[Review Drakor] The Uncanny Counter


Sepertinya, drama The Uncanny Counter ini adalah salah satu drama yang aku salah pilih buat ditonton, hahahaha. Tapi anehnya adalah aku bisa menyelesaikan dramanya dong! Padahal beberapa episode di belakang aku nontonnya on going. Cuma ya itu, gak ada berasa apa-apa setelah nonton drama ini. Walaupun begitu, aku tetap bakalan nulis dong reviewnya. Selain untuk biar view blog aku gak buruk-buruk amat (view blog aku agak naik selama Corona ini karena review drakor dong! Biasanya view yang tinggi di blog ini adalah cerita liburan semacam review hotel atau budget liburan gitu), aku juga menulis drama sebagai catatan aku pribadi bahwa aku udah pernah loh nonton drama ini, dan suka gak sukanya aku bisa tulis di sini :mrgreen:

Langsung ke jalan ceritanya aja deh yak.

Tujuh tahun yang lalu Saat So Mun (Joe Byeong Gyu) di perjalanan pulang ke rumah bersama kedua orang tuanya, dia mengalami kecelakaan mobil yang menyebabkan kedua orang tuanya meninggal dan kaki So Mun menjadi cacat. Setelah kejadian tersebut, diapun kemudian tinggal bersama dengan kakek dan neneknya.

Tujuh tahun kemudian, empat orang Counter Ga Mo-Tak  (Yu Jun Sang), Do Ha-Na  (Kim Se Jeong), Chu Mae-Ok  (Yum Hye Ran) dan  Jang Cheol-Jung (Sung Ji Ru) sedang mengejar seorang arwah jahat yang menyusup ke tubuh manusia. Tugas mereka adalah mengeluarkan roh jahat tersebut dari tubuh manusia itu untuk dikembalikan ke akhirat. Namun pada suatu hari, mereka bertemu dengan roh jahat level 3 yang mana telah bersatu dengan tubuh manusianya. Roh jahat level tiga ini sudah memiliki ilmu untuk menggerakkan benda dengan fikirannya. Bukannya berhasil menangkap roh jahat terebut, mereka malah kehilangan satu rekan Counternya yang bernama Jang Cheol-Jung. Jika seorang Counter meninggal, spirit yang ada ditubuhnya bisa akan meninggal juga jika tidak mendapatkan tubuh counter baru. Wi Gen, spirit Jang Cheol Jung langsung terbang mencari tubuh baru untuk dijadikan Counter. Saat itulah dia langsung masuk ke dalam tubuh So Mun.

So Mun yang telah mendapatkan spirit baru di dalam tubuhnya kemudian diperkenalkan dengan tim Counter lainnya. Diapun diberikan gambaran apa itu Counter dan apa yang mereka kerjakan. Awalnya So Mun tidak tertarik untuk menjadi Counter walaupun Nona Chu sudah menyembuhkan cacat di kakinya. Akan tetapi, setelah dia tahu bahwa dia bisa bertemu dengan orang tuanya jika dia menjadi Counter, diapun akhirnya setuju.

Tapi, dengan berjalannya waktu, bukan hanya roh jahat yang menjadi permasalahan anggota Counter. Ada politik dengan intrik korupsi yang juga perlu mereka uangkap. Di tengah pengejaran mereka, So Mun akhirnya tahu bahwa orang tuanya bukan meninggal karena kecelakaan, akan tetapi mereka meninggal karena dibunuh saat sedang menyelidiki sebuah kasus korupsi.

Jadi, apakah counter bisa menyelidiki kasus orang tua So Mun? Disaat mereka sebagai Counter tidak diperbolehkan berurusan dengan urusan manusia dengan menggunakan kekuatan Counternya?

***

Jadi, aku tuh nonton drama ini karena tertarik dengan Tailernya (lagi-lagi ya, hahaha). Kayaknya seru gitu lihat kelompok orang yang punya kekuatan super sebagai penakluk hantu. Tapi ternyata jalan ceritanya lebih kuat ke intrik politik dan korupsinya dong daripada tentang hantunya, dan itu yang membuat aku gak terlalu suka.

Hal yang membuat aku kurang suka lagi adalah aku gak terlalu suka dengan karakter dan pemeran pemain utamanya! Kalau gini udah gak ada ampun deh yak. Soalnya biasanya aku bisa bertahan dengan cerita yang gak seru cuma karena meleleh sama karakter utamanya, huahahahahaha. Atau kalau bukan karakter utamanya ya second leadnya lah. Tapi di drama ini gak ada yang aku suka dong semua karakternya! Yang aku lihat semuanya terkesan lebay dan gak banget. Aku sampai memikirkan sendiri kenapa aku bisa bertahan nonton drama ini, hmmmm.

Buat kalian yang belum nonton dramanya, aku gak rekomendasikan seh drama ini, kecuali ada pemainnya yang kalian emang favoritkan banget. Bagi yang udah nonton aku penasaran gimana dengan pendapat kalian? Ini dramanya seru dari mana seh? Aku kasih rating 5/10 aja deh buat dramanya.

 

 

 

bye.

[Review Drakor] Extra Curricular


Beberapa waktu yang lalu, aku kayak gak dapet info gitu loh judul-judul drama korea yang baru yang bisa aku tonton. Padahal waktu luangnya ada kan jadi nyari-nyari ya, hahahaha. Kalau udah kayak gitu, biasanya aku lihat-lihat aja di dashboard Netflix sekiranya drama apa yang bisa ditonton. Lalunya muncul judul drama ini dengan embel embel Original Netflix yang pasti ceritanya gak biasa bahkan luar biasa itu. Jadilah cuss aku mulai nonton.

Yang serunya dari drama Original Netflix itukan dramanya langsung tamat gitu ya, dan biasanya jumlah episodenya gak banyak. Sama jugalah dengan drama ini. Jumlah episodenya cuma 10 episode aja, dan salah satu yang membuat aku memutuskan nonton adalah karena trailernya. Bisa dicek di video di bawah ini.

Ceritanya sendiri sebenarnya simpel. Seorang anak SMA dari keluarga miskin yang ingin bertahan hidup bernama Oh Ji Soo (Kim Dong-Hee). Cita-citanya sederhana aja, dia ingin bisa hidup seperti orang-orang pada umumnya, selesai sekolah bisa kuliah, dan setelah kuliah mendapatkan pekerjaan yang layak seperti orang pada umumnya. Dia juga merupakan anak terpintar di kelasnya. Akan tetapi, dia tidak ingin menonjol di sekolah dikarenakan dia sangat sibuk dengan pekerjaannya untuk mencari uang biaya kuliah dan mencari pekerjaan layak.

Seperti anak SMA pada umumnya, diapun menyukai seorang cewek dari sekolahnya bernama Bae Gyu-Ri (Park Joo-Hyun). Disaat yang bersamaan, mereka kemudian terikat kepada satu ekstrakulikuler di sekolahnya tentang permasalahan sosial anak-anak SMA.

TAPI, jika ceritanya hanya itu, sepertinya kurang cocok untuk menjadi cerita Netflix Original. Kurang ada gregetnya gitu kan yak? Jadilah dibuat spesial, hahahaha. Untuk mendapatkan uang kuliah, Oh Ji Soo mengambil langkah cepat. Bukannya bekerja sebagai paruh waktu di minimarket atau rumah makan seperti anak SMA pada umumnya, Ji Soo lebih memilih berbisnis. Bisnis gelap yang diorganisirnya bersama dengan seorang Bapak Tua bernama KIM. Bisnisnya adalah pelayanan jasa perempuan di mana Ji Soo sebagai penghubungnya dan Pak Kim sebagai pengamanannya.

Bisnis Ji Soo berjalan mulus sebelum akhirnya diketahui oleh Gyu Ri yang akhirnya meminta bergabung bersama bisnis tersebut. Setelah Gyu Ri bergabung, masalah demi masalahpun timbul. Dari uang yang dikumpulkan Ji Soo dicuri oleh Bapak kandungnya sendiri, para kliennya yang meminta putus kerja sama, hingga akhirnya dia berurusan dengan mafia yang membuatnya hampir kehilangan nyawanya.

Tentu masalahnya, tidak hanya urusan pekerjaannya. Setelah uangnya hilang, Ji Soo tidak bisa lagi membayar les mata pelayarannya yang membuat nilainya langsung turun di sekolah. Ji Soo juga yang sebelumnya tidak berhubungan dengan teman-teman di Sekolahnya terlibat permasalahan dengan Kwak Ki-Tae (Nam Yoon-Soo) yang adalah pacar Seo Min-Hee (Jung Da-Bin) yang merupakan salah satu klien dari pekerjaan Ji Soo. Min Hee yang terlihat disebuah motel oleh seorang polisipun kemudian mulai dicurigai oleh polisi tentang pekerjaannya.

Dengan masuknya polisi yang mulai menyelidiki tentang Min Hee, pekerjaan Ji Soo pun menjadi lebih kacau dari sebelumnya. Dia tidak bisa lagi mendapatkan keuntungan dari jasa pekerjaannya. Pelajaran di sekolahnyapun menjadi lebih kacau.

Kekacauan tersebut ditambah lagi dengan Gyu Ri yang selalu saja membuat masalah demi masalah karena dia tidak mau menyerah dan bukannya makin membaik, mereka malah makin terjerumus ke dalam permasalahan yang lebih pelik lagi.

Lalu, apakah Ji Soo tertangkap atas pekerjaannya kotornya selama ini? Dan apakah Gyu Ri akan selalu bersama dengan Ji Soo walaupun dia bisa saja lari menjauh karena berasal dari keluarga kaya? Ya ditonton aja deh sendiri filmnya.

***

Walaupun udah lihat trailernya, tapi tetap aja pas nonton dramanya aku merasa ini berat banget ya ini ceritanya. Bayangin aja ada anak SMA yang mencari uang jadi germo gitu kan. Walaupun dia ngakunya bukan germo seh, tapi fasilitas keamanan. Terus permasalahannya itu gak kaleng-kalengan gitu loh. Bener-bener masalah serius yang setiap mereka buat masalah aku selalu mikir kenapa gak berenti aja seh?

***

Sebenarnya Ji Soo udah mau berenti berurusan dengan bisnis ini berkali-kali. Tapi setiap dia mau berenti, selalu aja ditekan oleh Gyu Ri agar mereka terus berlanjut dan berlanjut lagi. Aku sendiri gemes banget dengan karakter Gyu Ri yang kok ya gak kapok-kapok gitu loh. Dia selalu merasa dia punya masalah yang sangat berat dengan keluarganya, tapikan orang tua yang nyuruh dia belajar atau baca buku ya biasa aja. Gak lebih berat dari masalah Ji Soo yang tidak diurus oleh orang tua dan harus bisa hidup dari usahanya sendiri.

Saat Ji Soo kehilangan uangnya yang dicuri oleh ayahnya dia juga sebenarnya udah mau menyerah. Tapi Gyu Rilah yang menekan dia agar jangan menyerah dan melanjutkan bisnis kotor itu.

Nonton drama ini aku jadi berfikir separah itukah masalah yang bisa dihadapi oleh anak-anak SMA? Bahwa orang tua harus banget tahu apa kegiatan anak-anaknya dan jangan sampai lepas tanggungjawab yang pada akhirnya malah menjadi beban anak itu sendiri.

So, yang mau nonton ini jangan berharap akan mendapatkan drama korea manis tentang anak-anak SMA yang baik-baik atau cinta monyet gitu ya, jaauuuuh banget. Drama ini termasuk drama kelam yang setiap episodenya aku selalu berharap bahwa gak ada kisah nyata dari cerita ini. Kalau ada ya serem banget kan, huhuhu.

Wokey segitu dulu review dari aku. Untuk ratingnya 7/10 aja kali ya, karena kelam banget dong dramanya, huhuhu.

 

bye.

Kok Mereka Gak Sekolah, Ma?


Belakangan ini, si K udah aku bolehkan untuk main bersama anak-anak lain tetangga di dekat rumah aku. Biasanya dia main setelah aku menjemputnya dari rumah mbahnya pulang ke rumah sekitar pukul 16.30 gitu. Mainnya biasa aja seh, kalau gak lari-larian, atau main sepeda, atau cuma ngobrol-ngobrol ala anak kecil gitu.

Masalahnya adalah, semenjak dia diperbolehkan main, dia lebih sering memperhatikan anak-anak di lingkungan aku. Biasanya kan dia cuma ke luar untuk diantar ke rumah mbahnya dan sekolah, sekarang dia punya kebiasaan baru.

Aku gak tahu kalau di kota lain ya, tapi kalau di Pontianak itu sekolah yang bisa SFH dengan metode tatap muka via online itu bisa dihitung jari satu tangan. Yups, gak lebih dari 5 deh. Bahkan sekolah Islam swasta yang dulunya aku lihat keren ternyata gak menerapkan sekolah tatap muka via online. Jadi kebanyakan sekolah di sini gurunya cuma memberikan tugas membaca dan tugas mengerjakan soal via whatsapp.

Dulu aku sempat mikirin ini seh, cuma ya sekarang udah gak peduli. Aku sekarang lebih memikirkan si K harus tetap mendapatkan pelajaran yang baik walaupun hanya sekolah online. Jadi anak-anak yang main dari pagi sampai sore di lingkungan tempat tinggal aku itu udah pemandangan sehari-hari.

Tapi, semenjak si K memperhatikan teman-teman sepermainannya di pagi hari yang tetap bisa main tapi dia sibuk sekolah, dia mulai mempertanyakan kok anak-anak lain tidak sekolah sedangkan dia harus sekolah?

Kejadiannya pagi ini seh, ketika aku udah buru-buru mau antar dia ke rumah mbahnya untuk sekolah online, dia hampir mau ke luar rumah dan main bersama anak-anak lainnya. Aku spontan langsung panggil dong, ” K! Ayo masuk mobil, nanti telat sekolahnya!” Dianya aneh lihat anak-anak lain gak sekolah, anak-anak lain kayaknya aneh juga lihat dia kok pagi-pagi udah siap sekolah dengan tas sekolah dan seragamnya lengkap.

Terus, pas diperjalanan menuju rumah mbahnya, aku tanyain dong dia. Tahu gak kenapa anak-anak lain gak sekolah sedangkan dia harus sekolah online?

Tentu dia gak bisa jawab dong! Hahahaha. Kalau udah kayak gini, aku suka lebaykan jawaban aku seh biar si K merasa yang dia lakukan itu hebat dan beda, tapi tentu harus jawaban yang benar ya, bukan bohong. Jawaban aku adalah “Karena masih banyak di Pontianak ini yang sekolahnya gak siap dengan sistem online. Ya gurunya gak siap dengan teknologi, ya sekolahnya gak mampu untuk memberikan fasilitas seperti komputer dan laptop, dan anak-anaknya yang gak mampu untuk punya laptop di rumah untuk belajar. Jadi kalau kamu masih bisa sekolah online setiap hari dari rumah, kamu adalah salah satu anak yang beruntung di Indonesia ini.”

“Bayangkan, kalau kamu tidak sekolah hampir setahun sekarang. Kamu tidak belajar online yang akhirnya kamu jadi tidak tahu ilmu pengetahuan. Anak yang tidak tahu ilmu pengetahuan tidak akan menjadi pintar secara mendadak. Dan kamu tahu kalau orang yang tidak berpendidikan itu seperti apa?”

“Orang yang tidak sekolah dan tidak pintar tidak bisa mendapatkan pekerjaan yang bisa mendapatkan uang”, jawab si K akhirnya.

“Ya. Mungkin mereka tetap bisa mendapatkan pekerjaan, tapi orang yang berpendidikan dan pintar akan lebih mudah untuk mendapatkan pekerjaan yang dia inginkan dengan gaji yang baik ketimbang orang yang tidak pintar,” sambung aku lagi.

***

Aku sendiri, emang sering mensoundingkan pentingnya belajar buat si K seh. Bahwa tugas utama dia semasa kecil ini adalah belajar. Belajar apapun, mau itu belajar di sekolah, belajar piano, bahkan belajar menggambar dan membuat video yang sekarang dia sangat sukai. Apapun itu yang penting belajar. Maka dari itu, kalau dia iri dengan anak-anak lain yang lebih banyak bermain, dia bisa berfikir sendiri dia lebih baik memilih yang mana, belajar atau bermain?

Lalu terakhir sebelum sampai di rumah mbahnya aku tanyakan lagi ke dia, “Jadi, kamu mau main dari pagi sampe sore atau mau tetap belajar online dan bermain jika sudah selesai sekolah dan belajar?”

“I still want online school,” jawab si K dengan muka yang masih menerawang :mrgreen:

Test Online


Seberapa sering anak kalian yang masih SFH ada test? Kalau sekolah si K kok sering banget ya? Huhuhu.

Aku gak tahu juga kalau nanti sekolah masuk seperti biasa (yang entah itu kapan terealisasinya) testnya akan seberapa banyak. Yang pasti kalau sekarang menurut aku buanyak banget test yang harus si K ikuti. Kan sekolah si K itu pake istilah term setiap 3 bulan sekali itu. Nah, setiap term akan ada class testnya untuk masing-masing pelajaran. Bahkan untuk pelajaran Math dan English class testnya itu ada 2 kali setiap term. Untuk class test sendiri berarti udah ada 10 test untuk tiap term nya a.k.a ada 40 test disepanjang tahun untuk tipe class test.

Aku fikir kemaren (saat term 1) hanya akan ada class test aja. Eh ternyata gak dong! Selain class test yang ada di setiap term. Ada juga Semester test yang dilakukan tiap semester yaitu saat term 2 dan term 4 nantinya. Semester test itu untuk seluruh mata pelajaran juga. Kalau gak salah (kok aku jadi lupa ya, hahahaha) untuk semester test english juga dilakukan 2 kali jadi ada 9 kali semester test dan 18 kali sepanjang tahunnya.

Kalau dijumlahlah berarti si K melakukan 58 test sepanjang tahun di kelas 1 ini. Wow banyaaaak bangeeet yaaa, huhuhu.

Kalau udah lihat kayak gini dan membandingkan anak kelas 1 sekolah negeri kok ya jomplang banget ya. Mereka pelajaran sekolahnya dikit, dan tesnya juga mudah banget gitu. Kalau si K untuk pelajaran math aja sekarang udah belajar perkalian dengan pengelompokan, sains udah belajar jenis jenis tumbuhan dan binatang. Sosial udah belajar lingkungan, arah angin (utara timur selatan barat) dan lain sebagainya.

Terus nyesel gak masukkan si K ke sekolah swasta? Ya tentu tidak dong! Hahahaha. Ya apalagi zaman covid sekarang ini ya, jomplang banget pendidikan antara anak swasta dan anak negeri. Kalau anak-anak negeri ini gak diurus dengan baik oleh Pemerintah dan orang tuanya, menurut pendapat aku pribadi ilmunya bakalan ketinggalan seh dengan anak yang tetap sekolah meskipun di rumah kayak si K.

Balik lagi cerita tentang test. Jadi selama ini, kalau class test itu hampir selalu aku temenkan seh. Karena biasanya si K itu terburu-buru ngerjainnya yang ujung-ujungnya ada bagian yang kelupaan. Belum lagi testnya yang perlu upload hasil foto ke google class room.

Yang membuat aku stress sendiri adalah, kalau menemankan test ini terus anaknya gak bisa! Antara pengen aku benerin atau dibiarin aja gitu kan? Hahahaha.

Tapi ya biasanya, kalau si K upload hasil testnya dan gurunya lihat ada yang salah, biasanya gurunya suruh si K memperbaiki. Karena itulah aku juga ikut dong! Kalau lihat ada yang menurut aku salah aku biasanya bilang bagian ini ada yang salah, coba baca lagi dan kalau ketemu diperbaiki. Cuma ya aku gak mau kasih tahu jawabannya juga. Aku fikir kasian kalau jawabannya dikasih tahu, ntar anaknya gak belajar.

Terus masalahanya kan aku kurang bisa bahasa inggris ya. Toefl aku terakhir tes itu waktu mau skripsi dan nilainya cuma 450 aja, hahahaha. Kadang ya, aku fikir jawaban si K salah untuk English karena aneh gitu kalimatnya, aku suruh betulkan dong ya. Terus ternyata jawaban dia yang bener dong! Gurunya bilang yang dia tulis pertama itu udah bener, kenapa diganti lagi? Huahahahaha. Jadilah semenjak itu aku gak pernah ganggu-ganggu lagi jawaban si K untuk urusan English :mrgreen:

Ada lagi pelajaran yang beneran aku gak ngerti sama sekali, Mandarin! Test terakhir yang dia lakukan untuk term 3 75%nya aku gak tahu dong jawabannya! Bayangkan ada beberapa soal (5 soal kalau gak salah) yang soalnya adalah huruf mandarin gitu, terus pilihan gandanya juga huruf mandarin. Jadi mereka disuruh menyambung kalimat! Jangankan tahu jawabannya ya, wong bacanya aja aku gak bisa kan! *nangis dipojokan* Jadi karena aku gak ngerti aku berharap aja deh bahwa si K emang ngerti dengan jawabannya bukannya asal tebak aja, hahahahaha. Sayangnya kemaren gak bisa lihat hasil google formnya, jadi akan selalu penasaran sampai akhir term deh.

Karena gak bisa ngajarin si K ini, aku jadi pengen banget memperbaiki bahasa Inggris aku dan belajar bahasa Mandarin seh yak. Tapi aku masih mager gitu, hahahaha. Mudah-mudahanan tahun depan aku bisa mulai les bahasa deh :mrgreen:

Wokey, segitu aja cerita aku selama mendampingi anak test online ya.

 

 

bye.

[Review Dorama] Alice in Borderland


Sudah lama banget aku gak pernah nonton Dorama. Kayaknya dorama terakhir yang aku nonton adalah Itazurana Kiss. Yang tahu drama itu pasti tahu lah tahun berapa tuh drama. Pokoknya aku nontonnya itu jaman masih sekolah ntah berapa ratus tahun lalu, hahahaha. Sebenarnya ada beberapa kali mencoba nonton dorama lagi di VIU. Adalah itu Romantic Dokter atau apalah yang terkenal banget drama koreanya katanya bagusan doramanya jadi coba nonton. Tapi pas nonton 1-2 episode kemudian menyerah dan gak lanjut lagi.

Menurut aku, aku kurang cocok gitu loh dengan dorama. Karena lawakannya gak kena gitu di aku. Dorama kan suka model lebay gitu ya adegan terkejutnya. Terus kalau serius kok ya aku suka gak ngudeng mereka ngomong apa padalah udah baca subtitlesnya.

Namun, beberapa minggu yang lalu, aku ada tuh lihat iklannya Netflix ngepromoin original series mereka yang terbaru. Kebetulan yang dipromokan itu adalah dorama. Sebagai orang yang gak begitu cocok sama dorama ya aku biasa aja seh, gak jadi yang kepengen nonton gitu. Tapi kok ya promonya ngencar banget! Di instagram sampai beberapa kali bahas drama ini sampai akupun penasaran dan kemakan iklannya, hahahahaha.

Markadit, marilah kita bahas jalan ceritanya dahulu.

Ryohei Arisu (Kento Yamazaki) adalah seorang anak laki-laki yang tidak memiliki tujuan hidup. Setiap hari, kerjaannya hanya bermain game tanpa ada keinginan untuk mencari pekerjaan. Ayah Arisu adalah seorang yang cukup kaya dan terpandang, sedangkan adiknya baru saja diterima disatu perusahaan yang baik. Karena itu, Arisu lagi-lagi dibanding-bandingkan dengan adiknya untuk kesekian kali. Karena merasa jengah dengan kondisi rumahnya, Arisupun kemudian kabur dari rumahnya dan menghubungi dua orang teman baiknya semenjak SMA agar dapat menghibur dia, Chota (Yuki Morinaga) dan Karube (Keita Machida).

Chota dan Karube juga memiliki masalahnya masing-masing. Chota berasal dari keluarga miskin, orang tuanya memiliki banyak keperluan untuk organisasi keagamaan yang terlihat seperti menipu. Tapi pada akhirnya ibunya selalu saja meminta uang kepada Chota untuk memenuhi kebutuhan permintaan organisasi tersebut. Karube bekerja sebagai bartender dan berkencan dengan teman kerjanya yang adalah pacar dari bosnya. Saat ketahuan berpacaran, Karubepun langsung dipecat bersamaan dengan hari dimana Arisu kabur dari rumah.

Dengan masalahnya masing-masing, merekapun kemudian melakukan hal-hal gila di tenga kota Tokyo untuk melepas penat yang ada difikiran mereka masing-masing. Saat mereka melakukan kekacauan kecil dan akhirnya dikejar polisi setempat, mereka kemudian masuk ke dalam toilet di stasiun kereta bawah tanah. Namun, saat mereka ke luar dari toilet tersebut, suasana Tokyo tiba-tiba berubah. Tokyo yang ramai dengan orang tiba-tiba langsung sepi dan tidak ada manusia sama sekali kecuali mereka bertiga.

Setelah mereka menyusuri Tokyo mereka menyadari bahwa mereka benar-benar sendiri hingga akhirnya pada malam hari mereka kemudian mendapatkan layar billboard yang mengarahkan mereka untuk bermain pada sebuah permainan.

Permainan pertama mereka adalah sebuah gedung tua seperti tempat karaoke. Saat masuk dihadapan mereka ada beberapa handphone yang dapat diambil satu untuk masing-masing orang. Ternyata mereka tidak sendirian, ada seorang anak SMA yang terlihat kebingungan dengan situasi tersebut, dan seorang mbak-mbak kantoran yang terlihat lebih matang dan tahu apa yang mereka lakukan.

Awalnya mereka hanya menganggap ini hanyalah permainan biasa. Sampai satu ketika anak SMA yang bersama mereka mati ditempat ketika salah memilih langkah dari permainan tersebut. Merekapun mulai serius ketika Chota terkena api yang membuat kakinya terluka parah. Untungnya mereka bertiga bersama satu perempuan kantoran itu berhasil memenangkan permainan dan mendapatkan “visa” selama 3 hari sebelum harus mengikuti game selanjutnya.

Karena ingin mengetahui seluk belum game sebelum mereka membawa Chota yang sedang sakit, Arisu dan Karube akhirnya bermain berdua sebelum masa visa mereka habis. Dari permainan kedua ini mereka tahu bahwa ada beberapa orang yang telah paham benar seluk beluk permainan karena sudah lama berada di Boderland ini. Dipermainan kedua ini mereka bertemu dengan Yuzuha Usagi (Tao Tsuchiya), Chishiya (Nijiro Murakami), dan dua orang yang menggunakan HT yang berasal dari tempat bernama “beach”.

Setelah menang di permainan itu, Karubepun terobsesi untuk mencari “beach” tersebut. Tapi di tengah perjuangannya mencari, di permainan ketiga mereka, Arisu kehilangan semua teman-temannya yang membuat dia tidak ada keinginan untuk hidup sebelum akhirnya bertemu dengan Tao dan merekapun kemudian selalu berdua.

Lalu apa sebenarnya “beach” itu? Apakah benar-benar sebuah tempat yang dapat membuat mereka kembali ke dunia yang sebenarnya? Atau malah tempat yang menjadi kehancuran mereka semua?

Ternyata, aku cocok banget sama dorama satu ini, hahahaha. Walaupun adegan-adegan “bodoh” khas drama jepangnya masih ada, tapi gak banyak dan gak terlalu lebay gitu loh. Karenanya aku masih bisa menikmatinya.

Untuk ceritanya sendiri karena murni fiksi jadi aku bisa menikmati seh. Karena kalau drama fiksi mah gak usah dipusingin harus gini gitu. Ikutin aja jalan cerita dan apa maunya si penulis dan nikmati setiap adegannya. Kalau udah gitu, jadi gak kepikiran kan.

Tapi, menurut aku, jalan cerita drama ini seru seh. Disetiap episode selalu ada adegan baru yang menegangkan. Dari episode 1 yang baru perkenalan karakter lau diangkat ke perkenalan permainannya, lalu intrik pertemanan, intrik diri sendiri, permasalahan dengan sesama pemain, hingga akhirnya mencari apa yang sebenarnya mereka hadapi. Kenapa mereka berada di sini dan siapa dalang dari permainan ini.

Kalau kalian suka dengan drama fiksi dan games gitu, dorama ini cocok seh sebagai tontonan. Jumlah episodenya juga gak terlalu banyak cuma 8 episode. Tapi jangan berharap bahwa kalian akan mendapatkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan disetiap episodenya karena drama ini bersambung kakak! Bersambung ke season 2 nya gitu loh yang belum tahu bakalan akan tayang kapan. Mungkin sekitar akhir tahun 2021 ini yak. Inilah yang aku gak suka dari drama Netflix Oeriginal yak, kebanyakan seasonnya! Bahkan drama korea yang biasanya tuntas 16 episode di Netflix Original bisa berseason-season gak selesai-selesai. Gayanya udah semacam drama seri Amerika, huhuhu.

So, ada yang udah nonton juga dorama ini? Gimana-gimana pendapatnya

 

8/10

 

bye.

Pemalas itu apa?


Dulu, keluarga aku pernah bilang kalau aku punya rumah pasti bakalan berantakan, karena aku pemalas banget. Aku seh gak mikir yang gimana-gimana juga, karena aku mikirnya ya emang aku pemalas karena sering diomongin gitu >.< TAPI setelah aku punya rumah sendiri, dan hidup sendiri aku mikirnya PEMALAS itu cuma pandangan orang luar aja deh. Kalau gak suka nyapu ngepel dibilang pemalas, kalau gak mau cuci piring dibilang pemalas, kalau gak pernah cuci baju dibilang pemalas, kalau gak pernah beresin kamar dibilang pemalas. Aku mikirnya aku pemalas karena ya dari dulu dicap itu, padahal kan ya gak gitu juga. Padahal, malas dan rajin kan tergantung pemikiran.

Setelah punya rumah, rumah aku emang gak rapi-rapi banget seh, tapi yang pasti rumah aku tetap bersih, teratur dan tertata. Karena aku “pemalas” itu, aku selalu menjaga rumah aku agar tidak ada barang yang bisa membuat berantakan parah yang mengharuskan aku merapikannya dengan waktu yang lama. Sedapat mungkin aku hanya memasukkan barang-barang ke dalam rumah dengan kategori penting atau penting banget. Jadi gak ada tuh barang yang disimpan dengan kategori “siapa tahu nanti kepake”. Pake simpan pake simpan gitu lah modelnya.

Aku emang gak suka nyapu ngepel, karena itu aku beli smart swap dan mop untuk melakukan hal tersebut :P, aku gak suka nyuci baju aku pake jasa laundry, aku gak suka nyetrika ya baju-baju aku gak aku setrika dong susah banget. Yang penting bajunya tetap bersih dan rapi di lemari kan?

Untuk nyuci piring tetap agak masalah seh emang. Biasanya aku cuci piringnya 2-3 hari sampai udah bertumpuk banyak, hahahaha. TAPI menurut aku pribadi, hasil aku nyuci barang-barang tersebut lebih bersih loh daripada keluarga aku. Gak bakalan ada tuh yang namanya kerak atau minyak yang masih menempel di piring atau panci-panci. Pokoknya aku kalau udah nyuci piring hasilnya sampai aku puas gitu loh. Dan aku gak suka dengan orang yang nyuci piring sering tapi pelit sama sabunnya, yang pada akhirnya piringnya masih terasakan minyaknya. Biasanya aku cuci ulang dah piring-piring aku kalau kelihatan orang habis makan dicuci tapi menurut aku kurang bersih.

Satu lagi yang jarang banget aku lakukan di rumah adalah masak. Ya gimana ya, emang gak suka masak kok akunya. Dulu stereotype nya seluruh wanita harus bisa masak, harus rajin masak untuk keluarga bla-bla-bla, bla bla. Tapi kan ya namanya manusia gak bisa disama ratakan dong. Aku bisa masak, kalau ada bahannya dan aku tahu resepnya, menurut aku masak itu gak susah susah banget. Tapi dari membeli bahan makanan, menyiapkannya sampai memasaknya itu aku gak suka banget melakukannya. Menurut aku yang penting itu anak selalu makan 3 hari sekali, mau itu hasil masak atau hasil beli ya gak masalah. Udah beres. Hahahahaha.

Di luar urusan rumah, aku juga selalu menempatkan diri untuk bekerja lebih cepat. Kalau bisa sekarang kenapa harus besok, dan kalau udah selesai duluan (dari orang lain) tentunya sisa waktu aku bisa gunakan untuk bersantai dong. Jadi kelihatannya aku santai, padahal kerjaan aku udah selesai semua dan hasilnya menurut aku bagus. Kurangnya aku adalah aku gak terlalu suka tantangan. Jadi setelah aku selesai, aku lebih memilih menunggu untuk mengerjakan pekerjaan selanjutnya daripada memikirkan aku harus ngapain lagi ya untuk mengisi kekosongan waktu ini? Hahahaha.

Jadi sekarang aku sedang mempertanyakan, pemalas itu apa? Kalau rumah aku selalu tetap bersih dan tidak berantakan, selalu ada makanan, selalu punya pakaian bersih dan wangi, seluruh tugas sekolah anak selalu selesai tepat waktu dengan nilai yang memuaskan, seluruh pekerjaan dikerjakan dengan baik dengan realisasi selalu diatas 95% apa itu masih masuk kategori pemalas?

Kalau dihitung terus-terusan aku gak pernah nyapu ngepel, jarang masak, gak nyuci baju sendiri, terus kalau punya waktu luang kerjaannya cuma nonton Netflix (bukannya kemas-kemas rumah) seh aku seumur hidup aku dicap pemalas deh yak. Tapi menurut aku, hidup itu semuanya pilihan kan yak. Ada yang milih semuanya maunya dikerjakan sendiri, terusannya capek sendiri. Ada yang kayak aku milihnya mendelegasikan ke orang atau alat lain, dan aku memilih untuk bekerja cepat di awal waktu, sehingga punya banyak waktu luang untuk aku bersantai.

Dua-duanya boleh, dua-duanya benar. Tapi gak ada istilah dong orang yang mendelegasikan pekerjaannya jadi dicap pemalas kan? Yang pemalas itu menurut aku malahan yang tidak selesai mengerjakan tugas-tugasnya apapun caranya.

 

 

bye.