celoteh, Katniss

7 Kebiasaan yang didapat Anak Balita Saat Traveling


Belajar itu bisa di mana aja. Yak, aku yakini banget itu. Bahkan pembelajaran absolut utama adalah di rumah bersama orang tua kan yak? Tapi gak bisa dipungkuri melihat dan merasakan langsung sesuatu dapat meningkatkan kecepatan pemahaman dalam pembelajaran itu sendiri.

Si K itu udah aku ajak traveling dari umur 11 bulan. Dari yang gak tahu apa apa. Diajak jalan kebanyakan tidur dan manggut manggutnya aja. Sampe umur hampir 5 tahun sekarang dan udah bisa protes kalau tempatnya membosankan bagi dia.

Barusan aku membaca buku “Asyiknya Belajar di Lima Benua” Ada satu kalimat yang menyatakan bahkan pembentukan habit atau kebiasaan lebih penting diutamakan di sekolah daripada yang lainnya. Tentu ini aku amini benar, dan pembentukan habit ini gak cuma harus di sekolah, dirumah bahkan saat travelingpun bisa.

Bahkan, beberapa kebiasaan positifnya si K di dapat pada saat dia traveling loh. Karena menurut aku, kondisi di Pontianak gak terlalu memungkinkan memupuk kebiasaan itu. Nah, ini beberapa yang berhasil aku inget πŸ˜› kebiasaan si K yang di dapatnya selama jalan jalan (terutama di luar negeri)

1. Antri

Kelihatan sepele ya, antri. Tapi menurut aku ini merupakan tindakan yang sangat perlu dijadikan kebiasaan. Orang dan linkungan disekitarku masih banyak tidak terlalu memerdulikan kegiatan antri ini. Masih sering menyerobot kalau ambil tiket mtik misalnya (curcol yang baru kejadian) masih suka nyalip kendaraan saat U Turn, masih sering menanggap halnya paling penting jadi dia harus dapat duluan, dan segala macam kegiatan yang mengindahkan dan menyepelekan antrian tersebut.

Kalau lagi traveling, apalagi kita selalu traveling sendiri tanpa travel agent, antri adalah satu kegiatan rutin yang mau gak mau kita harus lakukan. Apalagi di area bandara.

Pertama tama kita harus antri cek in. Terus kita bakalan antri lagi untuk pengurusan imigrasi. Antri cek in dan antri imigrasi ini yang paling membentuk kesadaran si K kelihatannya. Apalagi imigrasi kita gak boleh ribut dan lari larian kan. Si K yang suka gak betah harus duduk atau berdiri lama lama dipaksa untuk diam bahkan pernah selama satu jam hanya untuk mengantri. Dari yang kadang rewel, gak terima, sampai sekarang udah ngeh klo di imigrasi harus diam dan sabar pun dilakuinnya.

Efeknya sendiri sangat kentara btw. Si K sekarang kalau disuruh antri di manapun, bahkan di pontianak yang kadang sering banget diserobot antriannya anaknya selalu kalem. Gak pernah meregek kalau antriannya lama. Dia dengan pasrah paham bahwa kewajibannya mengantri dan kalau sudah waktunya akan tiba saatnya giliran dia. Bahkan beberapa kali aku yang gak sabar dan agak senewen diingatkan si K untuk ngantri yang bener πŸ˜†

2. Sabar

Ini lanjutan dari mengantri btw. Karena dia udah terbiasa dengan antrian yang panjang dan lumayan menegangkan dia udah terbiasa sabar. Sabar menghadapi waktu yang gak kunjung selesai πŸ˜…

Sabar ini efeknya gak cuma keantrian. Yang aku lihat sabar ini juga berimbas pada dia yang lebih telaten. Telaten dalam hal belajar misalnya. Dia lebih betah untuk duduk berlama lama mengerjakan sesuatu. Dia bisa sabar hanya disuruh melihat emaknya lagi ngerjain sesuatu misalnya, entah lagi masak, sholat, ngaji atau nyetrika yang dia belum terlibat langsung.

3. Kreatif

Yang paling menegangkan untuk terbang fi dalam persawat dengan waktu tempuh yang berjam jam (misalnya kita ke korea 6 jam dan si K cuma tidur 2 jam btw) adalah anak yang akan uring uringan selama perjalanan.

Alhamdulillah banget si K gak pernah yang rewel terlalu samgat selama di pesawat. Empat jam itu gak bisa disogok hanya pake hanphone loh. Karena untuk si K satu jam nonton dan selebihnya main main dia udah bosen banget dan berenti untuk melihat itu. Akhirnya dia bakalan nyanyi nyanyi atau bertanya tanya. Yang paling sering dilakuinnya seh bercerita (dengan aku yang mancing pastinya) bercerita apa aja soal temen temennya di sekolah. Atau apa yang dia tunggu di tempat yang akan ditujunya atau kalau pulang aku suka tanyain apa yang dia paling senang dari kota yang udah kita datangi. Dia akan bercerita dengan semangat sampai aku yang bosan dan anaknya gak bosan bosan mengulang kalimat yang sama, hahahaha.

Kalau udah aku capek meladeni dia ngomong, dia bakalan bisa main sendiri dengan mainan kecil yang biasa kita bawa di dalam pesawat, atau dia juga bisa menggambar dari buku yang kita bawa. Dia lebih tekun menggambar dan mewarnai hasil dari perjalanan panjang di pesawat kayaknya. hahaha.

4. Lebih dekat dengan Orang Tua

Walaupun anak sendiri dan masih balita, tetep ya kan sebagai ibu bekerja aku gak selalu 24 bersama si K. Ada masanya dia sekolah, aku kerja, bahkan kalaupun sabtu minggu di rumah ada kalanya aku sibuk ngapain gitu dan dia main sendiri. Terlebih lagi sama papanya. Papanya sabtu minggu aja ke kantor kan yak. Jadi sangat amat jarang menghabiskan waktu dengan si K.

Kalau pas liburan kegiatan itu sama sekali gak ada. Si K bakalan nempel terus 24 jam bersama aku dan papanya. Ya di hotel, ya main, ya belanja ya tidur semuanya. Full sampai pulang.

Si K bahkan pernah bilang kalau dia suka jalan jalan karena bisa bertiga terus sama sama. Makanya si papa K semangat kalau udah liburan. Semangat lihat anaknya seneng bertiga bareng dalam jangka waktu yang lama.

5. Bersosialisasi

Sebenarnya bersosialisasi ini juga bisa di dapatkan di sekolah deh yak sama temen temennya. Tapi kalau di sekolahkan banyak aturan yang harus ditaati. Dan kebanyakan waktu di sekolah diisi dengan belajar.

Beda kalau bersosialisasi di taman bermain misalnya. Dengan anak anak yang lebih tua atau yang lebih muda dan si K sama sekali gak kenal satu sama lainnya.

Yang aku lihat si K ini sangat mudah untuk berteman. Dia dengan pedenya akan memperkenalkan namanya dan mengajak anak anak itu main. Bahkan pas kita main di Kuala Lumpur bersama anak anak buke gitu, emak emak bulenya sampe menghampiri aku dan bilang kalau si K sangat pinter dan mengayomi anaknya yang lebih kecil saat bermain. Untungnya si K gak ada masalah dengan komunikasi dengan orang orang itu karena dia berbahasa Inggris aktif. Gak kayak emaknya yang diajakin ngomong orang bule sebisa mungkin menghindar 🀣

6. Paham Aturan Berlalulintas

Ini yang kelihatannya sepele juga ya. Tapi susahkan yak menjelaskan anak kecil kalau lampu merah ini harus stop kalau mau nyebrang jalan. Aku bahkan gak banyak menjelaskan ini kepada si K.

Tapi karena kita kalau traveling selalu jalan kaki dan selalu ketemu lampu merah paling gak untuk menuju ke stasiun kereta, si K udah paham bahkan khatam banget dengan lampu merah ini.

Bahkan dia dmepat protes pas kita di Aussie yang kalau lampu merah kedip kedip itu masih boleh jalan. Dia bilang hijau yang boleh jalan. hahaha.

Efeknya adalah, walaupun gak ada lampu merah dia selalu waspada kalau mau menyeberang jalan. Bahkan jalan kecil sekalipun. Pernah satu ketika aku jemput dia di sekolah dan pas kau nyebrang ke mobil dia berhenti dulu dan lebih mempersilahkan motor lewat duluan. Padahal motornya masih jauh dan kita bisa aja lari lari kecil. Melihat tingakah si K si bapak pengendara motor sampe bilang hebat gitu ke K dan bilang anak pinter πŸ˜†

7. Bertatakrama difasilitas umum

Ini efek dari perjalanan kami di Korea dan Aussie seh. Karenakan kedua negara itu emang terbiasa memberikan jalan kepada orang yang mau lebih cepat di kanan eskalator kan yak.

Tapi walaupun udah gak di Aussie lagi si K udah terbiasa loh berdiri diam di kiri kalau naik eskalator di Mall pontianak. Kebiasaan yang harus diteruskan kan yak 😁

Si K mulai berani naik turun dari eskalator sendiri itu pas jalan-jalan juga loh. Jadi sebelumnya dia itu kalau naik eskalator harus banget digendong. Jadi turun naik kerjaannya digendong muluk. Kan lumayan ya kalo di stasiun yang beberapa langkah sering ketemu sama eskalator. Jadi lama lama aku capek juga dan ngajarin anaknya supaya berani naik turun sendiri (dengan pegangan yang pasti) eh dia mau dan langsung berani. Momen banget dah πŸ˜›

***

Hmm, apa lagi ya? mungkin segitu dulu yang aku inget. Ntar kalau dapet lagi aku bakalan tulis di postingan selanjutnya ya.

bye.

Advertisements

4 thoughts on “7 Kebiasaan yang didapat Anak Balita Saat Traveling”

  1. Aku suka sebel sama orang yang berdiri diam di eskalator di bagian yang sebenarnya buat orang lewat Niee, hahaha πŸ˜› .

    Ah, iya juga, terutama budaya antri itu bener banget ya. Iya sih orangtua bisa memulai dan menjadi contoh, tapi ya kalo lingkungannya pada gak suka antri juga tetap susah juga kan ya si anak untuk belajar.

    1. Kalau di Indonesia (atau mungkin di Pontianak aja ya) gak ada yang mau jalan pas naik eskalator ko, jadi rasanya gak ada bagian berenti dan jalan gitu. Mungkin karena eskalator itu cuma ada di mall πŸ˜›

      Yang aku perhatikan kalau fungsi sisi dian dn jalan ini kalau eskalatornya ada di temat angkutan umum semacam MRT gitu. Karena orangkan mau bergerak cepat ya, jadi pasti bete kalau terhalangi.

      Dan belajar antri pas traveling itu ngena banget kan yak πŸ˜€

    1. iya mbak, banyak senengnya seh menurut aku traveling sama balita ini. Dan tentu tetep harus diawasi banget, karena lingkungan juga asing kan yak

Balas Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s