Kalimantan Banget


Senin lalu teman satu kantor aku dari pagi udah heboh nyeritain  bahwa malam minggu kemaren dia pergi ke Punggur. Aku bingung sendiri, lah ke Punggur aja bisa seheboh itu? Aku aja waktu ke Paris gak heboh2 amat! (baca: Parit Haji Husein, nama jalan di Pontianak 😆 ).

“Punggur itu penggambaran kalimantan banget!” kata Aa’ Denny

Yak! Itulah yang buat dia heboh. Aku sendiri baru sadar kalau teman kantor aku ini adalah imigran gelap dari sumedang yang baru 2 tahun hidup di Kalimantan yang penuh dengan asap ini untuk menjadi seorang PNS, hahaha (Pontianak lagi2 penuh dengan asap sekarang temans, coz udah sebulan lebih gak hujan 😦 ).

Aku yang sejak dari dalam kandungan sampe segede ini tinggal di Pontianak atau Kalimantan emang gak pernah merasa aneh dengan kondisi lingkungan di sini. Ya emang beginilah bentuk Kalimantan dengan segala daya eksotisnya yang ada, hehe.

Tapi beda dengan Aa’ yang baru 2 tahun di sini dan cuma beredar di kota Pontianaknya aja. Dia kaget plus kegirangan lihat kondisi ‘kampung’ di Kalimantan yang buat dia berkata: “Akhirnya aa’ ke kalimantan nik’.

Emang orang2 luar kalimantan menggambarkan Kalimantan seperti apa seh? Aku sendiri pernah ngeposting tentang Pontianak dan segala pandangan yang aku dapati saat aku jalan2 ke Jawa. Ada lagi kawan aku yang saat pertama kali ngekos di Bandung ditanya sama temannya: ‘Ow, dari kalimantan, jadi kemana-mana pake’ sampan dong?’ *keplak*

Kalau teman2 mau lihat kondisi kalimantan yang kemana-mana naek sampan emang salah banget klo cuma sampe di Pontianak. Pontianak mah gak beda jauh dengan kota2 di luar sana. Ya, namanya juga ibukota suatu Provinsi. Bener kata Aa’, klo mau sampai di ‘Kalimantan’ ya salah satu alternatifnya ke Punggur ini.

(Plangnya kelompok aku yang buat lho 😀 )

Kebetulan aku pas kuliah kemaren pernah PMKM (sejenis KKN gitu) di Punggur. Baru tahu deh ternyata struktur pemerintahan di daerah seperti ini beda sama kota. Kalau kotakan cuma ada kecamatan sama kelurahan, habis itu RW-RT. Tapi klo kabupaten lebih ribet lagi. Selain ada kecamatan dan desa (mereka gak pake kelurahan gitu) ada lagi dibawah desa bernama dusun, nah setelah dusun baru deh ada RW dan RT.

Kondisinya? Kalian bisa lihat deh gambarnya. Kantor Kepala desanya juga masih numpang di rumah orang. Kelihatan banget klo pembangunan di Indonesia sama sekali belum merata, padahal desa Punggur kecil ini cuma berjarak kurang lebih 1/2 jam dari pusat kota Pontianak.

(dua teman aku lagi nyobain bawa sampan: hati2 ketabrak jamban lho 😛 )

Di Punggur penduduknya masih mengandalkan transportasi air buat berpergian dan bekerja. Karena di sini penduduknya paling banyak berkebun dan kebunnya terletak ditempat yang belum bisa diakses oleh angkutan darat, so mereka amat sangat tergantung sama sungai.

(dari kiri ke kanan: aku, yunita, agus)

Jadi kebanyakan kampung2 di Kalimantan itu  jalan2nya dibelah oleh sungai. Hmm,, gak dibelah juga seh, tapi sungai itulah yang merupakan jalannya. Jadi ada beberapa jembatan yang menghubungkan antara rumah satu dengan rumah lainnya. Jembatannya harus tinggi, biar sampan2 bisa lewat.

(lihat deh dibelakang, ada anak kecil yang telanjang mandinya 😆 )

Di atas adalah jalan untuk nuju ke Punggur dari Pontianak. Jalan ini baru dibangun desember 2009, pas saat aku dan teman2 aku PMKM di sono. Jalannya juga masih kecil banget, jadi gak mungkin deh mobil masuk ke sini, apalagi mobil mengangkut hasil perkebunannya.

(suasana jalan menuju ke Punggur)

Aku sendiri waktu kecil sudah biasa melihat suasana kampung seperti ini. Apalagi kampung halaman bapakku itu di Telok Pakedai, sebuah desa yang hanya bisa pergi melalui sungai besar menggunakan motor air (ituloh sejenis sampan tapi berukuran besar dan ada atapnya terus digerakkan menggunakan mesin).

Sayang sekarang udah gak pernah kesana lagi. Kalau diingat2 terakhir kesana waktu SMP (atau SD? *lupa* ). Tapi walaupun ‘anak air’ anehnya aku sampe sekarang gak bisa lancar berenang (-_-“).