Anak, film, Review

Weekend Story : Small Foot


Apa yang kalian lakukan kalau menghadapi situasi bertemu dengan hewan liar disatu tempat? Kalau aku pasti pertama kali yang aku lakukan adalah lari. Lari sejauh jauhnya sampai aku gak akan ketemu sama hewan itu lagi. Kalau kita lari tapi masih dikejar? Naluri kita akan mempertahankan hidup pastinya. Kalau kita ada senjata, kita akan gunakan senjata itu, mungkin bahkan sampai membunuh binatang itu hingga kita bisa merasa aman kembali.

Lalu, bagaimana kalau situasi yang sama dihadapkan kepada binatang itu? Dia melihat bagaimana kita berusaha membunuhnya? Tentu naluri dia juga akan berusaha untuk bertahan hidup. Dia akan menggunakan kekuatan yang ada pada tubuhnya untuk menaklukkan kita. Itu sudah hukum alam.

Tapi, pernahkan kita berfikir bahwa manusia terlalu banyak menggunakan kata mempertahankan diri? Atau berkata bahwa kita lebih mulia daripada binatang itu sehingga dengan jahatnya kadang melukai mereka bahkan disaat mereka tidak hendak menyerang kita?

Paling gak itulah fikiran yang terbersit dikepala aku ketika menonton film Small Foot ini.

Cerita film ini dimulai di sebuah gunung es yang sangat tinggi, di mana sekelompok Yeti bermukim. Setiap Yeti mempunyai tugas mereka masing-masing yang berperan penting dalam desa tersebut. Ada pembunyi gong yang bertugas membunyikan gong agar sinar muncul dan menerangi desa, ada pemecah batu es, ada pendorong gerobak, pemutar gerigi dan masih banyak lagi.

Desa Yeti tersebut dipimpin oleh kepala suku si penjaga batu. Mereka percaya terhadap seluruh aturan yang ada dibatu-batu tersebut. Bahwa mereka berasal dari kotoran binatang, desa mereka adalah desa yang terapung diatas awan dan tidak ada apapun yang hidup lagi dibawahnya. Serta yang paling terpenting adalah tidak adanya Small Foot. Small foot adalah istilah Yeti menyebutkan manusia.

Pada satu hari yang bahagia, Migo anak dari pembunyi gong diberkahi oleh penjaga batu helm pertamanya untuk dapat belajar dari ayahnya dan melanjutlan tradisi keluarganya menjadi pembunyi gong. Migo yang sangat mencintai desanya tentu sangat bahagia, akhirnya hari hari dia menjadi pembunyi gong sudah dekat. Karena itu diapun langsung berlatih bersama ayahnya.

Saat berlatih, Migo yang belum tahu caranya “terbang” malah meleset jauh dari desa dan terjatuh di ujung desa tersebut. Saat itulah Migo melihat sebuah pesawat (yang tentu si Migo gak tahu itu namanya pesawat) jatuh dihadapannya dan untuk pertama kalinya dia melihat Small Foot (manusia).

Migo yang terkejut lalu mengumumkan kepada seluruh penduduk desa bahwa dia bertemu dengan Small Foot dan bahwa salah satu batu penjaga salah yang mengatakan tidak ada small foot. Tentu desa menjadi heboh karena ketakutan. Namun situasi itu langsung ditenangkan oleh kepala suku dan mengatakan bahwa Migo hanya berhalusinasi.

Migo yang yakin bahwa dia benar tidak mau mengakui bahwa dia berhalusinasi kepada warga desa sesuai dengan perkataan penjaga batu. Karena dia bersikeras penjaga batupun mengasingkannya keluar dari desa sampai dia mau mengakui kesalahannya.

Dalam pengasingannya, Migo bertemu sekelompok Yeti yang percaya bahwa Small Foot memang masih ada. Lebih anehnya, kelompok itu diketuai oleh Meechee yang tak lain adalah anak dari penjaga batu.

Mereka bersama ingin membuktikan bahwa batu itu salah dan Small foot memang benar nyata adanya. Oleh karena itu Migopun akhirnya turun ke bawah desa yang pada awalnya mereka yakini tidak ada apa apa di bawah sana, demi satu tujuan mencari small foot dan membuktikan bahwa dia tidak berbohong sehingga dia tidak diasingkan lagi dari desa.

Saat dia memberanikan diri dan “terjatuh dari langit” diapun kemudian melihat sebuah pemandangan yang sangat asing bagi dirinya. Deretan pohon pohon hijau dan sebuah desa kecil. Tak lama kemudian diapun bertemu dengan Percy seorang Small Foot dan membawanya pergi ke atas untuk membuktikan apa yang telah diucapkannya.

Lalu apa yang terjadi setelah Migo membawa Percy kembali ke desanya. Apakah warga desa menyambut Percy dengan sukacita atau malah ketakutan akan adanya Small Foot yang ternyata masih eksis di dunia ini?

Lalu bagaimana dengan Sang Penjaga Batu? Apakah dia selama ini berbohong dengan batu batu yang selalu dibicarakannya? Karena dengan munculnya small foot satu persatu batu batu dari si penjaga tampak tidak relevan lagi?

Nonton film ini sebenarnya gak ada rencana sama sekali. Cuma mau nyari kegiatan weekend si K yang gak terlalu banyak mengeluarkan energi karena hari jumatnya dia agak gak enak badan gitu. Pas lihat XXI yang niat awalnya mau lihat jadwal film Venom buat minggu depan eh kelihat film ini. Sebagai orang yang gak mau si K nonton film yang gak sesuai demgan umurnya, tapi pengen juga ngerasain si K suka nonton bioskop biar ada temen emaknya ntar, tentu adanya film ini jadi angin segar buat mengisi weekend kita kali ini.

Film ini dimulai dengan sebuah nyanyian yang aku artikan bahwa ini sejenis film musikal. Walaupun aku sama sekali gak ngerti musik. Gak tahu juga mana musik yang bagus dan yang jelek, tapi aku sangat menyukai lagu lagu dari film ini. Suka disini ditandai dengan aku pengen beli laginya di iTune, hahahaha.

Jalan ceritanya juga seru, banyak lucunya tapi sarat pesan moral juga. Tapi aku agak terganggu dengan salah satu batu si penjaga batu yang mengatakan bahwa small foot itu gak ada. Lah kenapa hal yang gak ada harus dibicarakan? Mending langsung aja menghilangkan batu itu sehingga meminimalisir keingintahuan orang-orang akan Small foot itu sendiri kan yak? Tapi kalo gak diceritain sama sekali kan jadinya gak ada cerita untuk film ini sendiri yak πŸ˜›

Satu lagi yang aku kurang setuju adalah soal endingnya. Gak jelek seh, bagus malah. Tapi secara akal sehat menurut aku mereka gak melakukan itu seh. Sayang aja, tapi ya mau gimana lagi kan yak. Paling gak kalau endingnya seperti itu membuka peluang untuk bisa membuat sekual Small Foot 2 kali yak, hehehe.

Untuk durasi filmya sendiri aku fikir durasi filmnya terlalu panjang seh buat anak kecil. Si K awal awal sangat menikmati filmnya, tapi ujung ujungnya dia selalu menanyakan kapan filmnya selesai. Kayak udah kecapean nonton gitu deh kelamaan duduk diam di dalam bioskop. Kalau kalian punya anak kecil aku rekomendasikan buat nonton film ini. Apalagi kalau anaknya sudah SD. Bakalan lebih masuk pesannya kalibya daripada si K yang baru berumur 4 tahun πŸ˜†

Selamat hari senin semuanya, bye.

Advertisements

2 thoughts on “Weekend Story : Small Foot”

Balas Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s