Darah Garuda


Hari pertama lebaran aku isi dengan menonton film darah garuda. Penting buat aku menonton film ini karena ini adalah film Indonesia yang sangat bagus menurut aku. Rugi saja aku selalu menonton film-film hollywood tapi gak mau menyisihkan waktu untuk memnonton film Indonesia yang menarik. Maka pergilah aku malam pertama lebaran ke Mall untuk menonton bioskop.

Aku tidak akan membahas sinopsis atau review dari film ini. Karen sinopsis sudah banyak beredar di internet. Kalau mau buka saja webnya di http://www.merahputihthefilm.com/darahgaruda.com/. Di sana bahkan sudah ada thilernya. Gak pelru lah aku panjang lebar hanya untuk copy paste kan ­čśÇ

Tulisan ini aku buat untuk membahas isi dari film ini. Karena film ini memang membahas banyak hal yang berkaitan dengan masa mempertahankan kemerdekaan serta isu-isu yang berkembang di dalamnya.

Telah kita ketahui bersama bahwa pemeran di film ini terdiri dari berbagai suku bangsa dari Indonesia. Sang pemimpin Amir, yang diperankan oleh Lukman Sardi berasal dari Jawa. Marius (Darius Sinatria) berasal dari bangsawan Jakarta. Thomas (Donny Alamsyah) seorang kristen yang berasal dari Manado, Sulawesi Utara. Ada lagi Dayan (T. Rifnu Wikana) yang merupakan Hindu Bali.

Masalah ada ketika mereka bertemu dengan Sersan Yanto (Ario Bayu) yang bertanya pada Amir, Kenapa ia bisa mempercayai mereka? Yang bisa di percaya hanyalah para Jawa dan Islam.

Serius, pada saat kalimat ini aku merasa tersentil emosiku. Karena aku memang bukan orang jawa. Aku akan dengan sangat bangga mengatakan kepada orang yang bertanya asalku adalah Kalimantan. Sebuah pulau di utara Jawa yang begitu besar dan bergabung dengan 2 negara lainnya, Malaysia dan Brunei. Sebuah pulau yang multikultural yang menerima siapapun yang datang, tanpa sibuk berkoar untuk mengusir seperti pulau yang kecil itu. Sebuah pulau yang berisi masyarakat berani untuk berfikir kedepan, tanpa sombong bahwa mereka berasal dari daerah terkenal.

Tapi tentu film ini sangat bijak, pada akhirnya kita tahu bahwa bhineka tunggal ika itu bukan hanya Jawa. Bahkan mereka menampakkan siapa yang akhirnya penghianat itu ­čÖé

Dilain adegan juga ada yang berkata: Apa itu Indonesia? Yang aku tahu hanyalah Java, Sumatra, Borneo, Sulawesi. Tidak ada Indonesia.

Yah, beberapa kali aku berfikir betapa sombongnya pahlawan dahulu yang menyatukan masyarakat yang amat sangat berbeda menjadi sebuha negara Indonesia. Kenapa mereka tidak membuat negara Java saja? Karena mereka terlalu sombong dengan masyarakat di luarnya menurutku.

Tengok saja orang-orang yang berkoar menginginkan peperangan Indonesia-Malaysia. Tentu mereka dengan mudah menyatakan ingin berperang. Toh garis terdepan itu ada di Kalimantan dan Sumatra, bukan di Jawa. Yang ingin berperang itu, tak mungkin berani kesini jika perang benar-benar terjadi.

Film ini menunjukkan, walaupun orang Bali, Sulawesi dan lainnya, mereka tetap mencintai Indonesia. Sudah menjadi kehendak Tuhan untuk mempersatukan negara yang sangat besar ini. Ini sudah menjadi takdir Indonesia. Maka, tugas kita sebagai penurus hanyalah mempertahankan dan mengisi kemerdekaan itu dengan baik. Tidak ada waktu lagi berfikir bahwa aku jawa, aku sulawesi, aku sumatera, aku kalimantan.

Darah Garuda memang banyak menguras emosi. Kalimat kasarnya adalah ketika menonton film ini kita akan membenci Belanda. Wajar saja orang-orang yang terlibat langsung dengan peperangan biasanya sangat anti dengan belanda. Mau tahu alasannya? tontonlah film ini. lagi pula, kapan lagi kita mendapatkan film Indonesia yang berkualitas? Bisa dihitung dengan jari kan setiap tahunnya ­čśÇ

Advertisements

Lebaran di Pontianak


Seperti apa lebaran di kampung halaman kalian?

Aku tidak tahu bagaimana suasana lebaran di kampung lainnya, karena toh aku memang tidak pernah berlebaran selain di kampung aku pontianak. Tapi kebanyakan yang aku dengar dari orang-orang adalah perayaan di kampung lain (terutama di daerah jawa) angat jauh berbeda dengan di Pontianak. Kebanyakan di sana takbiran, sholat Ied kemudian bersalam-salaman disepanjang jalan.

Ok, mari bandingkan dengan kampungku, Pontianak.

Belum lagi lebaran, di Pontianak telah mempersiapkannya dengan baik. Masuk ke malam ramadan 21 ada istilahnya ‘Keriang Bandung’ adalah tradisi masyarakat Pontianak menghidupkan api/lilin di depan rumah. Dulu tradisi ini menggunakan obor yang ditaruh di depan rumah. Kemudian digantikan dengan lampu yang di buat dari botol bekas kemudian diberi sumbu dan di masukkan minyak tanah. Masuk ke masa sekarang, orang-orang lebih memilih menggunakan lampu warna-warni yang digantung di langit-langit rumah.

Sepuluh hari telah berlalu, lampu-lampu disepanjang jalan dan rumah telah dihidupkan dan masyarakat Pontianakpun mulai menanti datangnya tradisi lainnya, yaitu tradisi ‘Meriam Karbit’. Biasanya ini dilakukan dari H-3 hingga H+3. Kegiatannya ya hanya membunyikan meriam yang berada di sepanjang tepian sungai kapuas, terutama di daerah jembatan Kapuas 1.

Kalau pendatang mungkin akan terkejut dengan bunyi yang menggelegar hingga keseluruh penjuru kota Pontianak saking besarnya. Tapi bagi kami masyarakat Pontianak itu membuat semarak malam-malam lebaran. Bahkan setiap malam takbiran banyak dari masyarakat yang berkumpul di satu titik itu untuk melihat dan mendengar meriam dari jarak yang lebih dekat sambil menikmati pemandangan sungai kapuas dimalam hari.

http://motosuki.multiply.com

Dan apa yang daerah lain lakukan setelah sholat ied dan bertemu dengan keluarga? Lebaran selesai dan saatnya berliburan ke pantai atau ketempat rekreasi? Ya, mungkin itulah yang di lakukan. Beda dengan kami masyarakat Pontianak. Lebaran tidak selesai hanya bergitu saja.

Jauh-jauh hari setiap rumah telah menyiapkan kue-kue yang cukup banyak untuk dihidangakan di ruang tamu. Ini dilakukan untuk menyambut tamu-tamu yang datang berkunjung.

Masyarakat di sini memang terbiasa untuk saling mengunjungi rumah masing-masing untuk bersilahturakmi. Si A akan kerumah B dan si B akan membalasnya dengan berkunjung ke rumah A. Dan seterusnya untuk berkelompok-kelompok orang. Belum lagi yang janjian untuk berkumpul dan mengunjungi satu per satu dari rumah masing-masing. Sangat aneh untuk sebagian orang, tapi sangat menyenangkan.

Lagian, kapanlah lagi kita dapat berkunjung ke rumah masing-masing jika tidak pada hari lebaran? Maka, masyarakat di kota pontianak akan memanfaatkan waktu seperti ini untuk slaing bersilahturahmi.

Yang jelek dari tradisi ini adalah kegiatan masyarakat yang berbenah rumah, membeli perlengkapan furniture baru, mengecat rumah, membeli gorden, peralatan makan dan masih banyak lagi. Bagai saling bersaing demi gengsi.

Apapun itu, tradisi ini harus di lestarikan. Sebagai masyarakat yang lahir dan besar di Pontianak, akan sangat aneh bagi aku jika suatu saat nanti di pontianak saat lebaran hanya bersalaman di mesjid atau di depan rumah.

Selamat lebaran ­čÖé

Gema Takbir


Sudah sejak siang hari kotaku diguyur hujan yang lumayan lebat. Jika hari-hari biasa tentu kita akan lebih memilih untuk bergulung di dalam selimut di atas kasur.

Tapi hari ini beda. Ya tentu lah sangat beda. Hari ini adalah hari terakhir Ramadan. Kesedihan memang menggelayuti bagi sebagian orang yang merasa akan meninggalkan bulan suci dan penuh rachmat ini. Belum tentu tahun depan kita bisa bertemu lagi dengan Ramadan. Tapi banyak juga yang senang, karena tak lain adalah besok Idul Fitri. Hari kemenangan yang banyak ditunggu oleh kebayakan orang.

Sebenarnya, apa arti kemenangan itu? Jika kita tanyakan kepada para kyai pastilah mereka mengatakan kemenangan dari segala ujian di bulan Ramadan. Bagaimana kita telah berhasil menahan segala keburukan yang selama ini kita kerjakan pada bulan-bulan lainnya. Kemenangan karena telah berhasil melakukan segala kegiatan yang dapat menampung pahala. Jika kita tanyakan kepada anak-anak arti kemenangan itu, tentulah mereka berkata dengan polosnya bahwa kemenangan akan berhasil berpuasa dan akhirnya mendapat hadiah berupa uang dan baju baru.

Kebudayaan Indonesia, tak dapat untuk kita pungkiri adalah bersifat konsumtif jika sudah mengenai hari kemenangan itu. Contohnya adalah hari ini. Ditengah hujan yang deras, orang-orang masih saja bersibuk untuk pergi ke pasar. Membeli segala sesuatu yang dianggap masih kurang untuk mempersiapkan lebaran ini.

“Kok orang-orang ini mau sih belanja pas hujan gini?” tanyaku kepada kakakku. Teman aku berjalan hari ini.

“Lah, kita juga sedang apa? Kita kan juga berjalan waktu hujan?” jawab kakakku yang malah balik bertanya.

“Tapikan kita pake’ mobil. Kalau kayak mereka yang menggunakan motor, gak mau ah,” ucapku menyelesaikan diskusi itu.

Memang, sebenarnya aku harus banyak-banyak bersyukur. Ditengah orang yang masih banyak kehujanan, aku bisa berteduh dengan hangat di dalam mobil sambil mengendarainya dengan tenang. Tidak ada ketakutan akan barang belanjaan yang akan basah atau makanan yang baru saja dibeli akan rusak.

Jadi, apa makna kemenangan bagi aku pribadi?

Kemenangan adalah jika aku bisa mengubah dari sesuatu yang buruk atau kurang menjadi baik ditahun ini. Ramadan lebih untuk aku intropreksi diri. Apa yang telah aku lakukan dan belum aku lakukan selama 11 bulan belakangan ini. Maka akupun inginkan sebuah perbaikan. Jika perbaikan itu terjadi, maka menanglah aku. Dan hari kemenangan itu akan menjadi lebih indah dan lebih bermakna.

Baju baru? Rasanya itu hanyalah reward untuk semuanya.

Aku pribadi, tidaklah terlalu suka dengan segala kesibukan untuk hari lebaran. Baju hari ini dibeli ya besok dipakai. Kue hanya pelengkap yah beli saja seadanya. Rumah dibersihkan hanya untuk menghormati tamu yang pastinya akan lebih banyak dibandingkan hari-hari biasanya.

Kebanyakan keluarga aku bersikap konsumtif. Mereka bilang ini tradisi, harus dilestarikan. Lagian kapan lagi berkumpul dan bersenang-senang seperti ini kalau bukan sewaktu lebaran.

Hmm, benar juga sih. Maka akupun ikut-ikut saja apapun itu. Tapi kalau aku sudah berkeluarga sendiri, gak tahu juga deh apa aku akan sesibuk sekarang atau akan santai-santai saja. Atau bahkan aku akan lebih sibuk? Haha, gak tahu juga deh.

Maka, apapun itu, inti dari hari kemenangan ini adalah mensucikan diri kita sesuci-sucinya. Kalau perlu ya kita minta maaf juga. Karena kapan lagi kalau bukan saat ini ­čśÇ

=====

Minal Aidzin Wal Faidzin.

Mohon Maaf lahir dan batin.

Selamat Iedul Fitri 1431H.

Prosecutor Princess


koreandrama.org

Judul : Prosecutor Princess

Jumlah episode: 16

Rilis : Maret 2010

===================================

Yak, aku baru saja selesai menonton K-drama yang telah aku bicarakan pada postingan yang lalu dan tanpa paksaan darimanapun aku mengatakan bahwa drama ini sangat bagus karena telah sukses membuatku menangi segukan diepisode-episode terakhirnya.

Jenis film ini memang gak ada komedi-komedinya sama sekali. Beberapa adegan memang bisa membuat kita tertawa, tapi mereka bukan melucu. Jadi yang berharap menyaksikan drama yang lucu maka jauhilah film ini ­čśŤ

Yah, gimana ya, sebenarnya aku juga kurang bisa menulis untuk sinopsis sesuatu yang telah aku tonton. Kalau gak jatuhnya spoiler yah jatuhnya biasa-biasa aja gitu. Jadi, marilah kita belajar (lah kok jadi ngajak barengan :D)

Sinopsis:

Cerita ini tentang seorang jaksa perempuan bernama Ma Hye Ri (Kim So Yeon). Dia adalah putri dari seorang pengusaha kaya hingga membuatnya hidup dalam dunia glamor. Selalu memakai pakaian, sepatu dan aksesoris branded. Ketika acara kelulusannya, dia yang ingin mengejar mendapatkan sepatu dari desainer terkenal meninggalkan acara kelulusan untuk pergi ke resort yang berada di tempat permainan ski.

Malang nasibnya ketika barang-barangnya dicuri maling dan kamar yang telah dipesannya telah diambil oleh seorang laki-laki kaya. Lebih apes lagi ketika ingin pulang mobilnya dikempeskan oleh orang.

Tapi, karena memang berniat untuk membeli sepatu itu, Hye Ri tetap menghadiri lelang dan akhirnya memenangkan lelang tersebut. Tapi pada akhirnya dia tidak bisa mengambilnya karena dia tidak bisa membayarnya. Saat negosiasi itulah dia melihat orang yang mengenakan jaket yang sama dengan pencuri yang mencuri barang-barangnya. Tapi, ternyata orang yang disangkanya itu adalah seorang jaksa bernama Yoon Se Joon (Han Jung So).

Balik ke hotel Hye Ri melihat ternyata orang yang membeli sepatu yang diincarnya adalah laki-laki yang juga telah mengambil kamar yang telah dipesannya. Berharap bisa mendapatkan sepatu itu, iapun menumpang menginap semalam di kamarnya.

Dengan segala cara kalimat dan upaya, akhirnya sepatu itupun dia dapatkan dengan berjanji bahwa dia akan membayar semua yang telah di keluarkan laki-laki itu selama ini.

Cerita berlanjut ketika Hye Ri mulai bekerja di kejaksaan. Ternyata dia masuk ke devisi yang sama dengan jaksa yang ditemuinya di resort kemaren. Dan yang lebih mengejutkan lagi ketika dia bertemu dengan laki-laki tempat ia menginap yang ternyata adalah seorang pengacara bernama Seo In Woo (Park Shi Hoo).

Suatu hari Hye Ri tertimpa masalah karena dituduh membawa anak dibawah umur ke klub malam. Pada akhirnya ia meminta bantuan pengacara Seo dan setelah itu merekapun mulai dekat satu sama lain. Namun, walaupun dekat dan In Woo selalu membantu Hye Ri menyelesaikan segala masalahnya tetapi Hye Ri akhirnya menyukai seniornya di kejaksaan yaitu Se Joon. Hal ini membuat senior perempuan yang lain Jing Jung Sun (Choi Song Hyun) cemburu karena dia telah menyukai Se Joon jauh sebelum Hye Rin ada.

Hye Rin pun mulai menyadari ketika bahwa ia sebenarnya mencintai In Woo ketika pengacara tersebut menghilang. Cinta merekapun tidak mulus karena masalah masa lalu keluarga yang membuat teka-teki film ini mulai terpecahkan.

 

 

Seperti drama korea yang telah aku tonton, drama ini sangat keren. Menguras emosi dan pemasalahannya yang tidak tertebak hingga ia menceritakannya sendiri dari adegannya. Dan endingnya juga bagus, gak memaksa. Kita disuruh untuk menunggu beberapa adegan lagi hingga akhirnya sampai klimaks dari drama ini.

Pokoknye high recomended deh ne drama.

Selamat menonton ­čśÇ

Dunia Hiburan


http://threespeech.com

Kemaren aku baru saja menyelesaikan menonton drama korea yang entah sudah judul keberapa. Dan entah untuk keberapa kalinya mereka berhasil membuatku menangis segukan. Inilah sebabnya yang membuat aku terus mencari dan mencari lagi judul-judul baru drama-drama korea baru. Karena aku yakin, drama mereka pasti bagus dan yang paling penting untuk aku adalah sudah barang tentu drama ini akan habis hanya belasan episode, kalaupun panjang paling hanya sampai 30an episode.

Mari kita bandingan dengan sinetron Indonesia sekarang. Semua sinetron sekarang striping (bener gak neh tulisan). Aku gak ingat pasti kapan fenomenal sinetron kejar tayang dan menayangkan episodenya setiap hari ini. Yang aku ingat adalah sewaktu aku masih SD dulu sinetron itu hanya seminggu sekali. Jadi setiap hari kita akan mendapat tayangan baru. Hari senin nonton sinetron A, selasa sinetron B, Rabu sinetron C dan seterusnya. Bahkan sering juga Sabtu minggu sinetron libur dan isikan oleh tayangan kuis-kuis yang menyenangkan. Misalnya kuis kata berkait, piramida, who wants to be a milioner dan masih banyak lagi kuis yang ada.

Bukan hanya menayangkan setiap hari dan kejar tayang. Sinetron sekarang juga (istilahnya) tidak ada ujungnya. Kalau sudah punya ranting tinggi maka jangan harap para produser dan sutradara itu akan menghentikannya. Ada lagi istilah season di sini.

Merujuk ke drama korea, season sangat jarang ada. Kalaupun ada biasanya jarak antara season satu dengan lainnya lumayan lama. Bisa satu tahun bahkan lebih. Kalau Indonesia merujuk ke drama dari Amerika yang memang mempunyai season yang panjang dengan episode yang banyak mungkin saja. Aku memang tidak terlalu mengikuti drama Amerika. Sebut saja Friends yang digadang-gadang banyak penontonya. Bahkan filmnya saja aku tidak pernah menonton. Satu-satunya drama yang aku tonton habis satu season adalah Heroes. Tapi season kedua dan ketiganya tidak aku tonton.

Balik lagi ke sinteron Indonesia. Karena keadaan sinetron sekarang yang amat sangat buruk menurut aku jadilah aku sekarang kurang suka untuk menonton teve. Bahkan bukan hanya sinetron, ini juga merembet ke acara realiti show yang menurut aku banyak adegan dramanya. Tidak real sama sekali lagi. Jadi untuk apa mereka masih menyebutnya reality?

Mungkin, dari puluhan juta penduduk Indonesia menikmat teve aku hanya sebagian kecil masyarakat yang sudah sangat jenuh dengan tayangan yang mereka angkat (lagi-lagi). Belum lagi fenomena musik di Indonesia yang sekarang sedang ‘musim’ lagu melayu. Bahkan musik-musik pop di negara ini sudah mulai tersingkir sedikit demi sedikit.

Oh, mau jadi apa kedepannya entertaiment di negaraku ini. Jika beberapa tahun lalu malaysia merujuk ke Indonesia untuk segala hal termasuk dunia hiburannya. Aku tidak heran kalau beberapa tahun lagi masyarakat Indonesia mulai merujuk ke hiburan dari Malaysia. Fenomenanya sudah ada, yakni sinetron anak-anak Upin Ipin yang menurut aku sangat berkualitas dan mengajarkan anak-anak dengan sangat baik. Musik malaysia juga sudah mulai tertata dengan baik menurut teman-temanku yang kuliah di sana.

Jadi, mau menunggu kehancuran dunia hiburan Indonesiakah kita?

Indonesia┬á–┬áMalaysia


beritalangsung.com

Dari kemarin aku ingin menulis sesuatu tentang konflik Indonesia – Malaysia ini, tapi kok rasanya udah ketinggalan jaman untuk membahas ini ketika aku sekarang membuka teve dan baru mengetahui bahwa ternyata hari ini baru saja dilakukan perundingan antara pemerintah Malaysia dan Indonesia di Kinabalu.

Aku memang sangat jarang menonton teve. Ada beberapa alasan untuk itu, mungkin di postingan lain aku akan membahasnya. Sekarang fokus dulu dengan bahasan ini.

Indonesia-Malaysia memanas lagi. Ini setelah Malaysia menangkap polisi perbatasan kita, padahal kapal kita sama sekali tidak melewati batas teritorial Malaysia. Konflik mulai berlanjut ketika Malaysia meminta pertukaran (paling tidak itulah yang masyarakat dan aku ketahui dari media) untuk melepaskan petugas Indonesia itu. Sebuah pertukaran dengan nelayan Malaysia yang ditangkap oleh Indonesia karena menangkap ikan di wilayah Indonesia.

Kontan masyarakat Indonesia yang katanya berjiwa nasionalis itu marah. Kenapa bisa petugas kita harus ditukar dengan maling? Dan mulailah aksi brutal terhadap Malaysia di negara kita ini.

GANYANG MALAYSIA!!

Itulah kalimat yang sering aku dengar oleh para demonstran dan disiarkan oleh seluruh stasiun televisi nasional. Sebuah kalimat yang mulanya keluar dari mulut presiden Indonesia pertama, yaitu Ir. Soekarno saat terjadi konflik dengan Malaysia pada beberapa dekade lalu.

Mengganyang, atau melumatkan Malaysia tidak asing terdengar ditelinga kita. Tapi bolehlah aku bertaruh, kebanyakan mereka yang menyebutkan kata itu bahkan mungkin tidak tahu makna sebenarnya dari ganyang itu sendiri. Bahkan, jika ditelusuri di wikipedia, sangat sulit untuk menemukan arti ganyang. Ketika aku memasukkan keyword itu di Google, yang aku temui hanyalah beberapa artikel tentang Indonesia yang ingin mengganyang Malaysia atau mereka yang hanya sekedar membahasnya (seperti aku juga disini :D).

Aku pribadi, sangat tidak senang dengan masyarakat yang sok ingin berperang dengan Malaysia. Bahkan aku meragukan, mereka yang berteriak di depan teve itu mau ikut digaris depan saat benar-benar ada peperangan. Tindakan seperti membakar bendera suatu bangsa lain terlihat sangat kekanak-kanakan. Bahkan walaupun Malaysia pantas untuk mendapatkan itu semua.

Benci Malaysia. Begitulah banyak orang disekitarku berbicara. Mereka kebanyakan nonton berita sepertinya, menurutku. Coba tanya saja dengan mereka, kenapa membenci Malaysia. Kebanyakan mereka menjawab, karena Malaysia merebut Sipadan dan Ligitan. Karena Malaysia telah mengklaim batik, reog, lagu daerah dan masih banyak lagi. Karena Malaysia telah sering kali memindahkan patok batas di perbatasan Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur. Karena Kasus Ambalat dan wilayah Kepulauan Natuna. Dan semua itu ada diberita teve. Mereka tidak melihat sisi lain kenapa kita harus membenci Malaysia.

Tentu saja berita itu ada benarnya, dan jangan pungkiri juga ada juga salahnya. Contohnya, barusan saja di Metro TV, aku baru tahu ternyata Sipadan dan Ligitan itu tidak pernah diklaim milik Indonesia. Mungkin kasusnya Indonesia hanya ikut-ikutan bertaruh di Mahkamah Internasional. Siapa tahu Indonesia bisa menang. Soal klaim milik Indonesia seperti batik dll itu, jangan salahkan 100% Malaysia. Berkacalah kepada diri sendiri dulu. Jika Malaysia tidak mengklaim barang-barang itu, apakah Bangsa Indonesia yang besar ini pernah berfikir mau mendaftarkan barang tersebut ke PBB?

Kemudian masalah perbatasan dan patok batas negara. Aku sebagai warga Kalimantan Barat sangat paham benar kalau wilayah kami sangat bergantung dengan Malaysia. Aku yang berada di ibukota saja tidak asing untuk itu. Kami sering berkunjung untuk berlibur ke Kucing, Serawak Malaysia. Pelajar kami juga banyak yang kuliah di sana. Untuk berobat akan jauh lebih murah dan mudah untuk berobat di sana. Di Pontianak, tempat tinggalku, sangat banyak kantor-kantor tempat konsultasi dari rumah sakit Malaysia. Membuktikan, bahwa mereka sangat memperhatikan kebutuhan kami.

Itu di wilayah perkotaan. Perdesaan lebih parah lagi ketergantungannya. Akses ke ibukota propinsi yang sangat jauh dan mahal jadi alasan terkuat untuk masyarakat lebih memilih untuk menggantukan perekonomiannya di Malaysia. Wilayah seperti Sanggau, Sintang, Putusibau, Sambas dan sebagainya tidak pernah mendapat perhatian bahkan dari stasiun televisi nasional. Sudah berapa tahun Indonesia merdeka, tapi mereka tidak bisa mengakses teve tersebut untuk menonton. Mereka harus memasang Parabola digital. Sedangkan untuk mengakses teve Malaysia sangat gampang di sana.

Lalu, masih menyalahkan Malaysia kah kita?

Menurut pendapatku pribadi, peperangan dan pemutusan hubungan diplomatik tidak akan menyelesaikan masalah, malah justru akan merugikan bangsa kita sendiri. Apalagi bagi masyarakat perbatasan.

Solusi yang aku fikirkan malah lebih ke solusi fisik. Seperti, bangun wilayah perbatasan. Pusat perekonomian, pendidikan, dan kesehatan. Itulah yang kita perlukan sekarang ini. Jika kita bisa mengumpulkan koin prita, koin bilqis, solidaritas Aceh dan banyak lagi, kenapa kita tidak tergerak untuk menggalang solidaritas untuk membangun wilayah perbatasan? Apa karena mereka tidak sedang dalam kondisi bencana, atau tidak sedang dalam kondisi darurat?

Tapi apakah kondisi sekarang ini masih juga kita kategorikan dalam kondisi tidak daruat? Saat negara tetangga sedang sibuk untuk mengais dari tanah air kita. Merusak kedaulatan NKRI. Kalau dibiarkan terus menerus seperti ini, aku tidak heran jika disuruh memilih, masyarakat perbatasan itu lebih ingin menjadi warganegara Malaysia. Tentu dengan ketidaktahuannya tentang hukum Malaysia yang tidak sedemokrasi di Indonesia. Apalah mereka masyarakat awam yang hanya tahu apakah mereka diperhatikan atau tidak diperhatikan.

Film Indonesia


Beberapa hari lalu, saat aku bangun tidur. Kebiasaan yang selalu aku lakukan adalah keluar kamar kemudian jalan ke bawah rumah. Maklum, kamar aku memang berada di lantai dua rumah yang kadang membuat aku tak tahu menahu tentang ‘dunia’ bawah, hehe.

Namun, postingan ini tentu bukan untuk menceritakan kebiasaan bangun pagiku yang rata-rata baru melek jam 8 SIANG itu. Atau kebiasaan aku yang suka geje mau ngapain dipagi hari. Postingan ini tentu sesuai dengan judul yang aku beri di atas, yaitu mengenai film Indonesia.

Melanjutkan cerita dan inti permasalahannya. Seperti biasa, pagi itu bapakku menyetel radio besar yang ada di ruang keluarga. Kalau gak salah, radio Pro 2 RRI, salah satu radio favorit bapak. Pagi itu secara random sang penyiar memutar lagu yang lumayan udah lama. Kalau gak salah, lagunya itu ‘Kekasih Terakhir’-nya Melly Goeslaw. Sountrack film ‘Apa Artinya Cinta?’ tahun 2005 yang diperankan oleh Sandy Aulia dan Samuel Rizal.

Mendengar lagu itu aku jadi teringat dengan film-film Indonesia lima tahun yang lalu, atau lebih. Pada zaman itu aku sangat menyukai film Indonesia. Biasa dibilang, apapun yang diputar oleh bioskop 21 yang merupakan satu-satunya bioskop di kotaku selalu aku datangi untuk menonton. Baik film drama seperti, Apa Artinya Cinta?, Dealova, Brownies, Ungu Violet, Catatan Akhir Sekolah, atau film horornya seperti Hantu Bangku Kosong, Panggil Namaku 3x, Bangsal 13 dan banyak film lainnya menjadi list film yang pernah aku pantengin di bioskop.

Sekarang, aku masih menonton bioskop, namun film yang aku tonton sudah sangat jauh berbeda. Aku sekarang lebih memilih untuk menonton film-film Hollywood. Bukan karena aku yang sekarang sok untuk menonton film barat, tapi lebih karena menurutku film Indonesia sekarang sudah sangat turun kualitasnya.

Fenomena yang berkembang diperfilman Indonesia sangat menyedihkan. Mulai dari fenomena film komedi yang mengaitkan dengan tema sex bermunculan. Kemudian dilanjutkan dengan fenomena film hantu. Kedua jenis film ini kemudian mendominasi hampir seluruh bioskop Indonesia dalam jangka waktu yang lama. Dampak menyedihkannya lagi adalah ketika kedua jenis film itu digabungkan. Maksudnya, film hantu yang berbau sex. Kemudian, pada akhirnya sekarang tema sex tidak bergantung lagi di area komedi dan hantu. Mereka memiliki temanya sendiri. Mereka mulai berdiri sendiri.

Tak perlu untuk menyebutkan nama-nama film yang berjenis demikian. Aku rasa yang membaca postingan ini sudah tahu apa-apa saja yang termasuk dengan jenis tersebut.

Kadang, aku sangat rindu dengan kondisi film Indonesia dulu. Karena tidak bisa aku pungkiri fenomena ini membuat cara pandang aku tentang film Indonesia menjadi sangat berubah. Aku sangat memilih-milih untuk menonton film Indonesia sekarang. Takut kecewa dan takut rugi untuk mengeluarkan uang 20 ribu hanya untuk menonton film di bioskop. Ini tentu saja tidak hanya terjadi padaku. Tetapi juga pada teman-teman yang ada disekitarku. Malah, kakakku tidak mau lagi menonton bioskop untuk film Indonesia. Ini sungguh sesuatu yang ironis.

Lalu kemudian ini salah siapa? Apakah salah para produser atau sutradara yang telah membuat film yang kurang bermutu di negeri ini. Atau salah penonton yang masih saja mau menonton film yang ditanyangkan oleh mereka. Karena kita tidak bisa melupakan bahwa film itu masih bisa exis karena ada sokongan penonton yang masih menikmatinya.

Apalah aku yang hanya seorang anak perempuan yang berpendapat untuk meminta: “Tolong hentikan film jenis seperti itu”. Suara aku tentu tidak didengar oleh mereka yang jauh secara fisik dan sosial. Tapi, aku sangat ingin film Indonesia membaik lagi.

Semoga harapan aku akan terkabul dalam waktu yang dekat. Jangan jadikan perfilman Indonesia menjadi mati suri lagi seperti satu dekade yang lalu.