfront

Dulu pertama kali ke Kuching tahun 2011 yang lalu, aku begitu wah lihat waterfront ini. Dibandingkan dengan alun-alun Kapuas di Pontianak yang penuh dengan PKL aja isinya, jadi malu sendiri. Dan 6 tahun berlalu, waterfront Kuching gak ada perubahan sama sekali. Sedangkan alun-alun Kapuas? Semakin berbenah. Sekarang udah gak ada PKL, udah cantik ada air mancurnya, udah ada taman-tamannya, pokoknya lihat waterfront udah gak begitu wah wah banget, jadi mau foto juga males πŸ˜›

Anaknya gak mau difoto. πŸ˜‚

A post shared by Irni (@iirni) on

Nenek dan Tante sibuk selfie pake tongsis LOL

MUSEUM KUCHING

Seperti juga halnya waterfront, museum Kuching juga sama sekali tidak ada perubahan jika dibandingkan terakhir kali aku ke sana pada tahun 2011 yang lalu. Kayaknya kalau si abang ngajakin ke Kuching lagi perlu bener-bener difikirkan ulang deh, karena buang-buang duit rasanya πŸ˜›

Untung si ibu dan si tante yang belum pernah kesana lumayan excited dengan museumnya. Kalau gak ya bosen sendiri jadinya πŸ˜›

Dan di museum itu kan ada spot gambar kucing yang kepala kita bisa masuk kesitu buat foto-foto. Nah, si K demen banget dah kesitu dan minta fotokan. Jadi cuma di spot ini aja yang dia mau foto dengan suka rela, ditempat lain mah boro-boro.

Foto jadi kucing
Satu-satunya foto bertiga yang bisa diabadikan selama liburan ke Kuching

Selebihnya gak ada apa-apa lagi seh di Museum Kuching ini selain ada taman kosong dibawahnya yang buat si K demen lari-larian dan gak mau diajak pulang.

TOPSPOT

Malem terakhirnya kita makan seafood di Topspot. Menurut penuturan si abang suami yang udah belasan kali ke Kuching ini tempat makan terkenal banget di Kuching. Rata-rata orang ke Kuching ya makan di sini. Aku sendiri belum pernah seh πŸ˜› soalnya dulukan pertama kali pas ke Kuching itu masih kere ya, dan pas kedua dan ketiga ke Kuching praktis cuma untuk transit nunggu ke KL karena dulu gak ada penerbangan langsung PNK – KUL. Nah, keempat kalinya inilah baru kesampaian makan disini.

Makanannya rasanya standar seh, enak, tapi gak enak sampe segimana banget. Yang pasti porsinya gede-gede. Jadi satu porsi bisa dipake makan bertiga dah. Tempatnya sebenarnya asyik menurut abang, tapi pas kami kesana itu pas banget hujan lebat dengan angin yang kenceng, jadi lantainya kebanjiran. Padahal tempatnya ini ada dilantai atas loh. Aliran airnya berarti yang gak bagus.

Makan di TOPSPOT Kuching

Pulangnya rencananya mau ke up and down house yang ada disamping hotel kita. Eyalah ternyata tempatnya tutup jam 7 malam dan baru buka jam 9 pagi yang mana jam segitu kita udah harus cuss pergi ke bandara untuk pulang.

Ya udah ding gak jadi ke sana. Mungkin lain kali kalau ke Kuching bawa orang lagi baru ke sana πŸ˜›

***

Ya, begitulah liburan singkat aku sebelum si K masuk sekolah kemaren. Walaupun gitu-gitu doang, tapi yang namanya liburan tetep seneng ya. Gak mikirin rumah, ngepel nyapu masak, udah bahagia banget dah. Hahahahaha. Mungkin itu satu alasan kenapa aku mau-mau aja diajak ke Kuching lagi padahal udah tahu gak ada apa-apanya.

Jadi kapan kita liburan lagi pa? πŸ˜›

Advertisements

Tanah Surga, Katanya…


credit : 21cinelpex.com

Haaaaiiiii… Haaloooooo… Apakabar semua?? πŸ™‚

Kali ini aku mo ngomongin tentang film Tanah Surga, Katanya.. Ya, sebenarnya seh filmnya sendiri udah lama. Tayang serentak di bioskop tanggal 15 Agustus kemaren, mungkin dipasin untuk memperingati hari kemerdekaan Indonesia. Nontonnya sendiri gak niat, tapi karena mo ngajak ibu dan tante-tante nonton bioskop, dan katanya film ini berlokasi di Pontianak (yang ternyata gak ada sama sekali syuting di Pontianaknya dong >.< ) maka pergilah aku membawa si ibu dan tante.

Nulis postingan ini ingin berbagi pandangan, penggambaran film dengan pandangan aku sebagai orang kalimantan. Ya, walaupun aku bukan tinggal didaerah perbatasan. Tapi toh aku deket juga dengan situasi seperti itu. Bapak aku sendiri pernah kerja di daerah perbatasan yang capek-capek beli TV yang dapet bukannya RCTI malah TV 3. Aku sendiri pernah merasakan susahnya pergi ke kampung-kampung asal ibu dan bapak yang harus menggunakan kapal air melewati hutan-hutan selama berjam-jam yang bukannya sampe, ditengah jalan kapal airnya malah mogok dan aku kecemplung ke sungainya :mrgreen:

Cerita filmnya sendiri? Rasanya temen-temen blogger udah sering deh yak membaca resensinya. Yaitu tentang kehidupan seorang anak bernama Salman yang hidup di perbatasan Indonesia – Serawak (ya, kami lebih sering nyebut serawak seh daripada Malaysia). Bagaimana dia dan warga disekitarnya sangat kesulitan untuk mendapatkan pendidikan, bagaimana tidak ada fasilitas kesehatannya sama sekali disana (dimana dokter aja cuma berbekal stetoskop dan obat-obatan sejenis enstrostop πŸ˜› ), bagaimana uang ringgit lebih dikenal daripada rupiah, dan bagaimana ketidaktahuan penduduk dusunnya (yang digambarkan dari anak-anak sekolahnya) bagaimana bentuk dan warna bendera merah putih itu dan lagu kebangsaan Indonesia Raya yang setiap upacara selalu dinyanyikan oleh siswa-siswa di sekolah perkotaan.

Pandangan aku tentang film ini? LOGAT MELAYUNYA HANCUR!! πŸ˜› Banyak kata-kata yang rasanya gak akan dipake oleh orang melayu digunakan di film itu. Tadi seh mau nyatet apa-apa aja πŸ˜› Tapi keburu males dan sampe ngetik postingannya sekarang udah keburu lupa πŸ˜† Tapi yang mau tahu bagaimana ‘anehnya’ logat bahasa Pontianak ya seperti film itu lah. Lumayan kan jadinya orang diluar kalimantan tahu juga *colek una* πŸ˜‰

Soal isi filmnya sendiri ada beberapa catatan yang selama ini memang jadi kebiasaan di kalimantan barat disini. Di film diceritakan bahwa kebutuhan pokok mereka semuanya berasal dari Malaysia. Makanya ringgitlah yang berperan disana, bukannya Rupiah. Kenyataannya? Jangankan di perbatasan, di Pontianak aja seperti barang-barang yang dibeli dari Malaysia. Kami udah terbiasa dengan gula Malaysia yang harganya jauh lebih murah. Kalau kalian pergi ke kabupaten Sanggau aja misalnya daerah perbatasannya, orang-orang pada punya mobil, tapi ya mobil malaysia (yang bentuknya sangat khas banget menurut aku) bukan mobil Kijang atau Honda Jazz.

Soal kesehatan? Di film digambarkan bagaimana susahnya Hasyim, kakek Salman yang harus berobat ke kota karena harganya mahal. Mana pula dia gak mau berobat di Malaysia (sayang sekali *eh πŸ™„ ) Pada kenyataannya? Kalau sakit lebih baik ke Kuching dulu, selain murah, berobat di Kuching kesembuhannya bisa lebih besar kesempatannya, dan disana sepertinya pengobatannya berbeda aja dengan di sini. Contohnya tetangga aku yang divonis harus melakukan operasi jantung. Ketika dia tidak mau dan berobat ke Kuching, dia sama sekali gak disaranin buat operasi, cuma makan obat dan penyakitnyapun berkurang! HEBAT! *menurut aku*

Soal pendidikan? Di film digambarkan bagaimana buruknya sekolah yang cuma terdiri dari satu guru dan 2 kelas tersebut. Kenyataannya? Aku punyatemen prajabatan kemaren 3 orangΒ  yang penempatan mengajarnya di perbatasan. Nama daerah salah satunya adalah Sajingan Besar. Tidak ada listrik, tidak ada sinyal telepon. Lucu kalau udah melihat pola tingkah mereka datang ke kota. Semua-muanya mau dibeli. Ya emang seperti itu guru di daerah terpencil, punya uang tapi gak bisa memanfaatkannya.

Tapi dari yang aku denger adalah sekolah disana sudah lumayan banget. Dari segi pembangunannya dimana banyak sekolah sekolah yang dibangun baru atapun ditambah kapasitasnya. Dari yang tadinya hanya ada sekolah dasarnya, sekarang sudah dibangun SMP-SMP satu atap sehingga pendidikan 9 tahun yang dicanangkan oleh pemerintah bisa dilaksanakan. Ya berproses lah.

Kalau di Pontianak? Mau ngelanjutin kuliah dimana? Jawaban ke Kuching udah lumayan familiar deh ditelinga. Aku juga gak tahu kenapa kuliah di kuching bisa jadi pilihan. Padahal menurut aku seh masih bagusan ITB, UI atau UGM, jauh malah bagusnya.

Lalu ada satu adegan di film yang menggambarkan bagaimana perbedaan antara serawak dan kalimantan dari segi pembangunan (jalannya) yang berbeda jauh banget. Memang seperti itu seh serawak, karena aku pernah ikut perjalanan pemuda kalimantan barat gitu sepanjang jalan indonesianya melewati batu-batu dan jalan yang gak rata, pas masuk Malaysia langsung disambut dengan aspal yang mulus. Sebenarnya jalan-jalan udah banyak yang dibangun seh, ya mudah-mudahan aja pembangunnya bisa terus dan menyeluruh dipelosok desa.

Tapi menurut aku emang asyikan di sini seh. berpergian dari desa ke desa dengan menggunakan motor air itu sangat asyik menurutΒ  aku. Ya walaupun pembangunan jalan darat tetep harus menjadi prioritas karena perbedaan waktu dari jalan air dan jalan darat sangat kentara. Contohnya aja kalau lewat air ke desan Telok Pak kedai di Kabupaten Kubu Raya dari Pontianak bisa 3-4 jam. Nah, kalau lewat jalan darat (sekarang udah ada, tapi belum bisa masuk mobil) cuma 1 jam aja gitu.

So, ada yang mau ke kalimantan? Lokasi syuting filmnya di Sungai Ambawang berbatasan langsung dengan Pontianak loh πŸ˜‰

Hello Stranger!! [Part 2] – Pak Jailani..


Haiiii Halooo.. Apa kabar semuanya neh? Lagi ngapain? Aku sendiri masih ngebusuk di rumah sendirian.

Sebenarnya pingin banget ikutan kontes-kontes yang sekarang berseliuran yang diadain oleh tementemen blogger. Tapi kok temanya rada susah yak? (padahal aku aja gitu yang males mikir πŸ˜› ) Jadi sekarang mau nyeritain tentang pertemuan aku dengan orang yang aku gak kenal. Kalau kemaren aku cerita tentang seorang bapak yang baik hati mengantarkan aku untuk cari kosan temen di Bandung tengah malam. Kali ini yang terpilih adalah PAK JAILANI!! Prokprokprok!! *goyanggoyangpompom*

Pak Jailani *yg gak jelas kelihatan* >.<

Di atas adalah satu-satunya foto Pak Jai yang ada sama aku. Sayang banget yak gak sempat foto sama-sama bapak.

Pertemuan dengan Pak Jailani ini adalah saat aku jalan-jalan ke Kuching bulan Juni kemaren. Seperti yang udah aku ceritain, kalau perjalanan ini sama sekali gak ada rencana. Hanya karena mendengar ada cuti bersama mendadak, jadinya aku langsung beli tiket tanpa ada persiapan apapun!

Dateng ke Kuching dengan modal nekat cuma punya beberapa nama hotel murah buat nginep aku, kakak dan kak Tri rada kagok juga pas turun dari bis *nah loh mau ngapain gua?* Karena aku yang ngerencanain acara jalan-jalan kali ini, jadinya aku rada merasa bertanggungjawan seh (ya walaupun sebenernya aku yang paling kecil disini seharusnya yang dilayani πŸ˜› ) akhirnya aku dengan sigap cari taxi terdekat.

Dapet supir taxinya orang cina gitu, diajakin ngomong malay gak terlalu bisa, di ajakin ngomong inggris patah-patah *bingung* tapi karena melihat sekitar sepertinya supit taxinya sama semua (gak ada orang melayunya) jadi terpaksa deh pake taxi yang itu aja.

Sampai-sampai di hotel dibantu cek in sama si supir taxi (baik juga ternyata :mrgreen: ) daaannn resepsionisnya sama aja kayak si supir taxi! Kurang bisa bahasa Malay (tapi lebih mendingan seh daripada si supir taxi) dan bahasa inggrisnya juga kacau! *jongkok dikolong meja*

Bercermin dengan dua orang di atas, kok jadinya jadi takut jalan-jalan sendiri. Takut gak bisa komunikasinya gitu. Lagian kuchingkan (apalagi wilayah wisatanya) emang wilayah cina. Sebenarnya seh sama juga dengan Pontianak rame komunitas Cina, tapi kalau di Pontianak (dan Indonesia pada umumnya) gak ada tuh namanya orang Cina gak bisa bahasa Indonesia kan! Beruntunglah kita di Indonesia yang punya bahasa persatuan πŸ˜€

Jalan-jalan hari pertama di sekitaran waterfront aja. Keliling-keliling dari siang sampe sore, akhirnya sore memutuskan untuk menyusuri sungai serawak dengan menggunakan kapal. Di sinilah kami bertemu dengan Pak Jailani.

Pak Jailani ini bekerja sebagai awak di kapal ini. Dia bertugas untuk menjelaskan kepada penumpang apa-apa yang ada disepanjang pinggiran sungai Serawak. Karena cuma kami bertiga yang merupakan turis asing, jadinya dia hanya fokus sama kami. Yang lebih menguntungkan lagi adalah, Pak Jailani ini asli orang melayu yang membuat gak ada masalah komunikasi antara kami berempat. *bangsai*

Pak Jailani cerita kalau orang-orang di serawak ini rata-rata merupakan keturunan orang-orang di Kalimantan (Indonesia). Kakek dia sendiri juga merupakan orang Indonesia yang menetap di Malaysia, makanya dia rada respek dengan kami. Beberapa bahasa Indonesia juga dia menguasai seperti dia menyebut mobil (yang sebenernya dia terbiasa dengan kerete) dan gak masalah di panggil dengan panggilan PAK (sebenarnya aku gak tahu juga ada masalah apa dengan panggilan ini, tapi setiap temen2 pak Jai denger kami manggil PAK pasti mereka senyum-senyum dan bilang: iya dia cocok memang dipanggil PAK! *what the maksud?* ).

Akupun bertanya-tanya daerah wisata di seputaran Kuching dan dengan baik hatinya (mungkin karena kasian juga sama kami πŸ˜› ) Pak Jai lalu menawarkan keliling Kuching dengan mobilnya. Untuk memperlancar proses, kamipun meminta nomor kontaknya.

Esok harinya masalah muncul. Kartu kami bertiga masih menggunakan nomor Indonesia dan gak ngudeng kalau mau nelpon internasional harus didaftarkan dulu! Akhirnya kamipun berinisiatif buat nelfon dari hotel. Dihubungi berkali-kali kok gak bisa yak? Mulailah kami berfikir ‘wah dibohongi neh kita’.

Janjian jam 9, sampai jam 10an belum berhasil menghubungi Pak Jai lagi. Karena laper, kamipun cari sarapan dulu baru berusaha menghubingi bapaknya lagi. Bingung juga mau ngubungi pake apa. Kalau mau ke hotel lagi jauh. Nyobain telepon umum eh ternyata bisa! Seneng banget! (jadi telepon umum itu penting banget loh untuk para wisatawan, sayang banget di Indonesia keberadaan telepon umum udah jarang banget yang kondisinya baik).

Setelah beberapa kali dihubungi, akhirnya kami berhasil juga ketemu sama Pak Jai dan jalan-jalan seharian keliling Kuching dengan mobil yang nyaman dan guide dadakan yang berpengalaman πŸ˜€ Serunya guide seperti pak Jai ini adalah, kami gak melulu diajak ketempat wisata aja. Tapi adakalanya dia permisi untuk mengambil sesuatu di rumah temannya sehingga kami melihat rumah-rumah penduduk yang ternyata bentuknya seperti Pontianak juga tahun 90an!

Yak, begitulah cerita aku bertemu dengan orang asing diperjalanan. Seperti kata temenku Sita: Jangan takut untuk jalan-jalan, karena selalu ada orang baik disekitar kita πŸ™‚