Laskar Pemimpi ~ disaat semangat pejuang bukan hanya milik pemimpin


amriawan.blogspot.com

Satu lagi film Indonesia yang layak buat di tonton, komedi Musikal Laskar Pemimpi.

Film ini bertemakan perjuangan mempertahankan kemerdekaan, mirip seperti pada film Darah Garuda, yang membedakannya adalah film ini mengambil kental unsur komedinya, walaupun penceritaan tentang tokokh2 penting yang bergerak di dalamnya tidak diambil asal-asalan juga.

Jalan ceritanya kira-kira seperti ini:

Berfokus pada daerah Jogja dan sekitarnya, ada sebuah Laskar yang dipimpin oleh Kapten Hadi Sugito (Gading Marten), Letnan Bowo (T. Rifnu Wikana), kopral Jono (Dwi Sasono) dan Toar (Yosi Project Pop)  yang sedang mencari para gerilyawan baru untuk sebuah misi penyerangan Belanda.

Saat pendaftaran terbuka dilaksanakanlah, berganbunglah anggota2 laskar lainnya dengan berbagai macam alasan. Sri Mulyani (Tika Project Pop) yang masuk ke dalam laskar karena desanya yang dihancurkan oleh Belanda dan ayahnya yang diambil secara paksa sehingga diapun berniat untuk menolong sang ayah. Udjo (Project Pop) seorang anak dari keluarga nigrat yang terpaksa masuk menjadi gerilyawan karena untuk mengambil hati perempuan yang telah lama menjadi pujaannya Wiwid (Shanty), serta Ahok (Odhie Project Pop) dan Tumiwo (Gugum Project Pop).

Suatu ketika, secara tiba-tiba markas laskar mereka diserang oleh pihak Belanda, dan menyandera beberapa orang dari sana, termasuklah Wiwid dan pacar dari Kopral Jono, Yayuk (Masayu Anastasia). Namun mereka juga mendapatkan seorang sandera, seorang tentara KNIL (orang Indonesia yang direkrut Belanda menjadi prajuritnya) bernama Once (Oon Project Pop).

Dengan niat ingin menyelamatkan Wiwid dan Yayuk, serta ayahnya Sri. Maka Kopral Jono, Udjo dan Sripun mengajak Ahok dan Tumiwo untuk melakukan misi ini. Dibantu oleh Once yang digunakan sebagai sumber informasi mengenai markas Belanda.

——————————————————————————————————

Kalau melihat statistik jumlah tertawa penonton di bioskop dan aku sendiri, film ini dapet banget komedinya. Unsur komedi yang natural dan apa adanya. Gak ada unsur paksaan yang membuat kita tertawa garing (padahal aku susah lho tertawa kalau untuk film :P).

Unsur-unsur kecilpun diperhatikan oleh sang sutradara dalam hal ini, seperti penggunaan bahasa belanda dan bahasa jawa yang kental. Sayangnya pada saat menggunakan bahasa Jawa tidak ada teks yang diberikan pada film ini. (lagi-lagi mereka berfikir bahwa yang nonton ini hanya orang Jawa kali yah *kecewa* ). Penggunaan pakaian masyaraka dan para gerilyawannya, serta tempat2 yang yang memang secara kasat mata gak ada miss sama sekali.

Ada hal yang lumayan mengganggu saat aku menonton film ini adalah efek tembak pada saat mereka berperang. Api yang dikeluarkan dari senapan2 mereka sangat terlihat ‘palsu’, dan membuat efek itu seakan kita sedang main games (-_-“).

——————————————————————————————————–

Yang ingin disampaikan dari film ini adalah bagaimana masyarakat luas juga banyak yang mempertahankan kemerdekaan tanpa pernah nama mereka disebutkan dalam buku sejarah. Bagaimana mereka melakukannya itu tentu tidaklah begitu penting. Yang penting adalah hasil yang kita dapatkan, kemerdekaan secara utuh.

Tema film kemerdekaan juga sedang marak sepertinya saat sekarang ini. Mungkin karena rasa nasionalisme kita udah luntur atau gimana. Tapi melihat banyaknya terjadi pertikaian antar kelompok dan antar ras rasanya ini akan membuat pahlawan kita yang telah banyak gugur itu menangis. Bagaimana bangsa yang telah dibelanya malah saling bunuh dengan sesama. Nyawapun telah menjadi murah, dan membunuh adalah hal yang ‘biasa’ kalau itu terjadi saat kita berkelahi (Oh God!)

Maka, marilah kita bersama mulai merenung. Apa yang telah pahlawan lakukan untuk bangsa ini. Dan apa yang telah kita lakukan sekarang. Kalau cuma buat rusuh dan onar, untuk apa kita merdeka dulu? Bukannya lebih baik kita selalu sijajah saja tapi rasa nasionalisme dan kekeluargaan kita akan lebih besar? Paling tidak toh kita memang pasti akan masuk surga dengan cara berjihad! Bukan cara jihad tolol dengan memasang bom di sepeda.

Sutradara : Monty Tiwa

Advertisements

1 thought on “Laskar Pemimpi ~ disaat semangat pejuang bukan hanya milik pemimpin”

Balas Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s