Dosis Pertama Vaksin CoronaVac


Akhirnya, setelah penantian panjang (yang gak panjang amat juga seh 😛 ) aku pada hari selasa tanggal 9 Maret 2021 kemaren mendapatkan dosis pertama vaksin CoronaVac. Seperti yang aku ceritakan sebelumnya bahwa minggu lalu suami aku akhirnya dpaat vaksin pertamanya karena ada acara vaksin masal pejabar di kantornya. Aku langsung protes dong, masak public service seperti kantor aku malah dapatnya belakangan seh? Eh hari jumatnya dapat pengumuman bahwa kantor aku bakalan dapat jadwal juga pada hari Selasa.

Aku kirain semua bakalan dapat gitu dong vaksinnya, sekantoran gitu. Ternyata gak! Masih ada dijatah cuma 20 dosis dikarenakan menurut Dinas Kesehatan mereka sedang mengejar vaksin untuk lansia juga. Kantor aku lalu membuat kebijakan bahwa 20 orang itu adalah anak-anak Front Office yang emang setiap hari berinteraksi dengan banyak orang. Untuk aku yang walaupun di Public Service tapi ketemu orang bisa cuma 1-2 aja setiap harinya jadi gak dapat jatah dong! Huhuhuhu.

Tapi, bukan Irni kalau langsung menyerah dong yak! Karena banyak dengar orang yang gak mau vaksin, aku langsung datangin bos aku bilang kalau ada yang gak mau vaksin dari 20 orang itu, jatahnya buat aku aja ya pak! Dan berhasil dong! Emang banyak yang gak mau ternyata! Antara bersyukur dan gemes seh, hahahaha. Alasan gak mau vaksinnya beraneka ragam. Ada yang masih meragukan vaksin corona ini. Kalau ini gak debat deh yak, di dunia udah banyak perdebatan serupa, jadi aku gak ikut-ikutan. Ada yang masih miss informasi dengan vaksin ini. Ada juga yang termakan hoax yang katanya kalau vaksin langsung pingsan dan ada pemberitaan meninggal segala. Dan terakhir yang paling menggelikan itu adalah orang yang takut sama jarum suntik! Hmmmm.

Aku kira takut sama jarum suntik ini cuma becandaan aja yak. Karena emang seh dulu waktu imunisasi SD di sekolah banyak banget temen-temen aku yang kabur dari jendela kalau duah petugas puskesmas datang buat imunisasi. Ini aku fikir adalah karena kesalahan kita para orang tua yang kalau memarahi ancamannya “ntar disuntik sama dokter” gitu ya. Karena itu aku gak mau banget mengancam anak, apalagi dengan kata suntik. Pas kemaren bibi yang temenin si K di rumah waktu kecil ada nyinggung-nyinggung soal suntikan aku langsung tegur dan bilang di depan bibinya dan si K bahwa suntik itu sakit emang, tapi sangat baik untuk tubuh karena yang dimaksukkan itu kalau gak obat ya vaksin yang emang diperlukan buat tubuh, jadi jangan dijadikan bahan becandaan. Takut sama jarum suntik diusia yang sudah sangat tua aku kira adalah permasalahan inner child di masa lalu.

Lalu, sampailah aku pada hari H penyuntikan vaksin. Saking semangatnya, aku adalah salah satu orang pertama yang datang di tempat vaksinasinya, hahahaha. Urutan penyuntikan vaksin adalah mengisi daftar hadir (perlu membawa KTP btw), lalu mendapatkan nomor antrian. Setelah nomor kita dipanggil akan ada petugas registrasi yang akan mengisi data kita ke dalam website vaksinasi gitu menggunakan NIK dan nomor handphone. Setelah mengisi data, kitapun kemudian dipanggil dan diperiksa oleh dokter atau tenaga medis lainnya. Yang diperiksa cuma suhu dan tekanan darah aja seh. Terus ada daftar pertanyaan yang ditanya sama dokternya. Aku gak ingat banget seh pertanyaannya, yang pasti pertama adalah apakah ada kontak dengan pasien covid 14 hari kebelakang, apakah pernah positif covid, apakah sedang sakit flu, batuk deman dan lainnya? Apakah ada penyakit bawaan (ini banyak banget penyakitnya kayak HIV, diabetes, asma dll gitu) terus ditanya apakah sedang hamil atau sedang menyusui.

Untuk aku sendiri, aku menjawab semua pertanyaan itu dengan jawaban TIDAK. Tapi aku gak tahu juga apakah kalau ada jawaban YA dari daftar pertanyaan itu kita langsung didiskualifikasi untuk mendapatkan vaksin covidnya. Soalnya pertanyaannya agak rancu kan yak. Yang aku tahu kalau di eropa (aku ada nonton video seorang dokter WNI yang kerja di Jerman) bahwa tahap 1 dari vaksinasi di Jerman adalah orang yang beresiko tinggi. Resiko tinggi ini adalah lansia dan orang yang mempunyai penyakit bawaan. Kalau pertanyaan di atas ditanyakan jawabannya YA dan tidak boleh berarti untuk vaksin di Indonesia sendiri belum bisa untuk orang berpenyakit bawaan ya.

Terus untuk ibu menyusui. Teman aku seorang dokter di Jawa Tengah mengatakan bahwa ibu menyusui sudah boleh menerima vaksin sekarang. Berarti seharusnya pertanyaan perihal menyusui ini udah gak perlu ditanyain lagi dong yak! Sayangnya aku gak dapat Peraturan atau landasan tentang Vaksin untuk orang yang boleh dan gak boleh ini seperti apa. Sepertinya Kemenkes atau Dinkes harus melalukan lebih banyak sosialisasi terkait ini deh. Biar masyarakat gak salah informasi, yang sekarang dapatnya cuma kalau gak dari berita ya dari katanya-katanya aja.

Karena semua pertanyaan tadi aku jawab TIDAK, aku langsung diarahkan untuk disuntik vansinnya di lengan tangan kiri sebelah atas seperti imunisasi difteri. Untuk aku secara pribadi seh suntiknya gak sakit ya, paling terasa dikit pas jarumnya masuk ke tangan, habis itu ya gak terasa apa-apa lagi. Setelah di vaksin terus kita harus duduk minimal 30 menit di ruangan tersebut sebelum boleh meninggalkan ruangannya. Setelah 30 menit, lalu petugas memberikan tanda bukti aku udah disuntikkan vaksin dosis pertama dan akan mendapatkan dosis selanjutnya tepat 14 hari setelah ini. Ya, mudah-mudahan aja bisa tetap sehat sampai dosis kedua diberikan yak.

Untuk aku sendiri, setelah merasa 1 hari dilakukan vaksin, aku gak merasakan efek samping apa-apa seh yak. Kalau suami aku ngantuk berat aku ya gak ngantuk juga, biasa aja gitu. Tangan juga gak terlalu sebal dan berat ataupun nyeri. Ya semoga emang gak ada efek samping apapun deh.

So, segitu aja cerita aku tentang vaksin Covid-19 pertama aku. Semoga ada perbaikan di dunia ini untuk menanggulangi pandemi ini. Dan semoga pandemi ini segera berakhir, anak bisa sekolah lagi dan kita bisa beraktifitas seperti dulu lagi.

 

bye.