Learning Loss di Depan Mata, Orang Tua Harus Bagaimana?


Kemaren, iseng nulis di kolom artikel website kantor. Tapi karena aku gak mau ngeshare website kantor aku, jadilah aku copy ulang di sini aja deh, ditambah uneg-uneg aku selama masa Online School Ini.

Hari Senin, K telah siap dengan baju sekolah barunya. Kemeja putih dan rok lipit merah dengan dasi merah mengalung di kerahnya. Tahun ajaran 2020/2021 adalah tahun pertama K menjadi murid kelas 1 Sekolah Dasar. Namun, K tidak seperti kita para orang tua Milenial, K bukan juga seperti anak-anak di atasnya dahulu ketika bersemangat untuk pertama kalinya melihat bangunan sekolahnya, memilih bangku kelas pertamanya dan bertemu dengan teman-teman barunya.

Selesai sarapan pagi, Nita langsung duduk di meja belajar kamarnya. Menghidupkan komputer dan masuk ke Google Meet. Dengan tersenyum dia menyapa teman-teman sekolahnya dari balik layar komputer. Nita adalah salah satu dari sekian juta anak Indonesia yang harus berjuang belajar dari rumah tanpa tatap muka langsung hari demi hari, dengan terus berharap dia tetap bisa mendapatkan ilmu yang sama seperti anak-anak sekolah terdahulunya sebelum pandemi terjadi.

***

Programme for International Student Assessment (PISA) Indonesia berdasarkan survei tahun 2018 berada dalam urutan bawah. Untuk nilai kompetensi Membaca, Indonesia berada dalam peringkat 72 dari 77 negara. Untuk nilai Matematika, berada di peringkat 72 dari 78 negara. Sedangkan nilai Sains berada di peringkat 70 dari 78 negara. Nilai tersebut cenderung stagnan dalam 10 – 15 tahun terakhir. Belum berakhir PR besar Indonesia untuk meningkatkat nilai PISA, dunia dihantam pademi COVID-19 pada awal tahun 2020 (https://edukasi.kompas.com).

Pada bulan Maret 2020, Pemerintah melalui Menteri Pendidikan mengeluarkan kebijakan untuk menghentikan seluruh pembelajaran tatap muka di sekolah. Awalnya orang tua berfikir bahwa kondisi ini hanya akan berlangsung 3 bulan hingga akhir tahun ajaran bulan Juni 2020. Namun, pada kenyataannya sudah setahun penuh Nita dan anak-anak se-Indonesia melakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dari rumahnya masing-masing.

Belum selesai masalah PISA, Indonesia kembali dihadapkan dengan permasalahan baru, Learning Loss. Melansir dari laman The Glossary of Education Reform (https://edglossary.org/), Learning Loss diartikan sebagai kehilangan atau keterbatasan pengetahuan dan kemampuan (skill) secara umum ataupun spesifik atau merujuk pada progres akademis, yang umumnya terjadi karena kesenjangan yang berkepanjangan atau diskontinuitas dalam pendidikan bagi siswa. Laman tersebut menjelaskan beberapa faktor yang menyebabkan learning loss dapat terjadi, di antaranya liburan musim panas, pendidikan formal yang tertutup, kembali putus sekolah, tahun senior, ketidakhadiran sekolah (bisa karena permasalahan kesehatan) dalam jangka panjang, pengajaran yang tidak efektif, dan perancangan jadwal pelajaran yang tidak terkoordinasi dengan baik.

Untuk masa sekarang, Learning loss ini adalah hasil dari dampak penutupan sekolah selama pandemi. Berdasarkan penelitian RISE siswa kelas 3 SD yang melewatkan waktu belajar 6 bulan berpotensi kemampuannya tertinggal 1,5 tahun. Siswa kelas 1 SD yang tidak belajar dalam waktu 6 bulan akan mengalami ketertinggalan hingga 2,2 tahun. Untuk siswa Indonesia, hingga bulan April 2021 sudah menjalani PJJ selama 13 bulan lebih. Kita bisa membayangkan seperti apa dampaknya bagi anak anak didik di Indonesia. Tentunya dampak ini berbeda untuk setiap anak tergantung seberapa efektif PJJ dan akses ke pendidikan selama pandemi untuk tiap anak dan sekolah.

Sayangnya, kebanyakan sekolah di Indonesia masih sangat terbatas akses PJJnya. Kebanyakan PJJ yang efektif dilakukan oleh sekolah swasta dengan biaya yang tinggi, sedangkan sekolah lainnya hanya mengandalkan tugas sekolah via media sosial seperti whatsapp untuk memberikan tugas-tugas kepada anak didiknya. Tentu dengan adanya hal tersebut, timbul lagi masalah baru “Learning Gap”. Siswa yang bersekolah dengan fasilitas PJJ yang memadai lebih unggul dibandingkan dengan siswa yang bersekolah di sekolah yang PJJnya tidak maksimal.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim menyebutkan, Kemendikbud dapat menghitung learning loss tersebut melalui penyelenggaraan Asesmen Nasional (AN) yang rencananya akan dilakukan pada September 2021. Selain itu, melalui AN juga akan terpetakan sekolah-sekolah mana yang akan mendapatkan bantuan dari pemerintah sesuai dengan kebutuhan sekolah tersebut. AN yang terdiri dari Asesmen Kompetensi Minimum, Survei Karakter, dan Survei Lingkungan Belajar ini juga berguna untuk membantu sekolah memperbaiki performa layanan pendidikannya menjadi lebih baik (https://www.kemdikbud.go.id).

Lalu bagaimana peran orang tua agar anaknya tidak mengalami Learning Loss?

Menteri Pendidikan Kebudayaan dan Dikti Nadiem Makarim mengatakan, kesuksesan seorang anak dalam menjalani masa-masa sekolah jarak jauh selama masa pandemi ditentukan oleh orang tuanya. Jika selama ini, sebagian besar orang tua menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak-anaknya ke sekolah, dengan situasi seperti ini orang tua harus turun langsung memberikan bimbingan dan arahan pembelajaran bagi anak-anak terutama untuk anak usia Sekolah Dasar.

Beberapa cara yang dapat dilakukan orang tua agar anak tidak mengalami Learning Loss selama melaksanakan Pembelajaran Jarak Jauh adalah:

  1. Membuat rutinitas harian belajar sama seperti jika bersekolah

Beberapa sekolah membuat jadwal rutin PJJ dari pagi hingga siang selayaknya belajar di sekolah melalui e-learning baik via Zoom ataupun Google Meet. Namun tidak bisa kita pungkiri adalah lebih banyak sekolah yang tidak memiliki akses untuk melakukan jadwal rutin seperti itu dan hanya memberikan tugas via chat.

Untuk sekolah yang tidak ada jadwal rutin PJJ, tugas orang tua adalah memastikan anak memiliki jadwal rutin belajar harian. Jadwal ini tentu bisa disesuaikan dengan kondisi rumah tangga masing-masing keluarga. Namun lebih disarankan agar anak tetap bangun dipagi hari, sarapan lalu memulai “sekolahnya” setiap hari di waktu yang sama. Misalnya mulai belajar pukul 08.00 hingga pukul 10.00 untuk 1 pelajaran. Lalu dilanjutkan lagi pada pukul 11.00 – 12.00 untuk pelajaran lainnya.

Dengan adanya rutinitas harian seperti ini, anak akan mempertahankan kegiatan pembelajarannya di rumah dan memiliki waktu pasti kapan harus belajar dan kapan waktunya bermain.

2. Melakukan monitoring berkala pembelajaran daring di sekolah

Jika selama ini yang melakukan monitoring pembelajaran anak adalah guru di sekolah, maka selama PJJ tugas itu akan beralih kepada orang tua. Monitoring bisa dilakukan dengan membuat kuis-kuis ringan untuk anak kita di rumah.

Misal pelajaran tentang Matematika tentang perkalian. Orang tua bisa membuat beberapa soal perkalian untuk anak untuk mengerjakan soal tersebut. Hasilnya dapat dimasukkan ke sheet sederhana yang dibuat di excel dengan kategori bisa atau tidak bisanya anak menjawab soal tersebut. Jika anak tidak bisa, ini menjadi concern kita sebagai orang tua untuk lebih memberikan pendalaman materi tersebut. Hasil monitoring juga sebagai bahan diskusi saat ada pertemuan dengan guru di sekolah.

3. Menguasai materi sekolah anak

Ini terutama untuk anak dijenjang sekolah dasar. Kita sebagai orang tua mau tidak mau harus menguasai semua pelajaran yang ada di sekolah anak. Hal ini penting karena anak ditingkat sekolah dasar belum memiliki cara pembelajaran yang efektif untuk dirinya sendiri. Karena itu orang tua wajib untuk membimbing seluruh pelajaran anak di sekolah.

Ini juga agar mengurangi resiko anak tidak mengerti pelajaran tetapi tidak ada tempat untuk bertanya.

4. Membuat tabel target dan capaian anak selama melakukan PJJ

Sebelum tahun ajaran dimulai, kita sebagai orang tua bisa meminta sekolah atau guru target capaian apa yang diharapkan di sekolah sesuai dengan tingkatan anak berdasarkan kurikulum pendidikan yang ada.

Sekolah pada dasarnya memiliki tabel target yang akan dicapai seorang siswa dalam satu semester per pelajaran. Target tersebut bisa digunakan orang tua untuk mengukur sampai di mana anak kita telah memahami pelajarannya. Orang tua bertugas untuk memastikan bahwa anak-anak kita pembelajarannya tetap on target sesuai dengan kurikulum yang ada.

5. Melakukan Komunikasi Aktif dengan guru di sekolah

Terakhir tentu guru di sekolah tetap menjadi bagian penting dari proses Pembelajaran jarak jauh. Hasil-hasil belajar anak yang telah dilakukan bersama dengan orang tua dikomunikasikan lagi kepada guru dan pihak sekolah.

Komunikasi dua arah yang baik oleh orang tua dan guru dapat menghasilkan capaian yang baik untuk pembelajaran anak.

Pandemi masih berlangsung dan kita semua tidak tahu kapan anak-anak kita akan kembali bersekolah secara “normal”. Karena itu tugas kita sebagai orang tua adalah memastikan anak kita di rumah mendapatkan pendidikan yang maksimal yang bisa dimilikinya di masa pandemi ini. Tugas kita sebagai orang tua untuk memastikan anak-anak kita tidak menjadi salah satu anak yang terkena dampak Learning Loss apalagi Learning Gap diantara anak-anak seangkatannya. Karena tugas pemerintah sudah sangat berat, mari kita bantu membimbing dan mengarahkan anak-anak kita dari rumah masing-masing.

***

Hari senin adalah jadwal K untuk belajar English, Sosial Study dan Math. Sebelum sekolah di mulai, K telah dengan semangat membereskan buku yang akan digunakannya untuk belajar keesokan harinya. Dari layar komputer, guru Nita menayangkan video kartun yang menjelaskan tentang Describing Words Adjectives. Dengan semangat K mendengarkan lagu tersebut.

Pukul 13.00 siang, K telah menyelesaikan seluruh pelajaran sekolahnya hari ini. Pelajaran hari ini sangat menyenangkan buat Nita. Sepulang ibu dan ayahnya bekerja, Nita menceritakan tentang membaca peta dan neighborhood yang ada di sekeliling rumahnya.

“Nita, sekolah itu seperti apa?” tanya mamanya suatu malam ketika mereka tengah berbicara sebelum tidur. “Sekolah itu belajar bersama guru dan teman di google meet, dan mengerjakan tugas di google class”, jawabnya lugu.

Si K sendiri udah 14 bulan melakukan Sekolah Online. Aku ada dengar, rencananya tahun ajaran baru nanti yaitu bulan Juli 2021, ada rencana sekolah akan masuk untuk tatap muka lagi. Tapi beberapa hari yang lalu ada surat edaran dari Satgas Covid Provinsi yang menyatakan Provinsi Kalbar masuk ke zona rawan lagi.

Aku bukanlah orang yang gak percaya dengan Covid. Bahkan gak masuk di akalku bahwa ada orang yang sangat tidak percaya bahwa virus itu nyata. Tapi pada akhirnya, aku pribadi lelah juga melihat si K hanya bersekolah dari rumah. Untungnya untuk pelajaran bisa dikejar dari Online School karena sekolah dia memang baik. Tapi sosialisasi antar manusia jadi sangat kecil dan sulit di dapat untuk dia.

Semoga sekolah tatap muka segera di buka.

3 Comments

  1. awal-awal semangat diriku ini mendampingi anak dg mencatat dan ditandai apa aja yg dipelajari lalu bikin soal juga, setelah 1 semester blasss, mulai kendor hihi ampun deh lelah banget dengan onlen school ini :D, semoga mudik besok gak melonjak lagi yaaaa, aminnn

Balas Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s