Hargailah uangmu..


Haii halooo.. apa kabar semua?

Akhirnya aku ikutan juga sebuah kontes-kontesan yang kali ini diadakan sama Hani. Awalnya seh bingung banget mau nulis apa. Lagian temanya susah banget gitu, perubahan! Lah, aku yang kucruk-kucruk hidup geje yang isinya seneng-seneng aja gini apanya yang ada perubahan? *merenung*

Setelah merenung tujuh hari tujuh malam akhirnya aku dapet juga idenya. Ya, idenya juga di dapet dari hidup aku yang geje ini. Ngelihat seberapa gak jelasnya hidup aku hingga akhirnya bisa sampe sekarang adalah sebuah perubahan yang lumayan berarti dihidup aku. Apakah itu? Mari kita teruskan. *halah*

http://arianni-the5.blogspot.com

Aku sedari kecil udah hidup senang. Ya walaupun aku bukan dari keluarga yang kaya raya banget, tapi jika dibandingkan dengan temen-temen sekolah atau temen-temen satu kampung aku termasuk dalam keluarga yang berada. Keluarga akupun sangat memanjakanku dengan segala fasilitas yang ada. Gak susah buat aku untuk meminta sesuatu, dan apapun yang aku minta hampir pasti dikasih yang membuat aku terbiasa dengan segala fasilitas tanpa harus ‘bekerja keras’. Hidup seperti itulah yang terus aku jalani sampai aku kuliah.

Kehidupan dikuliah tentu jauh beda dengan kehidupan di sekolah. Di kampus pergaulan bukan cuma sekedar di ‘dalam kelas’ tapi kita benar-benar masuk kedalam kehidupan teman-teman kita. Bagaimana ada yang hidupnya hanya bersenang-senang dimana hampir setiap malam nongkrong dan ada pula yang harus bekerja keras buat membiayai kebutuhan kuliahnya.

Aku? Dengan kebiasaan ‘buruk’ aku semasa kecil tentu lebih memilih bergaul dengan teman-teman yang berhura-hura. Lagian ngapain juga aku memikirkan uang kuliah kalau itu sudah disediakan oleh kedua orangtua aku?

Pertengahan tahun kuliah, aku mulai merasa iri dengan teman-teman kampusku yang kerja sambil kuliah. Bagaimana mereka bisa mengatur keuangan mereka sendiri, membeli barang-barang dari hasil kerja kerasnya dan hingga sampai membayar uang kuliahnya. Melihat hal itu aku juga ingin bekerja. Bukan untuk uang, tapi lebih kepada memperlihatkan keorang lain, bahwa aku juga bisa menghasilkan uang dari jerihpayahku sendiri!

Masa-masa mencari pekerjaan adalah masa-masa yang galau. Aku tentu saja mencari pekerjaan yang gak perlu kerja keras. Lagian aku juga masih kuliah, kalau aku salah pilih pekerjaan, bukannya baik, malah akan merusak ritme kuliahku (yang aku targetkan harus lulus 4 tahun). Akhirnya, aku memutuskan untuk mengajar. Bulan januari 2010 mulailah aku bekerja sebagai tutor pembimbing di KSM. Akupun mulai mengalami apa itu perubahan.

Kuliah dipagi hari dan bekerja di sore hingga malam hari bukanlah sesuatu yang mudah bagi aku. Menghadapi teman kantor yang beragam dan menilai semua pekerjaannya dengan ukuran uang membuat aku sedikit risih. Sistem pembayaran di lembaga bimbingan aku adalah perjam pelajaran. Jadi, makin kita mengajar banyak maka makin banyak upah yang kita dapat. Tapi, itu balik lagi ke cara mengajar kita apkah disenangi murid ataupun tidak.

Setelah sebulan banting tulang mengajar dan kuliah, akhirnya akupun mendapatkan gaji pertamaku. Senang? Teramat jauh dari kata itu, karena yang aku lihat bukan sejumlah yang bisa ‘membahagiakan’ aku. Yang aku lihat hanyalah beberapa lembar uang yang bahkan tidak sampai setengah dari uang bulanan yang diberikan oleh orang tuaku selama ini!

Mau mengeluh? Mengeluh untuk apa? Malahan aku berfikir kepada diriku sendiri. Aku saja yang gak ada tanggungan apa-apa merasa sangat kurang dengan apa yang aku dapatkan sekarang. Lalu bagaimana dengan teman-temanku yang memang menjadikan ini sebagai pekerjaan utama? Dengan gaji sekecil itu?

Beberapa bulan kedepan aku mulai dekat dengan teman-teman satu kantor. Mendengar mereka mengeluh dengan sistem yang ada dan kecilnya ‘tarif’ yang diberikan kepada kami mulai tidak membuat aku risih. Malahan aku prihatin. Dari cerita merekalah aku mulai mengalami perubahan. Perubahan dalam arti menghargai uang.

Semenjak itu, aku jika menginginkan sesuatu tidak serta merta meminta kepada kedua orang tuaku. Jika bisa aku penuhi sendiri, aku akan mengusahakannya sendiri. Jika tidak bisa, aku lebih berfikir apakah aku benar-benar memerlukan itu? Kalau tidak atau masih bisa ditunda, maka tidak akan aku lakukan.

Aku bersyukur dengan segala keputusan aku selama ini. Karena aku yakin, apapun yang berjalan adalah kehendak Tuhan. Tuhan telah membukakan mataku untuk hidup lebih menghargai, dan aku ingin terus hidup seperti itu, walaupun sampai sekarang aku tetap masih terus belajar. Belajar untuk sebuah perubahan πŸ™‚

***

Artikel ini diikutsertakan kontes Make That Change Pendar Bintang.

Advertisements

90 thoughts on “Hargailah uangmu..”

  1. uang memang bukan segalanya ya, tapi segalanya akan lebih mudah kalau ada uang πŸ˜€

    aku juga sekarang lagi belajar me-manage keuanganku, motivasinya masa aku kalah sama adekku yang masih SMA hhehhe πŸ˜›
    semoga menang mbak πŸ™‚

  2. wah ko sekarang2 ini aku baca di blog-blog. banyak kalimat “galau” ya. pada kenapa ya? hehe. masa mencari kerja hari hari nya jadi galau πŸ˜›

    tapi keren loh kuliah sambil kerja. fokusnya bisa konsisten ke bagi keduanya. salut-salut
    salut juga udah berani ngambil sikap gak terus terusan ngandalin dari orangtua πŸ™‚

    moga sukses ya kontesnya, amin.

  3. Sesuatu yang indah saat kita bisa mendapatkan perubahan itu dari pengalaman orang lain bukan mengalaminya sendiri yang mana kita harus membayarnya dengan mahal.

    Nice, Nie…aku suka banget… karena kebanyakan dari anak-anak kuliah (temanku dulu) banyak juga yang nggak bsia menghargai uang makanya aku menghindar meski dikejar-kejar oleh mereka, he he he

    Thanks ya say…akhirnya dirimu ikutan…. hadiah tanpa diundi pelukan dariku #bighug πŸ˜›

    1. iya,, kalau kita merasakannya pasti lebih menyakitkan banget ya han…

      Aaahh,,, jangan dipeluk aja han,, dimenangin gitu kontesnya untuk aku *kedip2kehani* πŸ˜›

  4. Sejak lulus Skull aq udah belajar cari uang sendiri ga ngrepotin ortu. Tapi masih dijatah ya mau aja hihihi.
    Tapi ya begitulah kalo masih prawan, bukannya jadi orang kaya tapi malah mlarat hikz.
    Tp skrng udah pinter memanage keuangan kok hehe

  5. gua juga merasa bersyukur banget karena pas kuliah gua gak perlu mikirin nyari uang buat bayar kuliah. karena gua tau banget betapa capenya harus kuliah sambil bekerja.

    walaupun dulu pas gua kuliah gua ada penghasilan juga sih dari ngelesin musik. tapi itu karena gua hobi aja. jadi gak susah ngejalaninnya. hehehee.

  6. waktu kuliah S1 aku juga kerja part time ngajar gitu deh. Bukan motivasi uang sih tapi lebih ke motivasi pengalaman aja, hehehe πŸ˜› Sekarang pas S2 juga gitu, lagi kerja part time di kampus. Motivasi uangnya agak sedikit lebih tinggi juga kalo sekarang (huahaha πŸ˜† ), tapi sebenarnya juga masih lebih ke motivasi pengalaman aja :P. Aku merasa beruntung banget waktu S1 dan S2 ini dapat beasiswa. Jadi selain tidak harus terlalu mikirin duit, sekaligus bisa membantu meringankan beban ortu :P.

    Dan benar, masa transisi ke menghargai nilai uang biasanya itu ada waktu kuliah ya πŸ™‚ Waktu kuliah kan umur uda makin nambah tuh. Biasanya anak2 juga jadi lebih “mikir” nilai dari uang itu, hehe πŸ˜›

    1. Iya,, kalau pas kuliah kita dipaksa sedikit lebih dewasa ya zil,, makanya mikirnya ‘aneh2’ hehehehe…

      tapi emang paling asyik itu pas kuliah kerja parttime ngajar yak πŸ˜€

  7. hahaha,, saya juga termasuk yang waktu kuliah nyambi ngajar buat tambah2 uang saku, soalnya memang kebetulan di rumah ekonomi sedang seret.. Emang sih jumlah yang didapat ga terlalu banyak, tapi lumayan, dan beda lho pake uang hasil keringat sendiri sama dengan yang dikasih orang tua..

  8. Wah keren mbak πŸ˜€
    Saya juga kepengen banget mbak kerja sambil kuliah. Tapi gimana ya, jadwal kuliah nggak tentu, kadang pagi, kadang sore.. >.<
    Pengen banget gak ngebebanin orang tua lagi 😦

    1. nanti aja am,, tunggu udah semesteran atas yang rada longgar.. kalau semester awal perbanyak aja ikut kegiatan dikampus,, deketin dosen, siapa tahu dapet proyekan dari dosen kan πŸ˜›

  9. sayangnya nilaiku tak sebaik teman2 yang bisa mengajar itu mbak. Selama kuliah yg kulakukan hanyalah jual beli barang yang tak ku pakai. nilainya uangnya memang tidak mungkin bisa balik modal, tapi jadi pengalaman aja kalau cari uang itu mudah, sayangnya “nilai” uang itu tak selalu seperti yang dibayangkan.

    1. Ya, usaha juga gak musti ngajar kan yak selama kuliah mas.. jual beli barang juga termasuk kerja sampingan πŸ˜€

      Iya,, kita akan sedikit terkejut dengan nilai yang kita dapat yak >.<

  10. Banyak anak sekolah dan mahasiswa yang mengandalkan uang dari orang tuanya tetapi dipergunakan untuk hal-hal yang negatif. Kasihan deh para orang tua kalau sampai demikian. Saya sendiri dulu mendapat uang saku hanya sedikit, mau menuntut banyak juga kasihan dengan ortu. Setelah masuk dunia kerja, baru merasakan bahwa cari uang itu memang betul2 susah.

    1. aaahhhh,,, sayang sekali kalau melakukan hal2 negatif seperti itu,, apalagi melakukannya masih dalam tanggunggan orang tua,, gak banget deh..

  11. Selama bisa di syukuri dan merasa cukup uang yang sedikitpun biasanya lebih bisa di nikmati,karena biasanya kalau uangnya banyak makin banyak deh yang diingini dan kalau nggak bisa ngontrol jadi boros deh…. πŸ˜€

  12. mantab gan jurnalnya..
    kondisinya mirip-mirip yang saya alami juga..
    ada teman-teman yang hidupnya hanya hura-hura
    ada yang suka hura-hura tapi juga bekerja keras
    ada yang ga suka hura-hura melainkan seorang pekerja keras.
    tapi saya bergaul sama mereka, walopun terkadang ada perasaan minder juga sama temen yang udah kerja, sedang saya masih ngarep dari ortu..
    -_-

    1. itu yang aku rasain,, iri lihat yang udah berpenghasilan,, makanya nekat cari kerjaan dan alhamdulillah malah mendapatkan pelajaran yang berharga πŸ™‚

  13. Dear.

    hooooo…. hhooo ternyate udah pernah kawan kite niii ngajar di KSM yeee….. hebaaddd….. jarang ade mahasiswi dari keluarge berade mau banting tulang hanya untuk “status”…. salutteee lah…… semoga sukses dan menang….. kalo menag jangan lupa kirakan gak ke Miri……

    Regards,
    … Ayah Zahia …

  14. tema kontesnya hani ii emang rada susah ya

    he..he… belum dapat ide sampai sekarang mau nulis apa
    good luck ya niee…temanya betul banget… lebaih baik hemat daripada boros kan

  15. Waktu kuliah, saya dikasih uang jajan yg sangat terbatas. Jadi pelan2 mulai cari cara gimana sih biar dapat tambahan jajan.
    Pertama main band. Beberapa kali manggung lumayan dapat uang. Tp seringkali gratisan juga….
    Lalu mulai coba jualan… buka kafe tenda, dan ini lumayan juga hasilnya… πŸ™‚
    Setelah kerja barulah kita tahu bagaimana susahnya mendapatkan uang… jadi harus benar2 dihargai dan digunakan sebaik2nya…

  16. Yang namanya uang hasil kerja sendiri itu …
    nikmatnya tiada tara …
    asal kita bisa mensyukurinya …

    Ini bukan masalah jumlahnya …
    ini masalah proses untuk mendapatkannya …
    dari situ kita bisa belajar sesuatu … sesuatu yang bernama … Self Achievement
    Dan ini penting untuk pendewasaan diri kita

    salam saya Nie

  17. wah gaji pertama, saya dapatkan ketika ada di Pontianak loh Mbak. Saya ingat waktu itu uangnya saya sebarkan di atas kasur sebagai teman tidur. Di situlah saya rasakan sebuah kebahagiaan, sebuah kondisi yang sangat penuh kesyukuran atas jerih payah yang telah dilakukan

  18. wah…perubahan yang cukup drastis yah mba?…
    bener kata kawan-kawan, berapapun penghasilan kita masih bisa kita syukuri karena masih memiliki penghasilan sendiri….
    makasih mba sudah diingatkan..hehehehe

  19. jadi malu neh…
    soalnya aku termasuk boros dan gampangan di soal buang duit
    kerja di hutan abis abisan cari duit
    pas cuti juga abis-abisan ngabisinnya
    hehe payah…

  20. Ini namanya perubahan yang positif. Memang seharusnya begitu dalam memperlakukan uang karena tidak gampang untuk mendapatkan nya. Trim’s untuk postingan yang inpiratis ini πŸ˜‰

    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

  21. waaah keren bangett…jarang2 ada anak muda yang sudah punya segalanya tapi masih mau juga menjalani kehidupan biasa dengan mencoba menghasilkan uang sendiri.

    salut

Balas Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s