Saya Beruntung


Karena dikelilingi oleh orang-orang yang tidak merokok.

Haaaiiii… Haaaloooo.. Apakabar semuanyanyaaa? :mrgreen:

Si Niee lagi-lagi misuh-misuh tentang rokok neh! 😀

Jadi ceritanya udah beberapa minggu ini aku lagi-lagi melewati ferry penyebrangan untuk pergi ke kantor dan pulang ke rumah. Bukan karena tol di tutup lagi seh. Tapi lebih karena praktisnya.

Iya, sebenarnya naek ferry itu sangat praktis untuk ukuran rumah aku yang lumayan jauh dari kantor. Pertama gak perlu capek bawa motor terusterusan karena di atas ferry kan motornya gak dihidupkan. Kedua terbebas dari macet. Dan ketiga tentu akan lebih hemat bensin dong 😀

Tapi yang gak menyenangkannya apalagi kalau bukan kebiasaan orang yang merokok di terminal dan di atas ferry itu sendiri. Itu sangat mengganggu kakak!

Biasanya aku kalau udah keciuman bau asap rokok langsung pasang muka bete dan ngibas-ngibasin tangan sekenceng-kencengnya biar orang itu sadar bahwa rokok dia itu mengganggu. Satu dua orang seh sadar yak, dan berusaha menjauh. Tapi kebanyakan gak perduli tuh!

Lebih miris lagi adalah banyak di antara para perokok itu adalah bapak-bapak yang baisanya membawa besarta anak istrinya tapi tetep aja merokok! Kasian banget kan anak istrinya jadi perokok pasif begitu? 😦 Jadi inget perkataan temen aku soal perokok.

rokokMaka, melihat kondisi yang sangat miris itu aku jasi sangat bersyukur dan merasa beruntung gak pernah terpapar dekat dengan perokok.

Dilingkungan rumah aku gak ada yang merokok. Bapak dari aku kecil gak pernah yang namanya merokok. Dia selalu sakit waktu mencoba merokok sewaktu muda dulu.

Dilingkungan sekolah tentu gak pernah ada yang namanya merokok. Ketahuan guru pasti bakalan langsung dihukum deh.

Dilingkungan kampus lagi-lagi aku bersyukur kuliah di Teknik Informatika yang notabene kuliahnya di ruangan ber-AC terus. Temen-temen yang jumlahnya kurang lebih tiga puluh orangpun hanya kurang dari 5 yang merokok. Karena jadi orang minoritas, mereka jadi gak enak sendiri kalau sedang ngumpul dan merokok di dekat kami.

Masuk kerja lebih ok lagi dong karena kerjanya di Dinas Kesehatan yang membuat PerDa Kawasan Bebas Rokok dan gak ada yang merokok baik di halaman, di kanton, apalagi di dalam kantornya.

Dan yang terakhir, aku bersyukur banget mendapat jodoh, si abang aku ini yang gak merokok (dia bilang seh udah bosen puas merokok waktu masih kuliah, syukur deh 😛 ).

Aku seh berharap suatu hari nanti merokok itu menjadi sesuatu yang memalukan untuk dilakukan di tempat umum. Orang-orang akan mencari tempat yang tidak terlihat hanya untuk merokok. Bapak-bapak dan saudara laki-laki tidak ada lagi yang merokok di rumah dan meracuni istri, anak dan saudara perempuannya. Gak ada lagi toko kecil yang menjual rokok. Gak ada lagi bilboard rokok yang luar biasa besar dipinggiran jalan. Gak ada lagi iklan rokok di TV. Dan pada akhirnya pemerintah berani untuk menaikan nilai pajak rokok sampe nilai yang setinggi mungkin hingga akhirnya orang terpaksa gak merokok karena gak mampu! Mudah-mudahan yak suatu saat. *optimis*

Advertisements

31 thoughts on “Saya Beruntung”

  1. Di Eropa kebanyakan juga banyak lho yang merokok Niee. Tapi setidaknya mereka “tahu diri” sih bahwa nggak di sembarang tempat bisa dan boleh merokok. Biasanya kalau mereka ingin merokok ya harus masuk ruangan khusus untuk perokok atau harus keluar gedung, hehehe 😀 .

    1. Sebenarnya aku gak masalah dengan perokok seh zil. Itukan urusan personal mereka yak. Nah kalau mereka “tahu diri” gak akan ada orang yang ribut untuk memberhentikan penjualan rokok. Yang masalah sekarang di sini kan orang pada gak perduli dengan orang disekelilingnya yang terganggu 😦

  2. Papaku udah berhenti merokok semenjak 10 tahun yang lalu atau lebih, karena tak kasih pengertian bahwasannya kami anak-anaknya saat itu ingin beliau umur panjang dan menginginkan dia hidup lebih panjang, alhamdulillah…dari perokok berat yang awalnya se pack satu hari bisa berhenti dan itu berawal dari Ramadhan.

    Suami, saat masih PDKT dan mau jadiin aku istri aku ultimate kalau serius mau nikahin aku harus berhenti merokok, kalau masih merokok nanti jangan dekat2 sama anak-anak. Alhamdulillah dia berhenti sebelum tak kenalkan dengan orang tua.

    Aku benci rokok, asap rokok membuat aku sakit kepala dan itu secara otomatis apalagi kalau aku habis makan aku langsung sakit kepala dan mau muntah.

    Dulu di sekolah aku jg gabung club anti rokok yang meng-kampanye kan gerakan anti merokok 🙂 karena kami sadar bahaya merokok.

    1. Hebat banget han bisa ikut club anti rokok gitu.. Kalau aku seh dulu kurang menanggap masalah yak. Semenjak kuliah dan kerja (apalagi di kesehatan) jadi lebih memikirkan gitu. Sayang banget di negara kita banyak peraturan tentang rokok tapi semuanya di langgar..

    1. disini di beberapa tempat juga ada seh mbak.. tapi aku masih gak sreg aja dengan tempatnya. Misal kalau di Mall itu di teras atau ruang tunggu parkiran mall itu boleh merokok. Padahal masih banyak ibu-ibu dan anak anak yang sedang menunggu jemputan disana.

      Aku pengennya seh suatu hari tempat khusus merokok itu isinya HANYA perokok. Jadi gak ada lagi kita lihat orang yang merokok di depan anak anak dan orang lain yang jadi perokok pasif

  3. saya juga bersyukur, Buled berhenti merokok sebelum kita nikah! padahal dulu dia sempet janji, klo dia akan berhenti ngerokok klo g hamil, tapi sebelum nikah aja dia udah berhenti dengan sendiri na, walo sekarang jadi na doyan banget ama yang manis2 hahaha 😀

    1. hebat banget pit bisa buat perjanjian kayak gitu dan berhasil.. kebanyakan temen aku disini belum ada yang berhasil ngilangin kebiasaan merokok suaminya.. Kasian kan yak, padahal istrinya lagi hamil >.<

  4. Kmren banget waktu naik mobil travel Kotamobagu – Manado ada ibu2 muda gitu bawa balita. Waktu berhenti makan dia dgn sante nya ngrokok dong sambil gendong anaknya. Dan ga cuma itu, dia lagi nelpon trus maki2 gitu dgn suara kenceng.. Astagahh.. Klo gw emak nya dah lama gw olesin sambel dah tu bibir.. huhuu.. Kebanyakan org skrg ga peduli sekitar.. Bener sih, sama diri sendiri aja ga peduli apalagi sama org lain..

  5. suami sama baka sy jg g ngeroko jadi suka stress kalau ktmu atau seangkot sm g ngerokok, krn sy ada asma jdnya kalau ada yg ngerokok suka bikin saya susah nafas.. fiuuuh
    btw, salam kenal ya mbak niee,, mudah2an bayinya sehat2 aja:)

  6. tapi ada lho mbak perokok yang masih mikir harus ngerokok dimana. tadi aku bewe baca tulisannya, hehe. ya meskipun aku jg nggak ngerokok tapi lebih baik begitu, pilih2 tempat

  7. sama aja ah, walau ngerokok di smoking area atau dimanaun tetep aja ngerusak udara dan ngerusak dirinya… dan bikin perusahaan rokok tetep laku

    gimana yak caranya bikin pabrik rokok bangkrut, apa di bom aja gitu >_<

Balas Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s