Narnia: The Voyage and The Dawn Treader


Film yang sudah termasuk daftar tungguku dalam tahun 2010 ini, karena kesuksesan dari 2 film pendahulunya. Lagi-lagi film yang diadaptasi dari sebuah novel berjudul sama karangan CS. Lewis.

Awalnya aku tahunya film ini akan diputar di bioskop tanggal 14 Desember 2010, etapi tiba-tiba aja gitu pas pagi-pagi hari Jum’at tanggal 3 Desember lihat koran film ini udah nongol di teater 1. Gak pakai mikir langsung capcus buat beli tiket untuk nonton yang penayangan malam.

Film ini berformat 3D dan gak ada subtitle-nya, jadi bagi yang pingin nonton difikir-fikir aja dulu bakalah gak akan nyesel gak nonton filmnya 🙂

Aku sendiri udah khatam dengan ketujuh novel seri Narnia SAGA ini, jadi dalam segi cerita aku udah gak akan asing. Namun pengangkatan film Narnia tidak seperti film Harry Potter atau Twilight yang memang seperti copypaste dari novelnya. Karena novel Narnia hanya kecil dan ceritanya pendek, jadi sang sutradara banyak menambahkan unsur-unsur lain kedalam film yang tidak terdapat di Novelnya.

Berikut sedikit jalan cerita yang film ini:

Lusy dan Edmund berkunjung kerumah saudaranya untuk liburan. Selama di sana Eustace, sepupunya terus menerus merecoki mereka karena dia menganggap Lucy dan Edmund aneh karena terus menerus membicarakan Narnia. Suatu hari saat mereka bertiga sedang berada di kamar, tib-tiba sebuah lukisan yang ada di kamar itu bergerak, airnya terus menerus keluar hingga mereka bertiga tenggelam dan sampai disebuah lautan besar didekat sebuah kapal.

Ternyata kapal itu adalah Dawn Treader, kapal milik Raja Caspian yang saat itu sedang melakukan perjalanan menuju Long Island dan mecari negeri Aslan. Melihat suasana kapal dan penghuninya yang bukan manusia, Eustace-pun terkejut. Sepanjang perjalanan dia tak henti-hentinya mengeluh dan meminta untuk dikembalikan ke London.

Dalam perjalanan dan tempat-tempat persinggahan mereka terus menerus mendapatkan kejutan hingga membuat mereka makin mengerti apa yang mereka cari.

——————————————————————————————————————-

Kelemahan dari film -film yang memakai teknologi 3D kalau aku bisa simpulkan adalah jatuh pada penceritaan yang lemah dari film tersebut. Praktis film ini lebih mengtamakan visual 3D-nya. Ceritanya sendiri menurut aku jadi menjadi prioritas kedua bagi Michael Apted sang sutradara.

Jika kita bandingkan dengan dua film sebelumnya, film ketiga Narnia ini tentu menjadi sedikit mengecewakan bagi orang-orang (baca: saya) yang telah menantikan cerita yang seru dari Narnia dan Aslan. Apalagi pada novelnya cerita ini sangat banyak kejutan.

Kita tunggu saja sampai versi non 3Dnya resmi keluar untuk kita membandingkan dengan lebih baik. Kalau memang akan jauh lebih baik, sebaiknya para sutradara dan produser berfikir ulang untuk memproduksi film-film yang memang sudah mempunyai nama seperti Narnia dan Resident Evil untuk menjadi film 3D jika kualitas dari segi jalan cerita menjadi menurun.

Yang pasti di film ini Lucy menjadi semakin dewasa dan tentunya sangat cantik, sedangkan Edmund (idola aku :mrgreen: ) tampak makin ganteng dan keren 😳

Maka, sekali lagi, selamat menonton!

Cast:

Georgie Henley sebagai Lucy Pevensie

Skandar Keynes sebagai Edmund Pevensie

Ben Barnes sebagai Caspian

Will Poulter sebagai Eustace Scrubb

Sutadara : Michael Apted

Advertisements

Balas Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s