Merenung..


Sebenarnya sekarang lagi nulis konsep buat perjalanan aku ke sanggau tempo hari. Tapi ketika tulisan baru setengah dan ketika jari jari liar menulis sambil blogwalking akupun kemudian terdampar di blog milik mas wien langitku.com. Postingan berjudul Video Kisah sedih di Youtube itu menceritakan tentang seorang sitti anak 7 tahun yang sehari hari bekerja sebagai tukang jual bakso keliling. Miris, sedih dan perasaanku bercampur aduk ketika melihat video disana. Kenapa? Karena aku teringat akan cerita tentang ibuku.

Iyaaa.. dulu ibuku sebelum dan sepulang sekolah selalu berjualan. Ibuku sering menceritakan kisah ini kepadaku dan kakaku. Mungkin agar aku menjadi anak yang bersyukur akan apa yang aku dapatkan sekarang. Dengan segala fasilitas yang aku miliki dan aku gak pernah berkekurangan hingga sekarang aku bisa mendapat penghasilan sendiri.

Kisah yang paling sering ibuku ceritakan adalah kisah ibu berjualan telur bebek. Ini sering kali ibu aku ceritakan ketika aku mulai bawel ketika ingin mendapatkan uang jajan lebih dari biasanya.

Dulu, nenekku memelihara bebek di bawah kolong rumahnya (dulu rumah-rumah orang di kalimantan barat itu sseperti barak yang kolongnya tinggi. Jadi sudah biasa kalau banyak bagian bawah rumah ini dijadikan tempat beternak). Bebek-bebek ini lumayan banyak menurut cerita ibu, dan setiap hari ada saja bebek tersbeut bertelur.

Nah, telur inilah yang diambil oleh ibuku setiap bagi sebelum mandi untuk dijual. Hasilnya, tak lain dan tak bukan adalah untuk uang jajan ibu. Kegiatan ini bahkan sampe ibu duduk di bangku SMK loh.

Sepulang sekolah, tentu gak langsung leyeh-leyeh di depan laptop dong (menyindir diri sendiri). Ibu dan adik serta abang-abangnya langsung mengambil kue dirumah tante untuk dijajakkan. Kata ibu, yang paling jago menjajakkan kue adalah abangnya yang nomor 2. Biasanya dia bisa menjajakkan sampe 2 tampan kue. Dari hasil jajakan itulah, ibu dan saudara-saudaranya membayar uang sekolah.

Cerita gak jauh beda dirasakan oleh bapak. Bapak bahkan dari SD sudah bekerja di sungai (entah untuk apa aku lupa, nanti ditanyain lagi deh) dan semenjak SMP bapak menumpang ke rumah saudara jauh hidup di Pontianak (karena kampung asal bapak gak ada SMPnya) Selama menumpang di rumah saudara, bapak ikut bekerja dan dari hasil kerjanya itulah bapak bisa masuk ke SMK Pelayaran dan akhirnya bisa masuk ke sebuah BUMN yang bergerak dalam bidang perairan dan kelautan.

Ibu dan bapak mewanti wanti aku semenjak kecil, bahwa pendidikan adalah kunci dari kesuksesan. Bayangkan kalau ibu dan bapak tidak sekolah sampe lulus. Mana bisa ibu diterima sebagai guru dan bapak bisa bekerja di BUMN! Bahkan abang ibu yang nomor 2 itu sekarang sudah menjadi kepala Bappeda di sebuah kabupaten loh.

Balik lagi ke kisah si sitti yang berjualan bakso setiap harinya. Mungkin memang jamannya telah berbeda dengan dulu. Ibu aku yang berjuang berjualan pada tahun 60an dengan kondisi sekarang pada tahun 2012. Tapi kenapa pula berbeda? Yang penting tetap sekolah, bagaimanapun caranya, seperti yang ibu aku selalu bicarakan. Insyaallah, pasti kita akan sukses. 🙂

Advertisements

37 thoughts on “Merenung..”

  1. bersyukurlah kita yang hidup dengan kecukupan yaa nie.. tapi cerita ibu kita hampir sama.. keluarga ibu dhe dulu petani, dan ibu pun selalu saja dengan nada “menyindir” ketika beliau sedang menceritakan perjuangan yang dulu dihadapi semasa kecil demi bisa sekolah.. tapi tetep saja, pasti ujung2nya dhe bakal ketawa dan menyanggah sindiran itu.. hahahahahaa 😀

  2. mkasih pingbacknya mbak 🙂

    “Siti” telah mengajari kita semua utk tidak putus asa menghadapi hidup, apapun dan bagaimanapun keadaannya…

  3. bersyukur yah kita, masa kecil dan remaja bisa dinikmati secara optimal, tanpa ‘terpaksa’ untuk membantu keuangan keluarga.

    Udah besar gini aja merasa berat dan terkadang stress dengan dunia kerja dan bergulat mencari nafkah yang halal. Gimana kalau masih dibawah umur 😦

  4. yah orang tua pasti mengusahakan yang terbaik biar anaknya bisa bersekolah ya. dulu nyokap gua juga jualan, ya jualan baju lah, sprei lah, terima jaitan, terima bikin kue, dll demi kita anak2nya bisa sekolah. emang kita harus bersyukur banget dah…

  5. Kita memang harus selalu bersyukur atas kondisi kita saat ini ya. Dan zaman memang berubah, dan tentu orangtua juga mengusahakan yang terbaik buat anaknya. Kalau dulu orangtua “susah” karena ini-itu, tentu mereka juga mengusahakan jangan sampai anaknya ikut susah juga. Jadilah mereka membanting-tulang mereka supaya anaknya bisa sukses. Dan bener banget Nie, kuncinya adalah pendidikan. Makanya mereka juga mengusahakan supaya anak-anaknya bisa bersekolah. Kalau enggak, berarti orangtuanya geblek tuh, hehehe 🙂

    1. iyaaa… aku juga heran dengan orang tua yang gak memaksa anak2nya untuk sekolah.. di daerah aku masih banyak loh.. cuma lulus SMP atau SMA gitu.. padahal orang tuanya mampu bahkan ada yang sudah s2.. hmm.. apa kabar anaknya nanti?

  6. mudah2an semangat berjuangnya orang tua dapat ditiru anak2nya ya Niee

    terkadang malah Ada ortu yang kebablasan, karena ingat japan susah dia tak mau anak juga merasa susah, semua maunya anak dituruti, akibatnya anak jadi manja dan malas…. amit2 jangan sampai kejadian

  7. harus selalu bersyukur ya niee. apalagi nie alhamdulillah gak berkekurangan dari kecil ampe sekarang udah kerja. dulu waktu kecil aku termasuk keluarga yang kekurangan. gak mudah dapetin apa-apa, sekolah juga alhamdulillah diberikan kelancaran meski kadang terlambat bayar uang sekolah 😀

    sekarang alhamdulillah udah waktunya lebih bisa membalas perjuangan orangtua gimana sulitnya nyekolahin nguliahin kita, *ehh jadi curhat 😛

    yang pasti tetep semangat dan tak lupa bersyukur, salam

    1. iyaaa… jangan sampe kita lupa bersyukur yak minx..

      Alhamdulillah juga aku selama sekolah sampai kuliah aku selalu dapet beasiswa seh 😀

  8. Duh, cerita ini ya. Sedih kalau mendengar anak negeri masih ada yang seperti ini. Dimana ya, garansi pemerintah yang katanya berencana memakmurkan rakyat 😦

  9. aaaah membuatku kangen pada alm ibuku… Aku tahu pasti amat sulit mengatur keuangan untuk kami semua di jkarta yg penuh dgn godaan. Tapi dia berhasil menyekolahkan anak2nya bahkan sampai ke LN :(… (Thanks maaaa)

Balas Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s