Yudisium


Wow! Akhirnya saya yudisium juga hari ini. Setelah sekian lama berfikir kapan waktu yang tepat untuk melaksanakan wisuda (saya maunya bulan februari 2011 sebenarnya), akhirnya saya ikutan juga wisuda bulan nopember ini.

Pagi-pagi udah dibagunin ibu untuk siap2 ke salon buat makeup (jam 4 pagi bo! πŸ™„ ), terus acaranya dengan seenak hati molor gitu sampe satu jam (Indonesia banget!), akhirnya saya isi deh dengan ajang narsis foto-foto sama teman-teman calon wisudawan dari Informatika (FYI: wisudawan dari TI cuma 8 orang bulan ini!)

(fijaz, rina, yunita, sayah :mrgreen:, naufa, febri, TJ, -doci: sebagai fotografer)

Jadi pukul setengah 9 gak pakai teng acarapun dimulai. Mulai dari sepatah dua patah kata dari Pembantu Dekan yang menceritakan bahwa ini adalah wisuda Nopember pertama bagi kampus kebanggaan Universitas Tanjungpura tercinta, hingga prosesi acara yang telah diubah (selanjutnya saya tidak terlalu mendengarkan πŸ˜† ) dilanjutkan dengan beberapa prosesi yang lagi-lagi tidak terlalu saya dengarkan (hehe, maap bapak2 ibu2 dosen, pas kuliah saja saya jarang meratiin, apa lagi udah Yudisium gini πŸ˜› ). Pada akhirnya, dipanggillah 43 wisudawan dari Fakultas Teknik untuk mendapatkan plakat.

Ini dia ke 43 wisudawan dan wisudawati Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura. Rada gak teratur gitu fotonya, ntar bakalan saya pinta sama panitianya saja, dari pada disuruh beli. Lagian panitianya junior 2008, saya kan senior! (mulai maen angkatan πŸ˜† ).

Setelah acara foto-fotoan langsung dilanjutin sama ucapan sana-sini yang (lagi-lagi) saya gak dengerin. Hmm, andai saja ini yang pidato Obama pasti nggak begini kejadiannya πŸ˜› Dilanjutin lagi dengan penyerahan penghargaan bagi mahasiswa IPK tertinggi yaitu didapat oleh teman saya Fijaztri Al-Rassi

Terus, ada lagi penghargaan lainnya yang didapat oleh beberapa wisudawan yaitu wisudawan termuda, tercepat dan IPK predikat “Dengan Pujian”. Alhamdulillah saya dapat dua predikat “Dengan Pujian” dan Wisudawan tercepat :nrgreen:

Terakhir kemudian acara yang ditunggu-tunggu yaitu: makan-makan! πŸ˜€ Habis itu dilanjutkan lagi untuk sesi foto-foto.

Advertisements

FFI2010: saya yang salah tonton, atau?


Festival Film Indonesia kembali digelar. Tahun 2010 ini rencananya Festival yang katanya merupakan festival perfiliman tertinggi di Indonesia akan digelar pada akhir tahun, yaitu bulan desember 2010. Banyak film-film yang mendaftar untuk diseleksi difestival ini, tepatnya ada 54 film. Dari 54 itu terpilihlah 8 film yang lulus seleksi yang kemudian akan dipilih lagi untuk menjadi nominasi pada hari puncaknya. Kedelapan film itu sebagai berikut:

1. 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta

2. Alangkah Lucunya Negeri Ini

3. Minggu Pagi di Victoria Park

4. Hari untuk Amanda

5. 7 Hati 7 Cinta 7 Wanita

6. Cinta 2 Hati

7. I Know What You Did on Facebook

8. Heart-break.com

Dari kedelapan film ini, terus terang 1 filmpun belum ada yang saya tonton. Pernah tertarik untuk menonton Minggu Pagi di Victoria Park, tapi sampe sekarang juga belum sempat untuk menontonnya :mrgreen:

Tapi, melihat 8 film yang masuk membuat saya malas untuk mengikuti jalannya acara FFI ini, karena apa kepentingan saya untuk mengetahui hasilnya kalau film-filmnyapun bukan pilihan saya buat menontonnya. Saya sempat berfikir kalau mungkin saya yang punya selera yang salah dalam menonton film-film Indonesia. Kalau diingat-ingat film-film Indonesia yang saya tonton itu antara lain: Darah Garuda, Laskar pemimpi, Sang Pemimpi, Sang pencerah, Pintu Terlarang, dll. Dari jumlah penontonnya, film-film yang saya tonton tentu sangat banyak peminatnya, tapi kenapa satupun tidak ada yang masuk kedalam daftar diatas?

Memang sejak beberapa tahun yang lalu, ada sineas perfilman yang tidak mau lagi mengikuti filmnya ke festival ini, mereka telah kecewa terdapat FFI karena dianggap tidak baik dalam segi penilaian. Diantara mereka adalah sutradara Joko Anwar dan Mira Lesmana yang malahan pernah mengembalikan piala citra yang mereka dapatkan.

Namun, dilain pihak ada beberapa yang masih ingin mendaftarkan filmnya seperti Hanung Bramantyo dengan film anyarnya Sang Pencerah malah tidak bisa masuk karena katanya tidak memenuhi syarat sebagai film biografi (hmm, saya sendiri juga tidak pernah mendengar Hanung mengatakan Sang Pencerah adalah film biografi seh). Film Sang pencerah sendiri sangat bagus menurut saya, dan telah saya tulis reviewnya di sini.

Kalau sudah sebagian sineas film yang film-nya sukses dan bagus tidak mau mendaftarkan filmnya ke FFi dan film bagus lainnya yang tidak lolos kualifikasi karena alasan kurang masuk akal, apakah FFI masih bisa disebut sebagai pilar untuk mengukur perfilman di Indonesia?

Jawaban dari saya pribadi tentunya tidak. Suatu festival dikatakan tertinggi atau menjadi tolak ukur jika festival tersebut diakui dan diikuti oleh seluruh lapisan masyarakat perindustrian yang bersangkutan, dan kali ini adalah perindustrian film-nya. Jika mereka malah diolok-olok dan tidak diindahkan untuk apa lagi piala citra!

Ajang penghargaan seperti ini di Indonesia memang telah surut dari tahun ke tahun. Seperti Panasonic Award yang saya anggap tidak lagi murni karena yang menang bahkan yang masuk nominasi praktis hanya yang berkecimpung dalam MNC group.

Setiap karya memang perlu suatu ajang untuk menilai karya tersebut, karena kita memang tidak bisa melihatnya hanya dari sisi kuantitas, tapi juga dari sisi kualitasnya. Namun, jika ajang telah ada corengan yang membuat ajang tersebut tidak mendapat respon positif lagi, tentunya ada baiknya agar ajang itu berbenah atau diubah sama sekali menjadi format yang baru.

Kota saya, namanya Pontianak..


“Kamu dari mana?” tanya seorang SPG mall dikawasan Pondok Indah Jakarta Selatan.

“Dari Pontianak,” jawabku singkat.

“Oh, Pontianak itu yang ada di sulawesi kan?”

JDEERR!!!!

Sebenarnya, itu sesuatu seperti itu bukanlah hal aneh bagi aku, atau kawan-kawan aku yang berasal dari Pontianak ketika mengunjungi atau baru pindah ke sebuah kota baru. Kota yang aku bangga-banggakan karena tugu Khatulistiwanya yang aku fikir terkenal, ternyata tidaklah seterkenal yang aku bayangkan.

Kebanyakan dari pertanyaan adalah seperti: “Pontianak itu dimana yah?” amat sering terlontar dari mulut-mulut orang yang berhidup di pulau kecil dan berpenduduk banyak itu.

Kadang, didengar dari dialeknya, tak jarang kami juga dikira sebagai orang asing, alias WNA dari Malaysia. Padahal yah, kalau kalian pintar membedakan dialek melayu Pontianak sangat beda banget dengan dialek melayu Malaysia. Seperti juga dialek melayu Belitong dan Jambi yang juga sangat jauh berbeda. Bagi yang berdarah melayu pasti kalian tahu yang aku bicarakan. Seperti Cut Mini di film Laskar Pelangi yang aku bilang sukses dengan besar mengubah dialek asli melayu belitong. Hey! itu lebih terdengar dialek melayu Malaysia lho, bukan belitong. Ini jelas terjadi kepada aku saat jalan-jalan di sebuah Plaza di kota Surabaya. SPGnya dengan lantang menyapaku dengan kalimat: “Selamat datang ke Indonesia?” πŸ™„

Jika sudah dijelaskan, dimana sebenarnya letak Pontianak itu, yang dilalui oleh garis Khatulistiwanya dan dibelah oleh sungai terpanjang di Indonesia bernama Kapuas, barulah orang-orang itu mengerti. Tapi, lagi-lagi kadang aku merasa sedikit tergelitik dengan pertanyaan: “Jadi, kalian kemana-mana pakai sampan dong?”

Hmm,, apakah perlu saya jelaskan disini bahwa kota Pontianak itu sudah amat sangat maju dengan beberapa mall berdiri, dan sebagian masyarakatnya udah gak mau lagi berpanas-panas jalan naek angkot dan lebih memilih untuk mengendarai motor/mobil pribadi, apalagi naek sampan?

Diluar itu semua, Pontianak juga memiliki tempat-tempat wisata yang asyik untuk dikunjungi, salah satunya yang menjadi kebanggaan bagi penduduknya adalah meriam karbit.

Pontianak juga terkenal dengan wisata kulinernya yang enak-enak. Kalian tidak akan lengkap ke kota ini jika belum mencicipi yang namanya Bubur Pedas, Sayur Nangka, Peceri Nenas, atau tempat-tempat kuliner Pontianak seperti Ayam Lamongan, Mie Tiaw Appollo, Nasi Goreng Iin, dan masih banyak lagi.

Pontianak, memang masih merupakan kota kecil jika dibandingkan dengan Jakarta atau Bandung, tapi perkembangannya sangat besar, dan salah satu yang tidak akan pernah aku ingkari adalah, aku sangat mencintai kota kelahiranku ini. Tidak pernah ada yang indah selain sunsetnya ketika kita melihat dari atas ferry penyebarangan, atau jejeran sawah-sawah di pinggiran kotanya. Jejeran kebun anggrek dan kebun lidah buaya yang tertanam subur, dan air yang mengalir merah di atas sungai-sungai kecil tanah gambut.

Kota yang selalu meriah jika sedang merayakan hari besar seperti Lebaran, Natal dan Imlek karena kultur budayanya yang sangat beraneka ragam. Kota yang mesjid dan kelentengnya dapat nyaman hidup berdekatan, dan kota yang tidak pernah berfikir besar namun merupakan ibu kota dari sebuah propinsi besar yang mempunyai batas negara dengan wilayah serawak Malaysia.

Jadi, masih tidak mengenal kota Pontianak? Kalau iya, datanglah kesini, nikmati kota kecil yang tenang sambil menyerup secangkir teh serbat. Selamat datang! :mrgreen:

Unstoppable: Review


Berada di tengah pemutaran minggu pertama Harry Potter tidak menyurutkan penonton untuk menonton film ini, buktinya 2 kali aku datang ke XXI untuk menonton, 2 kali pula aku kehabisan tiketnya. Baru kali ketigalah aku bisa sukses mendapatkan tiket untuk menonton film ini.

UNSTOPPABLE. Sebenarnya bukan merupakan sebuah film yang aku nantinya pemutarannya pada tahun ini. Tidak seperti Harry Potter yang jauh-jauh hari sudah aku tunggu, atau seperti Resident Evil, Twilight atau yang lainnya. Film ini memang benar-benar baru, bahkan saat aku memasuki bioskop aku tidak tahu sebenarnya film ini berkisah tentang apa. Hanya dengan bekal komen di twitter yang mengatakan film ini bagus, maka menontonlah aku.

Film dimulai dengan cerita seorang suami, Will (Chris Pine) yang sedang bertengkar dengan istrinya karena sebuah masalah sehingga dia tidak bisa bertemu lagi dengan anaknya.

Will yang baru saja lulus menjadi masinis kemudian bertemu dengan Frank (Denzel Washington) untuk menjalankan sebuah kereta api untuk mengangku beberapa kargo. Frank sendiri adalah pengemudi kereta yang telah 28 tahun menangani perkereta apian dan mempunyai 2 orang putri remaja.

Sampai disini, aku masih menerka-nerka sebenarnya bagaimana jalan cerita dari film ini. Apa masalah yang mereka hadapi dan bagaimana hubungannya dengan sang istri. (Tentu akan berhubungan karena jika seuatu film telah menceritakan sebuah masalah di awal cerita, pasti itu akan berhubungan di akhir ceritanya). Tapi, sang sutradara ternyata tidak berlama-lama dengan kebingungan untuk penontonnya yang belum tahu seperti aku. Masalah muncul perlahan tapi pasti tanpa ada bentuk pemaksaan di setiap kejadian.

Seorang ditugaskan untuk membawa beberapa gerbong kereta api yang berisi bahan kimia kesebuah tempat. Saat kereta sudah berjalan, ternyata rel masih terbuka sehingga mengarahkan ke arah yang salah. Berniat ingin membenarkan jalurnya, sang masinispun turun dari kereta. Masalah terjadi ketika kereta kemudian melaju dan sang masinis tidak bisa masuk ke dalam keretanya lagi. Kereta tanpa awakpun kemudian semakin melaju tanpa kendali menuju sebuah kota yang padat penduduknya.

Jalan cerita pada film ini sangat cepat. Nyaris kita tidak akan ‘sempat’ merasa bosan disepanjang durasi +/- 1 1/2 jam penayangannya. Karena film ini memang hanya menayangkan 1 jalan cerita yang membuat kita sebagai penonton fokus pada jalan cerita yang disajikan.

Tidak ada perpindahan lokasi, tidak ada perpindahan hari atau bahkan baju yang dipakai oleh para pemain. Nyaris kita akan dibawa untuk berfikir bahwa kita sedang melihat siaran langsung dari sebuah berita nasional. Bedanya, kita tahu apa yang terjadi di dalam kejadian itu. Membuat aku sempat berfikir, jika sedang terjadi bencana besar sebenarnya apa seh yang diobrolkan oleh orang-orang yang sedang ada di dalamnya? πŸ˜†

Maka, tanpa henti, kitapun akan dibawa terus untuk berdebar sepanjang jalan cerita yang merupakan kelebihan dari film ini. Dan satu lagi film yang aku rekomendasikan kalian buat menyisihkan uang saku dan datang ke bioskop. Ayo menonton, mari menonto! πŸ˜€

Selembar Kertas


“Untuk apa lu kuliah? Lihatlah kerjaan kita, sama sekali beda dengan ilmu yang lu pelajari di kampus itu,” ucap Filisia, temanku yang mengulang perkataan teman satu kantornya yang merasa pengorbanannya untuk kuliah yang telah berjalan 2 tahun ini hanya sia-sia.

Menjadi seorang pengawai kantoran di Jakarta yang juga menjadi mahasiswa kuliah malam memang bukan merupakan kegiatan yang gampang. Apalagi kalau kerjaan dan kuliah berjalan dari hari senin hingga sabtu, praktis hari minggu hanya satu-satunya hari libur dan akan menjadi dilema untuk digunakan liburan atau istirahat.

Dilain pihak, kalau kita sudah terjun ke dunia kerja dahulu baru menginjak bangku kuliah, fikiran kita tentunya sudah berubah, bahwa kuliah sangat beda dengan saat kita terjun lansung di dunia kerja. Praktis ilmu yang kita pelajari di bangku kuliah hanya sebagian kecil saja yang akan digunakan di dunia kerja.

“Kuliah gua itu susah, padahal gua kerja di kantor gak sebegitu amat. Semuanya udah ada programnya, tinggal pakai jadi,” keluhnya kemudian kepadaku tentang kuliahnya yang memang sangat beda dengan dunia kerja yang dijalaninya.

Memang, yang menjadi momok dari dunia kerja dan kuliah adalah ilmu yang kita pelajari di bangku kuliah. Benarkah ilmu-ilmu itu memang dipakai saat kita bekerja nanti? Toh, sudah banyak contoh nyata yang mengatakan bahwa ilmu yang kita dapatkan memang sangat jauh berbeda saat kita bekerja nanti.

Indah, temanku yang lainpun kemudian tergelitik untuk berkomentar juga tentang masalah ini. “Yang kita butuhin di kuliah itu bukan ilmunya, tapi selembar kertas yang namanya ijazah,” celotehnya, dan kami bertigapun tertawa membenarkan akan hal itu.

Setiap kerjaan, apapun itu, walau katanya kerjaan itu sesuai dengan bidang ilmu yang kita pelajari di kampus, tetap saja harus kembali belajar dulu dengan para senior kantor. Ilmu yang dipelajari praktis memang rasanya hanya diperlukan untuk mendapatkan Ijazah, karena toh kalau kita gak ada ijazah, walaupun ilmu kita segudang melebihi para sarjana itu, tetap saja kita sering dianggap rendah. Jika gak ada ijazah, kita juga gak bisa meniti karir lebih pada perusahaan tempat kita bekerja, karena bagaimana mungkin lulusan SMA cocok untuk memimpin anak lulusan Sarjana?

Aku jadi teringat ketika seorang seniorku dikampus yang sudah bekerja bicara denganku dulu, jauh sebelum aku lulus kuliah. “Belajar banyak dek di kampus, bukan pelajaran yang diberi oleh para dosen itu, tapi pelajaran yang kita ambil dari lingkungan. Karena itulah fungsinya kampus, bukan untuk cuma mendengar ocehan dosen, tapi untuk membuka diri untuk banyak hal.”

Yak, aku setuju dengan apa yang seniorku dulu ucapkan. Sang kutu buku akan berjaya di sekolah, tapi mereka tidak bisa berjaya di kampus atau dunia kerja. Orang yang mengembangkan dirilah yang akan bisa survive pada dunia yang ternyata keras ini. Ijazah itulah sebuah kunci untuk kita memasuki dunia yang lebih keras. Ilmu? bukan hanya dari bangku kuliah yang kita perlukan, tapi itu dasar sebagai perisai kita saat berperang, sedangkan pedangnya hanya kitalah yang bisa membuatnya sendiri.

Untuk Indonesiaku..


Aku bukan siapa-siapa. Aku bukan artis atau pengamat yang terkenal. Aku tidak pernah masuk TV (dulu seh pernah masuk radio pas TK πŸ˜† ) dan aku juga bukan blogger terkenal seantero Indonesia yang bisa ikut seperti pesta Blogger yang baru-baru saja diselenggarakan di Jakarta karena aku nun jauh di sini, di Pontianak, kota yang aku senangi untuk berkehidupan hanya seorang anak bangsa, bangsa yang katanya dari Sabang sampai Merauke namun hanya terdengar ke Jawa-annya, Republik Indonesia.

Republik yang katanya carut marut, republik yang katanya banyak korupsi, republik yang katanya miskin, republik yang masyarakatnya senang membandingkannya dengan negara lain dan mengeluh kenapa PEMERINTAH tidak bisa bertindak agar kita bisa sama dengan mereka.

Hai pemuda, hai para mahasiswa, para pelajar, para pekerja. Jika kita menginginkan untuk Indonesia menjadi maju, tapi hanya menuntut pemerintah yang melakukannya, apa itu akan berhasil? Sekarang, berapa jumlah pemerintahan kita? Jangan bilang gak tahu ya kalau memang kita sering menuntut. Presiden dan wakil beserta menteri-mentrinya hanya berjumlah 36 orang. Dan sekarang berapa rakyat Indonesia? Menurut data BPS dari sensus 2010-nya, jumlah penduduk Indonesia itu adalah 237an juta jiwa. Sekarang bandingkan saja dengan hitungan awam bagaimana orang yang gak sampai ratusan itu bisa mengurus 237an juta manusia?

Sekarang bukan merdeka atau mati, tapi berubah atau punah – HOPE

Tanpa mengesampingkan peran pemerintah yang memang adalah pengatur kondisi sebuah negara, kita juga harus berfikir mandiri. Bagaimana membuat individu kita kreatif dan memberi untuk bangsa, bukan lagi hanya menggelayut dan mengemis kepada negara. Toh banyak cara yang bisa dilakukan, paling ringan ya cintai negri ini dulu, budayanya, alamnya, olahraganya dan apapun dan memberi semangat pada mereka yang berjuang. Bukan menghujat dan berfikir pesimis bahwa kita gak akan menang.

Jika kebanyakan kita menanggap Indonesia negara kecil miskin yang bukan apa-apa dimata dunia, pernahkah kalian tahu bahwa Indonesia masuk kedalam G-20 dimana itu adalah sekumpulan 20 negara yang dianggap dunia perekonomiannya sangat berpengaruh terhadap perekonomian diseluruh dunia. Indonesia termasuk negara yang kuat ekonominya bahkan disaat krisis dunia melanda. Sekarang, tengah serius adalah krisis Yunani dan Irlandia yang mengancam “kelansungan hidup” negara-negara UNI Eropa. Kita, masih bisa tenang dengan kondisi ekonomi yang stabil πŸ™‚

Jika kebayakan kita menganggap Indonesia adalah negara kotor yang tak layak di datangi, maka berbuatlah sesuatu untuk Indonesia yang lebih baik, yang lebih bersih. Promosikan potensi wisata didaerah kita masing-masing. Jangan memposting/membicarakan keburukan di dunia maya (karena setiap tulisan kita itu terbaca diseluruh dunia), tulislah yang baik tentang Indonesia. Hapus garis-garis yang menceritakan tentang keburukan Indonesia dan isi dengan keindahannya. Indonesia bukan hanya Bali, Indonesia itu punya Maluku yang indah, Lombok, Sulawesi, atau Singkawang di Kalimantan Barat yang sangat nyaman (promosi colongan :mrgreen: ). Dan jika kalian tahu, bahwa turis mancanegara yang datang ke Indonesia itu lebih banyak daripada yang datang ke Australia. Suatu kabar yang baik dan perlu ditingkatkan lebih jauh lagi.

Olahraga Indonesiapun tidak lebih buruk daripada negara-negara lainnya. Jika bulu tangkis adalah bidang terbaik, itu karena fasilitas atas olahraga ini sudah amat baik di negeri ini. Kembangkan fasilitas yang lain juga. Pilih pemimpin yang baik dan buanglah yang buruk. (bukan maksud hati untuk menyinggung Nurdin 😳 )

Dan jangan lupa tentang pendidikan. Indonesia selalu rutin mendapatkan sumbangsih mendali dari olimpiade pendidikan bertaraf dunia.

Sayangnya, potensi-potensi berita tentang prestasi, dan kebaikan yang ada di Indonesia tertutupi oleh berita-berita buruk yang lebih dipilih media di sini. Katanya, berita yang lebih tragis itu lebih menjual dan lebih mudah laku. Bagaimana caranya agar berita itu tidak jadi menjadi laku? ya, lagi-lagi mulai dari diri kita sendiri.

Aku bukan siapa-siapa. Aku hanya seorang anak republik yang ingin memandang negrinya dari sisi lain. Sisi yang dilihatnya indah dan ingin menyebarkan virus keindahan itu kepada siapapun yang membacanya. πŸ˜€