Nonton Bioskop, Gaya Hidup


Aku bukan tipe orang yang seminggu ‘harus’ ke bioskop, tapi kalau ada perpaduan film yang bagus dan lagi ada duit ya bisa-bisa aku 3 kali seminggu ke bioskop! Walaupun kadang DVD bajakan lebih dulunya ‘nyampe’ di Pontianak daripada penayangannya di satu-satunya bioskop kota ini tetap aja aku bela2in nonton film di bioskop.

Masalah timbul ketika satu-satunya jaringan film Hollywood di Indonesia menghentikan (atau dihentikan?) filmnya beredar di bioskop Indonesia. Rasanya salah satu dari sedikit hiburan di kota ini ditarik secara paksa dari kehidupanku *hiks* (lebay).

Untung udah ada pemberitahuan di media masa kalau SK tentang import film Hollywood udah keluar dan tunggu beberapa hari untuk kembali memeriahkan perfilman Indonesia. Tapi lagi-lagi penonton dibuat bingung karena banyak kalangan yang menilai SK keluar belum tentu juga film masuk karena belum tentu juga MPAA (Motion Picture Assosiation οf America) mau masukin filmnya di Indonesia (beritanya di sini). BEH! 😑

Karena rasa rindu untuk menonton bioskop (FYI: aku jarang banget nonton film Indonesia) aku sampe mempunyai misi khusus waktu jalan2 ke Kuching kemaren, apalagi kalau bukan nonton Bioskop! Sebagai orang yang gak suka dengan kehidupan dunia malam dan sayang kalau malam gak ngapa2in di tempat jauh ya salah satu alternatifnya nonton bioskop. Kata temen aku si ayu aku udah jadi kayak artis2 Jakarta yang cuma dateng ke singapura untuk nonton bioskop! (pasti pemerintah singapura berdoa supaya Indonesia gak kebagian film Hollywood seterusnya πŸ˜› ). Jadilah aku menonton Pirates Caribbean: On Stranger Tides ama Kungfu Panda 2 *yipppyyyy* 8)

(gambar diambil di sini)

(gambar diambil di sini)

Soal cerita sepertinya gak usahlah ya aku banyak ceritain disini. Lagian pasti blogger yang lain yang lebih fokus masalah resensi udah banyak bertebaran! (euh bilang aja males niee πŸ˜› ). Yang aku mau ceritain adalah bagaimana kondisi bioskop di Kuching.

Seperti yang udah aku ceritain sebelumnya, walaupun dariluar terlihat bersih tapi masalah toilet Kuching sangat gak juara, pesing dimana-mana bahkan di sebuah mall yang sangat terkenal di sana masih ada pesing dan harus bayar 20 sen pula! Mallnya pun gak bagus2 amat (aku udah ke 4 buah mall yang berbeda dan salah satunya adalah mall ‘termewah’ di kuching).

Nah, selain masalah toilet dan mall ternyata masalah bioskop pun Kuching kalah jauh dari Pontianak. Kalau di Pontianak standar bioskop XXI yang lantainya karpet lembut sampe mau jalan pake kaki ayam aja rasanya, ruangan terang dengan AC yang dinginnya sep tapi di Kuching aku mendapatkan Bioskop yang bentuknya aja udah aneh dan gelap pula padahal mall yang aku masukin masuk kedalam buku wisata di serawarak! Di dalam bioskopnya jangan membayangkan yang indah2 deh. Kualitas filmnya jelek banget, dengan subtitle yang kabur dan banyak garis2 di layarnya. Kemiringan kursipun gak tinggi, yang tinggi malah layarnya! Satu2nya yang buat aku suka di bioskop ini adalah adanya kursi pijat otomatis yang bayarnya cuma RM 1 untuk 3 menit πŸ˜†

Katanya seh ada bioskop yang lebih bagus dibanding tempat aku nonton gak jauh2 dari waterfront. Tapi kok udah aku muter2 dan masuk ke mall paling besar di sana kagak ada tuh yang ada bioskopnya! Ah, Indonesia emang lebih nyaman, walaupun banyak teman2 aku yang iri karena aku berhasil nonton kedua film itu di bioskop πŸ˜›

Kerinduan nonton bioskop masih ada sampe aku pulang kemaren. Rasanya nonton di Kuching gak ada sedap2nya. Maka ketika kemaren ngubek2 koran yang udah lama gak dibaca aku mengharu biru ketika melihat di salah satu teaternya ada nampangin film Indonesia yang aku tunggu2, apalagi kalau bukan Hati Merdeka. Yeah!

(gambar di ambil di sini)

Ceritanya masih bercerita tentang kelanjutan 5 orang pejuang yang sedang mempertahankan kemerdekaan Indonesia pada tahun 1948. Kali ini mereka sedang mengejar seorang kompeni sampe ke Bali.

Filmnya bagus, lagian diantara film2 aneh Indonesia ini termasuk film yang wajib di tonton menurut aku. Tapi ada beberapa cerita yang masih aku perdebatkan sekarang. Jadi ceritanya si Amir (Lukman Sardi) diawal cerita dengan sengaja membunuh teman seperjuangannya, anak kecil bernama Budi hanya karena dia tertangkap oleh kompeni walaupun menurut aku dia masih bisa diselamatkan. Lagian ngapain coba harus dibunuh segala.

Namun demikian saat atasannya memerintahkan Amir membunuh seorang kompeni di Bali yang terkenal sadis si Amir malah gak mau karena masalah kemanusiaan. Katanya: apa bedanya kita dan mereka kalau sama2 membunuh juga! (gak sadar lo udah bunuh si Budi?). Tapi ya sudahlah namanya juga film.

Terakhir mudah2an ya film Hollywood dalam waktu dekat masuk ke Indonesia. Ngiler bo lihat triller Transformers, Harry Potter dan kawan2nya.

nb: eh aku dapet award lagi dari ikutan kontes mamanya Vania kemaren. Lumayan buat nambah koleksi award, hehe..

Advertisements

40 thoughts on “Nonton Bioskop, Gaya Hidup”

  1. aku ga terlalu suka nonton di bioskop Ni.. ga bisa menikmati aja, bawaannya pengen buru-buru keluar… apa karena nontonnya ga bareng yayang kali ye? hihi

  2. Kalau nonton film di bioskop, saya memang kurang tertarik. Gak tau kenapa, walau filmnya lagi bagus, tapi tetep gak tertarik. Entah mengapa :gila:

  3. set daah gaya beneer, mau nontonin film aja pake ke luar negeri segala *plaak.

    tapi sayang juga sih, bioskop kita bagus-bagus tapi isinya film nggak mutu begitu. hemm..

    nunggu bajakan aja kalo emang nggak segera beredar2 di bioskop

    #saranbusuk

  4. walaupun ada dvd dan tv cable, tapi sensasi nonton bioskop tetep tak tergantikan ya… karena kan beda rasanya ngeliat layar besar dan sound system yang keren banget gitu.. tetep bikin orang pengen ke bioskop… πŸ™‚

  5. untuk film indonesia mending gak usah diomongin lah, mending ngomongin yang impor, kan masih belum tentu bakal bisa tayang di sini. jadi cerita dong kungfu panda 2.

  6. Sesekali saya juga melawatkan kesmepatan pergi ke movie theatre (Bioskop) saat cuti mudik, sekedar hiburan dan nonton bareng keluarga dan temen – sebagai pelepas penat dari sekedar melototin screen koputer atau laptop…

    Mudah2an saja akan lebih banyak produksi film dalam negeri bisa menjadi tuan rumah juga di negerinya sendiri.

    1. bener dah, emang Indonesia paling nyaman πŸ˜€
      uhuk,, lebih seru lagi kalau pas nonton sambil dipijat yak πŸ˜›

  7. eheheh… ternyata begitu toh bioskop di Kuching… *FYI, mbak, katanya masalah perpajakan film udh tuntas, jd tinggal nunggu kelanjutannya gimana skrg. apa jadi film2 hollywood kembali menyerbu indonesia? *pengen bgt ntn Harpot terakhir niihhh uuuhh…

    1. iya, aku juga bilang gitu kan, tapi tergantung pihak Hollywoodnya juga mau masukin apa gak ke Indonesia.. Aku lebih pingin Transformers deh,, 3Dnya keren katanya 😦

  8. Saya ga gitu ngikutin perkembangan film, paling nonton film di DVD atau kalau lagi pengen pacaran di mall, tapi itu bisa 3 bulan sekali, hehehehe.

  9. Saya sesekali nonton ke bioskop ketika filmnya benar-benar “worthy” untuk ditonton, misal Harry Potter, Transformers, film-film Indonesia yang non horror-porno

    1. iya mbak, ini salah satu dari sekian banyak keuntungan tinggal di Kalimantan πŸ˜€
      sep, sama2 mbak.. seneng juga dapet awardnya πŸ™‚

Balas Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s