Kota saya, namanya Pontianak..


“Kamu dari mana?” tanya seorang SPG mall dikawasan Pondok Indah Jakarta Selatan.

“Dari Pontianak,” jawabku singkat.

“Oh, Pontianak itu yang ada di sulawesi kan?”

JDEERR!!!!

Sebenarnya, itu sesuatu seperti itu bukanlah hal aneh bagi aku, atau kawan-kawan aku yang berasal dari Pontianak ketika mengunjungi atau baru pindah ke sebuah kota baru. Kota yang aku bangga-banggakan karena tugu Khatulistiwanya yang aku fikir terkenal, ternyata tidaklah seterkenal yang aku bayangkan.

Kebanyakan dari pertanyaan adalah seperti: “Pontianak itu dimana yah?” amat sering terlontar dari mulut-mulut orang yang berhidup di pulau kecil dan berpenduduk banyak itu.

Kadang, didengar dari dialeknya, tak jarang kami juga dikira sebagai orang asing, alias WNA dari Malaysia. Padahal yah, kalau kalian pintar membedakan dialek melayu Pontianak sangat beda banget dengan dialek melayu Malaysia. Seperti juga dialek melayu Belitong dan Jambi yang juga sangat jauh berbeda. Bagi yang berdarah melayu pasti kalian tahu yang aku bicarakan. Seperti Cut Mini di film Laskar Pelangi yang aku bilang sukses dengan besar mengubah dialek asli melayu belitong. Hey! itu lebih terdengar dialek melayu Malaysia lho, bukan belitong. Ini jelas terjadi kepada aku saat jalan-jalan di sebuah Plaza di kota Surabaya. SPGnya dengan lantang menyapaku dengan kalimat: “Selamat datang ke Indonesia?” 🙄

Jika sudah dijelaskan, dimana sebenarnya letak Pontianak itu, yang dilalui oleh garis Khatulistiwanya dan dibelah oleh sungai terpanjang di Indonesia bernama Kapuas, barulah orang-orang itu mengerti. Tapi, lagi-lagi kadang aku merasa sedikit tergelitik dengan pertanyaan: “Jadi, kalian kemana-mana pakai sampan dong?”

Hmm,, apakah perlu saya jelaskan disini bahwa kota Pontianak itu sudah amat sangat maju dengan beberapa mall berdiri, dan sebagian masyarakatnya udah gak mau lagi berpanas-panas jalan naek angkot dan lebih memilih untuk mengendarai motor/mobil pribadi, apalagi naek sampan?

Diluar itu semua, Pontianak juga memiliki tempat-tempat wisata yang asyik untuk dikunjungi, salah satunya yang menjadi kebanggaan bagi penduduknya adalah meriam karbit.

Pontianak juga terkenal dengan wisata kulinernya yang enak-enak. Kalian tidak akan lengkap ke kota ini jika belum mencicipi yang namanya Bubur Pedas, Sayur Nangka, Peceri Nenas, atau tempat-tempat kuliner Pontianak seperti Ayam Lamongan, Mie Tiaw Appollo, Nasi Goreng Iin, dan masih banyak lagi.

Pontianak, memang masih merupakan kota kecil jika dibandingkan dengan Jakarta atau Bandung, tapi perkembangannya sangat besar, dan salah satu yang tidak akan pernah aku ingkari adalah, aku sangat mencintai kota kelahiranku ini. Tidak pernah ada yang indah selain sunsetnya ketika kita melihat dari atas ferry penyebarangan, atau jejeran sawah-sawah di pinggiran kotanya. Jejeran kebun anggrek dan kebun lidah buaya yang tertanam subur, dan air yang mengalir merah di atas sungai-sungai kecil tanah gambut.

Kota yang selalu meriah jika sedang merayakan hari besar seperti Lebaran, Natal dan Imlek karena kultur budayanya yang sangat beraneka ragam. Kota yang mesjid dan kelentengnya dapat nyaman hidup berdekatan, dan kota yang tidak pernah berfikir besar namun merupakan ibu kota dari sebuah propinsi besar yang mempunyai batas negara dengan wilayah serawak Malaysia.

Jadi, masih tidak mengenal kota Pontianak? Kalau iya, datanglah kesini, nikmati kota kecil yang tenang sambil menyerup secangkir teh serbat. Selamat datang! :mrgreen:

Advertisements

2 thoughts on “Kota saya, namanya Pontianak..”

Balas Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s